NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Sayap Baru Bajak Laut Mugen

Angin malam yang berhembus meninggalkan pelabuhan pasar gelap itu membawa hawa yang sangat tidak nyaman. Bau anyir darah dan asap sisa kekacauan masih tertinggal di udara.

Kapal Bajak Laut Mugen membelah ombak dengan tenang. Layar hitam dengan lambang tengkorak bermata merah dan kipas raksasa berkibar angkuh menantang langit Grand Line yang gelap gulita.

Uchiha Madara melangkah menaiki papan titian menuju geladak utama kapalnya. Sandal kayunya berketuk pelan. Di belakangnya, Nico Robin dan Vinsmoke Reiju menyusul dalam keheningan yang penuh hormat.

Di barisan paling belakang, berjalan seorang gadis yang langkahnya tertatih namun menolak untuk menyerah. Gadis berambut hijau pucat dengan sepasang sayap buatan di punggungnya. Monet.

Begitu kakinya menyentuh lantai kayu geladak kapal, Monet tidak lagi mampu menahan beban fisik dan mentalnya. Luka-luka akibat eksperimen, memar dari siksaan para penjaga, dan kelelahan yang luar biasa akhirnya meruntuhkan pertahanannya.

Namun, dia tidak jatuh terkapar.

Monet memaksakan dirinya untuk berlutut. Dia menempelkan kedua telapak tangannya di atas lantai geladak yang dingin. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut hijau pucatnya menutupi wajahnya. Sayap buatannya terlipat turun menyentuh lantai.

Madara menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuhnya setengah bagian, menatap gadis yang sedang bersujud di belakangnya.

Mantan kapten bajak laut dan para kru lainnya yang sedang berjaga malam hanya bisa menelan ludah dari kejauhan. Mereka tidak berani mendekat melihat pemandangan tersebut.

“Nyawaku adalah milikmu,” ucap Monet dengan suara serak. Kata-katanya diucapkan dengan nada yang bergetar, namun dipenuhi oleh sebuah keyakinan absolut.

Monet mengangkat wajahnya sedikit. Mata emas kekuningannya menatap lurus ke arah ujung sandal kayu Madara.

“Dunia membuangku ke dalam neraka, dan kau adalah Dewa yang menghancurkan neraka itu. Aku tidak memiliki tempat untuk kembali. Gunakan aku sesukamu. Aku akan menjadi pedangmu, perisaimu, atau bahkan alas kakimu.”

Sebuah deklarasi kesetiaan yang sangat buta. Monet telah melihat bagaimana pemuda ini menjatuhkan ilusi mengerikan kepada puluhan penjaga bersenjata hanya dengan satu tatapan mata. Di mata Monet, Madara bukanlah manusia, melainkan inkarnasi dewa kematian yang memberikannya kehidupan kedua.

Robin dan Reiju yang berdiri di sisi geladak saling bertukar pandang dalam diam. Mereka berdua memahami perasaan gadis itu. Mereka juga diselamatkan dari keputusasaan mereka masing-masing oleh kekuatan mutlak pemuda ini.

Madara menatap Monet dengan pandangan kosong.

Haki Pengamatan miliknya tidak mendeteksi sedikit pun kebohongan dari jantung gadis itu. Kesetiaannya murni, didorong oleh insting bertahan hidup dan rasa syukur yang berubah menjadi pemujaan ekstrem.

“Alas kaki tidak berguna di medan perang,” jawab Madara dengan suara datar dan dingin.

Dia melangkah maju satu langkah, menatap sayap buatan di punggung Monet.

“Aku hanya mengumpulkan bidak yang memiliki nilai. Sayap buatan itu terlihat rapuh. Kau tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai untuk bertarung di baris depan. Apa yang bisa kau tawarkan untuk kapal ini selain kesetiaan kosong?”

Mendengar pertanyaan pragmatis itu, Monet tidak merasa tersinggung. Dia justru merasa lega karena dewa yang disembahnya memberikan kesempatan untuk membuktikan nilai dirinya.

Monet duduk bersimpuh. Dia memasukkan tangannya ke balik pakaian kusamnya yang robek di bagian dada.

Dia mengeluarkan sebuah benda yang dia sembunyikan dengan sangat hati-hati.

