Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Harian
Hujan gerimis masih menyisakan hawa dingin yang menempel di kaca mobil Devan. Di dalam mobil, keheningan terasa begitu menenangkan.
Aisha memangku buku harian dengan cover kain lusuh milik mendiang ibunya, Risa Kusuma. Jemari Aisha mengusap lembut ukiran benang emas yang mulai pudar di sudut sampulnya. Ada perasaan haru yang membuncah, namun tak ada lagi beban sesak di dadanya.
Devan meremas pelan tangan Aisha yang satu lagi, mengalihkan pandangan dari jendela.
"Kamu mau langsung pulang, atau ingin ke suatu tempat dulu?" tanya Devan, suaranya yang bariton terdengar penuh kehangatan.
Aisha menoleh, memberikan senyuman terbaiknya.
"Kita pulang saja, Devan. Aku ingin membaca buku ini di rumah, bersamamu."
Devan tersenyum tipis, lalu mengangguk pada Pak Sopir untuk mempercepat laju kendaraan menuju mansion Alister.
Sore harinya, sudut ruang keluarga di lantai dua mansion berubah menjadi area paling hangat.
Hujan di luar sudah sepenuhnya reda, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Aisha duduk bersandarkan dada Devan di atas sofa kain berukuran besar, sementara Devan melingkarkan lengan kokohnya di pinggang sang istri, membiarkan Aisha menyandarkan kepala di bahunya.
Dengan perlahan, Aisha membuka lembar demi lembar buku harian ibunya. Tulisan tangan yang rapi dan anggun menyapa pandangan mereka.
Buku itu berisi catatan harian Risa sewaktu masih muda, kenangan indahnya bersama Aris Dirgantara, hingga momen-momen saat Aisha kecil lahir ke dunia.
Namun, di lembar-lembar terakhir, ada satu bagian catatan yang membuat gerakan tangan Aisha terhenti.
"Hari ini, Aris dan aku bicara banyak di taman rumah Alister. Kami melihat Dev kecil dan Aisha melompat-lompat mengejar kupu-kupu. Kami bermimpi, jika anak-anak kami tumbuh besar nanti, kami ingin membangun sebuah rumah singgah dan sekolah seni gratis untuk anak-anak panti asuhan. Tempat di mana setiap anak berhak bermimpi tanpa takut kehilangan arah."
Aisha menahan napasnya. Air mata hangat menetes pelan menimpa kertas tua yang sudah kekuningan itu.
"Mimpi Ibu..." bisik Aisha lirih, suaranya bergetar.
"Ternyata Ibu dan Ayah punya impian ini sebelum mereka pergi."
Devan mengusap lembut air mata di pipi Aisha dengan ibu jarinya, lalu mengecup pelipis gadis itu dengan sangat dalam.
"Dan sekarang, mimpi itu ada di tanganmu, Aisha. Kamu yang bisa mewujudkannya untuk mereka."
Aisha mendongak, menatap mata hitam Devan yang selalu memberi kepastian.
"Apakah menurutmu aku sanggup, Devan? Mengelola sekolah seni dan rumah singgah itu?"
"Kamu tidak sendirian," sahut Devan tegas namun lembut.
"Aset peninggalan orang tuamu di Alister Group sudah lebih dari cukup untuk mendanainya. Aku akan menyuruh tim hukum dan arsitek Alister Group untuk menyiapkan lahannya mulai minggu depan. Apa pun yang kamu butuhkan, aku yang akan memfasilitasinya."
Dada Aisha berdesir hangat. Dukungan tanpa batas dari Devan membuat keberaniannya kian memuncak. Rasa sakit karena penyiksaan keluarga Hendra selama dua puluh tahun kini berubah menjadi dorongan kuat untuk menolong anak-anak lain yang bernasib malang.
"Terima kasih, Devan. Terima kasih selalu ada di belakangku," ucap Aisha tulus.
"Bukan di belakangmu, Aisha," potong Devan pelan, meraih dagu Aisha agar mata mereka saling bertautan.
"Aku di sampingmu. Selamanya."
Devan memajukan wajahnya dan mendaratkan ciuman manis di bibir Aisha, menyalurkan segala rasa cinta dan janji perlindungan yang kian mengakar kuat di antara mereka.
Dua minggu berlalu dengan cepat. Rumah tangga mereka kini dipenuhi oleh kesibukan-kesibukan kecil yang manis. Aisha mulai sering berdiskusi dengan tim arsitek mengenai rancangan gedung yayasan seni yang diberi nama Risa Kusuma Foundation. Sementara itu, Devan yang biasanya sangat dingin dan workaholic, kini punya kebiasaan baru, menelepon Aisha hanya untuk bertanya apakah istrinya sudah makan siang atau belum.
Pagi itu di ruang makan, Devan sedang menyeruput kopi hitamnya seraya membaca koran bisnis, sementara Aisha sibuk mengoleskan mentega pada roti panggang Devan.
"Oh ya, Aisha," panggil Devan pelan, meletakkan cangkirnya.
"Minggu malam nanti akan ada acara jamuan makan malam tahunan pengusaha di Ballroom Hotel Grand Hyatt."
Aisha menyerahkan piring roti itu pada Devan.
"Apakah aku harus ikut?"
"Tentu saja," Devan meraih tangan Aisha, mencium punggung tangannya dengan santai.
"Ini pertama kalinya aku akan mengenalkanmu secara resmi kepada jajaran mitra bisnis papan atas sebagai Nyonya Alister. Bukan lagi dalam kondisi krisis seperti waktu itu."
Aisha tersenyum, namun ada sedikit getaran gugup di dadanya.
"Apakah di sana akan sangat ramai?"
"Ramai dan penuh orang-orang bermuka dua," cemooh Devan tipis atas koleganya sendiri.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir. Tugasmu hanya menggandeng tanganku dan tampil anggun seperti biasa. Lagipula, ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu."
Aisha memiringkan kepalanya bingung.
"Siapa?"
"Nenek," jawab Devan singkat dengan senyum misterius.
"Ibu dari almarhum ayahku. Beliau baru saja kembali dari pengobatan di Swiss kemarin sore."
Aisha mendadak menahan napas. Nenek dari keluarga Alister? Seorang perempuan tua yang memegang kendali atas norma keluarga besar Alister yang sangat terpandang?
Konflik kecil berupa rasa gugup mendadak menyerang Aisha. Bagaimanakah reaksi sang Nenek Alister saat bertemu dengan cucu menantunya untuk pertama kali nanti?