Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terungkap
Motor Supra Fit itu berhenti di depan rumah petak Tambora dengan deru yang jauh lebih tenang dibanding biasanya—seolah mesin tua itu pun ikut menahan napas, menghormati kelelahan Ibu Aminah yang masih terkantuk-kantuk di jok belakang. Arya menurunkan standar samping motornya pelan-pelan, lalu dengan hati-hati menggendong ibunya masuk ke kamar. Bau minyak kayu putih dan rempah dapur menyambutnya seperti pelukan yang selalu berhasil menenangkan apa pun yang bergejolak di dadanya—termasuk debaran aneh yang sejak subuh tadi menolak reda.
"Istirahat dulu ya, Bu. Nanti kalau udah bangun, Arya bikinin teh anget," bisik Arya sambil menyelimuti ibunya yang sudah setengah terlelap, senyum lelah tersungging di wajah wanita tua itu.
Begitu Arya keluar kamar dan menutup pintu tripleks pelan-pelan, ia menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sepanjang hari yang penuh gejolak ini, ada jeda yang terasa damai. Ia duduk di kursi kayu reyot di ruang tamu, menatap dua gelas teh yang belum sempat dibuatnya, lalu memejamkan mata sejenak—mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi: ciuman subuh tadi, pertemuan tak terduga dengan Alya di pasar, dan restu diam-diam yang tampaknya sudah dikantongi ibunya sendiri.
Namun kedamaian itu tidak berumur panjang.
Di ujung gang, di sebuah warkop kecil yang sudah berubah wajah menjadi shelter kaca berpendingin udara, Mbak Sri sedang melayani dua orang tamu tak biasa: asisten pribadi Citra Kirana dan asisten pribadi Nadia Anastasia, yang kebetulan datang di jam yang sama untuk urusan logistik pasokan mingguan warkop. Sudah jadi rahasia umum di antara Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri sejak malam soto tangkar berbulan-bulan lalu bahwa mereka bertiga adalah "jendela informasi" resmi menuju kehidupan pribadi Arya—jendela yang, meski dibuka atas dasar kasih sayang tulus pada Arya, tetap saja sebuah jendela yang bisa diintip siapa pun yang cukup gigih bertanya.
"Eh, Neng, tadi pagi ada kejadian seru lho di Pasar Induk," celetuk Mbak Sri sambil mengelap gelas, tanpa curiga sedikit pun bahwa informasi itu akan menjalar secepat kilat. "Katanya si Arya panik banget, Bu Aminah pingsan kecapean belanja, terus untungnya ada mahasiswi kedokteran cantik yang nolongin. Alya namanya. Kabarnya sih Bu Aminah langsung klepek-klepek, udah kayak dapet menantu aja."
Kedua asisten itu saling melirik sepersekian detik, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, masing-masing mengangkat ponsel dan mengirim pesan singkat ke atasan mereka. Bukan kebetulan kosmik. Bukan takdir gaib sistem. Hanya sebuah jaringan intelijen sederhana yang sudah lama mereka bangun sendiri, sekarang bekerja persis seperti fungsinya—dan kali ini membawa kabar yang membuat dua wanita paling berpengaruh di Jakarta seketika meninggalkan agenda hari itu.
Arya baru saja bangkit dari kursinya untuk mengambil termos air panas ketika suara mesin asing kembali memecah ketenangan gang sempit Tambora. Bukan satu mesin, tapi dua—berbunyi hampir bersamaan, seolah keduanya sengaja berlomba siapa yang lebih dulu tiba.
"Aduh, jangan lagi... gua baru aja mau minum teh dengan tenang," keluh Arya dalam hati, matanya melirik ke jendela kecil di dekat pintu. Dua pasang lampu depan—satu bulat klasik ala Porsche, satu lagi tegas ala Mercedes—menyorot masuk ke gang yang biasanya hanya diterangi lampu merkuri berkedip.
