Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
004
Suara derum mesin sedan hitam itu akhirnya mati di pelataran kediaman Carser. Keheningan malam yang menusuk langsung menyergap ketika pintu mobil terbuka.
Aurora melangkah keluar dengan napas memburu, mengabaikan rasa nyeri yang menyengat dari bekas jahitan operasi caesar-nya.
Begitu mereka melewati pintu depan neoklasik yang tinggi dan melangkah di atas lantai marmer putih Italia yang dingin, benang kesabaran yang ditahannya sepanjang malam akhirnya putus total.
Ia berbalik, menatap Jonathan yang sedang melepaskan jas tuxedo-nya dengan santai.
"Brengsek! Kau benar-benar mencumbu jalang mu di depan mataku, Jonathan!" pekik Aurora, suaranya gemetar oleh kepedihan dan amarah yang meledak.
Jonathan terdiam di tempatnya berdiri. Tangannya yang memegang kerah jas terhenti sejenak.
Di dalam benaknya, memori singkat di restoran The Obsidian berputar—bagaimana ia secara terang-terangan menarik Berenda di lorong remang-remang menuju gudang anggur, memagut bibir asistennya itu di balik dinding marmer, persis ketika ia tahu Aurora mungkin berada tak jauh dari sana.
Bukannya merasa bersalah, Jonathan justru tertawa kecil. Sebuah tawa hampa yang sangat dingin. Ia memandang Aurora dari atas ke bawah, menatap wajah istrinya yang terpoles makeup tebal dan bibir merah yang bergetar.
"Aku tidak menghasilkan anak dari perbuatanku, Aurora," jawab Jonathan setimpal, suaranya tenang namun sarat racun. "Sedangkan dirimu? Draco adalah bukti nyata bahwa kau selalu membuka kedua kakimu untuk mantan kekasih tersayangmu!"
DEG.
"Kau monster!" cetus Aurora cepat, pandangan matanya menatap tajam bagaikan kilat marah yang siap menyambar Jonathan. "Demi Tuhan, Draco itu anakmu! Aku tidak tahu... aku benar-benar tidak tahu kenapa wajahnya begitu mirip dengannya!"
Jonathan terkekeh sinis. Ia melangkah mendekati Aurora, mengikis jarak hingga aroma alkohol premium dan parfum mahal memburu wajah wanita itu.
"Kalau dia memang anakku, itu artinya kau begitu mendambakannya setiap malam. Kau lupa?" Jonathan memiringkan kepalanya, berbisik tepat di hadapan wajah Aurora. "Malam pertama kita... kau menyebut namanya! Sialan!"
Tanpa menunggu jawaban, Jonathan berbalik kasar dan melangkah lebar menaiki tangga melingkar menuju kamarnya di lantai atas, meninggalkan suara dentuman langkah kaki yang bergema tajam.
Aurora mematung di tengah hall yang megah dan dingin. Tubuhnya membeku. Kata-kata Jonathan menghantam ingatan tergelapnya.
Ia memang bersalah. Malam itu—malam pertama pernikahan mereka berbulan-bulan lalu—Aurora yang terlelap dalam kepungan rasa lelah luar biasa dan halusinasi pasca-resepsi megah tiga hari tiga malam, mendesah pelan di bawah himpitan tubuh Jonathan: 'Aku kelelahan, Braxley...'
Hanya kata itu. Satu kalimat pendek yang terlontar dari alam bawah sadarnya. Dan malam itu menjadi kali pertama sekaligus terakhir Jonathan menyentuhnya sebagai seorang suami.
Sejak detik itu, surga semu yang dibangun Jonathan hancur berganti menjadi neraka persekusi yang dingin.
Aurora menatap punggung suaminya yang menghilang di belokan tangga. Tatapannya kosong, terlempar kembali ke masa lalu.
Jonathan Carser. Pria itu pernah mengaku mengaguminya sejak lama, sejak masa-masa awal mereka berada di universitas.
Mereka berdua sama-sama tumbuh di panti asuhan yang sama di kota ini. Namun, nasib mereka bertolak belakang.
Jonathan rupanya memiliki kedua orang tua kandung kaya raya yang akhirnya menemukannya dan mengambilnya kembali, mengubah takdir pria itu menjadi pewaris tahta bisnis Carser.
Sementara Aurora tetaplah gadis yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa.
Nasib Aurora hanya cukup beruntung karena dibekali otak cerdas, beasiswa penuh, dan paras cantik yang sempurna.
Dan di masa High school Aurora bertemu dengan Braxley Valerio-Desmon. Pria itu adalah definisi kesempurnaan hakiki bagi Aurora—tampan, kaya, dan memiliki aura dominan yang tak tertandingi. Mereka dinobatkan sebagai pasangan paling sempurna di kampus.
Namun, Braxley adalah pria yang sering bermasalah.
Pria itu kerap masuk ruang kedisiplinan karena terlibat tawuran antar-geng dan aksi kejar-kejaran di jalanan.
Aurora selalu berharap Braxley akan berubah seiring bertambahnya usia saat mereka masuk ke jenjang universitas.
Apalagi mengingat nama besar keluarga Valerio-Desmon yang sangat dihormati, Aurora merasa dirinya sama sekali tidak pantas mendampingi calon pewaris tunggal dinasti tersebut.
