Untukmu, Anakku Yang Pertama
Penulis: Aksara Handini
Genre: Drama / Keluarga / Inspiratif
Sinopsis / Deskripsi Cerita
Menjadi seorang ibu muda bukanlah hal yang mudah, terlebih ketika garis takdir menuntut Ibu Dini untuk berjuang sendirian demi buah hati tercintanya, Aidil. Bagi Dini, Aidil bukan sekadar anak pertama, melainkan simbol harapan, kekuatan, dan alasan terbesarnya untuk terus berdiri di tengah badai kehidupan.
"Janji yang tak pernah ia langgar, bahkan saat dunia meninggalkannya."
Ketika dunia membelakangi mereka dan ujian datang bertubi-tubi, Dini tak pernah menyerah. Ia mengorbankan setiap impian pribadinya demi memastikan Aidil mendapatkan masa depan yang layak. Setiap detik perjuangannya kini bukan lagi tentang dirinya sendiri, melainkan tentang senyuman dan masa depan anak laki-laki kecilnya itu.
"Untukmu, Anakku Yang Pertama" adalah sebuah kisah yang menguras emosi tentang ketulusan kasih sayang seorang ibu, besarnya pengorbanan yang tak terhitung,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Suara Sumbang dan Semangkuk Tajin
Sinar matahari pagi merayap pelan menembus celah selokan gang perumahan yang basah. Pagi itu, bau lengket sisa hujan semalam belum sepenuhnya menguap, bercampur dengan aroma jelantah dan asap kayu bakar dari dapur-dapur tetangga. Dini melangkah perlahan di sepanjang lorong sempit, menimang Aidil yang terbungkus kain jarik cokelat kusam.
Demam Aidil memang sudah sedikit mereda semenjak tadi malam usai dikompres air hangat oleh Bu Ratna. Namun, tubuh mungil yang biasanya hangat itu kini terasa lunglai. Wajahnya pucat, dan bibirnya yang kecil tampak kering.
Dini duduk di atas dipan kayu lapuk di teras rumahnya, membuka kancing baju atas untuk menyusui. Namun, kenyataan pahit menghantamnya. Air susu yang biasanya mengalir lancar kini merembet sangat sedikit, hampir kering. Kekurangan nutrisi, kelelahan fisik, dan tekanan batin yang ia pikul beberapa hari terakhir akhirnya memakan korbannya: ASI-nya tak mau keluar.
Aidil yang merasa haus mulai menangis gelisah. Suara tangisnya melengking tipis, memecah kesunyian gang. Aidil menarik-narik kain daster Dini, mencari penawar dahaganya, namun tak menemukan apa-apa selain rasa kecewa.
"Ayo, Nak... keluar, dong..." bisik Dini dengan suara gemetar.
Ia memijat dadanya sendiri dengan jemari yang kasar, menahan rasa sakit dan panik yang menjalar hingga ke kepala. Air mata Dini menetes satu per satu, jatuh tepat di kening Aidil. Ketakutan paling mengerikan bagi seorang ibu kini melingkupinya: ia tak mampu memberi makan anaknya sendiri.
"Ugh, masih pagi kok sudah bikin bising satu gang!"
Sebuah suara nyaring dan bernada ketus tiba-tiba memotong kesunyian. Dini menengadah. Mbak Ning, tetangga kontrakan sebelah yang terkenal bersuara pedas, berdiri di depan pintu rumahnya sambil mengibaskan sarung. Matanya menatap Dini dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan mencibir.
"Kalau memang tak sanggup kasih makan anak, jangan sok-sokan kabur dari suami, Dini," lanjut Mbak Ning tanpa rasa bersalah. "Kasihan itu anakmu, masih bayi merah sudah diajak menderita. Paling tidak kalau ikut suamimu, anak itu tak sampai kelaparan. Memangnya gengsi bisa dibeli pakai susu?"
Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hati Dini. Rasanya lebih menyakitkan daripada tusukan jarum. Bibir Dini bergetar, ingin rasanya ia membalas dan menceritakan betapa kejamnya perlakuan mantan suaminya dulu, betapa ia hampir tak selamat jika terus bertahan di rumah itu. Namun, lidahnya mendadak kelu. Untuk apa menjelaskan pada orang yang hanya ingin melihatnya hancur?
Dini memilih menunduk rapat-rapt. Ia merapatkan kain sarungnya, menutupi Aidil dari pandangan sinis tetangganya, lalu membawa bayinya kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kayu yang berderit.
Di dalam kamar yang remang-remang, Dini tersungkur di samping kasur busa tipisnya. Suara tangis Aidil makin keras karena lapar. Dini membuka dompetnya dengan tangan yang bergetar hebat. Di sana hanya tersisa dua lembar uang lima ribuan—sisa upah mencuci kemarin lusa yang belum sempat ia belikan beras. Jangankan untuk membeli susu formula bayi yang harganya puluhan ribu di apotek, untuk membeli sekotak susu kental manis pun uang itu tidak akan cukup.
"Maafkan Ibu, Aidil... Maafkan Ibu..." ratap Dini dalam tangis tanpa suara, takut tetangga di luar mendengar kekalahannya.
Di tengah keputusasaan yang mencekik, Dini teringat pelajaran tua dari mendiang ibunya dulu. Ia bergegas bangkit, menyapu air matanya, lalu berjalan ke sudut dapur kecilnya. Di sana, masih ada sekantong kecil beras sisa pemberian Bu Ratna minggu lalu.
Dini menyalakan kompor minyak tanah tua yang apinya sudah memerah. Ia mencuci dua genggam beras, lalu memasaknya dengan air yang sengaja dilipatgandakan. Dini menunggunya dengan sabar di depan nyala api yang hawa panasnya membakar wajah pucatnya. Ketika air rebusan beras itu mulai mendidih dan mengental menjadi putih keruh, Dini mengambil sendok.
Ia menuangkan air tajin yang kaya nutrisi itu ke dalam sebuah mangkuk kaleng kecil, membiarkannya agak dingin hingga suam-suam kuku.
Dengan tangan yang ekstra hati-hati, Dini menyendokkan cairan tajin hangat itu sedikit demi sedikit ke bibir mungil Aidil. Awalnya Aidil meringis dan menolak rasa asing itu. Namun rasa lapar membuat bayi kecil itu akhirnya mengecap dan menelan air rebusan beras tersebut secara perlahan.
Satu sendok... dua sendok... hingga tangis Aidil perlahan mereda. Kelopak matanya yang berat mulai mengatup kembali, tersihir oleh rasa hangat yang mengalir ke perut mungilnya.
Dini menyandarkan kepalanya ke dinding papan yang dingin, mengamati wajah Aidil yang kini tertidur lelap di pangkuannya. Di luar, suara sumbang para tetangga mungkin masih saling berbisik membicarakan kegagalannya. Namun di ruangan sempit ini, melihat helaan napas teratur sang anak, Dini mengusap dadanya pelan.
Hari ini mereka kalah oleh keadaan, tetapi belum menyerah. Sebening air tajin di mangkuk kaleng itu, ketulusan Dini tak akan pernah luntur oleh hinaan dunia.