Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Yang Ditolong dan Yang Menolong
"Anak ini bukan anak Ibu, kan?"
Perempuan berkardigan cokelat itu tidak menjawab.
Ia malah menyentakkan tubuh ke belakang. Tangan yang ditahan Bram terpelintir, tas besarnya jatuh, dan seluruh isinya berhamburan di lantai gerbong.
Dua kaus anak. Popok sekali pakai. Beberapa tiket dengan nama berbeda. Sebuah botol kecil tanpa label. Terakhir, bungkusan plastik berisi serbuk putih meluncur sampai menyentuh ujung sepatu Laras.
Gerbong mendadak sunyi.
Seorang ibu yang memegang bocah itu menutup mulut. "Ya Allah."
Perempuan tersebut langsung menendang bungkusan itu ke bawah kursi. "Itu bukan punya saya! Dia yang memasukkannya!"
Telunjuknya mengarah kepada Laras.
Tuduhan itu membuat udara di paru-paru Laras berhenti sesaat. Semalam, bubuk serupa berada di tangannya. Ia tahu betapa mudah fakta kecil dipelintir sampai korban tampak seperti pelaku.
Namun kali ini ia tidak sendirian.
Bram memindahkan posisi cengkeramannya dan berdiri di antara Laras dengan perempuan tersebut. "Semua penumpang melihat tas itu jatuh dari pangkuan Ibu. Jangan menyentuh barang apa pun lagi."
Dua petugas keamanan kereta masuk bersama kondektur. Bram menunjukkan kartu identitas dinasnya, lalu memberi penjelasan singkat tanpa mencoba mengambil alih kewenangan.
"Diduga anak dibius. Ada benda tajam dan serbuk dari tas terduga pelaku. Tolong amankan barang bukti dan hubungi Polsuska serta polisi di Stasiun Malang."
Salah satu petugas segera memakai sarung tangan. Petugas lain mengambil alih perempuan tersebut dari Bram.
"Saya tidak menculik siapa pun!" teriaknya. "Anak itu dititipkan!"
"Oleh siapa?" tanya Laras.
"Bukan urusanmu!"
"Nama anaknya saja Ibu tidak tahu."
"Diam!"
Perempuan itu meronta begitu keras hingga kardigannya tertarik. Ponsel dari sakunya terjatuh dan layar menyala. Sebuah pesan masuk terlihat sekilas.
`Aku di gerbong tiga. Anak satunya mulai bangun.`
Laras dan Bram membacanya bersamaan.
"Ada anak lain," kata Laras.
Petugas mengambil ponsel itu tanpa membuka percakapan lebih jauh. Ia menghubungi rekan melalui radio, menyebut ciri yang didapat dari foto profil pengirim. Pintu antargerbong langsung dijaga.
Tidak sampai lima menit kemudian, suara keributan terdengar dari gerbong tiga.
Seorang lelaki bertopi mencoba menarik bocah perempuan menuju toilet ketika petugas menghentikannya. Bocah itu masih sadar, tetapi menangis tanpa suara. Di pipinya ada bekas telapak tangan. Penumpang lain membantu menutup jalan sampai petugas berhasil memborgol si lelaki dengan alat pengaman.
Melihat rekannya tertangkap, perempuan berkardigan itu lunglai.
"Saya cuma dibayar," katanya terbata. "Saya bukan orang yang mengambil mereka."
"Itu jelaskan kepada polisi," jawab Bram.
***
Bocah laki-laki tadi mulai merintih ketika diperiksa petugas kesehatan kereta. Sesuai arahan, tidak ada yang memberinya makanan atau minuman sebelum kondisinya dinilai. Kausnya diangkat sedikit untuk memeriksa pernapasan, memperlihatkan beberapa lebam lama di punggung.
Laras memalingkan wajah.
Tangannya gemetar. Ia menyembunyikannya di balik jaket Bram, tetapi lelaki itu melihat.
"Duduk," katanya.
"Aku tidak apa-apa."
"Tanganmu bilang sebaliknya."
Laras hendak membantah, lalu menyadari ia baru saja mendengar kalimat serupa dari mulutnya sendiri kepada penculik. Dengan kesal ia kembali duduk.
Bram berjongkok di depannya. "Kamu mengenali bau obat itu."
Itu bukan pertanyaan.
"Di kamar semalam ada bau yang sama."
"Sebelum semalam?"
Laras menatap jendela. Sawah bergerak cepat di luar, hijau dan tenang, seolah tidak ada anak-anak yang dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain seperti barang.