Rasa minder, ketakutan akan penolakan keluarga besar Desmon, dan kekhawatiran bahwa Braxley belum siap menjadi seorang ayah itulah yang membuat pil kontrasepsi darurat menjadi andalan Aurora setiap kali mereka berhubungan.
Kebiasaan rahasia yang akhirnya terbongkar dan menghancurkan ikatan cinta mereka hingga berujung perpisahan pahit bertahun-tahun lalu.
Hingga dua tahun kemudian, setelah Aurora kembali dan berjuang sendirian, Jonathan datang membawa penerimaan mutlak.
Jonathan melamarnya dengan niat yang tampak sangat tulus, menyatakan bahwa ia menerima segala kekurangan serta masa lalu Aurora tanpa syarat.
Owek! Owek!
Tangisan nyaring Draco memecahkan lamunan Aurora. Suara jeritan bayi itu bersumber dari kamar bayi di ujung lorong lantai dua.
Aurora tersentak. Ia segera membenarkan posisi gaunnya dan bergegas berlari kecil menaiki tangga, mengabaikan rasa terbakar di perut bawahnya.
Di dalam kamar bayi yang beraroma lavender, sang pengasuh tampak kewalahan dan panik menimang Draco yang wajahnya memerah padam akibat demam tinggi yang kembali naik.
"Nyonya...Tuan Muda Draco menangis terus dari tadi, demamnya naik lagi," ujar pengasuh dengan nada bersalah.
"Berikan padaku," bisik Aurora cepat. Ia mengambil alih tubuh mungil Draco ke dalam dekapannya, menepuk-nepuk punggung bayinya dengan lembut sambil membisikkan kata-kata penenang.
Namun, baru lima menit Aurora berusaha menenangkan putranya, pintu kamar bayi terdorong kasar hingga membentur dinding.
Jonathan berdiri di ambang pintu dengan wajah murka dan mata merah.
"Bisakah kau tenangkan putramu yang berisik itu?!" bentak Jonathan melengking. "Aku benar-benar tidak bisa beristirahat dengan baik, Aurora!"
Aurora berbalik, menatap suaminya dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. "Dia demam tinggi, Jonathan! Jadi sangat wajar kalau dia menangis dan rewel!"
Jonathan tertawa mengejek, langkahnya maju satu tindak dengan raut wajah yang amat menjijikkan. "Kau terbiasa mendesah saat membuatnya, itulah kenapa dia selalu menangis seperti anak haram!"
Kata-kata kasar itu bagaikan sabetan cambuk beracun yang menghantam harga diri Aurora yang sudah terkoyak.
Rasanya lelah dan begitu hancur.
Di bawah tekanan rasa sakit fisik, keletihan mental dari rumah sakit, amarah akibat perselingkuhan Jonathan, dan tuduhan tak berdasar yang diulang setiap hari, benteng pertahanan jiwa Aurora runtuh sepenuhnya.
Dengan mata menyala dan napas tersengal, Aurora menatap lurus ke dalam mata Jonathan dan berteriak, "Ya! Kau benar, Jonathan! Aku akan selalu mendesah atas namanya! Dirimu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan Axley... kau puas?!"
Suasana kamar bayi mendadak hening seketika. Hanya terdengar isak tangis Draco yang perlahan mereda dalam pelukan Aurora.
Jonathan mematung. Matanya membelalak sebelum sebuah senyuman kejam terpancar di wajahnya. "Kau baru saja mengakuinya, Aurora. Putramu adalah anak dari Braxley. Luar biasa."
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Jonathan berbalik dan membanting pintu kamar bayi dengan keras hingga membentur bingkai kayu.
Aurora mematung di tempatnya, berdiri gemetar sambil merengkuh erat tubuh Draco.
Air matanya menetes deras membasahi pipinya yang tirus. Ia muak. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kehidupannya yang hancur berkeping-keping ini. Ia merasa terlalu lelah untuk terus-menerus meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa putranya adalah anak kandung Jonathan.
Namun di dasar hatinya, sebuah kebingungan yang teramat besar dan mengerikan merayap naik.
Demi Tuhan... sejak dua tahun berpisah, ia tidak pernah lagi bertemu atau berhubungan dengan Braxley Valerio-Desmon.
Lantas, bagaimana mungkin ia bisa mengandung dan melahirkan putra yang memiliki kemiripan mutlak dengan pria itu?
Dua tahun, Aurora telah berjuang menata hatinya yang hancur.
Satu tahun pertama pasca-putus dari Braxley, ia hanya sibuk menyelesaikan tugas akhirnya di universitas, tinggal di asrama kampus, fokus belajar, dan makan dengan baik untuk bertahan hidup.
Setahun kemudian, ia bekerja secara profesional sebagai staf komunikasi, hingga akhirnya Jonathan hadir melamarnya. Tidak ada pria lain. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada malam gila bersama Braxley.
Air matanya terus menetes, jatuh tepat di kening Draco. Aurora menatap wajah bayi mungil yang kini terlelap karena kelelahan menangis. Ia memperhatikan garis alisnya, bentuk hidungnya, dan garis rahangnya yang begitu familiar.
Dada Aurora berdesir hebat dalam ketakutan yang teramat sangat. Sebuah pertanyaan mengerikan merayap di dalam benaknya:
Apa sebenarnya yang terjadi padaku? Apakah ada sesuatu yang terjadi di masa lalu yang tidak aku ketahui?
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