NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata Ulah Si Arga

Setelah memastikan Juvan masuk ke rumahnya dengan selamat, Yena pun melajukan mobilnya kembali menuju kediamannya. Namun, begitu mobilnya melambat di depan pagar rumah,ia melihat di sana, terparkir mobil mewah yang tak asing baginya. Dan di samping mobil itu, bersandar santai dengan senyum licik yang tak pernah berubah—berdiri Arga.

Jantung Yena seketika mencelos. Ia buru-buru mematikan mesin, turun dengan langkah tegas menghampiri pria itu, menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus was-was.

"Arga? Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya tajam, suaranya terdengar penuh keheranan.

"Apa maksudmu datang ke rumahku?"

Namun Arga sama sekali tak menjawab pertanyaan itu. Ia justru melangkah mendekat, menatap Yena dengan senyum miring yang penuh ancaman, lalu memotong pembicaraan gadis itu dengan nada sinis.

"Gimana, Sayang? Suka tidak melihat pacar barumu itu terluka?"

Yena terbelalak seketika, tubuhnya tertegun kaku di tempat. Darahnya seakan mendidih mendengar ucapan itu.

"Apa... apa maksud ucapanmu itu?" tanyanya bergetar, matanya menatap tak percaya wajah pria di hadapannya.

Arga tertawa pelan, lalu menatapnya dengan tatapan dingin dan penuh amarah yang tersembunyi. Ia melangkah semakin dekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari Yena.

"Ya... semuanya adalah ulahku," ucap Arga tegas tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Akulah yang menyuruh anak buahku mengeroyok anak laki-laki itu di jalan. Aku sengaja melukainya, agar dia sadar diri. Jangan bermimpi bisa mendekatimu. Kamu itu milikku, dan akan tetap menjadi milikku. Siapa pun yang berani mendekatimu, akan berakhir seperti dia."

Yena terperangah tak mampu berkata-kata. Kakinya terasa lemas seketika. Ternyata... ternyata orang-orang asing yang mengeroyok Juvan itu adalah suruhan Arga! Hatinya seketika dipenuhi rasa marah yang meluap-luap bercampur rasa ngeri melihat sifat kejam Arga yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.

Darah Yena seketika mendidih. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendorong tubuh Arga dengan sekuat tenaga hingga pria itu mundur beberapa langkah ke belakang. Matanya menatap tajam penuh amarah, napasnya memburu tak karuan.

"Sebenarnya mau kamu apa, Arga?!" bentaknya dengan suara bergetar menahan marah.

"Kamu sendiri yang telah merusak hubungan empat tahun kita! Kamu yang menduakan aku bersama Fira! Tapi sekarang... setelah aku mencoba mencari kebahagiaanku yang lain, kenapa kamu justru mengusiknya?! Apa maksudmu sebenarnya?!"

Yena menunjuk tajam ke arah Arga, suaranya semakin meninggi penuh penolakan.

"Pergilah! Fokus saja pada kekasihmu yang bernama Fira itu! Jangan pernah lagi mengganggu hidupku!"

Arga justru tersenyum sinis mendengar teriakan itu. Ia kembali melangkah mendekat, menatap Yena dengan tatapan yang tak bisa ditafsirkan.

"Siapa bilang aku serius dengan Fira?" ucap Arga tenang namun penuh penekanan. "Aku hanya bermain-main saja dengannya. Itu hanya pelarian sesaat. Sebenarnya... hatiku tetap milikmu, Yena. Aku masih sangat menyayangimu."

Arga terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah namun penuh makna tersirat.

"Dan... kau tahu sendiri kan? Ayahmu adalah rekan kerjasama bisnisku. Hubungan kita bukan sekadar urusan perasaan, melainkan juga ikatan kepentingan yang tak bisa diputuskan begitu saja. Kamu pasti akan kembali padaku. Kamu memang ditakdirkan untuk bersamaku."

"Sampai kapanpun akun tidak akan mau kembali ke padamu arga" setelah melontarkan kata-kata itu yena pun hendak pergi tapi Belum sempat Yena beranjak pergi, tangan kekar Arga tiba-tiba melingkar erat di pinggang rampingnya dan menarik tubuh gadis itu mendekat ke arahnya. Yena tersentak kaget, sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri, namun genggaman tangan Arga begitu kuat dan tak tergoyahkan. Tubuhnya terasa terjepit di pelukan pria itu, tak berdaya melawan kekuatannya.

Arga mendekatkan wajahnya hingga bibirnya tepat berada di dekat telinga Yena. Suaranya terdengar berat, rendah, dan penuh ancaman dingin yang membuat bulu kuduk Yena meremang.

"Sayang... jika kau ingin pacarmu itu tetap selamat... maka jauhilah dia."

