NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Naura Ayu Prameswari terbangun ketika dahinya menempel pada meja kerja.

Bau kopi dingin langsung menusuk hidung. Suara pendingin ruangan berdengung pelan di atas kepala. Di luar kaca ruangannya, lampu-lampu gedung Jakarta masih menyala, tetapi cahaya sore mulai turun di antara gedung tinggi Sudirman.

Naura tidak langsung bergerak.

Jantungnya berdebar terlalu cepat.

Bukankah tadi ia sudah mati?

Ia ingat jelas kost kecilnya di Karet. Laptop masih terbuka. File proyeksi valuasi belum selesai. Jam di dinding menunjuk pukul tiga lewat dua puluh menit. Dadanya sakit, napasnya putus, lalu seluruh tubuhnya jatuh ke lantai yang dingin.

Tidak ada yang menolong.

Tidak ada yang tahu.

Ia meninggal sendirian, setelah bekerja seperti orang gila selama bertahun-tahun.

Tapi sekarang, ia duduk di ruang kantor Mahardika Capital.

Di mejanya ada map biru bertuliskan `PT Sagara Medika - Due Diligence`.

Tangannya gemetar ketika mengambil ponsel.

2 September 2017.

Naura menatap tanggal itu lama sekali.

Delapan tahun.

Ia kembali ke delapan tahun sebelum kematiannya.

Pintu ruangannya diketuk dua kali.

Naura menahan napas.

"Masuk."

Pintu terbuka. Seorang analis muda masuk membawa beberapa dokumen. Wajahnya masih polos, belum setajam ingatan Naura di masa depan.

"Mbak Naura, ini tambahan data dari Sagara Medika. Pak Bima minta Mbak cek malam ini juga."

Dimas.

Di kehidupan sebelumnya, Dimas menjadi salah satu analis terbaik di timnya. Dua tahun kemudian dia pindah ke Singapura. Tapi sekarang dia masih anak baru yang kalau dimarahi klien saja wajahnya pucat.

Naura menerima dokumen itu.

"Taruh saja dulu."

Dimas ragu. "Pak Bima bilang malam ini harus ada catatan awal."

Naura menatapnya.

Dimas langsung menunduk.

"Aku mengerti. Kamu pulang saja. Sudah jam berapa ini?"

"Tapi, Mbak..."

"Pulang."

Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat Dimas terdiam.

"Baik, Mbak."

Dimas keluar dan menutup pintu.

Begitu suara pintu terdengar, Naura meletakkan ponsel. Tangannya menekan dada.

Ia benar-benar kembali.

Tahun itu adalah tahun paling terang sekaligus awal kejatuhannya.

Ia baru saja dipromosikan menjadi Vice President di Mahardika Capital. Usianya baru dua puluh lima. Di kantor yang dipenuhi laki-laki ambisius dan perempuan yang harus bekerja dua kali lebih keras untuk dianggap setengah layak, namanya mencuat cepat.

Lalu keluarganya datang.

Bapak, Ibu, dan Bagas datang ke lobi kantor, berteriak di depan resepsionis dan security. Mereka menuduhnya anak durhaka karena transfer bulan itu terlambat tiga hari.

Video itu menyebar di grup kantor.

Orang-orang yang sebelumnya memujinya mulai berbisik.

Mantan pacarnya, Farid, yang selama setahun bicara soal masa depan, tiba-tiba berkata mereka perlu berhenti dulu.

Atasan yang dulu tersenyum ramah mulai berkata, "Naura, kamu harus bisa mengatur urusan keluarga. Klien kita tidak boleh dengar hal-hal seperti ini."

Sejak itu kariernya seperti tertutup kaca.

Ia masih bekerja paling keras. Ia masih membawa proyek paling sulit. Tapi promosi berikutnya tidak pernah datang.

Delapan tahun ia bertahan.

Delapan tahun ia mengirim uang ke rumah.

Untuk cicilan motor Bagas. Untuk modal usaha Bagas. Untuk utang Bagas. Untuk renovasi rumah yang bahkan tidak menyediakan kamar untuknya. Untuk biaya hidup orang tua yang setiap bulan berkata, "Kamu perempuan, nanti kalau menikah ikut suami. Selagi belum menikah, bantu keluarga dulu."

