Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
"Ibu... aku... lemas..." lirih Clara dengan suara yang sangat tipis, namun cukup untuk membuat senyum Ibu Siska mengembang di tengah tangis bahagianya.
"Iya, Nak. Ibu di sini, Ibu di sini... Terima kasih, Tuhan!" bisik Ibu Siska tiada henti, menciumi kening putrinya yang perlahan mulai kembali hangat.
Dokter Senior itu mengusap wajahnya yang pucat. Rasa malu, bingung, dan takjub bercampur aduk di dalam dadanya.
Ia memandang ke arah Arka yang masih mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman kuat para petugas.
"Kamu... dari mana tahu jika pasien belum meninggal?" tanya Dokter Senior itu, langkahnya mendekat pelan, menatap Arka tajam seolah mencari kebohongan. "Garis jantungnya sudah datar sepuluh menit! Pupil matanya membesar! Secara ilmu medis modern, dia sudah dinyatakan brain dead!"
Arka mengibaskan tangannya pelan, merapikan robekan kain kafan yang melilit dadanya agar tidak melorot. Ia menatap balik sang dokter dengan tenang.
"Medis modern itu luar biasa, Dok. Tapi tubuh manusia kadang punya cara tersendiri untuk ' bersembunyi'," jawab Arka berdiplomasi, mencoba menyembunyikan fakta keberadaan Sistem di dalam kepalanya.
"Dia mengalami fenomena mati suri, atau istilah keren kalian, catalepsy. Jantungnya berdetak sangat lambat hingga alat medis biasa tidak sanggup mendeteksinya," kata Arka mencoba menjelaskan dengan bahasanya sendiri.
Dokter Senior itu menyipitkan mata. "Tapi teknik yang kamu gunakan tadi... bukannya sama seperti saya lakukan mengunakan CPR, tapi kenapa kamu bisa membuat jantung berdetak lagi. Siapa kamu sebenarnya? Dokter medis? Siapa namamu?"
Sebelum Arka sempat mengucapkan kebohongan baru, pintu ruangan kembali terbuka lebar.
Penjaga kamar mayat yang tadi lari ketakutan tampak mengintip dari balik pintu bersama dua polisi rumah sakit.
"I-itu dia! Itu hantu yang keluar dari kamar mayat bawah!" teriak penjaga kamar mayat menunjuk Arka dengan jari gemetar. "Dia pakai kain kafan! Dia bangkit dari meja jenazah!"
Suasana ruangan kembali gempar. Semua mata kini beralih menatap robekan kain putih yang melilit tubuh Arka.
[Ting!]
[Peringatan: Keberadaan Anda menarik perhatian berlebih. Disarankan untuk segera meninggalkan area Rumah Sakit untuk menjaga kerahasiaan Sistem.]
"Aduh, gawat ini," batin Arka meringis.
"Hantu?! Mana ada hantu bisa menyelamatkan orang!" potong Ibu Siska tiba-tiba, berdiri menengahi.
Ia memandang Arka dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam. "Siapa pun Anda... Anda adalah pahlawan keluarga kami malam ini."
"Maaf, Bu, Dokter... pujiannya nanti saja. Saya harus pergi sekarang sebelum ada yang makin salah paham," kata Arka cepat.
Ia melirik ke arah jendela luar kamar VIP yang terhubung dengan atap lantai dua.
"Anak Muda, tunggu! Kamu tidak bisa pergi begitu saja dengan pakaian seperti itu!" panggil Dokter Senior, melangkah ingin menahannya.
"Terima kasih tawaran bajunya, Dok, tapi saya lebih suka angin malam!" seru Arka.
Dengan lincah, Arka melompati ambang jendela, meluncur menuruni pipa pembuangan air di dinding luar menuju atap lantai dua, dan menghilang di balik kegelapan malam, meninggalkan para dokter dan petugas yang melongo tak percaya di dalam ruangan.
"Bisa gawat kalau aku tertangkap, Bisa-bisa nanti mereka menjadikan ku bahan penelitian lagi," kata Arka.
Angin malam yang dingin langsung menyergap kulit Arka saat kaki tanpa sendal mendarat di atap beton lantai dua.
Suara sirene dan teriakan panik dari arah ruang VIP di lantai atas perlahan samar-samar terdengar.
Arka menyandarkan punggungnya di dinding luar, napasnya tersengal-sengal.