"Aku pernah mendengar orang membicarakan obat itu di terminal," jawabnya. "Sudah lama."
"Pak Rusdi?"
Rahang Laras mengeras.
Bram tidak mendesak. Ia hanya berdiri dan menukar tempat duduk dengannya, sehingga Laras berada lebih jauh dari pelaku. Tindakan sederhana itu membuat napasnya perlahan teratur.
Di ujung gerbong, polisi yang menunggu di Malang menghubungi petugas kereta melalui telepon. Identitas dua anak dicocokkan dengan laporan kehilangan. Bocah laki-laki bernama Daffa, lima tahun, dilaporkan hilang dari sebuah pasar di Surabaya dua hari lalu. Bocah perempuan bernama Nisa, enam tahun, hilang sejak pagi.
Ibu yang tadi membantu menggendong Daffa menangis lega.
"Untung Mbak ini curiga," katanya sambil menatap Laras. "Kalau tidak, entah anak-anak itu dibawa ke mana."
"Semua orang ikut membantu," jawab Laras.
"Tapi Mbak yang berani berdiri duluan. Suaminya juga sigap sekali. Kalian serasi."
Laras terbatuk.
Bram, yang sedang menjawab pertanyaan petugas, menoleh. "Kami belum menikah."
Ibu itu tersenyum lebar. "Belum, berarti sebentar lagi."
Beberapa penumpang tertawa kecil. Ketegangan di gerbong pecah. Laras menarik jaket sampai menutupi setengah wajah, sedangkan Bram kembali memberi keterangan seolah telinganya tidak mulai merah.
***
Kereta tiba di Stasiun Malang menjelang sore.
Polsuska dan penyidik unit perlindungan perempuan dan anak telah menunggu di peron bersama ambulans. Dua terduga pelaku dibawa turun terpisah. Daffa dan Nisa menjalani pemeriksaan awal sebelum dipertemukan dengan keluarga masing-masing setelah verifikasi identitas.
Laras dan Bram memberi keterangan sebagai saksi. Bram menyerahkan foto bungkusan obat dari penginapan sebagai informasi pembanding, tetapi menegaskan bahwa perkara kamar 302 akan dilaporkan terpisah setelah Laras siap memberikan keterangan lengkap.
Petugas tidak memaksa. Ia hanya mencatat nomor Bram dan berpesan agar barang bukti dari penginapan tidak dibuang.
Ketika urusan selesai, peron sudah lebih lengang. Laras berdiri sambil memeluk tas kainnya yang bertali putus.
"Kamu memang selalu menyimpan bukti?" tanyanya.
"Kalau bukti dibiarkan, orang paling pandai berbohong akan memenangkan cerita."
Laras menatapnya sebentar. "Kamu benar-benar tentara."
"Baru percaya sekarang?"
"Aku belum pernah melihat kartu dinasmu sebelum tadi. Bisa saja kamu hanya suka memerintah."
Bram menerima sindiran itu tanpa tersinggung. Ia mengambil tas Laras, menyimpulkannya dengan tali kecil dari ranselnya, lalu membawanya.
"Kamu bilang pernah tinggal di kota besar," ucapnya saat mereka berjalan menuju pintu keluar. "Di mana?"
Laras tahu pertanyaan tentang dirinya akan datang. Ia sudah menyiapkan jawaban yang benar, tetapi tidak lengkap.
"Bandung beberapa tahun. Setelah itu Jakarta. Aku bekerja di tempat jahit, belajar membuat pola, lalu membantu desain untuk pesanan kecil."
"Sekolah desain?"
"Tidak sampai selesai. Aku belajar dari siapa pun yang mau mengajar dan dari kesalahan yang mahal."
"Kamu ingin kembali bekerja?"
Laras menatap tas kainnya. Di dalamnya hanya ada satu buku sketsa tipis yang berhasil ia sembunyikan dari Pak Rusdi.
"Aku tidak tahu keluargamu akan membiarkanku tinggal atau tidak. Terlalu cepat bicara soal kerja."
"Mereka tidak menentukan hidupmu."
"Mereka menentukan apakah pintu rumah akan dibuka untukku."
Bram berhenti di gerbang stasiun. Di luar, udara Malang menyambut lebih dingin daripada Surabaya. Ia mengulurkan tangan, bukan memaksa, hanya menunggu.
Setelah ragu satu detik, Laras meletakkan tangannya di sana.
Bram menggenggamnya mantap.
"Rumah saya sepuluh menit dari sini."