NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Janji Kelingking

Malam pertama di kamar rawat, Senja hampir tidak tidur. Nyeri datang dalam gelombang setiap kali obat mulai berkurang.

Perawat menawarkan suntikan pereda nyeri tambahan. Senja menolak setelah mendengar risiko efek samping dan kemungkinan mengganggu evaluasi saraf.

"Saya mau cepat pulih. Bintang menunggu."

Damar yang baru datang membawa makanan berhenti di luar pintu. Ia mendengar isak pendek yang ditahan Senja dengan menggigit bibir. Tanpa masuk, ia berbalik ke kantor direktur.

Hari itu juga, tim ortopedi, gizi klinik, rehabilitasi medik, dan neurologi menyusun pengawasan dua puluh empat jam. Damar meminta pilihan terapi terbaik, tetapi dokter tetap menjelaskan bahwa tubuh Senja butuh waktu, bukan sekadar biaya mahal.

Pada minggu pertama, kemajuan Senja diukur dari hal-hal kecil. Hari ketiga ia mampu menghabiskan setengah mangkuk bubur. Hari kelima ia dapat duduk dengan penyangga selama sepuluh menit. Hari ketujuh ia mulai latihan pernapasan dan gerakan jari bersama tim rehabilitasi.

Damar menerima laporan harian, tetapi tetap datang sendiri. Ia membawa laptop dan bekerja dari sofa agar tidak terlihat sedang menjaga. Senja berpura-pura tidak menyadari bahwa halaman dokumen di layar hampir tidak pernah berganti.

"Mas tidak harus di sini terus," katanya.

"Aku mengantar Bintang."

"Bintang sudah pulang dua jam lalu."

Damar melihat jam, lalu menutup laptop. "Aku menunggu dokter."

Dokter juga sudah pergi. Senja menahan senyum dan membiarkan alasan itu tetap hidup.

Satu minggu kemudian, kondisinya membaik. Ia sudah bisa menerima makanan lunak dan tidak lagi menangis setiap kali posisi diubah.

Bintang justru semakin sulit makan. Selama seminggu tidak bertemu Senja, ia bangun malam dan menangis. Damar akhirnya membawanya ke rumah sakit lagi.

Begitu masuk, Bintang berlari ke sisi ranjang.

"Mama jangan tinggalin Bintang."

"Mama enggak pergi."

"Janji?"

Senja mengangkat kelingking yang tidak digips. Bintang mengaitkan jari kecilnya.

"Janji kelingking," kata anak itu lantang. "Seratus tahun enggak boleh ingkar. Yang ingkar jadi anjing!"

Senja tertawa untuk pertama kali sejak jatuh. "Siapa yang ngajarin?"

"Teman sekolah."

Bintang menoleh kepada Damar. "Papa juga janji jaga Mama. Kalau Papa enggak becus, Papa yang jadi anjing."

Damar yang biasa membuat satu ruangan direksi diam kini tidak punya jawaban.

"Kenapa Papa?"

"Karena Papa suami Mama. Harus jaga."

Senja menutup mulut agar tidak tertawa lebih keras. Tatapan Damar beralih kepadanya, tetapi tidak ada kemarahan. Hanya rasa kalah yang anehnya lembut.

"Baik," katanya. "Papa akan menjaga."

Bintang puas dan kembali mengaitkan kelingking mereka bertiga.

Senja memandang Damar. Lelaki itu sangat mencintai anaknya. Ia mulai penasaran mengapa ibu kandung Bintang tidak tinggal bersama mereka dan mengapa Damar bersikeras tidak akan menikah lagi padahal telah menikahi Senja.

Saat Bintang datang lagi, anak itu membawa gelang kertas buatan sendiri bertuliskan `Mama cepat sembuh`. Ia memasangnya pada pergelangan Senja yang bebas dari gips.

"Kalau Mama sakit, lihat ini."

"Kalau Bintang kangen?"

"Bintang lihat foto Mama. Papa punya banyak."

Senja menoleh kepada Damar. "Mas punya foto saya?"

"Foto laporan dari Bik Inah," jawabnya cepat.

Bintang membongkar kebohongan itu. "Ada foto Mama tidur, Mama makan, Mama sama Bintang."

Telinga Damar memerah. Senja tidak mengejek, tetapi kehangatan menyebar di dada. Lelaki itu memperhatikannya jauh lebih banyak daripada yang diakui.

Janji kelingking menjadi ritual setiap kunjungan. Bintang selalu mengulang bahwa siapa pun yang ingkar akan menjadi anjing, lalu menunjuk papanya sebagai orang pertama yang harus bertanggung jawab. Damar menerima hukuman imajiner tersebut dengan wajah pasrah.

