NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 25- Isyarat

Ep. 25- Isyarat

Kehidupan Kirana mengalir tenang bagaikan muara yang menemukan alurnya. Hari-hari berlalu tanpa guncangan berarti, diwarnai oleh tumpukan berkas proyek desain kreatif yang sukses dan tawa ceria Keisya yang saban hari kian bersemangat menimba ilmu di sekolahnya.

Keisya tumbuh menjadi bocah TK yang aktif, cerdas, dan selalu antusias menceritakan kawan-kawan barunya setiap kali dijemput Kirana di depan gerbang.

Namun, kedamaian yang melingkupi rumah asri itu perlahan-lahan diusik oleh perubahan samar dari sosok balita tiga tahun di lantai bawah.

Akhir-akhir ini, Aura sering menangis, bahkan tanpa sebab yang jelas. Tangisannya bukan lagi lengkingan manja anak balita yang meminta mainan atau merajuk karena haus, melainkan isakan panjang yang dalam, tertahan, dan sarat akan guratan kesakitan yang tak sanggup diungkapkan oleh kata-kata dari bibir mungilnya.

Tubuh gempalnya sering kali mendadak gemetar, wajahnya yang pucat akan meringkuk di sudut sofa, lalu matanya menyipit menahan rasa tidak nyaman yang membelit jiwanya.

Di saat yang bersamaan, Mbok Darmi, Mpok Yem, dan Tuti—tiga ART senior yang selama ini telaten memegang urusan rumah tangga, sedang dipadati oleh kesibukan persiapan renovasi kecil di area dapur belakang dan penataan ulang gudang atas.

Kirana yang perfeksionis menginginkan seluruh sudut rumah dalam kondisi sempurna sebelum tenggat waktu audit bisnisnya minggu depan.

Akibatnya, pengawasan dan pendampingan terhadap Aura kini lebih banyak dilimpahkan kepada Mbak Sri, seorang ART baru berusia dua puluhan yang baru bekerja selama satu bulan di sana.

Mbak Sri adalah wanita yang cenderung pendiam, canggung, dan kurang peka terhadap perubahan emosi anak-anak.

Aura kini lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Mbak Sri. Namun, jangankan tenang, balita itu justru makin sering menangis saat bersama ART baru tersebut.

Setiap kali Mbak Sri mencoba meraih tangannya atau membawanya masuk ke kamar, Aura akan menarik tubuhnya ke belakang, matanya membulat panik seolah menolak kehadiran wanita itu, lalu melontarkan tangisan sengguk-sengguk yang menyayat hati.

Siang itu, gumpalan awan mendung menggelantung rendah di atas bukit, membiaskan cahaya jingga yang suram ke sepanjang jalan kompleks perumahan. Udara terasa dingin dan lembap, menandakan hujan deras akan segera mengguyur.

Di teras depan rumah, Mbak Sri duduk di anak tangga bawah seraya memegang sebuah mainan bongkar pasang dari plastik. Di sampingnya, Aura duduk beralaskan tikar tipis.

Balita itu mengenakan piyama bermotif kelinci berwarna kuning kusam. Wajahnya tampak pucat, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Jemari mungilnya memegang erat sebuah bola karet, namun tangannya bergetar pelan. Ia tidak memainkan bola itu, kepalanya hanya tertunduk dengan sesekali meringis pelan sambil memegangi area perut atau dadanya dengan jemari yang mengepal.

"Aura, mainannya dipasang dong... Jangan diam aja, nanti Mbak Sri dimarahi Mbok Darmi kalau Aura nangis lagi," gumam Mbak Sri, seraya menyodorkan potongan plastik ke depan Aura.

Aura menepis pelan potongan plastik itu, matanya berkaca-kaca menatap ke arah jalan raya di depan gerbang. Ada ketakutan dan penderitaan tersembunyi yang terkunci rapat di dalam hatinya.

SREEEKKK...

Tak lama kemudian, suara derit ban mobil SUV hitam milik Kirana yang melintasi gravel garasi memecah keheningan teras.

Pak Jaka membukakan pintu mobil dengan sigap. Kirana turun terlebih dahulu, tampil anggun dengan blazer linen berwarna krem dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Di sampingnya, Keisya melompat turun membawa tas sekolah dan sebuah gambar mewarnai yang baru diselesaikannya di kelas.

Seperti biasa, Kirana melangkah kaku melewati teras tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun. Tatapan matanya lurus ke arah pintu utama, mengabaikan keberadaan Mbak Sri dan Aura yang duduk di sudut tikar, sebuah gestur dingin yang telah menjadi rutinitas harian di rumah tersebut.

Namun, berbeda dengan ibunya, Keisya mendadak menghentikan langkah kakinya. Begitu melihat adik kecilnya duduk sendirian di teras, raut wajah Keisya berubah ceria.

Gadis kecil itu berlari menghampiri Aura, menyingkirkan tas sekolahnya lalu berlutut memeluk erat tubuh gempal Aura dari samping.

