Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aza membuatkan kue
Bi Asih tertegun, mengerjab beberapa kali, "Memotong stobery?"
Pandangannya turun dengan polos ke arah kantung kresek Aza yang berisi tepung dan beraneka teman adonan kue.
Bi Asih terkekeh kikuk. Ia kira Aza akan melakukan bunuh diri dengan pisau. Namun ternyata nonanya ini hendak membuatkan kue. Wanita paruh baya itu lantas mendongak dengan senyum merekah.
"Apa nona akan membuatkan kue untuk tuan?"
Aza dengan tenang mengangguk, tersenyum tipis. Membuat Bi Asih langsung melompat kecil dan bertepuk tangan penuh rasa senang. Sementara Dewa yang tak sengaja mendengarnya dari balik tembok langsung membalikkan tubuh, menyandarkan punggungnya pada dinding sembari mengatur nafasnya yang memburu.
"Lea, mau membuatkan ku kue?" tanpa sadar pipinya memerah.
"Tuan, apa anda demam?"
Dewa terkejut saat tiba-tiba Anton berada di depannya, refleks terjingkit sebelum akhirnya bosnya itu berdehem, melewatinya tanpa satu patah kata pun.
Tatapan Anton mengikuti kemana arah Dewa berjalan. Ia sampai meringis ngilu saat kaki Dewa tak sengaja terantuk pilar di depannya. Melompat-lompat memegangi ujung kakinya yang sakit.
"Ughh. Pasti sakit banget."
Lalu tatapannya beralih ke arah Aza yang tengah tersenyum sembari mengeluarkan barang-barang belanjaan itu di meja makan bersama Bi Asih. Cengiran tipis terbit di bibirnya.
"Owalahh...pantas saja."
Dewa langsung masuk ke dalam ruang kerja. Ia tidak mengira Aza akan kembali pulang ke rumahnya. Padahal ia kira wanita itu akan pergi menemui bajingan tengik Ramdan lagi.
"Apa ini artinya Aza mulai terbuka untukku?"
Namun Dewa segera menggeleng, terlalu dini untuk menyimpulkan Aza mulai tertarik padanya. Bisa saja wanita itu melakukan ini hanya sebagai balas budi karena ia sudah menyelamatkannya.
"Yahh, pasti hanya itu."
Malamnya, Aza duduk di kursi ruang makan dengan tatapan yang tak sedikitpun beralih dari roti di dalam oven yang ia buat. Senyum tipis terbit di bibirnya.
"Apa...Dewa akan menyukainya?"
"Dulu aku sering membuatkan kue untuk Mas Ramdan, seharusnya rasanya pas lah yah?" lirih Azalea tanpa menyadari kehadiran Dewa di belakangnya.
Wajah Dewa yang semula penuh binar itu langsung berubah gelap, rahangnya mengetat mendengar pernyataan Aza.
"Jadi kau membuat kue itu untuk mengenang pria bajingan itu?"
Aza sontak terkejut saat mendengar seseorang berbicara di belakang. Ia lantas berbalik, menatap Dewa intens sebelum akhirnya wanita itu berdiri.
"Dewa, akhirnya kamu datang. Aku sudah membuatkan kue ini untuk—"
"Jika kau berusaha menghibur hatimu dengan membuat kue itu untuk mengenang Ramdan. Berhenti saja. Rumahku bukan tempat untuk mengingat kenangan lalu."
Lagi-lagi Aza dibuat kesal. Ia benar-benar tak mengerti, dan kenapa juga Dewa selalu datang di waktu yang salah? Seolah kebaikannya untuk merubah salah paham pun malah memupuk kesalahan pahaman baru.
"Dewa, aku membuatkan kue ini untuk kamu. Aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan, aku hanya punya skill memasak untuk memuaskanmu. Bisa tidak jangan terus salah faham padaku?"
Dewa tersenyum tipis, "Salah faham?"
Setelah ia mendengar Aza memanggil nama Ramdan saat pingsan hampir 10 kali dalam 20 menit, bagaimana mungkin ia tidak salah faham. Selama ini ia sudah berusaha keras untuk menenangkannya, menahan emosi di depan Aza yang masih trauma. Namun saat Aza sudah mendingan pun, wanita itu masih mengingat Ramdan dengan jelas. Rasanya ia semakin kalah saja di hati Aza.
"Sudahlah, kalo kamu tidak suka biarkan kue itu ku kasih ke maid sama pengawal saja!" kesalnya, berbalik menuju oven untuk mengeluarkan kue dari dalam.
Sementara Dewa masih berdiri, menatap dingin punggung Aza sebelum akhirnya pria itu berbalik. Ia benar-benar bingung harus bersikap bagaimana di depan wanita itu.
"Kenapa sih? Ngomong Ramdan doang salah. Seolah semua yang keluar dari mulutku itu salah lho!" kesalnya.