Satu bulan setelah kecelakaan, Senja sudah bisa duduk lebih lama dan menggerakkan tubuh dengan bantuan. Ia belum boleh melakukan gerakan berat. Damar datang hampir setiap kali mengantar Bintang, tetapi selalu duduk di sofa jauh dan berpura-pura sibuk.

"Saya mau pulang," kata Senja suatu sore. "Di rumah bisa bantu Bintang belajar. Di sini saya cuma tidur."

"Tanya dokter dulu."

"Kalau dokter izinkan?"

"Kita atur perawat di rumah."

Senja masih sungkan. "Mas sudah bayar semuanya. Saya enggak tahu cara membalas."

Bintang menyela, "Papa urus Mama itu memang harus. Kenapa Mama selalu sungkan?"

Senja mengusap rambut anak itu. "Kalau orang baik sama kita, tetap harus tahu terima kasih."

"Kalau Bintang besar, Bintang mau seperti Mama."

"Jangan seperti Mama yang suka jatuh."

"Bukan. Bintang mau baik dan cantik."

Damar menatap dua orang di depannya. Untuk sesaat, kamar rumah sakit itu terasa seperti ruang keluarga. Bukan kontrak, bukan transaksi, bukan pengasuh dan pemilik rumah.

Keluarga.

Pada kunjungan dokter berikutnya, Senja bertanya kapan dapat pulang. Dokter menjelaskan syaratnya: nyeri terkontrol, luka operasi baik, mobilitas aman dengan bantuan, rumah memiliki akses yang sesuai, dan terapi lanjutan tersedia.

"Tangga di rumah banyak," ujar Senja.

"Kamar lantai bawah akan disiapkan," jawab Damar sebelum dokter selesai.

Ia sudah memerintahkan pegangan tambahan, tempat tidur medis sementara, serta jalur bebas hambatan. Perawat rehabilitasi akan datang ke rumah. Semua disusun tanpa membuat Senja harus meminta.

"Mas merombak rumah karena saya?"

"Sementara. Agar Bintang tidak perlu bolak-balik ke sini."

Alasannya selalu kembali kepada Bintang, tetapi Senja mulai melihat tindakan yang berpusat pada dirinya.

Satu sore, Damar datang tanpa anak. Ia membawa sisir dan kain kerudung yang diminta Senja. Tangan kiri Senja belum dapat digunakan, sehingga perawat biasanya membantu.

"Perawat sedang mengganti shift," katanya. "Taruh saja di meja."

Damar berdiri canggung. "Rambutmu berantakan."

"Saya tahu."

Setelah diam lama, ia mengambil sisir. Gerakannya terlalu hati-hati, seolah rambut Senja dapat patah seperti tulangnya. Sisir tersangkut sekali dan Damar langsung berhenti.

"Sakit?"

"Enggak. Lanjut."

Senja melihat pantulan mereka di layar tablet yang gelap. Pria yang dahulu melarangnya masuk dapur kini menyisir rambutnya tanpa diminta. Tidak ada kata manis, tetapi perubahan itu nyata di antara tarikan sisir.

"Bintang sangat mirip Mas kalau sedang cemberut," kata Senja.

Tangan Damar berhenti. "Dia tidak mirip aku."

Jawaban tersebut terlalu cepat. Senja menoleh, penasaran, tetapi Damar sudah meletakkan sisir.

"Maksudku, sifatnya berbeda."

"Ibu kandung Bintang seperti apa?"

Ruangan mendadak sunyi.

Damar memandang jendela. "Jangan tanyakan sekarang."

Senja tidak memaksa. Namun penolakan itu menegaskan ada luka atau rahasia yang lebih besar daripada perceraian biasa.

Pada akhir bulan, dokter mengizinkan persiapan pulang. Senja belum pulih penuh dan dilarang melakukan gerakan berat. Ia harus kontrol, menjalani terapi, serta mengikuti program gizi.

Bintang menyambut kabar itu dengan melompat kecil, lalu langsung berhenti karena takut suara keras membuat Mama sakit.

"Di rumah Bintang tidur sama Mama."

"Mama perlu tempat luas untuk alat bantu," kata Damar.

"Bintang tidur di lantai."

"Tidak ada yang tidur di lantai."

Senja tertawa. Untuk pertama kalinya, rencana pulang tidak terasa seperti kembali ke rumah orang lain. Ada kamar yang disiapkan untuknya, anak yang menunggu, dan suami yang diam-diam mengubah seluruh lantai agar langkahnya aman.

Damar melihat Senja dan Bintang mengaitkan kelingking lagi. Gambaran tiga orang dalam lukisan anak perlahan menjadi nyata.

Di balik kehangatan itu, satu pertanyaan belum terjawab: siapa ibu kandung Bintang, dan mengapa ia meninggalkan anak yang begitu haus pada pelukan seorang mama?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!