Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: MINTA MAAF TANPA GENGSI
"Bukan takut!" tembak Raina cepat. "Aku cuma takut acara sekolah berantakan gara-gara ide-ide konyolmu!"
"Tenang aja," sahut Devan, kali ini dengan nada bersahabat. Ia menepuk pelan pundak Raina yang dibalut gips. "Gua tahu kapan harus bercanda dan kapan harus serius. Kali ini gua bakal buktikan kalau pilihan Bu Sisca gak salah."
BAB 13: RAPAT PERTAMA YANG KACAU
Ruang rapat OSIS sore itu terasa pengap oleh ketegangan yang pekat. Dua puluh anggota panitia Festival Seni duduk melingkar di meja panjang. Di ujung meja, Raina dan Devan berdiri bersisian di depan papan tulis putih—menciptakan pemandangan yang amat asing bagi seluruh pengurus.
Raina mengetukkan spidolnya ke papan tulis dengan ritme konstan. "Agenda hari ini adalah menentukan tema utama dan estimasi anggaran. Aku sudah menyusun proposal awal dengan tema 'Nusantara Modern'. Semua konsep sudah terstruktur rapi di lembar kerja yang ada di depan kalian."
Anggota panitia mulai membuka berkas. Namun sebelum ada yang sempat bersuara, Devan mengangkat tangan dan langsung menghapus garis batas anggaran yang baru dibuat Raina.
"Tema itu terlalu kaku, Na," cetus Devan santai, mengabaikan tatapan tajam dari Raina. "Anak-anak zaman sekarang gak bakal tertarik kalau cuma pameran budaya formal. Kita butuh konsep 'Street Art & Carnival'. Ada kompetisi dance, panggung indie, dan stan makanan kekinian. Baru rame!"
"Devan, ini acara resmi sekolah, bukan festival musik komersial!" potong Raina dengan suara tertahan. "Konsepmu butuh biaya dua kali lipat dan perizinannya sangat rumit!"
"Bisa diatur! Gua yang bakal urus sponsorship dari alumni dan anak-anak basket," balas Devan tak mau kalah.
Pertengkaran argumen mulai meletus di antara mereka berdua. Raina bertahan dengan keteraturan dan risikonya yang terukur, sementara Devan terus mendorong ide-ide liar dan atraktif.
Anggota rapat saling pandang dengan cemas. Tidak ada yang berani memotong perdebatan antara Ratu Disiplin dan Kapten Basket tersebut. Beberapa di antaranya bahkan mulai berbisik-bisik, takut kalau proyek ini akan hancur sebelum sempat dimulai.
"Cukup!" seru Rio dari jajaran sie divisi acara, mencoba menengahi. "Kalian berdua ketua dan wakilnya. Kalau di rapat pertama aja kalian sudah saling tembak begini, gimana anak-anak mau kerja?"
Ruangan mendadak hening. Raina menarik napas panjang, merapikan kacamatanya yang sedikit meluncur turun, lalu menatap Devan dengan napas memburu. Devan pun terdiam, menyadari bahwa ego mereka berdua baru saja membuat suasana rapat menjadi tidak kondusif.
Raina menghela napas pasrah, menatap papan tulis yang kini penuh dengan coretan ide mereka yang bertolak belakang. "Rapat hari ini ditunda lima belas menit. Devan, ikut aku ke luar sebentar."
BAB 14: KESEPAKATAN DAMAI (SEMENTARA)
Sinar matahari sore menembus celah jendela koridor belakang sekolah yang sepi. Raina berdiri menyender di dinding sambil melipat kedua tangannya di dada. Di depannya, Devan bersandar pada pagar pembatas dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Kita gak bisa kerja begini terus, Devan," ujar Raina membuka suara, suaranya pelan tapi tegas. "Kalau kita terus-terusan adu ego di depan anak-anak, panitia bakal pecah. Acara ini tanggung jawab kita berdua."
Devan menghela napas, menatap Raina dengan raut raut bersalah yang samar. "Gua tahu. Gua juga agak kelewatan tadi. Gua cuma pengen acara ini berkesan buat anak-anak seangkatan, bukan cuma formalitas tahunan."