Sebuah buah berukuran sedang, berbentuk seperti melon, namun memiliki warna putih pucat yang aneh. Permukaan kulit buah itu dipenuhi oleh pola spiral yang berputar-putar tidak beraturan.

Robin melebarkan matanya saat melihat benda tersebut. Pengetahuannya sebagai arkeolog dan buronan langsung mengenali ciri-ciri khas itu.

“Itu Buah Iblis,” gumam Robin pelan.

Monet mengangguk. Dia menyodorkan buah itu dengan kedua tangannya ke arah Madara.

“Saat kau melepaskan ilusi mengerikan itu di aula pelelangan, para penjaga kehilangan kewarasan mereka. Gembok brankas utama rumah lelang terbuka karena salah satu penjaga menabrak tuasnya. Aku mencuri ini dari dalam sana sebelum berlari mengikutimu keluar,” jelas Monet.

Robin melangkah maju untuk mengamati lebih dekat.

“Melihat warna putih pucat dan pola spiral tajamnya, ini kemungkinan besar adalah buah tipe Logia atau Paramecia tingkat tinggi yang berhubungan dengan suhu dingin. Nilainya di pasar gelap Grand Line bisa dengan mudah menembus 100.000.000 Berries,” analisis Robin memberikan informasi kepada Madara.

Madara menatap buah putih itu tanpa minat yang berlebih.

Dia telah melihat kekuatan Buah Iblis. Mengubah struktur tubuh menjadi elemen alam memang terdengar praktis, tetapi kelemahan mutlak terhadap air laut adalah sebuah harga yang terlalu mahal bagi seorang Uchiha. Baginya, kekuatan yang memiliki kelemahan alamiah bukanlah kekuatan sejati. Ninjutsu elemen jauh lebih superior karena tidak mengikat penggunanya pada kutukan lautan.

“Makanlah,” perintah Madara mutlak.

Monet tersentak. Dia mengira buah berharga ini akan diambil oleh kaptennya untuk dijual atau diberikan kepada kru yang lebih kuat.

“Tetapi ini bernilai 100.000.000 Berries. Ini bisa menjadi tambahan kekayaan untuk kapalmu,” kata Monet ragu.

“Aku tidak membutuhkan uang logam untuk menaklukkan dunia ini,” balas Madara dingin. “Jika kau ingin membuktikan nilaimu, makan buah itu dan bertahan hiduplah dari perubahan wujudnya.”

Monet tidak membantah lagi. Titah dewanya adalah hukum alam.

Dia mendekatkan buah putih berpola spiral itu ke bibirnya. Dia membuka mulutnya dan menggigit buah tersebut dalam satu gigitan besar.

Gadis berambut hijau pucat itu mengunyah dan menelan potongan buah itu. Wajahnya seketika berkerut hebat. Rasa Buah Iblis itu sangat menjijikkan, terasa seperti menelan lumpur yang dicampur dengan kotoran hewan. Dia menahan rasa mualnya dan menelan semuanya hingga habis.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Tiba-tiba, suhu udara di geladak kapal menurun drastis. Napas mantan kapten bajak laut dari kejauhan berubah menjadi uap putih.

Monet memejamkan matanya. Dia memeluk tubuhnya sendiri.

Kulitnya yang pucat perlahan berubah menjadi semakin putih bersih menyerupai pualam. Ujung-ujung jari tangannya mulai mengkristal.

Sebuah fenomena alam yang aneh terjadi di sekeliling tubuhnya. Butiran-butiran salju mulai turun dari udara kosong di atas geladak kapal, berputar mengelilingi tubuh Monet yang sedang berlutut.

Monet membuka matanya. Warna emas di pupilnya kini memancarkan hawa dingin yang mematikan.

Dia mengangkat tangan kanannya. Seluruh bagian dari siku hingga ke ujung jarinya hancur berubah menjadi badai salju putih yang berputar, sebelum akhirnya menyatu kembali membentuk tangan manusia yang utuh.

“Yuki Yuki no Mi,” gumam Robin yang mengenali nama buah tersebut. “Logia tipe Salju. Gadis ini baru saja menjadi manusia salju.”

Madara menatap perubahan wujud itu dengan penilaian objektif.

