Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Serangan di Mansion Moretti
Aurelia baru saja mengunci pintu toko bunga ketika sebuah suara terdengar dari belakangnya.
"Nona."
Aurelia menoleh.
Empat pria berdiri beberapa meter darinya, wajah mereka asing. Senyum tipis muncul di wajah salah seorang pria.
"Kami ingin berbicara sebentar."
Aurelia mundur selangkah. Instingnya langsung mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Maaf, saya harus pergi." Ia berbalik.
Namun dua pria lainnya sudah menutup jalan.
Jantung Aurelia berdegup kencang. "Siapa kalian?"
Tidak ada jawaban.
Salah seorang pria mengeluarkan foto. "Target A-02. Cocok."
Aurelia melihat foto itu. Foto dirinya, wajahnya langsung pucat.
"Apa yang kalian inginkan?"
Pria itu tersenyum dingin. "Kami ingin membawamu pulang."
"Pulang ke mana?"
"Ke tempat asalmu."
Aurelia mundur seketika, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari ujung jalan.
BRAK!
Mobil itu berhenti tepat di antara Aurelia dan para pria tersebut.
Pintu belakang terbuka.
"Masuk!"
Aurelia membeku, suara itu... Edmund. "Paman?"
"Masuk, Aurelia!"
Tanpa berpikir panjang, Aurelia berlari menuju mobil. Para pria Black Eagle langsung mengeluarkan senjata.
Namun sebelum mereka sempat mengejar...
DOR! DOR! DOR!
Tembakan terdengar dari kejauhan. Beberapa kendaraan hitam muncul dari persimpangan.
Johan turun bersama pasukan Moretti. "Jangan biarkan satu pun lolos!"
Pertarungan singkat pecah di jalan.
Aurelia yang berada di dalam mobil menatap melalui kaca dengan napas memburu. "Siapa mereka?"
Edmund menoleh. "Orang-orang yang selama ini kita takuti."
Aurelia menggenggam liontin lily. "Black Eagle..."
Edmund terdiam.
"Jadi mereka benar-benar datang untukku."
***
Di Mansion Moretti...
Adrian berdiri di ruang komando ketika Johan menghubunginya.
"Don!"
"Ada apa?"
"Kami menemukan Aurelia."
Adrian langsung menoleh. "Di mana?"
"Zurich bagian selatan. Tim Black Eagle sudah lebih dulu menemukannya."
Rahang Adrian mengeras. "Bagaimana kondisinya?"
"Aman. Edmund berhasil menyelamatkannya. Kami sedang membawa mereka ke lokasi aman."
Leonardo yang berdiri di samping Adrian mengembuskan napas lega.
Namun Adrian belum merasa tenang. "Black Eagle?"
"Sebagian melarikan diri."
"Biarkan saja."
Johan terdiam.
"Yang penting Aurelia selamat."
Beberapa jam kemudian...
Sebuah kendaraan berhenti di depan Mansion Moretti.
Pintu terbuka.
Aurelia turun perlahan, kini ia berdiri di tempat yang selama ini hanya ia lihat melalui foto. Mansion Moretti, Edmund turun setelahnya.
"Aurelia..."
Gadis itu menoleh. "Apakah Aurora ada di sini?"
Edmund mengangguk. "Dia ada di dalam."
Aurelia menarik napas panjang, jantungnya berdegup semakin cepat. Dua puluh dua tahun mereka hidup terpisah, dan malam ini... takdir akhirnya mempertemukan mereka.
Pintu mansion terbuka.
Aurora yang sejak tadi menunggu di ruang utama perlahan keluar. Langkahnya terhenti, matanya langsung bertemu dengan mata Aurelia. Keduanya membeku, tidak ada suara.
Aurora menatap wajah di hadapannya, wajah yang terasa begitu asing. Namun sekaligus terasa seperti melihat dirinya sendiri. Liontin bunga lily di leher Aurora tiba-tiba bergeser. Aurelia menyentuh liontin miliknya, keduanya saling memandang.
Air mata Aurora jatuh lebih dulu. "Aurelia..."
Bibir Aurelia bergetar. "Aurora..."
Mereka berjalan perlahan, semakin dekat. Lalu... Aurora langsung memeluknya. Aurelia membalas pelukan itu dengan erat, tangisan keduanya pecah.
"Aku mencarimu..." bisik Aurora.
Aurelia memejamkan mata. "Aku bahkan tidak tahu kalau aku punya saudara."
"Aku juga."
"Kita terlambat dua puluh dua tahun."
Aurora menggeleng sambil menangis. "Tidak."bIa memeluk Aurelia semakin erat. "Kita tidak terlambat, kita akhirnya bertemu."
Di belakang mereka, Adrian hanya diam. Leonardo tersenyum haru. Bahkan Edmund menundukkan kepala untuk menyembunyikan air matanya.
