Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Buku Proyek Kronos kini tersimpan aman di dalam sebuah tas arsip. Tak ada satu pun dari mereka yang bersuara sepanjang perjalanan; hanya dengung halus mesin mobil yang memecah keheningan, mengiringi benak mereka yang sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Lampu teras rumah Kakek Hasan masih menyala redup saat mereka tiba. Di halaman depan, lelaki tua itu tampak sedang menyiram tanaman seperti biasa. Melihat Zain datang bersama Profesor, senyumnya menyungging.
"Lho... malam-malam begini?" sapanya ramah.
"Kakek belum tidur?" tanya Zain.
"Orang tua tidurnya cepat, bangunnya juga cepat," sahut Kakek Hasan disertai tawa kecil. Namun, tawa itu perlahan pudar begitu matanya tertuju pada wajah Profesor.
"Surya..." gumamnya.
Profesor mengangguk penuh hormat. "Sudah lama ya, Pak. Hampir tiga puluh tahun."
Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tamu. Meski teh hangat telah disuguhkan, tak seorang pun menyentuh cangkirnya. Profesor mengeluarkannya sebuah foto lama dari map dan meletakkannya di atas meja. Kakek Hasan memandangi foto itu cukup lama hingga matanya mulai berkaca-kaca.
"Masih disimpan rupanya..." bisiknya pelan.
Profesor lalu mengeluarkan buku catatan Proyek Kronos. Begitu melihat sampulnya, tangan Kakek Hasan sedikit bergetar.
"Kalian... menemukan buku itu?"
"Bapak tahu soal buku ini?" tanya Zain.
Kakek Hasan mengangguk pelan. "Tahu."
Ruangan seketika hening. Zain tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang membuncah. "Kenapa Kakek enggak pernah cerita kalau dulu pernah kerja di laboratorium itu?"
Kakek Hasan tersenyum tipis. "Karena kamu enggak pernah tanya."
"Terus... kenapa saya bisa ada di sana?"
"Dulu ibumu kerja sampai malam, sedangkan ayahmu sering bertugas ke luar kota. Jadi, Kakek yang menjagamu. Kalau Kakek dapat giliran jaga malam, ya kamu ikut dibawa."
Zain mengangguk pelan. Jawaban itu memang masuk akal, tetapi belum cukup untuk menjawab pertanyaan terbesarnya.
Profesor kemudian membuka halaman yang memuat tulisan Subjek Z. "Bapak... apa Bapak ingat bagian ini?"
Kakek Hasan membaca tulisan itu perlahan. Seketika, wajahnya berubah pucat. Beberapa detik ia terdiam tanpa kata sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Jadi... akhirnya kalian menemukannya juga."
"Apa maksudnya, Kek?" tsb urut Zain.
Kakek Hasan memejamkan mata. "Aku pernah berjanji."
"Janji?"
"Kepada Surya."
Profesor mengernyit heran. "Saya?"
"Iya," jawab Kakek Hasan mantap. "Setelah kejadian malam itu, kamu memintaku untuk tidak menceritakan apa pun kepada siapa pun."
Profesor membeku di tempatnya. "Saya... pernah mengatakan itu?"
"Kamu bilang, kalau suatu hari nanti Zain datang ke laboratorium itu lagi, biarkan dia menemukannya sendiri."
Ruangan mendadak hening mencekam. Profesor menatap Kakek Hasan tanpa berkedip. "Itu... aku sama sekali tidak ingat."
Dada Zain bergemuruh, jantungnya berdetak makin cepat. "Kejadian malam apa yang Kakek maksud?"
Kakek Hasan menatap cucunya lama. Ada keraguan yang terpancar di wajahnya, seolah sedang menimbang apakah janji tua itu masih harus dijaga. Akhirnya, ia bangkit dan berjalan menuju lemari kayu tua di sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kotak besi kecil yang mulai berkarat.
Dengan perlahan, Kakek Hasan membuka gembok mungil yang mengunci kotak tersebut. Di dalamnya hanya ada satu benda: sebuah kaset video mini. Di permukaannya, tertulis sebuah catatan dengan spidol hitam yang sudah pudar: KRONOS – MALAM 17.
Kakek Hasan menyerahkannya kepada Profesor. "Ini yang dulu kamu titipkan kepadaku."
Profesor menerima kaset itu dengan kedua tangannya yang gemetar. "Kenapa tidak pernah dikembalikan?"
Kakek Hasan tersenyum lirih. "Karena kamu melarangku memberikannya kepada siapa pun... sampai Zain sendiri yang kembali ke laboratorium itu."
Zain menatap kaset kecil di tangan Profesor. Entah mengapa, bulu kuduknya mendadak berdiri. Ia memang belum tahu apa isi rekaman tersebut, tetapi firasatnya berbisik kuat: jawaban atas malam yang mengubah seluruh hidupnya mungkin telah terperangkap di dalam kaset itu selama hampir tiga puluh tahun.
Malam itu juga, mereka memutuskan untuk kembali ke laboratorium. Kaset mini yang penuh misteri tersebut diletakkan di atas meja dengan penuh kehati-hatian. Tak ada seorang pun yang berani menyentuhnya, hingga suara Ardi memecah kesunyian yang mencekam.
"Masalahnya... kita sudah enggak punya alat pemutarnya lagi."
Profesor Surya mengangguk pelan setuju. Format kaset seperti itu memang sudah puluhan tahun ditinggalkan. Bahkan, ruang penyimpanan laboratorium modern mereka pun sudah lama mengalihkan seluruh arsip ke bentuk digital.
"Tunggu, ada satu," ucap Profesor tiba-tiba.
