"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayna Ramida
Bagi sebagian orang, pakaian hanyalah selembar kain pelindung raga. Namun bagi Kayna Ramida, sehelai pakaian adalah cerminan dari diri seseorang. Jadi setiap benang harus dijahit dengan pasti agar tidak ada kecacatan. Bagi Kayna juga, sebutir benang yang salah tempat pada lipatan kain adalah sebuah pengkhianatan terhadap seni.
Suasana pagi di salah satu kawasan padat penduduk di kota Jogja selalu menyuguhkan hawa sejuk yang menusuk tulang, tetapi di dalam gedung berlantai tiga dengan arsitektur modern minimalis itu, atmosfernya terasa begitu panas oleh ambisi yang membara. Papan nama kuningan yang terukir indah di dinding marmer depan bertuliskan: Butik LiLYRa – Jogja Branch. Di balik pintu kaca raksasa yang berkilau bersih tanpa noda, seorang wanita muda berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada, sepasang mata bulatnya yang tajam bak elang sedang memindai setiap sudut ruangan dengan ketelitian yang nyaris tidak manusiawi.
Kayna Ramida. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun, ia sudah memikul tanggung jawab besar sebagai kepala pengelola cabang utama butik legendaris milik ibunya, Liliana. Namun, siapa pun yang mengira Kayna hanyalah anak manja yang mendapatkan posisi mentereng ini karena jalur nepotisme semata, dipastikan akan langsung menarik kembali kata-kata mereka dalam waktu kurang dari lima menit setelah berhadapan dengannya.
Gadis itu memiliki kecantikan yang dingin, misterius, sekaligus tajam —rambut panjangnya yang berwarna gelap pekat berkilau indah di bawah pendar lampu kristal, membingkai wajahnya yang proporsional dengan garis rahang yang tegas.
Pagi ini, ia mengenakan salah satu blazer formal berpotongan pas badan hasil rancangannya sendiri, dipadukan dengan celana kain senada yang memberikan kesan sebagai seorang wanita karier mandiri yang berkuasa, visioner, dan mutlak tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
"Siska, kemari," panggil Kayna. Suaranya tidak keras, tidak pula berteriak, tetapi memiliki intonasi rendah yang penuh otoritas, sanggup membuat langkah kaki sang asisten langsung bergerak secepat kilat.
"I-iya, Nona Kayna? Ada yang bisa saya bantu?" Siska, seorang wanita muda yang terpaut usia tiga tahun di atas Kayna, datang dengan napas sedikit terengah-engah sambil memegang catatannya.
Kayna menunjuk sebuah manekin yang terletak tepat di tengah jendela pajangan utama butik, tempat di mana sorot matahari pagi mulai masuk menyinari kain satin premium berwarna hijau zamrud yang membalut manekin tersebut. "Siapa yang menata pencahayaan dan posisi manekin ini semalam?"
Siska menelan ludah dengan susah payah, merasakan aura ketegangan yang mendadak menguar dari tubuh atasannya. "Itu... tim dekorasi malam, Nona. Mereka bilang perpaduan warna satin hijau zamrud dengan latar belakang panel beludru hitam akan memberikan kesan misterius yang sangat mewah."
"Misterius?" Kayna menaikkan satu alisnya, sebuah senyuman sinis tipis terukir di sudut bibirnya yang dilapisi lipstik nude. "Kesan yang ditimbulkan bukan misterius, Siska, melainkan mati. Beludru hitam itu menyerap seluruh cahaya, membuat warna zamrud yang indah ini terlihat kusam dan murahan seperti kain kiloan di pasar loak. Singkirkan beludru hitam itu sekarang juga. Ganti dengan panel kayu ek dengan aksen emas hangat agar memantulkan sinar fajar jogja dengan sempurna. Kita menjual kemewahan kelas atas, bukan perlengkapan berkabung."
"Tapi, Nona Kayna..." Siska mencoba menyela dengan ragu, "panel beludru itu adalah konsep dekorasi yang dikirimkan langsung oleh Ibu Liliana dari pusat Jakarta untuk peluncuran koleksi musim ini..."
