Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Di Dalam Mimpi
Begitu matanya terpejam, tubuh Dante langsung terhempas ke dalam kegelapan yang mendalam. Efek ramuan herbal buatan Aura—dipadukan dengan rasa lelah luar biasa dari luka tembak serta pertarungan mati-matian—membuat kesadarannya runtuh sepenuhnya. Bagi seorang pria yang selama bertahun-tahun tidur dengan satu mata terbuka dan pistol di bawah bantal, tertidur lelap seperti ini adalah sebuah kemewahan yang amat asing.
Namun, tidur Dante tidak tenang.
Di dalam alam bawah sadarnya, bayang-bayang masa lalu merayap naik seperti kabut hitam yang beracun. Mimpi buruk menyergapnya tanpa ampun. Dante kembali ke malam berdarah di Jurang Tengkorak. Ia mendengar kembali dengungan peluru yang membelah udara malam, suara tawa culas Marco yang menggema di antara pepohonan, serta rasa sakit yang meledak di pergelangan kakinya saat timah panas menembus tulangnya.
“Dante! Kekejamanmu berakhir di sini!” suara teriakan Marco bergema berulang-ulang di kepalanya, saling bersahutan dengan jeritan orang-orang yang pernah ia eksekusi dingin di dunia bawah.
Tubuh Dante yang terbaring di atas tempat tidur bambu mulai berkeringat dingin. Rahangnya terkatup rapat hingga otot-otot di pipinya menegang. Jemari tangannya yang besar dan penuh kapalan mencengkeram kain seprai tipis sampai melintir rapat. Napasnya memburu, menjadi pendek dan terengah-engah, seolah-olah ia sedang tenggelam kembali di dalam arus sungai yang ganas.
Aura, yang sedang meracik tumbukan daun obat di sudut ruangan, menyadari perubahan reaksi dari pria itu. Ia meletakkan alu batu ke atas meja, lalu melangkah pelan mendekati ranjang.
Wajah Dante yang biasanya tampak tegas dan tak tersentuh, kini menyirat gumpalan penderitaan yang dalam. Keringat membasahi dahi serta pelipisnya, membuat beberapa helai rambut hitamnya menempel gatal di kulit.
"Dante?" panggil Aura pelan, namun tidak ada jawaban selain erangan halus yang tertahan dari tenggorokan pria itu.
Aura mengambil kain bersih dari wadah kayu, mencelupkannya ke dalam baskom berisi air dingin, lalu memerasnya perlahan. Dengan lembut, gadis itu duduk di tepi ranjang dan mengusapkan kain dingin tersebut ke dahi Dante untuk menurunkan demam yang mulai naik akibat infeksi luka.
Saat jemari Aura yang lembut menyentuh kulit dahinya, erangan Dante perlahan menyurut. Sensasi dingin yang menenangkan itu seolah-olah menghempaskan kabut hitam dalam mimpinya, membawanya keluar dari kegelapan yang mengerikan. Rahangnya yang menegang mulai rileks, dan cengkeraman jarinya pada seprai kain melonggar perlahan.
Aura menatap wajah Dante yang kini tampak jauh lebih tenang. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bekas luka goresan tipis di sepanjang garis rahang pria itu—sebuah bukti nyata bahwa kehidupan yang dijalani Dante di luar hutan ini penuh dengan marabahaya dan kekerasan.
"Siapa kau sebenarnya, Dante?" bisik Aura lirih, suaranya hampir tak terdengar di antara desir angin hutan yang menerpa dinding bambu. "Luka di kakimu, tatapan matamu yang penuh kebencian... Apa yang sebenarnya kau lalui sebelum terdampar di tempat ini?"
Tentu saja, Dante yang tertidur lelap tidak memberikan jawaban. Pria itu hanya menghela napas panjang dan teratur, menikmati tidur nyenyak pertamanya tanpa ancaman ancaman bahaya yang biasa mengintip di balik bayang-bayang.
Aura mengusap dahi Dante sekali lagi sebelum akhirnya meletakkan kain basah itu di sana. Gadis itu tersenyum tipis melihat betapa kontrasnya sosok pria bertubuh besar dan berbahaya ini saat sedang tertidur pulas—tampak bagaikan seorang prajurit lelah yang akhirnya menemukan tempat perhentian.
Di luar gubuk, matahari mulai merambat naik menuju puncaknya. Cahaya keemasan menembus celah-celah daun cemara dan menyinari lantai kayu gubuk. Sementara di dalam ruangan kecil itu, waktu seolah berhenti berputar, memberi kesempatan bagi sang iblis untuk menyembuhkan lukanya di bawah penjagaan seorang malaikat pelindung dari hutan belantara.