Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan yang Membakar Malam
Malam di benteng timur selalu membawa aroma yang sama: campuran tanah basah, besi berkarat, dan bau samar belerang yang entah datang dari mana. Kai berdiri di ambang jendela batu yang menghadap langsung ke arah jurang mati. Angin malam yang dingin mengoyak jubah hitamnya, tetapi anehnya, kulitnya justru terasa panas. Di balik dadanya, ada denyut asing yang berdetak terlalu cepat, seolah-olah ada makhluk hidup lain yang sedang mencoba mencakar jalan keluar dari jantungnya.
Ia menyentuh pelipisnya yang berdenyut. Suara itu datang lagi. Bukan berupa kata-kata yang jelas, melainkan sebuah getaran rendah yang menggetarkan tulang selangka, sebuah bisikan serak yang terdengar seperti tawa sekaligus tangisan dari seekor reptil raksasa. Naga Merah. Kutukan atau anugerah, Kai sendiri belum bisa memutuskan.
"Kau melamun lagi, Kai."
Suara langkah kaki yang teratur memecah keheningan kamar. Kai tidak perlu berbalik untuk tahu siapa yang datang. Bau harum bunga kamelia yang bercampur dengan hawa dingin yang ganjil sudah cukup menjadi penanda.
Yuki berdiri dua langkah di belakangnya. Di jemari lentiknya, sebuah topeng kitsune putih dengan guratan merah menyala bergantung longgar. Wajah aslinya yang cantik malam ini tampak begitu tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang menyimpan begitu banyak rahasia di balik lengan bajunya.
"Angin malam ini sedang gelisah, Yuki," sahut Kai, suaranya terdengar serak di tenggorokan. Ia akhirnya berbalik, menyandarkan punggungnya pada bingkai jendela batu yang dingin. "Atau mungkin, hanya darah di dalam tubuhku yang menolak untuk tenang."
Yuki melangkah mendekat, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Kai yang mulai menampakkan semburat merah samar. Tanpa permisi, ia mengulurkan tangan, menyentuh dada Kai tepat di mana jantungnya berpacu liar. Sentuhan tangan Yuki sedingin es, dan untuk sesaat, rasa panas di tubuh Kai mereda.
"Dia mendesakmu lagi?" tanya Yuki lembut, hampir berupa bisikan. "Jangan biarkan suara itu mengambil alih. Sekali kau menyerah pada bisikannya, kau bukan lagi Kai yang mengenalku."
Kai tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang terasa getir. "Apakah itu sebuah peringatan, atau hanya caramu untuk memastikan aku tetap bisa kau gunakan, Yuki?"
Yuki tidak menarik tangannya. Ia justru memiringkan kepalanya, membiarkan rambut hitamnya jatuh melewati bahu. "Kau selalu sinis. Padahal kau tahu, dari semua orang di benteng ini, hanya aku yang tidak pernah berbohong tentang seberapa berbahayanya dirimu."
Sebelum Kai sempat membalas, pintu kayu berat di ujung ruangan berderit terbuka tanpa ketukan. Suasana dingin yang dibawa Yuki seketika pecah oleh kehadiran sesosok wanita lain yang berjalan dengan keanggunan yang menuntut perhatian.
Rei masuk dengan gaun beraksen sulaman merah yang menyerupai sisik naga di sepanjang lengannya. Rambut peraknya berkilau diterpa cahaya lilin, dan matanya yang kelabu langsung tertuju pada tangan Yuki yang masih menempel di dada Kai. Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara namun sarat akan provokasi, muncul di wajahnya.
"Kuharap aku tidak merusak momen berharga kalian berdua," ujar Rei, suaranya renyah namun menyimpan ketajaman yang konstan. Ia berjalan menghampiri meja kayu di tengah ruangan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme yang lambat.
"Tapi tetua menunggumu di aula utama, Kai. Dan kurasa, tamumu yang berharga dari klan seberang sudah tidak sabar untuk melihat apakah sang pewaris naga masih waras malam ini."
Kai menghela napas, melepaskan tangan Yuki dengan perlahan dari dadanya. Kehadiran Rei selalu membawa atmosfer yang berbeda penuh tekanan politik dan intrik yang melelahkan.
"Aku akan segera ke sana, Rei," jawab Kai tegas.
Rei tidak langsung pergi. Ia berjalan memutari meja, mendekati Kai hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Bau wangi dupa mahal yang pekat menguar dari tubuhnya. Ia menatap Kai dari bawah ke atas, lalu beralih menatap Yuki dengan pandangan menilai.
"Baguslah," bisik Rei, matanya berkilat di bawah cahaya remang-remang.
"Karena malam ini Hana juga akan hadir. Kau tahu betapa gadis suci itu sangat membenci bau darah dan... muslihat rubah." Rei melirik topeng di tangan Yuki sejenak sebelum kembali menatap Kai. "Jangan buat dia menunggu terlalu lama, Kai. Kau tahu apa yang bisa dilakukan keluarganya pada perbatasan kita jika dia merasa tersinggung."
"Aku tahu tugasku, Rei. Kau tidak perlu mengingatkannya setiap saat," potong Kai dengan nada yang mulai meninggi. Rasa panas di dadanya kembali menyengat, dipicu oleh ketegangan yang mulai merayap di dalam ruangan.
Rei hanya terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar merdu namun dingin, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah anggun yang sengaja diperlambat.
Yuki tetap bergeming di tempatnya berdiri, matanya menatap pintu yang baru saja tertutup dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dia benar tentang satu hal, Kai," ucap Yuki memecah keheningan yang kembali mencekam. "Malam ini semua mata tertuju padamu. Hana dengan kepolosannya yang mematikan, dan... jangan lupakan Mai yang selalu mengintai dari bayang-bayang."
Kai mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Di dalam kepalanya, bisikan bernada tawa itu kembali terdengar, seolah menertawakan takdirnya yang dikelilingi oleh jaring-jaring yang ditenun oleh para wanita di sekitarnya.
"Biarkan mereka menonton," bisik Kai pada dirinya sendiri, melangkah melewati Yuki menuju pintu keluar. "Mari kita lihat, siapa yang akan terbakar lebih dulu."