Akhirnya Aza memberikan kue itu semuanya untuk para maid dan pelayan. Beberapa dari mereka merasa ragu dan canggung menerima kue itu. Apalagi nona mereka memberikannya dengan wajah masam.
Sampai Anton akhirnya nyeletuk di barisan belakang, menunjuk jemarinya ke atas.
"Nona, apa saya boleh minta satu lagi?" tanya Anton tersenyum lebar.
Mendengar ada yang menyukai kuenya, bibir Aza langsung merekah lebar, menepuk tangannya kuat, "Akhirnya, ada yang mau nambah!"
Dengan senang hati Aza memotongkan satu lagi untuk Anton. Pria itu merunduk untuk berterimakasih, lalu berbalik meninggalkan ruang makan saat beberapa pelayan dan maid juga ikut menambah porsi mengikuti langkahnya.
Anton terkekeh kecil menatap kue di tangannya. Lalu berjalan menaiki lift. Menuju ruang kerja tuannya.
Di dalam ruang kerja. Dewa sedang berkutat dengan laptop di depannya. Ia kerap memukul meja karena kesal selalu salah menempat-nempatkan tabel. Fikirannya terus di penuhi oleh wajah masam Aza di dapur beberapa jam lalu.
Akhirnya ia menyerah, menutup dengan kesal laptop di depannya, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi, menjambak-jambak rambutnya frustasi.
"Sial, apa aku sudah keterlaluan?"
Sampai akhirnya suara ketokan pintu terdengar. Pria itu lantas bangkit. Menurunkan kaca mata baca yang bertengger di hidungnya.
"Masuk."
Anton segera membuka pintu dengan senyum jail ke arah bosnya. Lalu menutup pintu kembali dengan kaki. Berjalan mendekat ke meja Dewa.
Satu alis Dewa naik, menatap heran Anton yang berjalan sembari menyembunyikan kedua tangannya ke belakang, menatapnya dengan tatapan menjengkelkan itu.
"Aku tidak sedang ingin bercanda, Anton." jawabnya kesal, memutar kursi membelakangi bawahannya itu.
"Meski saya membawakan kue buatan nona?"
Mendengar kata kue Dewa yang semula memejam itu langsung terbuka, membalikan kursinya cepat. Pandangannya jatuh ke arah potongan kue yang berada di tangan kiri Anton. Ia hendak meraihnya, namun dengan cepat Anton menjauhkannya.
"Eitt...?"
Dewa menatap jengah pria itu, memalingkan wajah kesal.
"Aku hanya penasaran saja. Siapa juga yang mau mencoba kue buruk itu." dengusnya kesal.
Ramdan terkekeh, "Jangan salah tuan, walaupun kuenya terlihat buruk, tapi rasanya benar-benar enak tau."
Dewa lirik ragu Anton yang menatapnya dengan cengiran menyebalkan itu. Memilih untuk tak menggubrisnya.
"Jika kau datang hanya untuk mengusiliku, keluar sebelum ku tendang kamu." sinisnya, tanpa menatap.
Anton terkekeh, pria itu lantas meletakkan kue yang masih utuh di atas meja Dewa. Membuat pria itu meliriknya sekilas.
Anton tau betul, Bosnya tidak mungkin mengabaikan kue itu. Apalagi saat ia melihat betapa malunya tuannya saat menguping pembicaraan nona dan Asih. Sejak saat itu Anton tau betul, tuannya sangat mencintai nona mereka lebih dari apapun. Hanya tertutup gengsi saja.
"Aku tau kok tuan sebenarnya ingin memakan kue itu."
Dewa lirik Anton malas, sementara satu tangannya menyambar kue.
"Tau apa kamu, keluar sana!" usirnya, lalu menyendokkan kue.
Baru saja ia hendak memasukkan kue ke dalam mulut. Itu terhenti tatkala Anton tidak juga keluar, malah menatapnya sambil cengar-cengir. Membuat pergerakan tangan pria itu terhenti.
"Keluar atau gaji kamu tanggal 5 besok saya lenyapkan."
Mendengar itu Anton langsung terkejut, "Ja-jangan dong bos..."
"Keluar...."
"I-iya tapi—"
"Keluar Anton!"
"Iya! Iya bos! Saya akan keluar!" Anton langsung berlari kencang keluar dari pintu, namun ia kembali memunculkan kepalanya saat satu suapan masuk ke mulut Dewa. Membuat pria itu melotot, "Bos janji jangan potong—"
BUGHH!!
Bantal untuk sandaran punggungnya di belakang mendarat dengan tepat di wajah Anton. Membuat pria itu mengaduh, refleks menutup pintu. Sementara Dewa yang ketahuan itu jadi tak selera lagi, meletakkan kue kembali ke meja. Memegangi pangkal hidungnya kuat.
"Bocah itu, sepertinya aku harus mendisiplinkan dia lebih banyak lagi!"