Semua mata seketika menoleh ke arahnya. Profesor melangkah menuju gudang penyimpanan peralatan lama. Rak demi rak dibongkar, kotak demi kotak diturunkan. Hampir setengah jam berlalu dalam pencarian yang melelahkan itu, sampai akhirnya Profesor mengangkat sebuah tas hitam yang tebal berdebu.
Ia membuka ritsletingnya. Di dalamnya terbaring sebuah kamera video tua yang dilengkapi layar lipat kecil.
Ardi tersenyum lega. "Masih disimpan rupanya."
"Aku memang tidak pernah tega membuangnya," sahut Profesor tipis.
Baterai kamera itu tentu saja sudah mati total dimakan waktu. Namun beruntung, adaptor dayanya masih tersimpan utuh. Setelah dibersihkan seperlunya, kamera tua tersebut langsung disambungkan ke stopkontak listrik.
Tit...
Lampu indikatornya menyala merah, dan layar kecilnya perlahan-lahan hidup kembali. Kamera tua itu masih berfungsi dengan baik.
"Hebat," gumam Zain kagum. "Barang setua ini ternyata masih bisa nyala."
Profesor tersenyum tipis merespons kekaguman Zain. "Benda yang dirawat dengan baik sering kali memiliki umur yang lebih panjang dari perkiraan kita."
Kaset mini itu dimasukkan ke dalam slot kamera. Suara mekanis kecil berderik halus. Klik...
Layar lipatnya berubah menjadi hitam sejenak, lalu memunculkan garis-garis noise khas pita kaset tua. Beberapa detik kemudian, rekaman video mulai berjalan.
Tanggal di pojok bawah layar menunjukkan: 17 Agustus 1998.
Gambar tersebut menampilkan suasana laboratorium lama. Kualitasnya memang buram dan warnanya mulai memudar, tetapi wajah-wajah di dalamnya masih sangat mudah dikenali. Profesor Surya tampak jauh lebih muda dengan rambut hitam pekat yang masih lebat. Ardi juga ada di sana, tampak seperti mahasiswa tingkat akhir. Beberapa peneliti lain terlihat sibuk bergelut di depan komputer besar.
Lalu, seorang anak kecil berlari melintas di layar sambil tertawa riang. Zain. Usianya saat itu mungkin baru sekitar lima tahun.
"Itu... benar-benar saya..." gumam Zain lirih, seakan tak percaya melihat dirinya versi balita.
Rekaman terus mengalir. Pak Hasan terlihat duduk santai di dekat pintu keluar, sesekali memperhatikan cucunya yang sedang bermain. Semuanya tampak berjalan biasa dan hangat—tak ada indikasi aneh sedikit pun.
Hingga tiba-tiba... suara alarm nyaring melengking memecah suasana!
Beeep... Beeep...
Seluruh peneliti yang ada di layar kompak menoleh panik ke arah monitor utama. Profesor muda berlari mendekati konsol kontrol.
"Aneh..." ucap Profesor muda di dalam rekaman. "Inti Resonansi aktif sendiri."
Ardi muda tampak tak kalah panik. "Padahal belum dialiri daya sama sekali!"
Di ruangan modern tempat mereka berada saat ini, semua orang menahan napas. Mereka tahu persis fenomena ganjil itu—sebuah keganjilan yang persis sama dengan apa yang sedang mereka alami belakangan ini.
Di layar kamera, Profesor muda memerintahkan seluruh staf untuk segera menjauh dari area inti. Namun, anak kecil bernama Zain itu justru menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah motor yang terparkir di tengah-tengah laboratorium. Motor itu bukanlah kendaraan biasa, Motor itu adalah prototipe pertama dari Proyek Kronos.
Saat itulah, layar kamera tiba-tiba dipenuhi gangguan visual hebat. Garis-garis putih mengacak seluruh gambar, dan audio rekaman berubah menjadi dengungan tinggi yang memekakkan telinga.
Nnnnnnn...
Selama beberapa detik yang menegangkan, tak ada apa pun yang terlihat jelas di layar.
Lalu, gambar mendadak kembali normal secara spontan.
Semua orang di dalam laboratorium tua tampak kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Profesor muda langsung berlari ketakutan menembus ruangan menuju Zain kecil. Anak itu masih berdiri di posisi yang sama. Tidak menangis, tidak terluka. Ia hanya berdiri mematung, menatap kosong ke arah prototipe motor Kronos.
Seketika, rekaman terputus. Layar kamera berubah menjadi biru polos. Tak ada kelanjutan lagi.
Ruangan laboratorium modern kembali tenggelam dalam kesunyian yang pekat.
"Sudah... selesai?" tanya Zain pelan, memecah keheningan.
Profesor mencoba memutar kaset sampai pita terakhirnya, tetapi memang tidak ada rekaman lain. Dokumen visual itu benar-benar berakhir di titik tersebut.
Ardi menarik napas panjang. "Jadi... sesuatu yang besar memang terjadi malam itu."
Profesor mengangguk pelan. "Ya. Tapi bagian yang paling krusialnya... justru tidak terekam oleh kamera ini."
Ia memandangi kaset mini di tangannya, lalu mengalihkan pandangannya penuh arti kepada Zain. "Tapi kita sekarang tahu satu hal penting."
"Apa itu, Prof?"
"Fenomena yang terjadi hari ini... bukanlah yang pertama kali. Namun hal ini pernah terjadi hampir tiga puluh tahun yang lalu."
Dan saat ini Profesor Surya mulai mempertimbangkan sebuah kemungkinan gila yang selama ini selalu dihindari dan ditolaknya secara ilmiah.
Mungkin saja... mereka selama ini bukannya sedang menciptakan teknologi perjalanan waktu. Tapi sedang mengulang kembali sebuah peristiwa besar yang sebenarnya telah terpicu sejak malam kelam di tahun 1998 itu.