NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Pelukan Sedetik di Lift Nomor Tiga

Menjelang pukul lima, pena di tangan Renard patah.

Suara retaknya membuat Liana mengangkat kepala dari meja luar. Melalui pintu yang setengah terbuka, ia melihat dua potong pena jatuh di atas laporan. Tinta hitam mengotori telapak tangan Renard.

Pria itu tetap duduk tegak, tetapi bahunya terlalu kaku. Keringat muncul di pelipis meski suhu kantor dingin. Jari-jarinya membuka dan menutup seolah kulitnya sendiri terasa terlalu sempit.

Liana langsung mengenali gejalanya.

Ia membawa tisu basah dan masuk tanpa mengetuk.

"Pak Renard."

"Aku baik-baik saja."

"Penanya nggak setuju."

Renard melihat potongan plastik di meja. "Penanya jelek."

Liana menutup pintu, tetapi tidak menguncinya. "Obat rutin sudah diminum?"

"Sudah, sesuai dosis."

"Obat tambahan?"

"Belum ada izin dokter. Aku nggak akan menambah sendiri."

Jawaban itu benar, tetapi napasnya makin pendek. Liana menempelkan dua jari ke pergelangan Renard. Nadi pria itu terlalu cepat.

Renard menangkap tangannya sebelum ia sempat menarik diri.

Panas telapak mereka bertemu.

Mual yang mengaduk perut Renard langsung surut sedikit. Bukan hilang, hanya memberi ruang untuk bernapas.

"Kita perlu keluar dari lantai ini," bisik Liana. "Terlalu banyak orang."

"Ke mana?"

Liana melihat tumpukan map di rak. "Ruang arsip lantai dua. Ada daftar kontrak lama yang harus saya cek."

"Kamu baru saja menciptakan pekerjaan."

"Saya asisten Bapak. Itu salah satu kemampuan utama saya."

Renard hampir tersenyum. Tanda baik.

Liana melepaskan tangannya, mengambil satu map kosong sebagai penyamaran, lalu membuka pintu.

"Pak Renard mau ikut memeriksa arsip?" tanyanya dengan suara kerja biasa.

Rizal dan Bayu yang sedang berjalan di koridor menoleh.

"Ada kontrak yang perlu kulihat sendiri," jawab Renard.

Keduanya mengangguk, tetapi mata mereka mengikuti sampai pintu lift tertutup.

"Bos turun ke arsip?" bisik Bayu.

"Taruhan kita naik jadi makan siang," kata Rizal.

***

Lift nomor tiga kosong.

Begitu pintu menutup, wajah Renard kehilangan sisa warnanya. Ia menekan tombol lantai dua, lalu menyandarkan punggung ke dinding logam.

Liana meletakkan map di lantai.

"Lihat saya."

Renard menatapnya.

"Boleh pegang tangan?"

Pertanyaan itu seharusnya datang dari Renard. Namun dalam keadaan ini, Liana perlu memastikan ia masih bisa memilih.

"Boleh."

Liana mengulurkan telapak tangan. Renard menutupnya dengan kedua tangannya, tidak meremas, hanya menahan.

Tubuhnya bereaksi cepat.

Liana mengamati perubahan itu secara teratur. Warna kembali ke bibir Renard. Keringat di pelipis berhenti bertambah. Cengkeraman kedua tangannya, yang semula seperti takut kehilangan satu-satunya pegangan, perlahan berubah menjadi genggaman biasa.

"Sebutkan tiga benda yang Bapak lihat," kata Liana.

Renard membuka mata sedikit. "Panel lift. Sepatumu. Kartu pegawai."

"Dua suara."

"Mesin lift. Napasmu."

"Satu hal yang Bapak rasakan."

Ibu jari Renard bergerak di punggung tangan Liana. "Kamu."

Liana lupa apa instruksi berikutnya.

"Maksudku, tanganmu," tambah Renard, tetapi keterlambatan penjelasan itu justru membuat udara semakin panas.

Panas di bawah kulit turun. Napas yang kasar mulai memanjang. Mual hilang seperti gelombang yang ditarik kembali ke laut.

Renard memejamkan mata.

Ini bukan ruang terapi. Tidak ada penutup mata, tidak ada lampu pemeriksaan, tidak ada Karina di ujung koridor. Di hadapannya berdiri Liana dengan kartu pegawai di leher dan map kosong di lantai.

Namun efeknya sama.

"Lebih baik?" tanya Liana.

"Jauh."