"Auraaa! Kakak pulang!" seru Keisya gembira, lalu mencium pipi Aura yang terasa sedikit dingin. "Lihat deh, tadi di sekolah Kakak mewarnai gambar pemandangan! Ada gunungnya warna biru, terus ada rumahnya bagus banget!"

Keisya membentangkan kertas mewarnainya di atas pangkuan Aura, mengharapkan celoteh riang dan tepuk tangan dari adik kecilnya seperti biasa.

Namun, kali ini... Aura sama sekali tidak menaruh minat pada cerita Keisya.

Balita tiga tahun itu tidak menyentuh kertas gambar Keisya. Wajahnya yang pucat tetap kaku. Mata bulatnya yang kini dipenuhi selaput air mata terangkat pelan, melewati pundak Keisya, lalu mengunci pandangannya lurus ke arah punggung Kirana yang terus melangkah menjauh menuju ambang pintu utama.

Tubuh Aura terasa tegang. Jemari mungilnya melepaskan bola karet hingga menggelinding jatuh ke rumput.

Dengan sisa tenaga dan keberanian yang terdesak oleh rasa sakit yang luar biasa di tubuhnya, Aura mengulurkan tangan kecilnya ke udara, menggapai ke arah sosok wanita bersetelan krem yang makin jauh darinya.

"Ma... ma..." panggil Aura.

Suara cadel itu tidak lagi melengking ceria, melainkan terdengar sangat dalam. Sebuah panggilan yang sarat akan rasa takut, kesakitan, dan permohonan pertolongan dari seorang anak manusia yang tak sanggup lagi menahan bebannya sendiri.

"Mama...!" jerit Aura sekali lagi, raut wajahnya tegang dan panik, seolah-olah Kirana adalah satu-satunya tali penyelamat yang tersisa di dunia ini.

DEG.

Langkah kaki Kirana terhenti tepat di ambang pintu kayu utama.

Intonasi panggilan yang tak biasa itu memukul saraf pendengarannya dengan begitu keras. Kirana perlahan-lahan membalikkan badannya, dan dari jarak beberapa meter, tatapan matanya beradu langsung dengan iris mata Aura yang sudah digenangi air mata.

Kirana menatap Aura sejenak. Ia melihat betapa tegangnya wajah balita itu, betapa pucatnya bibir kecil yang berguncang menahan jeritan tangis, dan betapa tajamnya tatapan mata anak itu yang menatapnya dengan penuh keputusasaan.

Ada desakan halus yang mendadak menusuk hati Kirana, sebuah naluri alamiah yang mencoba menyuruhnya berlutut dan merengkuh balita itu.

Namun, dinding kebanggaan dan kenangan pahit tentang pengkhianatan Rendra dengan cepat kembali membekukan perasaannya, dan seketika Kirana memadamkan binar iba di matanya.

Kirana lantas mengalihkan pandangannya dari Aura dan memfokuskan tatapannya pada Mbak Sri yang berdiri panik di samping tikar.

"Mbak Sri, Aura sepertinya sudah mengantuk. Bawa dia ke kamar belakang biar tidur."

Tanpa menunggu respon dari Mbak Sri, Kirana kembali memutar tubuhnya dan meraih jemari Keisya yang berdiri bingung. "Ayo masuk, Keisya. Jangan main di luar, sebentar lagi hujan turun."

"Tapi Mama... Aura kayaknya sakit, matanya merah..." bisik Keisya ragu-ragu.

"Tidak apa-apa, Aura cuma capek. Biar diurus Mbak Sri," pangkas Kirana seraya menuntun Keisya melangkah masuk melewati daun pintu kayu.

BAM.

Daun pintu jati itu merapat rapat dari dalam.

Tepat di detik pintu itu tertutup rapat, benteng ketahanan Aura runtuh sepenuhnya. Dari luar teras, meledaklah jeritan tangis yang amat memilukan.

Tangisan itu begitu keras, sarat akan rasa sakit yang tak tertahankan dan keputusasaan atas penolakan yang kesekian kalinya.

"Hwaaaaaaaaa...! Maaaa... maaa! Sakiatt... Hwaaaaaaaaa!"

Di balik pintu kayu yang tebal di dalam ruang tamu, langkah kaki Kirana mendadak terhenti untuk kedua kalinya.

Gema jeritan tangis Aura memantul di dinding porselen rumahnya, menembus kayu jati dan langsung menghantam gendang telinganya. Kata "sakit" yang terselip pasrah di antara jeritan itu bergema berulang-ulang di kepala Kirana bagaikan pukulan palu yang berat.

Kirana berdiri mematung di lorong tengah. Tangannya yang menggenggam tas mengetat. Jantungnya berdegup tak beraturan, dan ada rasa sesak yang tak terelakkan merayap menembus hatinya.

"Sakit? Kenapa anak itu bilang sakit?" batin Kirana. "Ah, paling cuma alasan anak balita yang merajuk karena ditinggal masuk."

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!