Sayap buatan di punggung gadis itu kini terlapisi oleh kristal es tipis yang membuatnya terlihat jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Tubuh fisiknya yang lemah telah digantikan oleh pertahanan elemen Logia.

'Kemampuan elemen tanpa segel tangan, namun tubuh aslinya lenyap digantikan elemen tersebut,' batin Madara mengkalkulasi kekuatan baru bawahannya. 'Cukup berguna untuk pengintaian dan pertahanan udara.'

“Mulai malam ini, kau bertugas sebagai pengintai udaraku,” titah Madara menetapkan posisi gadis itu di atas kapal.

“Gunakan sayapmu dan elemen saljumu. Aku ingin kau melaporkan pergerakan musuh, perubahan cuaca anomali, dan posisi pulau dari atas langit. Kau juga akan membantu mengamati rasi bintang untuk navigasi di malam hari.”

Monet kembali menundukkan kepalanya, membiarkan salju berjatuhan di sekitarnya.

“Sesuai perintahmu, Tuan. Langit dan mataku adalah milikmu mulai sekarang,” jawab Monet penuh pengabdian.

Madara tidak menjawab lagi. Dia memutar tubuhnya dan melangkah masuk menuju kabin utamanya, meninggalkan ketiga wanita itu di atas geladak yang kini tertutup oleh lapisan es tipis.

Keesokan paginya, matahari bersinar terang menyinari lautan Grand Line.

Cuaca terasa cukup hangat, sangat berbeda dengan badai salju dan ombak ganas di awal kedatangan mereka. Kapal Bajak Laut Mugen berlayar dengan kecepatan stabil menembus perairan biru.

Di atas geladak, mantan kapten bajak laut sedang menyapu lantai kayu bersama kru lainnya. Dia sesekali mencuri pandang ke arah ruang utama kapal. Tubuh gemuknya bergetar pelan.

“Kapal ini semakin menyeramkan,” bisik mantan kapten itu kepada kru di sebelahnya. “Kita dipimpin oleh seorang dewa perang, dan sekarang kita memiliki tiga monster wanita di atas kapal. Aku merasa nyawaku berada di ujung tanduk setiap kali berpapasan dengan mereka.”

Ketakutan kru bajak laut itu bukanlah tanpa alasan.

Di pagi hari yang cerah ini, sebuah dinamika baru telah terbentuk di antara tiga wanita mematikan tersebut. Sebuah kompetisi pasif-agresif yang tidak melibatkan senjata tajam, namun memancarkan aura ketegangan yang sangat tinggi.

Pintu kabin utama terbuka.

Uchiha Madara melangkah keluar. Dia kembali mengenakan kemeja hitam lengan panjangnya, dengan celana kain gelap dan sandal kayu. Wajahnya datar, menatap lautan tanpa minat yang berarti.

Di sebelah kiri pintu, Nico Robin sudah berdiri menanti.

Gadis arkeolog itu mengenakan kemeja ungu gelap yang elegan. Postur tubuhnya tegak. Dia memegang sebuah nampan kayu kecil yang di atasnya terdapat sebuah cangkir porselen berisi kopi hitam pekat yang masih mengepulkan uap panas.

“Selamat pagi, Kapten,” sapa Robin dengan nada yang sangat tenang dan berkelas. “Kopi hitam pekat tanpa gula. Suhu airnya tepat berada di sembilan puluh derajat untuk menjaga kepekatan rasanya.”

Namun, sebelum Robin bisa menyodorkan nampan itu, sebuah bayangan melesat dari arah kanan.

Vinsmoke Reiju melangkah maju dengan gerakan yang jauh lebih gesit dan tidak bersuara. Sang Putri Racun itu mengenakan pakaian kasualnya. Di lengan kirinya, tersampir mantel hitam panjang milik Madara yang telah dia setrika dengan sangat rapi hingga tidak ada satu pun lipatan yang tersisa.

“Selamat pagi, Kapten,” potong Reiju dengan senyuman misterius yang sangat memikat. “Angin pagi di lautan Grand Line mengandung kelembapan tinggi yang bisa merusak otot. Mantel ini telah saya hangatkan menggunakan uap murni.”