Naura tertawa kecil.

Tawanya tidak sampai ke mata.

Di kehidupan lalu, pada usia tiga puluh tiga, ia mati tanpa tabungan berarti. BPJS-nya menunggak karena ia lupa membayar setelah resign paksa. Kartu ATM-nya sering kosong. Rumah yang ia bangun dengan uangnya dipakai Bagas membawa teman-temannya bermain gim.

Ibu menangis di pemakamannya, tetapi Naura ingat jelas wajah ibu saat ia sakit usus buntu bertahun-tahun lalu.

Bukan khawatir.

Marah.

"Uang tabunganmu kepakai untuk operasi? Terus bulan ini Bagas bayar apa?"

Naura memejamkan mata.

Ponselnya bergetar.

Grup WhatsApp keluarga.

Nama grup itu `Keluarga Harto Bahagia`.

Bahagia.

Naura membuka pesan.

Ibu: `Naura, transfer belum masuk. Jangan pura-pura lupa.`

Bapak: `Kamu itu anak pertama. Bantu adikmu jangan banyak hitungan.`

Bagas: `Mbak, aku mau DP motor. Janji sama dealer hari ini. Jangan bikin malu.`

Naura menatap layar. Di kehidupan sebelumnya, ia langsung panik, membuka mobile banking, lalu mengirim hampir seluruh gaji yang baru masuk.

Sekarang ia hanya meletakkan ponsel kembali.

Telepon dari Ibu masuk.

Ia biarkan berdering.

Telepon berhenti.

Masuk lagi.

Naura tetap diam.

Pada dering ketiga, ia mengangkat.

"Naura!" suara Ibu langsung meledak. "Kamu kenapa tidak balas pesan? Uang untuk Bagas mana?"

Naura menyandarkan punggung ke kursi.

"Aku sedang kerja."

"Kerja kerja kerja. Memangnya uang itu untuk siapa? Untuk adikmu juga. Dia laki-laki satu-satunya di rumah ini. Kalau dia berhasil, nama keluarga juga ikut naik."

"Berhasil apa?"

Ibu terdiam sebentar. "Apa maksudmu?"

"Bagas sudah tiga kali ganti rencana. Jualan sepatu, gagal. Jualan aksesori motor, gagal. Sekarang mau DP motor baru. Itu namanya berhasil?"

"Naura!" suara Bapak masuk dari jauh. Sepertinya ponsel di-loudspeaker. "Jaga bicaramu sama Ibu."

Bagas ikut bersuara, malas dan kesal. "Mbak, kalau tidak mau bantu bilang saja. Jangan ceramah. Gajimu kan besar."

Naura memandang map di meja. Tulisan Sagara Medika terlihat tajam.

Gajinya besar.

Benar.

Tapi hidupnya habis untuk mereka.

"Mulai bulan ini aku tidak kirim uang untuk DP motor."

Sunyi.

Lalu Ibu menjerit, "Kamu kesambet apa?"

"Aku akan kirim kebutuhan pokok seperlunya untuk Bapak dan Ibu. Kalau Bagas mau motor, kerja."

"Aku masih kuliah!" Bagas membentak.

"Kamu sudah semester sembilan."

"Mbak!"

Naura menutup mata sebentar.

Aneh. Ia kira mengatakan itu akan membuat dadanya hancur. Ternyata tidak. Rasanya seperti membuka jendela setelah bertahun-tahun hidup di kamar pengap.

Ibu mulai menangis. "Kamu sudah sukses, lalu lupa keluarga. Dari kecil Ibu besarkan kamu, sekarang begini balasanmu?"

"Ibu membesarkan aku supaya aku bisa hidup, atau supaya aku jadi ATM?"

Di seberang, napas semua orang seperti berhenti.

Naura berdiri. Lututnya masih lemas, tetapi suaranya stabil.

"Aku masih kerja. Kita bicara nanti."

Ia memutus panggilan.

