6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. DUA YANG TERSISA
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan di depan pintu sumur yang tertutup itu.
Yang aku ingat terakhir adalah teriakan FARHAN. Tangannya yang mencoba meraih bibir sumur, lalu sebuah tangan hitam berlumpur dari dalam sumur menariknya dengan paksa. Darahnya muncrat ke wajahku. Hangat. Kental.
Lalu semuanya gelap.
Kepalaku sakit sekali. Seperti dipukul balok. Aku mencoba membuka mata. Cahaya merah masuk ke pupilku. Bukan cahaya lampu. Ini cahaya langit.
Langit Desa Penenun sudah merah darah. Bukan senja. Jam di tanganku menunjukkan pukul 15:12, tapi langitnya merah seperti luka yang menganga. Awan tidak bergerak. Angin tidak ada. Bahkan suara jangkrik pun hilang.
"Selvi..."
Suara itu pelan. Serak. Aku menoleh ke samping dengan leher yang kaku.
MAYA ada di sampingku. Dia duduk memeluk lututnya. Wajahnya pucat pasi. Bajunya robek di bagian lengan kiri, terlihat goresan panjang seperti dicakar. Di tangannya dia memeluk kain kafan itu erat-erat. Kain kafan panjang yang kami temukan di rumah Mbok Darmi. Kain yang ada nama kami berenam.
"May..." suaraku serak. Tenggorokanku kering seperti habis teriak semalaman. "Yang lain mana? Sinta? Riko? Bima?"
Maya menggeleng pelan. Air matanya jatuh tanpa suara. Dia tidak sesenggukan, dia hanya menangis diam. Itu lebih mengerikan.
"Gak ada, Vi. Cuma kita berdua yang tersisa di sini."
Dadaku sesak. Napasku tercekat. SINTA, RIKO, BIMA, FARHAN. Empat nama. Empat teman KKN ku sudah diambil sumur itu satu per satu. Sinta ditarik dari dalam balai desa di BAB 8. Riko hilang di jejak kaki menuju sumur di BAB 6. Bima masuk ke pintu yang terbuka sendiri. Farhan barusan jadi tumbal di depan mataku. Pak Lurah Karjo juga sudah jadi tumbal karena obornya padam.
Tinggal aku dan Maya. Dua yang tersisa dari 6 mahasiswa KKN yang berangkat dengan bangga dari kampus 2 minggu lalu.
Aku berdiri dengan kaki gemetar. Lututku lemas. Balai desa di belakang kami kosong melompong. Pintu dan jendelanya terbuka semua, menganga hitam seperti mulut yang menunggu mangsa masuk. Obor besar milik Pak Lurah Karjo yang biasanya menyala di depan balai sudah padam, hanya menyisakan arang dan bau kemenyan yang menyengat bercampur bau tanah basah dan anyir darah.
Aku lihat pintu sumur di belakang balai desa. Pintu kayu tua itu sudah menutup rapat. Padahal tadi terbuka. Tidak ada gembok, tidak ada paku, tapi tertutup seperti disegel dari dalam. Dari celah bawah pintu itu, keluar rembesan air hitam yang berbau busuk.
"Vi, kita harus keluar dari sini sekarang," bisik Maya sambil menarik ujung bajuku. Tangannya dingin sekali. "Mbok Darmi pernah bilang, ada jalan lewat hutan larangan. Lewat situ kita bisa keluar dari desa ini. Kalau lewat jalan depan, kita gak akan pernah bisa keluar. Jalan itu muter terus."
Aku ingat. Di BAB 13, Mbok Darmi memang pernah bilang begitu sambil menenun. Katanya, "Ojo lewat ngarep, lewat mburi. Hutan larangan itu bukan larangan, itu jalan pulang." Tapi dia juga bilang tidak ada warga yang berani lewat karena yang lewat tidak pernah kembali.
"Kita gak punya pilihan lain, May. Kalau kita di sini, kita mati. Sumur itu nunggu kita."
Kami berdua berjalan berpegangan tangan menuju hutan larangan di belakang balai desa. Jalan setapak itu tidak ada di peta. Ditutupi akar-akar besar sebesar paha orang dewasa yang melintang seperti ular. Pohonnya tinggi-tinggi, batangnya hitam, daunnya rimbun sampai matahari tidak tembus sama sekali. Semakin masuk, semakin dingin. Napas kami sampai keluar asap putih, padahal ini di Jambi, bukan di Dieng.
Aku merasa ada yang mengikuti kami dari belakang. Perasaan itu sangat kuat. Bulu kudukku berdiri semua.
KRETEK.
Aku berhenti mendadak. Maya juga berhenti. Jantungku berdegup kencang sampai ke telinga.
"Vi, kamu denger gak?" Maya mencengkeram tanganku kuat sampai kukunya menancap.
Aku mengangguk pelan. Ada suara langkah kaki. Bukan satu. Banyak. Seperti puluhan kaki berjalan beriringan di belakang kami, menginjak daun kering. KRESEK KRESEK KRESEK. Tapi saat kami menoleh dengan gerakan pelan, tidak ada siapa-siapa. Hanya hutan kosong. Hanya jejak kaki basah di tanah lumpur. Jejak kaki kecil, besar, ada yang tanpa alas kaki. Semua jejak itu menuju ke arah sumur, bukan ke arah kami. Seolah-olah mereka baru saja keluar dari sumur dan berjalan ke desa.
"Jangan lihat ke belakang! Jangan dilihat!" teriakku panik. Aku menarik tangan Maya kuat-kuat. Kami lari.