Setelah membisikkan ancaman itu, Arga perlahan mendongak dan menurunkan kepalanya. Dengan senyum licik yang tak lepas dari wajahnya, ia mengecup kening Yena sekilas dengan kasar namun penuh penguasaan. Seolah menandai bahwa gadis itu masih menjadi miliknya.

Baru setelah itu Arga melepaskan pelukannya perlahan, meninggalkan Yena yang terpaku gemetar di tempat—bukan karena rindu, melainkan karena ketakutan dan kemarahan yang meluap-luap memenuhi dadanya.

Saat mobil arga akhirnya pergi meninggalkan Yena, tubuh Yena seketika terhimpas lemas. Kakinya tak lagi mampu menahan berat badannya, hingga ia terpaksa bersandar pada tembok pagar rumah yang dingin. Napasnya memburu tak beraturan, dadanya naik turun menahan perpaduan rasa takut, jijik, dan amarah yang meluap-luap.

Ia menyeka keningnya dengan kasar menggunakan punggung tangan, seakan ingin menghapus jejak sentuhan bibir Arga yang terasa begitu menjijikkan baginya. Kulit di keningnya terasa panas terbakar, bukan karena rindu, melainkan karena rasa muak yang mendalam.

"Mengapa... mengapa dia begitu kejam?" desis Yena dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca menahan tangis yang hampir tumpah. "Dia sudah menghancurkan semuanya... dan kini dia berani mengancam keselamatan orang yang paling berharga bagiku?"

Bayangan wajah Juvan yang terluka seketika melintas di benaknya, membuat hatinya terasa diremas perih. Ancaman Arga tadi bukan sekadar kata-kata kosong. Yena tahu betul sifat pria itu—ia mampu melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya. Jika Yena tetap mendekati Juvan, maka nyawa Juvanlah yang menjadi taruhannya.

Yena menekan dadanya yang terasa sesak, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia terjebak dalam situasi yang mustahil. Di satu sisi, hatinya tak ingin menjauh dari Juvan. Namun di sisi lain, ia tak sanggup membayangkan jika sesuatu yang lebih buruk menimpa pemuda itu hanya karena dirinya.

"Juvan..." bisiknya lirih di sela isak tangis yang tertahan. "Maafkan aku... sepertinya... aku harus menjauhimu. Bukan karena aku tidak menginginkanmu... tapi justru karena aku menyayangimu. Aku tidak sanggup membiarkanmu terluka lagi..."

Yena menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi tanah. Pilihan itu bagaikan menyayat hatinya sendiri, namun ia sadar—menjauh adalah satu-satunya cara untuk melindungi Juvan dari kejahatan Arga.

Dengan langkah gontai dan hati yang masih terasa sesak, Yena melangkah masuk ke dalam rumah. Pintu tertutup pelan di belakangnya, menyisakan kesunyian yang justru membuat dadanya semakin terasa berat. Ia bersandar di balik pintu, menutup matanya rapat-rapat berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu kencang karena ketakutan dan amarah.

Tiba-tiba, suara getaran ponsel di dalam tasnya terdengar memecah keheningan. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Yena meraih benda pipih itu. Saat layarnya menyala menampilkan nama pengirim pesan, seketika jantungnya terasa tercekat.

Juvan.

Dengan napas tertahan, Yena membuka pesan itu perlahan. Tertulis tulisan yang begitu hangat dan penuh perhatian:

"Kak Yena,Terima kasih sekali lagi untuk hari ini dan semua perhatian Kakak. Lukanya sudah tidak terasa sakit lagi, Kakak jangan khawatir ya. Kakak juga segera istirahat dan jaga kesehatan"

Singkat, sederhana, namun penuh ketulusan yang begitu dalam.

Membaca baris kalimat itu, air mata Yena seketika kembali meluncur deras membasahi pipinya. Tangannya gemetar semakin hebat, seakan hatinya terasa dicabik-cabik. Betapa inginnya ia membalas pesan itu, mengucapkan kata-kata yang menenangkan, dan berjanji akan selalu ada untuknya. Namun bayangan ancaman Arga tadi seketika kembali membayangi benaknya—ancaman yang mengancam keselamatan Juvan.

Yena menatap layar ponsel itu dengan tatapan pilu. Jari-jemarinya melayang di atas layar, namun tak sanggup mengetik satu huruf pun. Hatinya berteriak ingin menjawab, namun akal sehatnya menahan dengan erat. Demi keselamatan Juvan... demi keselamatan orang yang ia sayangi... ia harus menahannya.

Dengan berat hati, Yena perlahan menurunkan ponselnya. Ia memilih untuk tidak membalas pesan itu. Biarlah Juvan mengira dirinya lupa, biarlah Juvan mengira dirinya tidak peduli. Setidaknya... dengan begitu, Juvan akan mulai menjauh darinya dan terhindar dari amarah Arga yang kejam.