Telepon langsung masuk lagi. Ia mengaktifkan mode senyap.

Ruangan kembali tenang.

Naura berjalan ke jendela. Di bawah sana, mobil-mobil merayap seperti aliran lampu. Jakarta masih sama. Padat, panas, ambisius, dan tidak pernah peduli siapa yang jatuh selama angka di layar tetap bergerak.

Dulu ia mencintai kota ini karena merasa bisa menang di sini.

Sekarang ia tahu, menang tidak ada artinya jika nyawanya habis.

Pintu kembali diketuk.

Kali ini tanpa menunggu jawaban, Bima masuk.

Bima Santoso. Managing Director. Atasan langsungnya. Di kehidupan lalu, laki-laki ini berkali-kali tersenyum di depan klien, lalu melemparkan semua pekerjaan kotor kepadanya.

"Naura, kamu belum pulang, kan?" Bima bertanya seolah itu bukan pertanyaan.

Naura menoleh. "Belum."

"Bagus. Sagara Medika perlu catatan awal malam ini. Besok pagi aku meeting dengan Pak Wira."

Naura menatapnya.

Pak Wira adalah klien yang di kehidupan lalu membuatnya bekerja empat puluh jam hampir tanpa tidur. Proyek itu akhirnya bermasalah karena ada data kepemilikan yang sengaja disembunyikan. Bima tahu, tapi tetap memaksanya menandatangani memo internal.

Setelah perkara muncul, ia yang dipanggil paling dulu.

Bima selamat.

Naura tidak.

"Pak Bima," ucap Naura pelan.

"Ya?"

"Mulai besok saya cuti tiga hari."

Wajah Bima berubah. "Apa?"

"Saya punya hak cuti."

"Naura, kamu tahu kondisi tim sekarang. Jangan bercanda."

"Saya tidak bercanda."

Bima masuk lebih jauh, menutup pintu. "Dengar. Aku tahu belakangan kamu ada masalah keluarga. Tapi jangan bawa emosi ke kantor. Kamu perempuan pintar. Jangan rusak momentum kariermu karena hal sepele."

Hal sepele.

Naura hampir tertawa.

Keluarga yang memerasnya disebut hal sepele. Kesehatan yang hancur disebut risiko kerja. Martabat yang diinjak disebut konsekuensi karier.

"Kalau saya tidak ambil cuti, proyek ini akan tetap berjalan?"

"Tentu. Tapi kamu orang paling paham datanya."

"Berarti perusahaan tergantung pada saya."

Bima mengerutkan dahi. "Kamu mau bicara apa?"

Naura mengambil map Sagara Medika dan menutupnya.

"Kalau perusahaan tergantung pada saya, seharusnya perusahaan menghargai batas saya."

Tatapan Bima menajam. "Naura, jangan mulai."

"Saya belum mulai, Pak."

Ponsel Bima berbunyi. Ia melihat layar, lalu menolak panggilan. Wajahnya terlihat kesal.

"Kamu lelah, aku paham. Tapi ini dunia kerja. Semua orang lelah. Kalau kamu mau sampai posisi lebih tinggi, kamu harus tahan banting."

Naura mengangguk pelan.

Dulu ia percaya kalimat itu.

Tahan banting.

Sampai tubuhnya benar-benar terbanting ke lantai dan tidak bangun lagi.

"Saya sudah cukup tahan, Pak."

Bima menatapnya seperti melihat orang asing.

"Besok saya ajukan cuti resmi."

"Kalau aku tidak setuju?"

Naura tersenyum tipis.

"Kalau begitu saya ajukan pengunduran diri."

Wajah Bima membeku.

Di luar ruangan, suara keyboard masih terdengar. Orang-orang masih mengejar angka, bonus, jabatan, dan pujian dari atasan yang tidak akan datang ke pemakaman mereka dengan tulus.

Naura mengambil tasnya.

"Malam ini saya pulang tepat waktu."

Ia berjalan melewati Bima.

Untuk pertama kalinya setelah hidup dua kali, Naura meninggalkan kantor sebelum langit benar-benar gelap.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!