"Kita tetap ke ruang arsip. Duduk lima menit, lalu saya hubungi dokter."

"Jangan bilang ke kantor."

"Saya akan bilang secara pribadi. Tapi saya harus melapor kalau gejalanya naik."

Renard membuka mata. "Kamu bicara seperti dia."

Jari Liana bergerak kecil di telapak tangannya.

"Seperti siapa?"

Sebelum Renard menjawab, lift tersentak.

Lampu berkedip sekali. Kabin berhenti di antara lantai, cukup mendadak untuk membuat Liana kehilangan keseimbangan.

Renard menariknya.

Satu lengan melingkar di pinggang Liana, tangan lainnya melindungi belakang kepalanya. Tubuh mereka bertemu penuh. Dada Renard menahan tubuh Liana, dagunya menyentuh puncak rambutnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Liana mendengar napas Renard tepat di atas telinga. Cepat, tetapi bukan lagi karena serangan. Aroma cedar dan kopi mengelilinginya, bercampur panas dari kemeja pria itu.

"Kamu sakit?" tanya Renard.

"Nggak."

Tangannya masih di pinggang Liana.

"Pak Renard?"

"Hm?"

"Liftnya sudah bergerak lagi."

Angka di panel turun. Enam. Lima. Empat.

Renard tidak langsung melepas.

Liana juga tidak mengetuk dua kali.

Tiga.

Suara bel berbunyi. Panel menunjukkan `L` karena sistem otomatis menurunkan lift untuk pemeriksaan.

"Pintunya mau buka," bisik Liana.

Renard melepaskan pinggangnya tepat saat celah cahaya muncul.

Di luar, Rizal dan Bayu berdiri dengan dua kantong makan sore. Mereka rupanya turun lewat lift lain setelah menerima pesanan di lobi.

Liana membungkuk cepat mengambil map. Renard berbalik menghadap panel dan menekan tombol lantai dua, seolah sejak tadi sibuk mengaturnya.

"Pak? Mbak?" Rizal melihat mereka bergantian. "Katanya mau ke arsip?"

"Lift bermasalah," jawab Renard.

Bayu melirik rambut Liana yang berantakan di satu sisi. "Mbak Liana nggak apa-apa?"

"Tadi goyang. Saya hampir jatuh."

"Pak Renard menolong?"

"Kamu ingin menulis laporan kejadian atau wawancara infotainment?" tanya Renard.

Bayu langsung masuk sambil menutup mulut.

Mereka turun di lantai dua. Begitu pintu menutup lagi, Rizal menatap Bayu.

"Makan siang plus dessert."

***

Setelah lima menit di ruang arsip dan satu panggilan singkat ke dokter, Renard kembali ke kantornya. Gejalanya hilang sepenuhnya. Bekas tinta di tangannya juga sudah dibersihkan Liana.

Dokter meminta Renard mencatat jam munculnya serangan, makanan terakhir, dosis rutin, dan pemicu sebelum gejala. Liana membuat formulir singkat di tablet, lalu mengirimkannya ke alamat pribadi Renard, bukan sistem kantor.

"Saya akan mengingatkan Bapak isi malam ini," katanya.

"Kamu sudah melakukan cukup banyak."

"Saya melakukan pekerjaan saya."

"Yang mana?"

Pertanyaan itu membuat tangan Liana berhenti di atas gagang pintu.

Renard tidak tersenyum. Tatapannya tenang, seakan ia sungguh ingin tahu peran apa yang baru saja dipakai Liana untuk menyelamatkannya.

"Asisten yang kebetulan tahu pertolongan pertama," jawab Liana.

"Kebetulan," ulang Renard.

Liana pergi sebelum satu kata itu berubah menjadi pertanyaan lain.

Di meja, potongan pena masih tergeletak seperti bukti bahwa satu jam sebelumnya ia hampir kehilangan kendali.

Renard menutup pintu dan menelepon Karina.

Kakaknya mengangkat pada dering kedua.

"Gejalanya naik lagi?"

"Sudah turun. Aku bicara dengan dokter."

"Bagus. Ada apa?"

Renard menatap telapak tangannya. Kehangatan Liana seolah masih tertinggal di sana.

"Ci, soal kontrak Nona Terapis itu..."

Karina diam.

Keheningan di sambungan telepon terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.

"Aku nggak minta kamu melanggar kerahasiaan," lanjut Renard. "Tapi ada hal tentang identitasnya yang ingin kupahami."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!