NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Siapa Sebenarnya Perempuan Itu?

"KATAKAN! Ada apa ini!"

Suara Pak Suryadi membuat Tania tersentak.

Perempuan itu masih memegang pipinya. Mata yang semula menantang mulai basah, tetapi bukan karena menyesal.

"Papa menamparku demi dia?"

"Saya menamparmu karena kamu menyewa preman!"

"Aku cuma menyuruh mereka memperingatkan Laras!"

"Dengan mengepungnya berlima?"

Tania menunjuk Bang Somad. "Mereka bertindak sendiri. Aku tidak pernah menyuruh siapa pun merobek bajunya."

Polisi perempuan berdiri di antara mereka. "Jangan saling mendekat. Semua keterangan akan dicatat resmi."

Pak Suryadi menoleh kepada Bang Somad. "Kamu. Ceritakan dari awal. Jangan kurangi satu kata pun."

Bang Somad melirik petugas, lalu Bram. Rahangnya mengeras, tetapi keberaniannya sudah hilang sejak tangannya diborgol.

"Mbak Tania menghubungi saya tiga hari lalu. Dia dapat nomor saya dari kenalan."

"Bohong!" seru Tania.

"Ponselmu bisa diperiksa," kata petugas.

Bang Somad melanjutkan. "Dia kasih foto Bu Laras, alamat rumah, sama kebiasaan keluarnya. Dia bilang Bu Laras merebut calon suaminya. Kami diminta bikin takut supaya pergi dari Malang dan menjauhi Pak Bram."

Petugas mengangkat ponsel yang sudah dimasukkan ke kantong bukti transparan. "Di perangkat ini ada foto Saudari Laras saat keluar dari rumah keluarga Adiprawira. Ada juga jadwal perkiraan kapan Kapten Bram berada di satuan. Siapa yang memberikan jadwal itu?"

Bang Somad mengangkat dagu ke arah Tania. "Dia. Katanya hari ini Pak Bram mengurus rumah dinas, jadi Bu Laras keluar sendirian."

Bram menatap Tania. "Kamu mengamati jadwal dinas saya?"

"Aku cuma dengar dari orang."

"Nama orangnya akan kamu berikan kepada penyidik," kata petugas. "Kalau informasi internal diperoleh tanpa hak, itu akan diperiksa terpisah."

Untuk pertama kali, Tania benar-benar terlihat takut.

Warga di belakang pagar mulai berbisik.

"Berapa kamu dibayar?" tanya Pak Suryadi.

"Satu juta di muka. Satu juta lagi kalau dia setuju pergi."

"Cara menakutinya?"

Bang Somad menunduk. "Mengikuti, mengepung, kasih peringatan."

"Dan menyentuh tubuhnya?"

"Itu anak buah saya bertindak sendiri."

Laras maju setengah langkah. Selimut di bahunya bergeser, memperlihatkan kain yang robek.

"Kamu pemimpinnya. Kamu berdiri di pintu dan menghalangi saya keluar. Ketika anak buahmu mencoba menyentuh saya, kamu tidak menghentikannya."

Bang Somad tidak mampu menjawab.

"Catat itu," kata polisi perempuan kepada rekannya.

Tania memandang sekeliling. Semakin banyak wajah yang dikenalnya berada di balik pagar. Ada istri pensiunan perwira, pedagang dekat kompleks, bahkan dua mantan rekan sekolahnya.

"Semua ini jebakan," katanya cepat. "Laras sengaja membuatnya besar supaya aku dipermalukan."

Bram akhirnya bersuara. "Istri saya diserang. Kamu yang mengirim mereka. Bagian mana yang kamu sebut jebakan?"

"Mas Bram, aku melakukan ini karena aku mencintaimu!"

"Cinta tidak memberi kamu hak meneror siapa pun."

"Dia tidak pantas untukmu!"

"Dia istri saya."

Dua kata itu keluar tanpa keraguan. Tania mundur seolah baru dipukul lagi.

Pak Suryadi menutup mata. Bahunya yang biasa tegak turun. Ketika membukanya kembali, ia memandang Laras, bukan putrinya.

"Nak Laras..."

Laras menegang. "Saya bukan anak Bapak."

Pak Suryadi menerima penolakan itu tanpa membela diri. Ia turun dari teras sampai berdiri di depan Laras, lalu membungkukkan badan dalam-dalam.