God-Phone di sakunya bergetar halus, lebih pelan dari biasanya, seolah sistem sendiri sedang berhati-hati membangunkan Arya dari sisa kedamaian yang masih ia genggam.
TING-TONG!
[NOTIFIKASI SISTEM: KEDATANGAN TAK TERJADWAL TERDETEKSI!]
[Analisis: Target VIP Citra Kirana & Nadia Anastasia menerima informasi lapangan dari sumber internal pangkalan (bukan intervensi sistem) mengenai peristiwa Pasar Induk pagi ini. Kedua target kini tiba di lokasi Anda secara mandiri.]
[Catatan: Sistem tidak bertanggung jawab atas kebocoran informasi ini. Sistem hanya menyarankan: jaga stabilitas emosional Ibu Kandung yang sedang beristirahat.]
Arya menghela napas panjang membaca catatan itu. "Oh, jadi ini bukan ulah sistem. Ini murni gara-gara mulut ember Bang Jay, Dedi, sama Mbak Sri yang emang udah lama jadi mata-mata dua kubu ini. Pantesan... rasanya kayak déjà vu banget sama kejadian pas mereka bocorin nama Nayla dulu."
Belum sempat Arya mencerna lebih jauh, pintu jalusi hijau yang catnya sudah mengelupas itu diketuk pelan—tapi cukup untuk membuat suasana rumah kecil itu berubah drastis. Arya membuka pintu, dan di depannya berdiri Citra Kirana dengan map kulit di tangan serta kotak beludru kecil, dan Nadia Anastasia dengan keranjang anyaman berisi kue apem hangat—keduanya berdiri berdampingan meski jelas tidak saling melirik ramah.
"Arya," sapa Citra lebih dulu, suaranya tenang namun ada jejak ketergesaan yang tidak biasa untuknya. "Aku dengar Ibu Aminah pingsan tadi pagi. Aku ke sini begitu tahu."
"Aku juga," Nadia menimpali cepat, matanya melirik tajam ke arah Citra sebelum kembali menatap Arya dengan lembut. "Aku bawa kue apem lagi. Dan... vitamin."
Arya menatap keduanya bergantian, lalu menghela napas panjang yang jauh lebih berat dari biasanya. "Ya Allah, gua paham kalian peduli. Tapi kenapa harus barengan begini? Kayak lagi rapat komite dadakan buat ngurusin nasib satu ibu-ibu penjual nasi timbel."
"Ibu saya lagi istirahat," ujar Arya akhirnya, suaranya rendah namun tegas. "Kalau kalian mau masuk, saya minta tolong—jangan berdebat di depan beliau. Beliau baru aja lepas dari kelelahan, saya nggak mau tensinya naik lagi gara-gara dengar kalian dua saling sindir."
Kedua wanita itu terdiam sejenak, lalu mengangguk hampir bersamaan—sebuah kesepakatan diam yang jarang terjadi di antara mereka. Arya membuka pintu lebih lebar, mempersilakan keduanya masuk ke ruang tamu yang hanya seluas kamar mandi kantor mereka.
Gelas kaca bermotif bunga pudar berdenting pelan di atas meja jengki tua saat Arya menuangkan teh hangat untuk kedua tamunya. Aroma teh sederhana itu berbaur canggung dengan parfum mahal yang menguar dari tubuh Citra dan Nadia, menciptakan kontras yang membuat ruang tamu kecil itu terasa lebih sesak dari biasanya.
Ibu Aminah, yang ternyata sudah terbangun karena suara mobil tadi, keluar dari kamar dengan langkah pelan, disambut Arya yang segera membantunya duduk di dipan kayu di sudut ruangan.
"Kalian berdua," Ibu Aminah membuka suara lebih dulu, nada bicaranya lembut namun penuh ketajaman seorang ibu yang sudah kenyang makan asam garam. "Datang jauh-jauh cuma buat nengok orang tua kecapean kayak Ibu?"