Namun... di luar pagar Mansion Moretti, sebuah mobil hitam berhenti. Di dalamnya seorang pria bertopeng mengamati kedua saudari itu melalui kamera jarak jauh. Ia melihat Aurora dan Aurelia berdiri berdampingan.
Senyumnya perlahan muncul. "Bagus..."
Bawahannya bertanya, "Tuan?"
Pria itu mematikan layar. "Biarkan mereka bertemu. Karena sekarang..." Ia menatap simbol elang hitam di tangannya. "Seluruh rahasia keluarga Bellini bisa dibuka sekaligus."
Malam itu...
Aurora dan Aurelia duduk berdampingan di ruang keluarga. Di atas meja terdapat dua liontin bunga lily. Dua bagian dari satu masa lalu.
Aurora menatap saudaranya. "Aku masih punya banyak pertanyaan."
"Aku juga."
"Tentang keluarga kita."
Aurelia mengangguk. "Tentang ibu."
Aurora menggenggam tangannya. "Dan tentang Black Eagle."
Tiba-tiba...
Pintu ruangan terbuka.
Pastor Markus berdiri di sana, wajahnya pucat.
Adrian langsung berdiri. "Pastor?"
Markus menatap kedua gadis itu, matanya berkaca-kaca. "Akhirnya..." Ia menarik napas panjang. "Setelah dua puluh dua tahun... kalian akhirnya bertemu."
Aurora berdiri. "Pastor mengetahui semuanya?"
Markus mengangguk. "Aku tahu siapa kalian."
Ruangan mendadak sunyi.
"Tapi ada satu hal yang belum pernah kukatakan."
Adrian menatap tajam. "Apa?"
Markus mengeluarkan sebuah amplop tua dari balik jubahnya. Di bagian depan tertulis: Untuk Aurora dan Aurelia.
Aurora menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Ini dari siapa?"
Pastor Markus menatap mereka. "Dari ibu kalian."
Kedua saudari itu saling berpandangan. Aurora perlahan membuka amplop tersebut. Namun sebelum ia sempat membaca isinya...
Seluruh lampu mansion padam, gelap. Terdengar suara alarm keamanan.
Johan berteriak dari lorong. "Don! Kita diserang!"
Adrian langsung menarik Aurora ke belakang tubuhnya. Aurelia berdiri di samping Edmund.
Di luar mansion...
Puluhan bayangan bergerak mendekati gerbang. Di salah satu bukit jauh, pria bertopeng elang hitam berdiri sambil memandang mansion melalui teropong.
"Babak terakhir..." Ia tersenyum. "Dimulai malam ini."
Di dalam mansion, Adrian mengangkat senjatanya, tatapannya berubah dingin. "Johan."
"Ya, Don!"
"Jaga Aurora dan Aurelia."
"Bagaimana dengan Anda?"
Adrian berjalan menuju pintu. "Aku akan menyambut mereka."
Dan di tangan Aurora, surat dari ibunya masih tergenggam erat. Satu rahasia terakhir keluarga Bellini belum terbuka.
DOR!
Suara tembakan pertama terdengar dari luar gerbang.
Aurora tersentak, Aurelia langsung menggenggam tangannya. "Jangan takut," bisik Aurelia, meski suara gadis itu sendiri terdengar bergetar.
Adrian berdiri di depan mereka. Tatapannya berubah dingin dan penuh kewaspadaan.
"Johan!"
"Semua orang sudah berada di posisi masing-masing, Don!"
"Dari mana mereka masuk?"
"Gerbang utama diserang, tapi ada pergerakan dari sisi timur juga!"
Adrian langsung mengerti. "Pengalihan."
Leonardo menatapnya. "Mereka ingin membuat kita memusatkan perhatian pada gerbang."
Adrian mengangguk. "Johan, tutup seluruh akses menuju lantai dua. Jangan biarkan siapa pun mendekati ruangan ini."
"Mengerti!"
Johan berlari keluar.
Adrian kemudian menatap Aurora dan Aurelia. "Kalian tetap di sini."
Aurora menggeleng. "Tidak. Aku ingin membantu."
"Tidak."
"Tapi..."
"Aurora." Nada suara Adrian tegas. "Kali ini dengarkan aku."
Aurora terdiam.
Adrian kemudian memandang Aurelia. "Dan kau juga."
Aurelia mengangguk perlahan.
Edmund berdiri di samping mereka. "Aku akan menjaga mereka."
Adrian menatap Edmund beberapa detik. "Aku mengandalkanmu." Setelah mengatakan itu, Adrian berbalik.
Namun baru beberapa langkah...
DUAAARRR!
Sebuah ledakan kecil mengguncang sisi mansion.