Robin melirik ke arah Reiju melalui sudut matanya. Mata biru gelap Robin memancarkan kilatan ketidaksukaan yang disembunyikan dengan sempurna di balik ekspresi wajahnya yang datar.

Reiju membalas tatapan itu dengan senyuman tipis.

Tiba-tiba, kelopak bunga berwarna merah muda bermekaran di atas lengan baju Reiju. Tangan-tangan ilusi kecil mencoba tumbuh untuk menahan pergerakan Reiju menyodorkan mantel tersebut.

Reiju tidak panik. Dia melepaskan sedikit gas neurotoksin dalam skala milimeter dari pori-pori kulitnya, membuat kelopak bunga ilusi milik Robin layu dan menghilang sebelum sempat terbentuk sempurna.

Keduanya tidak mengeluarkan suara. Pertarungan singkat itu terjadi dalam hitungan milidetik tanpa diketahui oleh kru biasa.

Namun, persaingan mereka berdua harus terganggu oleh pihak ketiga.

Dari atas tiang layar tertinggi, seekor burung besar berwarna seputih salju meluncur turun menukik ke arah geladak.

Burung itu mendarat tepat tiga langkah di depan Madara. Sayap putihnya terlipat, dan wujudnya berubah kembali menjadi seorang gadis berambut hijau pucat.

Monet telah merubah bentuk fisiknya sepenuhnya menggunakan kekuatan Logia. Dia kini berdiri dengan senyum kepatuhan yang absolut.

Di udara sekitar Monet, butiran salju turun perlahan. Salju-salju itu berkumpul di atas telapak tangannya, membentuk sebuah kursi es yang diukir dengan sangat detail dan indah. Kursi itu diletakkan tepat di belakang Madara.

“Selamat pagi, Dewaku,” sapa Monet dengan nada yang sangat loyal dan dingin. “Aku telah memantau radius lima puluh kilometer dari udara. Cuaca sangat cerah, tidak ada kapal musuh yang terdeteksi. Silakan duduk di singgasana es ini untuk menikmati udara pagi.”

Tiga wanita dari masa lalu yang kelam. Tiga wanita yang memiliki kemampuan untuk membantai satu armada kapal sendirian.

Kini ketiganya berdiri mengelilingi Uchiha Madara, menawarkan pelayanan mereka dengan cara yang paling sempurna menurut versi mereka masing-masing.

Mantan kapten bajak laut di ujung geladak menggigit sapu kayunya untuk menahan jeritan. Tekanan aura dari ketiga wanita itu bertabrakan di udara, menciptakan hawa membunuh tak kasatmata yang membuat kayu geladak terasa bergetar.

Robin, Reiju, dan Monet saling melempar pandangan tajam. Intelektual melawan racun melawan es. Sebuah harem fungsional yang lebih terlihat seperti medan perang taktis daripada kelompok pelayanan.

Di tengah ketegangan yang bisa membelah lautan tersebut, Uchiha Madara bereaksi.

Dia tidak memalingkan wajahnya. Dia tidak menghela napas. Dia tidak tersenyum.

Madara mengulurkan tangan kanannya. Dia mengambil cangkir kopi hitam dari nampan kayu Robin.

Robin tersenyum tipis, merasa memenangkan ronde pertama.

Kemudian, Madara mengulurkan tangan kirinya. Dia mengambil mantel hitam tebal dari lengan Reiju. Dia menyampirkan mantel itu di bahunya dengan gerakan satu tangan.

Reiju melebarkan senyum misteriusnya, membalas tatapan kemenangan Robin.

Terakhir, Madara melangkah maju. Dia berjalan lurus melewati Monet. Dia sama sekali tidak melirik atau menduduki kursi es berukir indah yang diciptakan oleh gadis salju tersebut. Panas tubuh Madara membuat kursi es itu meleleh sebagian saat dia berjalan melewatinya.

Monet menundukkan kepalanya, menerima penolakan itu sebagai sebuah cambukan untuk berusaha lebih keras lagi esok hari.

Madara berjalan menuju ujung haluan kapal.

Dia mengabaikan mereka bertiga secara mutlak. Dia tidak mengucapkan terima kasih atas kopi yang dia minum. Dia tidak berkomentar tentang mantel yang hangat. Dan dia menganggap kursi es itu sebagai halangan jalan.