Citra menunduk sedikit, meletakkan map kulitnya di pangkuan alih-alih menyodorkannya seperti rencana awal. "Saya minta maaf kalau kedatangan saya terkesan mendadak, Bu. Saya cuma... khawatir."
"Saya juga, Bu," sahut Nadia, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Saya bawa kue apem lagi. Bukan buat pamer, cuma... saya pengen Ibu tahu saya beneran peduli."
Ibu Aminah menatap kedua wanita muda itu bergantian, lalu tersenyum tipis—senyum yang sama seperti saat beliau menghadapi Nadia dan Citra pertama kali di atas tikar pandan beberapa waktu lalu. "Ibu tahu kalian peduli, Nduk. Tapi Ibu juga tahu, kepedulian yang datang bareng-bareng gini biasanya karena ada yang dengar kabar dari orang lain, bukan dari Arya sendiri."
Kalimat itu telak, membuat Citra dan Nadia sama-sama terdiam. Arya yang berdiri di ambang pintu dapur hanya bisa menahan napas, mengagumi ketajaman ibunya yang selalu berhasil membaca situasi tanpa perlu berbasa-basi panjang.
"Ibu nggak marah kok," lanjut Ibu Aminah, menepuk pelan tangan Nadia yang duduk paling dekat dengannya. "Cuma Ibu mau bilang satu hal aja. Arya itu anak Ibu satu-satunya yang masih hidup." Suara Ibu Aminah sedikit bergetar di kata terakhir, membuat Arya menegang di tempatnya berdiri. "Ibu nggak mau dia dijadiin rebutan kayak barang lelang. Kalau kalian sayang sama dia, buktiin dengan cara yang bikin dia tenang, bukan bikin dia tambah pusing."
Ruang tamu itu hening sejenak. Citra menatap map di pangkuannya, lalu perlahan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. "Saya mengerti, Bu. Maaf."
Nadia mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari. "Saya juga minta maaf, Bu."
Arya, yang sejak tadi menahan napas, akhirnya bisa bernapas lega. Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik, sebelum Citra—dengan nada yang lebih hati-hati dari biasanya—membuka topik lain yang sama sekali tidak Arya duga.
"Arya," ujar Citra pelan, matanya menatap lurus ke arah Arya yang berdiri di ambang pintu. "Aku sebenarnya ke sini juga karena satu hal lain. Bukan cuma soal Ibu."
Arya mengernyit. "Apa, Nona Citra?"
Citra menghela napas, seolah mempertimbangkan apakah ini waktu yang tepat, namun akhirnya memutuskan untuk jujur. "Beberapa waktu lalu, saat aku dan Nadia menggali informasi tentang masa lalumu lewat Bang Jay dan Dedi... ada satu nama yang muncul. Nama yang membuat Dedi tiba-tiba diam dan mengganti topik. Nama seorang arsitek."
Jantung Arya berdegup satu kali dengan keras, seolah ada palu yang menghantam dadanya dari dalam. Ia tahu persis nama apa yang akan disebut Citra selanjutnya.
"Nayla," lanjut Citra pelan, mengamati reaksi Arya dengan seksama. "Aku tidak bermaksud membuka luka lama, Arya. Tapi aku ingin kau tahu—aku sudah menyimpan informasi itu sejak lama, dan aku memilih untuk tidak menggunakannya sampai sekarang. Aku hanya... penasaran kenapa nama itu bisa membuat dua driver ojol pemberani seperti Bang Jay dan Dedi tiba-tiba bungkam."
Arya menatap lantai semen di bawah kakinya, rahangnya mengeras. Nama itu—nama yang sudah bertahun-tahun ia kubur dalam-dalam di balik rutinitas menarik ojol dan kesibukan menghidupi keluarga—kini muncul kembali ke permukaan, bukan lewat kejutan sistem yang absurd, melainkan lewat kejujuran seorang wanita yang selama ini menyimpannya sebagai rahasia.
