Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Aturan Ci Vanessa
Daftar aturan itu terus bertambah setiap kali Lia mengira Vanessa sudah selesai bicara.
“Kalau ada tamu keluarga, jangan duduk sebelum disuruh. Jangan masuk ruang kerja siapa pun. Jangan memakai parfum tajam. Jangan memakai baju yang terlalu ketat. Dan satu lagi, jangan sok akrab dengan laki-laki di rumah ini.”
Vanessa duduk di sofa ruang keluarga dengan kaki bersilang. Di sebelahnya, Bryan terbaring di keranjang bayi, menggenggam ujung selimut. Edwin sedang menuangkan teh untuk Popo, sedangkan Cornelia memeriksa susunan hidangan di meja makan.
Hari itu hanya ada makan siang kecil keluarga. Namun Vanessa sengaja memilih saat semua orang berkumpul untuk mengajari Lia “aturan rumah”.
Lia berdiri sambil membawa baki cangkir. “Baik, Ci Vanessa.”
“Kamu mengerti maksudku?”
“Saya mengerti tugas saya.”
Vanessa tersenyum. “Bagus. Orang dari keluarga sederhana kadang terlalu senang saat masuk rumah besar. Sedikit perhatian saja bisa disalahartikan sebagai kesempatan.”
Tangan Lia mengencang di bawah baki.
Ia tahu kalimat itu bukan lagi tentang pekerjaan. Semua orang di ruangan itu juga tahu.
Edwin meletakkan teko. “Vanessa, Lia baru bekerja. Jangan dibuat seperti sedang masuk pelatihan militer.”
“Aku cuma mengingatkan, Ko Edwin. Nama baik keluarga harus dijaga.”
Vanessa mengangkat satu jari lagi. “Soal makan, pekerja rumah baru boleh makan setelah seluruh keluarga selesai. Jangan mengambil lauk lebih dulu. Jangan menyimpan makanan di kamar. Dan kalau ada tamu laki-laki, kamu tetap di belakang. Paham?”
Lia mengangguk. “Saya paham. Tapi kalau jadwal minum Bryan bertepatan dengan makan keluarga, saya perlu makan lebih dulu atau sesudahnya supaya bisa terus menggendongnya.”
“Kamu bisa menunggu.”
“Bryan belum tentu bisa, Ci.”
Popo meletakkan cangkir lebih keras dari biasanya. “Kalau Lia sampai sakit karena telat makan, siapa yang mengurus Bryan? Kamu?”
Vanessa melirik keranjang bayi, lalu mengalihkan pandang. Sejak melahirkan, ia cepat lelah dan lebih sering menyerahkan jadwal malam Bryan kepada pengasuh.
“Aku hanya bicara soal disiplin, Popo.”
“Nama baik dijaga oleh semua orang,” sahut Popo. “Bukan hanya orang yang paling lemah kedudukannya.”
Lia menahan napas, tak menyangka Popo akan membelanya seterbuka itu.
Vanessa menahan senyum yang mulai kaku. “Tentu, Popo.”
Lia membagikan cangkir satu per satu. Ia meletakkan teh tanpa suara, memastikan gagang cangkir menghadap tangan kanan pemiliknya, lalu mengelap setetes air yang jatuh di meja. Tidak satu pun gerakannya memberi Vanessa celah untuk menyalahkan.
Ketika sampai di depan Sebastian, Lia menjaga jarak lebih jauh daripada biasanya.
“Tehnya, Ko Sebas.”
Sebastian mengangkat pandang. Sejak kejadian di gudang, Lia selalu menemukan alasan untuk pergi saat mereka berada di ruangan yang sama. Kini bahkan cangkirnya diletakkan di ujung meja seolah jarak beberapa sentimeter bisa menghapus wangi yang pernah menempel di lengan bajunya.
Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tatapannya membuat Lia cepat-cepat berbalik.
“Tunggu,” kata Vanessa.
Lia berhenti.
Vanessa menunjuk noda kecil di bawah piring kue. “Mejanya belum bersih.”
Lia mengambil kain lap. Sebelum ia menyentuh meja, Vanessa menggeser mangkuk gula dengan sengaja. Beberapa butir jatuh dan menyebar di permukaan kayu.
“Sekalian itu.”
Cornelia menghela napas. “Vanessa, cukup. Kita mau makan siang, bukan menguji orang.”
“Mamah terlalu mudah percaya. Aku hanya tidak mau rumah ini jadi bahan omongan. Apalagi sekarang ada perempuan muda yang tinggal di dalam.” Tatapan Vanessa menyapu tubuh Lia. “Kita tidak tahu kebiasaannya di luar seperti apa.”
Lia meletakkan kain lap.
“Ci Vanessa,” ucapnya tenang, “saya datang untuk bekerja, bukan mencari perhatian siapa pun. Kalau pekerjaan saya salah, silakan tegur. Kalau bukan tentang pekerjaan, saya harap Ci tidak menuduh tanpa bukti.”
Ruangan mendadak sepi.
Edwin mengangkat alis, seperti tak menyangka perempuan yang selama ini bicara pelan bisa menjawab setegas itu. Popo menyembunyikan senyum di balik cangkir.
Vanessa berdiri. “Kamu berani sekali bicara seperti itu pada saya.”
Bryan terkejut oleh suaranya dan mulai merengek. Lia langsung mendekati keranjang, mengangkat bayi itu dengan tangan yang sudah dicuci, lalu menepuk punggungnya. Rengekan Bryan mereda sebelum berubah menjadi tangis.
“Dia membawa Bryan dengan baik,” suara Sebastian terdengar datar. “Soal aturan untuk Lia, kurasa bukan urusan Ci Vanessa.”
Vanessa menoleh tajam. “Ko Sebas membelanya?”
“Aku menyatakan fakta.”
“Dia pembantu di rumah ini.”
“Dan dia mengerjakan tugasnya lebih baik daripada orang yang sibuk mencari kesalahan.”
Edwin berdeham. “Sudah. Makanannya dingin. Vanessa, duduk. Lia, bawa Bryan ke dekat Popo dulu.”
Cornelia ikut menengahi. “Tidak ada yang perlu diperpanjang. Lia, tetap kerjakan tugasmu. Vanessa, kalau ada masalah rumah tangga, bicara kepadaku.”
“Baik, Mamah.”
Vanessa duduk kembali. Senyumnya sudah kembali, tetapi ujung jarinya menekan napkin sampai kusut.
Lia membawa Bryan ke kursi dekat Popo. Saat melewati Sebastian, ia merasakan tatapan pria itu pada wajahnya. Bukan tatapan iba. Ada pengakuan diam-diam bahwa ia telah membela dirinya sendiri.
Hal itu justru lebih berbahaya bagi hati Lia.
Ia menunduk dan melanjutkan pekerjaan.
Setelah makan siang selesai, Vanessa berdiri di dekat pintu dapur bersama salah satu pekerja rumah tangga lama. Begitu Lia membelakangi mereka untuk menata piring, Vanessa melirik ke arah Sebastian, lalu memberi isyarat kecil dengan mata.
“Ko Sebas ternyata melindungimu erat sekali,” ucapnya manis.
Pekerja itu mengikuti tatapannya, lalu mengangguk pelan.