Kayna membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Siska lurus pada manik matanya. Tatapan itu begitu intimidatif, membuat Siska seketika mengunci mulutnya rapat-rapat. "Ibu Liliana adalah pemilik utama LiLYRa, dan aku sangat menghormati selera beliau. Namun, di cabang Jogja ini, akulah yang memegang kendali penuh. Aku yang paling tahu bagaimana karakter pencahayaan dan selera pasar di kota ini. Konsep Jakarta tidak bisa ditelan mentah-mentah di sini tanpa penyesuaian. Kerjakan apa yang kukatakan, Siska. Dalam waktu tiga puluh menit, aku ingin melihat jendela pajangan ini sudah berubah sempurna sebelum klien VIP pertama kita datang."
"Baik, Nona! Segera saya laksanakan!" Siska membungkuk hormat dan langsung berlari ke arah ruang belakang untuk memanggil tim dekorasi.
Kayna menghembuskan napas pelan setelah kepergian asistennya. Ambisinya memang luar biasa besar. Ia tidak ingin dikenal hanya sebagai 'anak dari pemilik LiLYRa'. Ia ingin membuktikan kepada dunia, terutama kepada kedua orang tuanya, bahwa ia mampu membawa cabang Jogja ini mencapai kesuksesan yang bahkan melampaui butik pusat di Jakarta. Baginya, setiap detail visual butik adalah pertaruhan harga diri.
Pintu depan butik tiba-tiba berdenting, menandakan ada seseorang yang masuk. Kayna segera menoleh dengan pandangan profesionalnya, namun ketegangannya sedikit mengendur saat melihat seorang pria paruh baya dengan seragam rapi melangkah masuk sambil membawa sebuah kotak rotan besar yang mengembuskan aroma makanan yang sangat familier dan menggugah selera.
"Selamat pagi, Nona Kayna," sapa pria itu sambil tersenyum ramah. "Saya kurir dari restoran Sunny Bless. Tuan Erick meminta saya mengantarkan menu sarapan khusus ini untuk Nona."
Mendengar nama restoran milik ayahnya disebut, senyum tulus akhirnya terbit di wajah cantik Kayna, mencairkan kebekuan ekspresinya yang sedari tadi terpasang. Erick, ayahnya, adalah seorang maestro kuliner legendaris yang memiliki jaringan restoran elite Sunny Bless. Kerja keras dan dedikasi ayahnya di dunia bisnis kuliner adalah salah satu inspirasi terbesar mengapa Kayna tumbuh menjadi wanita yang begitu ambisius dan berprinsip kuat.
"Pagi, Pak Yusuf. Wah, Papa repot-repot sekali mengirimkan sarapan sepagi ini," ujar Kayna sembari menerima kotak rotan tersebut.
"Tuan Erick berpesan agar Nona Kayna tidak melupakan jam makan lagi hanya karena sibuk memeriksa serat kain. Beliau bilang, seorang bos besar tidak akan bisa berpikir jernih jika perutnya kosong," kata Pak Yusuf menyampaikan pesan sang ayah dengan menirukan nada bicara Erick yang jenaka namun penuh kasih sayang.
Kayna terkekeh kecil. "Baiklah, sampaikan terima kasihku pada Papa. Katakan padanya aku akan menghabiskan semua makanan ini." Setelah Pak Yusuf pamit dan melangkah keluar, Kayna meletakkan kotak makanan itu di meja kerjanya. Sentuhan perhatian dari keluarganya selalu menjadi bahan bakar ekstra bagi jiwanya yang haus akan pencapaian.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Baru saja Kayna hendak membuka kotak rotan tersebut, suara keributan dari area depan butik kembali memecah keheningan pagi. Suara pekikan melengking seorang wanita terdengar mendominasi ruangan, diikuti oleh suara Siska yang mencoba menenangkan dengan nada panik.
Kayna mengernyitkan dahi. Ia segera merapikan blazer hitamnya dan melangkah keluar dari ruangan dengan langkah anggun namun mantap. Di area pajangan tengah, tampak seorang wanita sosialita paruh baya berpenampilan mencolok dengan perhiasan berlian berlebihan sedang berkacak pinggang di depan cermin besar. Di tangannya, ia memegangi sehelai gaun malam sutra brokat berwarna merah marun.
"Ini keterlaluan! Bagaimana bisa butik sebesar LiLYRa membuat kesalahan amatir seperti ini?!"
...●Bersambung●...