Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa di Panti Asuhan
Matahari sore merambat turun ketika SUV hitam milik keluarga Al-Maktoum membelah jalanan perbatasan bogor menuju Jakarta. Di dalam kabin mobil yang tenang, Shanum memperhatikan raut wajah pengawalnya lewat kaca spion tengah. Aran duduk tenang di jok belakang, menatap keluar jendela. Walau ekspresinya jauh lebih santai dibanding saat di pesantren tadi, Shanum tahu masih ada ruang hampa di sudut batin pria itu—sebuah proses adaptasi menuju pemulihan jiwa yang utuh.
"Pak Darmo, kita tidak langsung ke kantor atau rumah," ujar Shanum memecah keheningan. "Putar arah ke Yayasan Darul Aytam di pinggiran Jakarta Selatan."
Aran serta-merta menegakkan posisi duduknya. Matanya memicing halus, refleks kewaspadaannya kembali muncul. "Ada agenda mendadak, Mbak Shanum? Area panti asuhan belum diperiksa oleh tim pengawas."
Shanum memutar tubuhnya ke belakang, menatap Aran seraya menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. "Tidak ada ancaman, Aran. Anggap saja ini bagian dari terapi lanjutan untuk pengawal kaku sepertimu. Kamu ikut saya."
Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki halaman luas Panti Asuhan Darul Aytam, sebuah bangunan asri bersuasana hangat yang bernaung di bawah yayasan keluarga Al-Maktoum. Begitu roda mobil berhenti sempurna, suara riuh canda tawa anak-anak langsung menyambut pendengaran mereka.
Pengurus panti, seorang wanita setengah baya berwajah teduh bernama Ibu Rahma, menyambut kedatangan Shanum dengan sukacita. Namun, perhatian puluhan anak yatim yang sedang berlarian di lapangan rumput mendadak teralih sepenuhnya saat melihat sosok tinggi tegap yang melangkah keluar di belakang Shanum.
Aran yang mengenakan kemeja koko polos gelap dan celana bahan tampak begitu menonjol. Tubuhnya yang kekar, bahunya yang lebar, serta sisa-sisa aura intimidatif dari masa lalunya membuat beberapa anak kecil sempat tertegun sejenak.
"Wah... Kakak itu kayak Robot!" celoteh seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun, menunjuk Aran dengan mata berbinar polos.
"Bukan robot, Bimo! Itu Batman! Badannya besar sekali seperti di televisi!" timpal anak lainnya yang membawa bola plastik kusam.
Aran membeku di tempatnya. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal dua respons manusia terhadap kehadirannya: ketakutan yang mencekam dari para musuh, atau rasa hormat yang kaku dari rekan sejawat. Ia tidak pernah disapa dengan kepolosan tanpa dosa seperti ini. Pria yang biasa melumpuhkan lawan dalam hitungan detik itu mendadak mati kutu, kebingungan menanggapi kepungan anak-anak kecil yang melingkarinya.
"Mbak Shanum..." bisik Aran penuh kecanggungan, melirik pimpinannya seolah meminta petunjuk taktis.
Namun Shanum justru melangkah mundur, menyandarkan punggungnya di tiang teras panti sambil memegang cangkir teh hangat yang disodorkan Ibu Rahma. "Selesaikan tugas barumu, Aran. Mereka ingin bermain denganmu."
Sebelum Aran sempat memprotes, jemari mungil Bimo sudah menarik-narik ujung kemeja kokonya. "Kak, ayo main bola! Kami kekurangan kiper!"
Aran menghela napas pasrah. Dengan canggung, ia melangkah mengekor anak-anak itu menuju lapangan rumput sederhana. Di awal permainan, gerakan Aran sangat kaku. Ia berusaha menendang bola plastik dengan hati-hati, takut tenaganya yang besar justru membuat anak-anak terluka.
Namun, kepolosan dan tawa riang anak-anak itu perlahan meruntuhkan tembok pertahanan di hati Aran. Saat Bimo tersandung rumput dan menangis kecil, Aran refleks berlutut, mengangkat tubuh bocah itu dengan mudah, lalu menaruhnya di atas bahunya yang kokoh. Tangisan Bimo seketika berubah menjadi jerit kegirangan.
"Terbang! Aku bisa terbang!" seru bocah itu tertawa lebar.
Melihat hal itu, anak-anak lain langsung berlarian mengejar Aran, meminta giliran diangkat. Dan di sana, di bawah naungan pohon rindang panti asuhan, sesuatu yang ajaib terjadi.
Aran berlari kecil menghindari anak-anak, mengoper bola plastik dengan lihai, lalu tertawa. Bukan sekadar senyum tipis formal, melainkan tawa renyah yang lepas dari tenggorokannya. Wajahnya yang biasa kaku memancarkan kehangatan yang amat murni. Tidak ada rasa curiga, tidak ada kewaspadaan mencekam, dan tidak ada beban perisai militer.
Di teras panti, Shanum menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Matanya berkaca-kaca menahan haru. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Aran, ia melihat pria itu benar-benar menjadi manusia biasa yang bahagia. Jiwa Aran yang dulu penuh torehan luka kelam, kini perlahan terbasuh oleh ketulusan anak-anak yatim tersebut.
