HELENA KANAYA ATMAJAYA gadis enam belas tahun yang masih duduk di bangku sekolah, sejak kecil Helena sudah di jodohkan dengan anak teman mendiang Ibunya, yang bernama RAVELO TRIAN ADITAMA yang sama sama masih duduk di bangku sekolah, kebetulan Helena dan Velo masih satu sekolah namun beda kelas.
Dari dulu Helena memang sudah menyukai Velo, dan saat tahu kalau keduanya di jodohkan Helena semakin menempel pada Velo, membuat Velo terkadang merasa risih sendiri.
Helena sebenarnya gadis yang baik, hanya saja dia memiliki sifat posesive pada sesuatu yang memang sudah jelas jelas miliknya termasuk pada Velo. Helena tahu kalau Velo dekat dengan gadis satu kelasnya yang bernama HANA LARASATI, jadi Helena selalu berusaha menjauhkan Hana dan Velo.
Dan sikap Helena yang seperti itu, membuat semua murid di sekolahnya mengecap Helena sebagai gadis Antagonist, awalnya Helena tidak terima dirinya di anggap Antagonist, namun pada akhirnya Helan benar benar memerankan sosok Antagonist yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Waktu istirahat sudah tiba, kantin sekolah seketika langsung di penuhi oleh para murid untuk makan siang, begitu juga dengan Velo dan kedua sahabatnya, mereka sudah duduk manis di meja dan melahap makan saingnya.
''Vel''
Velo mendongak dan melihat Hana yang berdiri di depannya, lalu dia kembali melanjutkan melahap makan siangnya.
''Vel, loe gak tanya kenapa gue berangkat duluan'' tukas Hana.
''Kenapa memangnya?'' tanya Velo tanpa menatap Hana.
''Nyonya Diana, nyuruh gue agar tidak berangkat dan pulang sekolah lagi sama loe, Nyonya Diana nyuruh gue untuk jauhin loe'' papar Hana dengan expresi sedih, dia yakin kalau Velo pasti sebentar lagi akan menelfon Mamanya, karna tidak terima dengan keputusan Mamanya.
Namun dugaan Hana meleset, Velo masih terlihat santai melahap makan siangnya.
''Vel, loe denger gak yang gue bilang barusan?'' kesal Hana.
''Denger kok, mungkin Mama kecewa dan marah sama loe, karna sudah fitnah calon mantunya'' timpal Velo.
Hana seketika terdiam.
''Terus, loe dari kemarin gak nyariin gue, apa loe juga kecewa sama gue?'' tanya Hana. Dan Velo menganggukkan kepalanya.
Hana seketika langsung memegang lengan Velo, dan menatapnya dengan expresi menyesal.
''Vel, gue minta maaf, karna sudah buat loe kecewa, gue janji gak akan ngelakuin hal itu lagi'' ucapnya memohon.
Hana tidak bisa kalau Velo membencinya, mungkin Hana tidak perduli jika Diana yang membencinya, namun tidak bisa dengan Velo, Hana sudah di tahap takut kehilangan Velo, karna sangat mencintainya.
''Kalau mau minta maaf bukan sama gue, tapi sama Helen'' ucap Velo datar.
Hana langsung berdiri tegak.
''Ok, gue akan minta maaf sama Helen sekarang'' ucapnya.
Sedangkan Helen dia baru selesai mengambil jatah makan siangnya, lalu dia pergi mencari tempat untuk duduk, namun Helen langsung menghentikan langkahnya saat Hana tiba tiba menghadangnya.
''Minggir'' usir Helen.
''Helen, gue minta maaf sama loe'' ucap Hana nyaring, membuat seluruh murid yang ada di kantin menatap ke arah mereka.
Helen seketika tersenyum devil. ''Oh, loe mau minta maaf, ok, gue maafin loe'' ucapnya, lalu menumpahkan makan siang yang di ambilnya ke baju seragam Hana.
''Akhh,,'' pekik Hana kaget.
Maxim yang melihat itu langsung berlari ke arah mereka.
''Hel, loe apa apaan sih!'' sentak Maxim sembari mendorong bahu Helen, membuat piring yang di pegang Helen terjatuh dan pecah karna terbuat dari keramik.
Prakk
''Hel, kamu ga apa apa?'' tanya Velo yang tiba tiba sudah ada di samping Helen, dan merangkul bahu Helen.
Lalu Velo menatap tajam Maxim. ''Max, loe ngapain dorong dorong Helen, ha!'' bentak Velo penuh amarah, suaranya menggelegar membuat murid murid yang ada di kantin kaget, karna ini pertama kalinya mereka mendengar Velo membentak orang dengan suara keras, bahkan Helen juga tak kalah kagetnya, sampai sampai dia tertegun.
'' Vel, Helen sudah sangat keterlaluan, Hana sudah minta maaf baik baik, tapi dia malah menindas Hana'' tukas Maxim tak terima kalau Velo membela Helen.
Exel yang sejak tadi diam, pandangannya langsung jatuh pada kaki kiri Helen yang terlihat mengeluarkan bercak darah di kaos kakinya yang berwarna putih.
''Vel, sepertinya kaki Helen terluka'' seru Exel.