Kami lari sekuat tenaga. Ranting-ranting mencambuk wajah kami. Napas kami ngos-ngosan. Kain kafan di tangan Maya berkibar-kibar tertiup angin. Padahal tidak ada angin di hutan itu. Anehnya, setiap kibaran kain itu, aku bisa mendengar bisikan nama.
"Sinta... Riko... Bima... Farhan... Selvi... Maya..."
Tiba-tiba Maya jatuh terjerembab.
"ARGGH!"
Kakinya tersangkut akar besar. Dia meringis kesakitan. Aku berusaha menariknya bangun. Tapi akar itu seperti hidup. Melilit pergelangan kaki Maya semakin kencang, semakin dalam sampai kulitnya memerah.
"Vi! Tolong! Sakit! Sakit banget!"
Aku panik. Aku coba tarik akar itu dengan kedua tanganku. Kasar dan dingin. Aku lihat lebih dekat dengan mata berkaca-kaca.
Itu bukan akar. Ya Tuhan, itu bukan akar.
Itu benang. Benang putih kusam seperti benang dari alat tenun Mbok Darmi. Benang itu keluar dari dalam tanah, banyak sekali, melilit kaki Maya, naik sampai ke lututnya. Dan benang itu bergerak sendiri, seperti cacing.
Dan dari dalam tanah lumpur di bawah kaki Maya, muncul sebuah tangan. Tangan pucat, kuku hitam penuh tanah. Tangan yang sangat aku kenal.
Tangan FARHAN.
"Selvi... tolong aku... dingin di bawah sini... gelap..."
Maya menjerit histeris. Aku menjerit lebih kencang sampai tenggorokanku sakit. Aku ambil batu besar yang berlumut di sampingku dan aku pukul benang-benang itu sekuat tenaga. Satu kali, dua kali, tiga kali.
PUTUS.
Benang-benang itu putus dan langsung masuk kembali ke dalam tanah seperti ditarik paksa. Tangan Farhan juga langsung menghilang, menyisakan lubang kecil yang mengeluarkan darah hitam.
Maya langsung aku gendong di punggung. Berat, tapi adrenalinku membuatku kuat. Kami lari lagi. Tidak peduli lagi ada duri, ada lumpur, ada darah di kaki kami. Kami harus keluar dari hutan itu.
Setelah hampir 30 menit lari tanpa henti, napas kami hampir habis, kami melihat cahaya kekuningan di ujung hutan. Sebuah rumah. Rumah panggung dari kayu jati tua. Lampu minyaknya menyala temaram. Asap keluar dari dapurnya.
RUMAH MBOK DARMI.
"Kita selamat, May! Itu rumah Mbok Darmi! Kita minta tolong!" Aku menangis lega. Air mataku akhirnya tumpah.
Kami berdua masuk ke halaman rumah itu dengan sempoyongan. Pintu rumah terbuka sedikit.
"Mbok? Mbok Darmi? Tolong kami, Mbok!" teriakku.
Tidak ada jawaban. Hanya suara alat tenun. KRETEK KRETEK KRETEK.
Kami naik ke atas rumah. Mbok Darmi sedang duduk di depan alat tenunnya yang besar, membelakangi kami. Punggungnya bongkok. Dia menenun dengan cepat, padahal tidak ada benang di tangannya. Tapi kain kafan itu memanjang sendiri.
"Kalian dua yang tersisa ya?" suaranya serak tanpa menoleh.
Aku dan Maya mengangguk sambil menangis. "Iya Mbok, tolong kami Mbok, teman-teman kami..."
Mbok Darmi berhenti menenun. Perlahan dia menoleh.
Dan saat itulah jantungku hampir berhenti.
Wajah Mbok Darmi bukan wajah Mbok Darmi yang kemarin. Wajahnya setengah hancur, matanya satu hilang, kulitnya penuh benang yang terjahit. Dia tersenyum. Senyumnya mengerikan. Giginya hitam semua dan panjang-panjang.
"Bagus. Karena sumur itu memang butuh dua yang tersisa. Satu untuk menenun, satu untuk jadi kainnya. Sudah lama sumur itu nunggu penenun baru."
Alat tenun itu bergerak sendiri semakin kencang. KRETEK KRETEK KRETEK KRETEK.
Dan dari dalam alat tenun itu, dari dalam kain kafan putih yang sedang ditenun, aku melihat wajah-wajah teman-temanku muncul. Sinta menangis, Riko berteriak, Bima melot, Farhan memanggil namaku. Wajah mereka ada di dalam kain itu, terjahit hidup-hidup.
Maya memelukku erat. Tubuhnya gemetar hebat. "Selvi, aku takut. Itu bukan Mbok Darmi, Vi. Itu bukan Mbok Darmi!"
Aku memeluk Maya balik. Air mataku tidak berhenti.
Di luar rumah, suara dari dalam sumur yang ada di tengah hutan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih dekat, memanggil nama kami berdua dengan suara yang sangat berat.
"SELVI... MAYA... GILIRAN KALIAN... MASUK..."
Pintu rumah Mbok Darmi menutup sendiri dengan keras. BANTING. Jendela-jendela juga tertutup. Lampu minyak padam.
Gelap.
Kami terjebak di dalam rumah itu. Tinggal dua yang tersisa. Dan malam baru saja dimulai. Di depan kami, Mbok Darmi yang bukan Mbok Darmi berdiri sambil membawa gunting besar yang berkarat.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