Saat senja mulai beranjak malam dan anak-anak masuk ke dalam aula untuk bersiap mengaji, Shanum mengajak Aran pulang. Di perjalanan menuju pusat kota Jakarta, keheningan di dalam mobil terasa begitu menenangkan dan damai.
Saat melintasi kawasan protokol yang megah, mata Shanum menatap kubah emas sebuah masjid agung yang berdiri kokoh di tengah pendar lampu kota. Panggilannya untuk beribadah terasa begitu membuncah di dalam dada.
"Pak Darmo, belok ke kiri. Kita menepi sebentar di Masjid Agung," perintah Shanum lembut.
Mobil SUV itu berhenti di area parkir masjid yang luas dan asri. Arsitektur masjid yang megah dengan pilar-pilar tinggi serta lampu gantung kristal menciptakan pendar cahaya yang menakjubkan di tengah keremangan malam.
Shanum menoleh pada Aran. "Saya izin sholat Maghrib sebentar ya, Aran. Kamu bisa menunggu di sini atau duduk di teras luar."
Aran mengangguk sopan. "Baik, Mbak Shanum. Saya akan menjaga area luar."
Shanum melangkah masuk ke area jamah wanita, sementara Aran memilih berdiri menanti di batas selasar suci masjid. Dari tempatnya berdiri, Aran memperhatikan lalu lalang orang-orang yang melangkah masuk. Mereka melepaskan alas kaki, membersihkan diri di tempat wudhu, lalu berjejer rapi di atas karpet hijau yang tebal.
Aran menatap gerakan-gerakan itu dengan penuh rasa ingin tahu. Ia melihat bagaimana orang-orang dari berbagai lapisan sosial—dari pria berjas rapi hingga pedagang kecil—berdiri sejajar dalam barisan yang lurus. Mereka menunduk, membungkuk, dan menempelkan dahi mereka ke lantai dengan kepasrahan yang luar biasa.
Ada kedamaian yang terpancar dari wajah orang-orang yang baru saja keluar dari dalam masjid. Kedamaian yang persis sama seperti yang ia lihat pada diri Kyai Syahuri dan Ning Layla.
Dua puluh menit kemudian, Shanum melangkah keluar dari batas suci dengan wajah yang segar usai berwudhu dan beribadah. Mukena putihnya sudah dirapikan kembali ke dalam tas kecil. Saat melihat Aran berdiri di dekat pilar besar, Shanum menghampirinya.
"Sudah selesai, Mbak?" tanya Aran pelan saat mereka mulai melangkah bersama menuju area parkir.
"Sudah, Alhamdulillah," jawab Shanum, melirik ekspresi Aran yang tampak dalam lamunan. "Kenapa, Aran? Dari tadi saya lihat kamu memperhatikan dalam masjid begitu serius."
Aran menghentikan langkahnya tepat di bawah naungan lampu taman masjid yang temaram. Pria itu menatap bangunan megah di depannya, lalu memindahkan pandangannya menatap Shanum dengan kedalaman mata yang amat jujur.
"Mbak Shanum..." panggil Aran rendah. "Sebenarnya... apa kegunaan sholat?"
Shanum tertegun. Ia menghentikan langkahnya, memutar tubuh menghadap pengawalnya. Pertanyaan polos namun mendalam itu terucap dari bibir seorang pria yang selama bertahun-tahun hidupnya hanya mengenal kerasnya hukum rimba.
Shanum tersenyum teramat lembut, suaranya mengalun bagai usapan angin malam yang menyejukkan.
"Sholat itu... adalah sarana komunikasi antara hamba dengan Penciptanya, Aran," tutur Shanum pelan. "Di dunia yang bising ini, kita sering kali lelah, bingung, atau tertimpa beban yang sangat berat. Sholat adalah momen di mana kita melepaskan seluruh beban itu. Tempat kita mengadu tanpa takut dihakimi, dan tempat kita meletakkan rasa takut di atas sajadah."
Aran mendengarkan setiap patah kata itu dengan ketakjuban yang merayap di dadanya.
"Saat kita sujud," lanjut Shanum menatap mata Aran yang jernih, "dahi kita berada di tempat yang paling rendah, namun saat itulah jiwa kita berada di titik paling dekat dengan Sang Pencipta. Sholat memberikan ketenangan jiwa yang tidak akan pernah bisa kamu temukan di tempat lain. Kegunaannya bukan untuk Tuhan, Aran... tapi untuk melatih hati kita agar selalu merasa aman karena memiliki tempat bersandar yang Maha Luas."
Aran terdiam cukup lama. Penjelasan Shanum meresap begitu dalam ke ceruk jiwanya yang paling sunyi. Ia meraba dadanya sendiri—dada yang selama ini sering berdebar tegang karena ancaman bahaya. Keinginan untuk merasakan kedamaian hakiki seperti yang dijelaskan Shanum mendadak membuncah kuat di dalam batinnya. Tembok ketidaktahuannya runtuh, digantikan oleh kerinduan spiritual yang teramat sangat.
Aran menghembuskan napas panjang, lalu menatap Shanum dengan raut ketulusan yang belum pernah Shanum lihat sebelumnya.
"Mbak Shanum..." bisik Aran, suaranya bergetar halus oleh keikhlasan hati. "Saya... mau diajari sholat."
saling support sabi kali thor🤭