Velo sontak langsung menunduk melihat kaki Helen, dan benar saja ada bercak darah yang merembes di kaos kaki Helen yang berwarna putih.
Lalu Velo langsung meminta Helen untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya, lalu Velo dengan hati hati menurunkan kaos kaki Helen, dan melihat ada goresan luka yang mungkin terkena pecahan piring keramik tadi.
''Xel, tolong ambilkan kotak p3k'' pinta Velo.
''Iya'' Exel langsung bergegas mengambil kotak p3k yang di sedikan di kantin, lalu dia bergegas kembali ke hadapan Velo.
''Vel, ini kotak p3k nya'' ucap Exel meletakkan kotak p3k di kursi samping Helen.
Velo langsung membuka kotak itu, dan mencari cairan antiseptik serta kapas, untuk membersihkan darah di luka Helen.
Sedangkan Helen dia masih larut dalam rasa terkejutnya, karna melihat Velo untuk pertama kali membelanya.
''Aku akan membersihkan lukanya dulu, kamu tahan sebentar ya'' ucap Velo, lalu mulai menyentuh luka Helen dengan kapas yang sudah di kasih cairan antiseptik, membuat Helen yang sejak tadi melamun langsung kaget dan meringis.
''Ishhhh''
''Tahan ya, sebentar lagi selesai'' ucap Velo.
Setelah darah di kaki Helen yang terluka selesai di bersihkan, Velo langsung menutup lukanya dengan plaster. ''Sudah'' ucapnya.
''Makasih'' ucap Helen.
''Sama sama'' balas Velo sembari mengusap pucuk kepala Helen, yang sedang menunduk untuk melihat lukanya.
Tubuh Helen seketika membeku, dia kaget dengan apa yang di lakukan Velo barusan, apa dirinya tidak salah lihat, barusan Velo mengusap kepalanya? batin Helen.
''Apa lukanya sangat sakit?'' tanya Velo karna melihat Helen yang diam saja.
Helen seketika langsung tersadar dari rasa kegetnya, dia buru buru menggelengkan kepalanya, lalu berdiri.
''Tidak sakit, cuma agak perih dikit'' jawab Helen.
''Apa perlu aku gendong'' tawar Velo.
Helen langsung menggeleng. ''Gak perlu, lagian cuma lecet, bukan patah'' tukas Helen.
Velo seketika tertegun, dia ingat dulu Hana kakinya juga pernah tergores sama seperti yang di alami oleh Helen, tapi saat itu Hana terus mengeluh perih padanya, berbeda dengan Helen yang terlihat biasa biasa saja, bahkan tidak mengeluh sama sekali.
''Eh, kamu mau kemana?'' Velo menahan lengan Helen yang hendak melangkah pergi.
''Mau ambil makan lah, lapar gue'' sahut Helen.
Velo langsung menekan bahu Helen untuk duduk kembali. ''Kamu duduk aja di sini, biar aku ambilkan makan untuk kamu'' ucapnya, setelah itu bergegas pergi mengambil makan siang untuk Helen.
Helen seketika melongo melihat tingkah laku Velo, lalu dia menatap Exel yang duduk di depannya.
''Xel, sahabat loe kerasukan apa sih?, beberapa terakhir ini aneh banget tingkahnya'' tanya Helen.
''Aneh gimana maksud loe?'' tanya Exel balik.
''Ya, biasanya dia itukan ketus sama gue, sekarang tiba tiba kayak berubah baik gitu, aneh kan'' jawab Helen.
''Lah, bagus dong kalau gitu, kok loe malah gak suka'' ucap Exel.
''Bukan gak suka, suka banget gue malahan, cuma agak merinding saja'' timpal Helen, Exel seketika tertawa terbahak bahak, membuat orang orang yang ada di kursi sampingnya keheranan, karna baru kali ini mereka melihat seorang Exel yang terkenal kalem dan pendiam tertawa sekencang itu.
Sedangkan Maxim dia menemani Hana pergi ke toilet untuk mengganti seragamnya yang kotor, Maxim menunggu Hana di kursi depan pintu masuk toilet khusus cewek, keberadaan Maxim di sana membuat para murid cewek yang hendak masuk dan keluar dari toilet heran.
Maxim langsung berdiri saat melihat Hana keluar dengan memakai seragam baru, yang di belikan oleh Maxim di koperasi sekolah barusan, Hana berjalan menghampiri Maxim sembari menenteng kantong kresek yang berisi seragam kotor miliknya.
''Udah?'' tanya Maxim.
Hana mengangguk.
''Velo gak nanyain gue?'' tanya Hana.
Wajah Maxim seketika berubah muram, padahal dari tadi yang ada di sampingnya itu dirinya, tapi kenapa Hana malah menanyakan Velo.
''Enggak'' jawab Maxim ketus.
Hana mengangguk dengan expresi kecewa.
coba KLO dicabut apa kamu masih bisa sekolah disitu,
saat kamu dan ibumu di usir dari rumah majikan🤣🤣🤣
kan Hana yg keliling lapangan
bukan Hellen,,
kan malu sendiri udah nantangin masa dibatalin👊👊