"Saya minta maaf. Saya gagal mendidik anak saya. Saya juga bersalah karena pernah membiarkan dia mengejar Bram meski sudah jelas tidak ada janji apa pun."

"Papa!"

Pak Suryadi tidak menoleh.

"Saya akan ikut polisi, menyerahkan ponselnya, dan tidak menghalangi proses. Kalau ada biaya pengobatan atau kerusakan, saya tanggung."

Ia hendak menurunkan lutut.

Laras cepat menahan lengannya. "Jangan."

Pak Suryadi berhenti, wajahnya merah karena malu.

"Saya tidak butuh Bapak berlutut," kata Laras. "Saya juga tidak akan menerima uang agar laporan ini hilang. Biarkan hukum menentukan tanggung jawab masing-masing."

"Saya tidak berniat membeli maaf."

"Kalau begitu, buktikan dengan tidak melindunginya."

Pak Suryadi mengangguk berat. "Saya buktikan."

Seorang tetangga tua mendekat hendak menenangkan Pak Suryadi, tetapi ia mengangkat telapak tangan.

"Jangan bela keluarga saya, Bu. Kalau anak orang lain melakukan hal serupa kepada Tania, saya pasti menuntut. Saya tidak boleh mengubah ukuran hanya karena pelakunya darah daging saya."

Kalimat itu membuat beberapa warga yang tadi berbisik menunduk. Bram pun memberi hormat kecil kepada mantan atasannya, bukan sebagai pengampunan, melainkan pengakuan bahwa lelaki tua itu memilih langkah yang benar ketika paling sulit.

Pak Suryadi memandang putrinya lagi. "Kamu akan bertanggung jawab. Papa tetap ayahmu, tapi Papa tidak akan menjadi tamengmu."

"Jadi Papa membuangku?"

"Bertanggung jawab bukan dibuang. Seharusnya itu yang Papa ajarkan sejak dulu."

Tania tertawa pendek. Suaranya pecah.

"Luar biasa. Dia datang entah dari mana, tidur di penginapan dengan Mas Bram, lalu semua orang langsung percaya dia perempuan baik. Sekarang Papa pun memihaknya."

Bram bergerak, tetapi Laras kembali menyentuh lengannya.

"Biarkan dia selesai," katanya.

Tatapan Tania berkilat penuh kebencian. "Kamu ingin aku selesai? Baik. Katakan kepada mereka bagaimana kamu mendapatkan Mas Bram. Katakan apa yang terjadi malam itu."

Kerumunan mendadak sunyi.

Seorang ibu berbisik, "Malam apa?"

Tania menangkap perubahan itu dan semakin berani.

"Dia sengaja masuk ke kamar Mas Bram dalam keadaan seperti itu. Setelah ketahuan, dia menangis, mengaku korban, lalu menuntut dinikahi. Dari perempuan tanpa keluarga, tanpa asal-usul jelas, tiba-tiba menjadi menantu keluarga Adiprawira. Bukankah itu terlalu menguntungkan?"

"Tania, tutup mulutmu!" bentak Pak Suryadi.

"Kenapa? Takut semua orang tahu Papa pernah mendukungku menjadi istri Mas Bram? Aku mengenalnya bertahun-tahun. Dia baru muncul beberapa minggu lalu!"

"Tidak pernah ada pertunangan," kata Bram. "Tidak pernah ada janji pernikahan."

"Tapi seharusnya ada!"

"Harapanmu bukan janji saya."

Tania memandang Laras dari kepala sampai kaki. "Perempuan ini datang dengan tubuh penuh bekas, identitas sementara, dan cerita yang tidak bisa dibuktikan. Dia tahu persis keluarga mana yang harus dipanjat."

Laras merasakan ujung jarinya dingin.

Bukan karena tuduhan tentang malam di penginapan. Bram dan keluarga Adiprawira mengetahui kebenarannya. Polisi juga memiliki bagian laporan yang diperlukan.

Yang menusuk adalah dua kata itu: tanpa asal-usul.

Selama bertahun-tahun, Pak Rusdi menggunakan kalimat serupa setiap kali ingin mengingatkan bahwa Laras tidak memiliki tempat lain untuk pulang.