Di kamarnya, Juvan duduk di tepi tempat tidur sambil sesekali melirik layar ponsel yang ia genggam erat. Setelah mengirim pesan itu, hatinya dipenuhi harapan yang meluap-luap. Ia yakin Yena pasti akan membalasnya dengan senyum hangat dan kata-kata yang menenangkan seperti biasanya.

Menit demi menit berlalu, namun layar ponsel itu tetap gelap. Tak ada balasan masuk.

Juvan mengerutkan kening pelan.

"Mungkin Kak Yena masih di jalan pulang... belum sempat membalas pesanku"batinnya berusaha menghibur diri. Namun setengah jam berlalu, satu jam berlalu, hingga langit semakin gelap, layar ponsel itu tetap tak menyala menyambutnya.

Perlahan, rasa cemas mulai merayap masuk ke hatinya. Ia teringat wajah Yena yang tampak begitu khawatir saat bersamanya tadi. Apakah terjadi sesuatu di perjalanan pulangnya? Atau... apakah pesannya itu kurang sopan? Atau yang paling menyakitkan... apakah Kak Yena sengaja tidak ingin membalas pesannya?

Jantung Juvan terasa sesak. Ia menatap layar ponselnya yang kini menampilkan pesan yang ia kirimkan, namun balasan itu tak kunjung datang. Pikirannya mulai melayang ke mana-mana, dipenuhi rasa takut dan kesedihan yang tak beralasan.

"Apakah Kak Yena mulai menjauhiku?" batinnya bergumam pilu.

"Apakah karena aku yang belum dewasa, yang masih terlalu muda untuk mendampinginya... sehingga dia merasa tidak pantas untuk bersamaku?"

Juvan memeluk lututnya, menatap lurus ke lantai dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa sakit di wajahnya seakan tak terasa lagi, digantikan oleh rasa perih yang jauh lebih dalam di dadanya. Ia tak berani mengirim pesan kembali atau menelepon, takut dianggap mengganggu. Maka ia hanya bisa diam menunggu, menatap layar ponselnya berulang kali, berharap ada satu pesan masuk yang akan mengubah segalanya. Namun hingga larut malam, harapan itu tetap hanya tinggal harapan.

Hari-hari pun berlalu berganti. Yena menjalani harinya seolah tak ada apa-apa. Pagi ia berangkat ke kampus, menyimak perkuliahan dengan tenang, dan sesekali menyempatkan diri memeriksa perkembangan serta pesanan di toko kuenya. Di depan orang lain, wajahnya tampak biasa saja, senyum tipis tak pernah hilang. Namun siapa yang tahu, di balik senyum itu, hatinya terus terasa perih setiap kali melihat nama pengirim pesan yang muncul di layar ponselnya—nama yang begitu ia rindukan, namun harus ia abaikan demi keselamatan pemiliknya.

Begitu pula dengan Juvan. Ia tetap melangkah ke sekolah setiap pagi, menyapa teman-temannya, dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Namun ada yang berbeda. Cahaya di matanya perlahan meredup. Setiap hari, tanpa pernah absen, ia selalu menyempatkan waktu untuk mengirimkan pesan kepada Yena. Terkadang sapaan hangat di pagi hari, terkadang kabar singkat tentang kesibukannya, atau sekadar pertanyaan lembut menanyakan keadaan Yena.

Namun, hari demi hari berlalu, pesan-pesan itu tak pernah mendapat balasan. Layar ponselnya tetap gelap, sunyi, dan tak bersuara.

Awalnya Juvan berusaha mengerti. Mungkin Kakak sedang sibuk kuliah, mungkin sedang banyak urusan di toko kue, mungkin belum sempat membaca. Namun saat hari berganti minggu, dan tak satu pun pesannya terbalas, harapan itu perlahan runtuh digantikan oleh kesimpulan yang menyakitkan.

Juvan menatap layar ponselnya yang menampilkan deretan pesan yang terkirim namun tak terbalas. Dadanya terasa sesak, seakan ada yang meremasnya kuat-kuat. Akhirnya ia menyadari satu hal yang tak bisa ia pungkiri lagi.

"Kak Yena... sengaja tidak membalas pesanku. Dia sedang berusaha menghindariku."

Pemikiran itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pukulan yang diterimanya di jalan dulu. Juvan menunduk lemas, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Ia tak tahu apa kesalahannya, tak tahu mengapa tiba-tiba diperlakukan sedemikian rupa. Yang ia tahu hanyalah satu hal: sosok yang paling berharga di hatinya kini perlahan menjauh, meninggalkannya dalam kesepian yang mendalam.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!