Bagi Madara, perhatian dan persaingan mereka tidak memiliki arti penting.

'Wanita-wanita yang berisik,' batin Madara dengan rasa bosan yang tidak bisa disembunyikan.

Dia tidak memahami logika di balik persaingan konyol ini. Di medan perang ninja, siapa yang lebih dulu menebas musuh adalah pemenangnya. Di atas kapal ini, siapa yang menyeduh minuman tampaknya menjadi sebuah tolak ukur kehormatan.

Itu adalah hal terbodoh yang pernah dia saksikan, namun dia membiarkannya selama itu tidak mengganggu operasional kapal.

Madara duduk bersila di atas lantai kayu tepat di ujung haluan, membelakangi seluruh kru dan ketiga wanita tersebut. Dia meletakkan cangkir kopinya di sampingnya.

Dia memejamkan mata hitamnya.

Suara deburan ombak yang menabrak lambung kapal dan desiran angin laut perlahan meredam suara bising dari geladak belakang.

Madara mulai mengatur ritme pernapasannya. Dia memfokuskan pikirannya ke dalam tubuhnya, menyelam ke dalam sistem sirkulasi tenketsu-nya.

Pertarungannya melawan Vinsmoke Judge di North Blue memberikan pelajaran berharga. Menggunakan energi secara ledakan besar terlalu membebani otot dan organ dalam wadah remajanya. Dia harus memperlebar kapasitas jalur chakranya agar bisa menampung tekanan yang lebih besar.

Madara menarik chakra dari pusat perutnya. Dia memutar energi itu mengelilingi jantung, paru-paru, dan tulang belakangnya dalam sebuah siklus yang tiada henti.

Setiap putaran membuat chakranya menjadi lebih padat. Setiap putaran juga memperbaiki kerusakan mikroskopis pada sel ototnya akibat kelelahan bertarung.

Latihan pasif yang tidak terlihat oleh mata telanjang ini adalah fondasi kekuatan yang membedakan seorang jenius dari orang biasa.

Sambil memutar sirkulasi chakranya, kesadaran Madara menyentuh antarmuka tak kasatmata di dalam pikirannya.

Sebuah layar biru transparan terbuka perlahan di kegelapan kelopak matanya.

Layar itu menampilkan angka-angka yang berkedip pelan.

[Pemberitahuan Sistem.]

[Status Penguasa Faksi: Aktif.]

[Poin Reputasi saat ini: 65.000]

Poin itu perlahan naik setiap harinya. Nama Bajak Laut Mugen telah menyebar di wilayah North Blue akibat kehancuran pangkalan mafia di Pulau Rogue dan insiden Germa. Berita dari mulut ke mulut menyumbangkan akumulasi poin yang pasif namun konstan.

Tetapi Madara tahu bahwa angka enam puluh lima ribu ini tidak ada apa-apanya.

Untuk membuka kekuatan senjata sejatinya, untuk memulihkan matanya, dan untuk mengakses rahasia terdalam dari Sistem penaklukan ini, dia membutuhkan jutaan poin reputasi.

Dia membutuhkan sebuah panggung yang bisa disaksikan oleh seluruh dunia.

Madara membuka kelopak matanya. Angin laut meniup poni rambutnya ke samping.

Mata hitamnya menatap tajam ke arah horizon Grand Line yang tidak memiliki batas. Di luar sana, di pulau-pulau yang belum terpetakan, terdapat monster-monster yang memegang gelar dewa lautan. Shichibukai. Laksamana Angkatan Laut. Para Yonko.

Mereka adalah batu loncatan yang sempurna.

'Bersenang-senanglah selagi kalian bisa,' batin Madara menatap lautan luas. Senyuman tipis yang sangat mengerikan dan haus darah terbentuk di sudut bibirnya.

'Karena kedamaian di lautan ini akan segera hancur di bawah kakiku.'

Di belakangnya, Robin, Reiju, dan Monet masih saling menatap dengan ketegangan yang tinggi, memperebutkan posisi siapa yang akan menyajikan makan siang. Kapal Bajak Laut Mugen berlayar menembus surga dan neraka Grand Line, membawa sang hantu Uchiha menuju ujian keadilan pertamanya di dunia yang baru ini.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!