Kamu dipungut. Kamu tidak punya siapa-siapa. Kalau keluar dari rumah ini, kamu akan mati di jalan.

Suara lama itu kembali begitu jelas hingga kerumunan di depan mata Laras seolah menjauh. Bahunya terasa seperti ditindih tangan Pak Rusdi. Bau rokok Bang Somad bercampur dalam ingatan dengan bau gudang di rumah lama.

Laras menekan kuku ke telapak tangan.

Ia bukan lagi gadis yang dikunci tanpa bisa meminta pertolongan. Ada laporan polisi. Ada dokumen atas namanya sendiri. Ada pekerjaan yang sedang ia bangun. Dan ada keluarga yang tidak membelinya, tidak menahannya, serta selalu menyediakan pintu jika ia ingin pergi.

Asal-usulnya mungkin gelap. Nilainya tidak.

Bram menoleh. Ia tidak menyentuh Laras sebelum mendapat tanda. Ketika perempuan itu mengangguk kecil, telapak tangannya menutup tangan Laras yang dingin.

"Kita bisa pergi sekarang," bisiknya. "Keterangan sisanya di kantor."

Laras menggeleng.

"Kalau saya pergi saat dia bicara, semua orang akan menganggap saya lari."

"Kamu tidak perlu menjelaskan hidupmu kepada kerumunan."

"Saya tahu. Tapi saya ingin menjawab satu kali, dengan cara saya."

Di dekat pagar, seorang lelaki bertanya kepada Bang Somad, "Benar kamu dibayar Tania, bukan Laras?"

"Benar," jawab Bang Somad lesu. "Saya tidak pernah kenal Bu Laras sebelumnya."

Seorang perempuan lain mengangkat suara. "Kalau Tania memang korban perebutan, kenapa pakai preman? Laporkan saja kalau ada kejahatan."

"Karena dia tidak punya bukti," sahut warga lain.

"Saya melihat Bu Laras di acara akad," ujar seorang ibu dari ujung jalan. "Keluarga Adiprawira menerima dia baik-baik. Jangan membuat korban serangan seolah menjadi pelaku hanya karena kita penasaran."

"Tetap saja malam di penginapan itu harus dijelaskan," sahut lelaki lain.

Polisi perempuan menatap tajam. "Informasi korban bukan bahan hiburan. Kalau Saudara punya bukti tindak pidana, sampaikan kepada kami. Kalau tidak, berhenti menyebarkan dugaan."

Lelaki itu langsung diam, tetapi pertanyaan sudah telanjur tumbuh di banyak wajah.

Tania berbalik kepada mereka. "Kalian tidak tahu apa-apa! Perempuan seperti dia pintar membuat diri tampak suci."

"Cukup," kata polisi perempuan. "Saudari Tania akan ikut ke kantor. Serahkan ponsel dan jangan menghapus apa pun. Tindakan menghilangkan bukti akan dicatat."

"Aku belum selesai bicara!"

"Keterangan diberikan di kantor, bukan untuk menghasut warga."

Petugas meminta Bang Somad masuk ke mobil. Anak buahnya sudah dibawa lebih dahulu. Pak Suryadi masuk ke rumah untuk mengambil identitas, ditemani seorang polisi agar bukti elektronik tidak disentuh.

Tania masih berdiri di halaman. Ia menatap tangan Bram yang menggenggam tangan Laras.

"Mas Bram akan menyesal," katanya. "Saat tahu perempuan itu sebenarnya siapa, Mas akan jijik."

Bram tidak meninggikan suara. "Saya tahu cukup banyak untuk memilihnya. Dan setiap kali kamu menyerangnya, kamu hanya membuktikan bahwa saya benar tidak memilihmu."

Wajah Tania memucat.

Laras menarik tangannya dari genggaman Bram, bukan untuk menjauh. Ia melangkah ke depan agar seluruh orang yang berkumpul dapat melihat wajahnya.

"Saya akan menjawab tuduhanmu," katanya. "Bukan karena kamu berhak, tetapi karena saya tidak mau perempuan lain belajar bahwa martabatnya ditentukan oleh lelaki yang memilihnya."

Bisikan warga berhenti.

Laras membuka mulut, tetapi dari barisan belakang seseorang mendahuluinya.

"Tapi... perempuan itu memang dari mana asalnya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!