"Nayla itu... masa lalu, Nona Citra," jawab Arya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Bukan sesuatu yang penting buat dibahas sekarang."
Namun Ibu Aminah, yang duduk diam mendengarkan seluruh percakapan itu, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Matanya menerawang jauh, seolah menembus dinding tripleks rumahnya menuju kenangan bertahun-tahun silam.
"Nayla anak Bu Ratna, yang dulu punya toko kelontong di ujung pasar itu?" tanya Ibu Aminah pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun di ruangan itu. "Ya Allah... Ibu udah lama banget nggak denger nama itu."
Arya menoleh cepat ke arah ibunya, terkejut. "Ibu... masih inget?"
Ibu Aminah tersenyum tipis, senyum yang bercampur antara haru dan sesuatu yang terasa seperti penyesalan lama. "Ibu ini emaknya kamu, Le. Mana mungkin Ibu lupa nama gadis yang dulu bikin kamu pulang narik ojol sambil senyum-senyum sendiri kayak orang linglung selama berbulan-bulan."
Ruangan itu kembali hening, kali ini dengan bobot yang berbeda—bukan lagi ketegangan antara tiga wanita yang memperebutkan hati Arya, melainkan keheningan yang lahir dari kenangan yang belum sepenuhnya selesai. Citra dan Nadia saling melirik, menyadari bahwa mereka baru saja membuka pintu menuju sebuah bab dalam hidup Arya yang bahkan belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Arya berdiri diam, menatap keluar jendela kecil rumahnya, ke arah gedung-gedung pencakar langit SCBD yang berkelip di kejauhan seperti taring raksasa yang menjaga rahasia kota. Di sana, di salah satu lantai tertinggi menara itu, seorang wanita bernama Nayla Adinegara sedang duduk di ruang kerjanya, sama sekali tidak menyadari bahwa namanya baru saja diucapkan kembali di sebuah rumah petak kecil di Tambora—dan bahwa pengucapan nama itu akan segera mengguncang keseimbangan yang selama ini susah payah dijaga Arya.
"Nona Citra, Nona Nadia," ujar Arya akhirnya, suaranya kembali tenang meski masih menyisakan getaran kecil. "Terima kasih sudah jujur. Tapi saya mohon, biarkan urusan itu jadi urusan saya sendiri dulu. Kalau memang harus dibuka, saya yang akan buka—bukan lewat informasi yang bocor dari mulut orang lain."
Citra mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan rasa hormat yang tulus. "Tentu, Arya. Aku minta maaf sudah membawanya di waktu yang salah."
Nadia, yang sejak tadi diam memperhatikan, akhirnya angkat bicara dengan suara lembut. "Kalau kamu butuh cerita, Arya... aku di sini. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai selebriti. Cuma sebagai orang yang mau dengerin."
Arya menatap kedua wanita itu bergantian, lalu tersenyum tipis—senyum lelah namun tulus. "Makasih, Nona-nona. Sekarang, saya rasa Ibu saya butuh istirahat lagi. Dan saya... butuh waktu buat mikir."
Malam itu, setelah Citra dan Nadia pamit dengan hati yang jauh lebih ringan dari saat mereka datang, Arya duduk sendirian di teras rumahnya, menatap langit Tambora yang penuh bintang samar tertutup polusi kota. Di dalam saku jaketnya, God-Phone bergetar pelan sekali lagi—bukan notifikasi misi, melainkan sebuah pesan sederhana yang muncul di layar holografisnya.
[Catatan Sistem: Beberapa luka tidak butuh keajaiban untuk sembuh. Hanya butuh waktu, dan keberanian untuk membukanya kembali.]
Arya menatap kalimat itu lama, lalu memejamkan mata, membiarkan angin malam Tambora membawa serta kenangan tentang seorang gadis bernama Nayla yang dulu pernah membuatnya percaya bahwa mimpi seorang anak ojol bisa menjangkau langit—sebelum kenyataan mengajarkannya untuk berhenti bermimpi terlalu tinggi.