Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Rimba
Angin hutan berhembus dingin, membawa ketegangan yang pekat di antara pepohonan raksasa. Tiga anggota Serigala Berdarah tersenyum meremehkan, menganggap pemuda berkerudung di hadapan mereka hanyalah domba gemuk yang tersesat.
Di dunia kultivasi, membunuh pengembara sendirian di Hutan Binatang Buas untuk merampas harta mereka adalah hal yang lumrah. Hutan ini tidak memiliki hukum; yang kuat memakan yang lemah.
"Tuli ya, Bocah? Serahkan hartamu sekarang!" bentak salah satu anak buah berwajah kurus sambil mengacungkan pedangnya, melangkah semakin dekat untuk mengintimidasi.
Di balik tudung hitamnya, wajah Ye Chen tetap datar, namun matanya memancarkan niat membunuh yang dingin. Berkat Mandi Darah barusan, ia bisa merasakan kekuatan fisiknya meluap-luap. Ia butuh pelampiasan, dan tiga orang ini datang di saat yang tepat.
"Kalian bilang kalian yang melacak babi ini?" suara Ye Chen terdengar parau dan tenang. Tangan kirinya perlahan merogoh saku jubahnya. "Baiklah. Ini Inti Binatangnya."
Ye Chen melemparkan kantong kain kecilnya ke udara, melayang tepat di antara pria codet dan anak buahnya.
Insting keserakahan membuat ketiga tentara bayaran itu secara refleks mengalihkan pandangan mereka ke arah kantong yang melayang. Itu adalah kesalahan fatal yang harus dibayar dengan nyawa.
WUSSH!
Memanfaatkan momen sepersekian detik itu, otot-otot kaki Ye Chen meledak dengan tenaga. Tanah berpijaknya amblas, dan tubuhnya melesat maju bagaikan hantu. Kecepatannya dua kali lipat lebih gila dibandingkan saat ia melawan babi hutan!
"Hati-hati!" teriak pria codet itu, menyadari bahaya.
Namun, peringatannya terlambat. Ye Chen sudah berada di hadapan pria berwajah kurus. Belati berkarat di tangan kanan Ye Chen berkelebat dalam satu garis perak yang mematikan.
CRAAAK!
Darah segar menyembur ke udara. Pria berwajah kurus itu menjatuhkan pedangnya, memegangi lehernya yang robek dengan mata terbelalak lebar, sebelum akhirnya ambruk ke tanah.
"Keparat! Beraninya kau!" raung anak buah yang satu lagi. Ia mengayunkan kapak besarnya ke punggung Ye Chen dengan tenaga penuh.
Alih-alih menghindar, Ye Chen memutar tubuhnya dan meninju tepat ke arah bilah kapak yang berayun.
BAM!
Suara benturan logam dan daging terdengar, namun yang terjadi selanjutnya membuat pria codet itu menahan napas. Tinju Ye Chen yang dilapisi Qi dan diperkeras oleh esensi darah monster tidak hancur. Sebaliknya, kapak besi itu justru terlepas dari genggaman si pemilik karena getaran yang luar biasa.
Tanpa henti, tangan kiri Ye Chen melesat mencengkeram leher anak buah kedua itu, mengangkatnya satu jengkal dari tanah, dan meremukkan tenggorokannya hanya dengan satu remasan keras. KRAK.
Dua kultivator Tahap Pengumpul Qi tingkat kedua tewas dalam waktu kurang dari tiga tarikan napas!
"Sekarang, tinggal kita berdua," ucap Ye Chen dingin, membuang mayat kedua ke samping seolah membuang sampah.
Wajah pria codet itu kini pucat pasi, namun kemarahan menguasainya. Ia mencabut golok besarnya yang memancarkan pendar cahaya kuning—tanda bahwa ia menyalurkan Qi elemen tanah ke senjatanya. Sebagai kultivator tingkat keempat, ia merasa terhina dipukul mundur oleh seorang bocah.
"Seni Golok Pembelah Gunung! Mati kau, Bocah Iblis!"
Pria codet itu melompat tinggi, menebaskan goloknya dengan kekuatan mematikan ke arah kepala Ye Chen. Angin tajam berhembus dari bilah golok itu, menyapu dedaunan di sekitarnya.
Ye Chen menatap tebasan itu dengan tenang. Ia mengangkat belati berkaratnya untuk menangkis.
TRANG! PRANG!
Belati peninggalan ayahnya yang sudah tua akhirnya menyerah dan hancur berkeping-keping akibat benturan dengan golok berlapis Qi. Bilah golok pria codet itu terus meluncur turun, menyayat pundak kiri Ye Chen dan merobek jubah hitamnya.
Pria codet itu menyeringai, mengira ia telah membelah tubuh pemuda itu. Namun, seringainya membeku.
Goloknya berhenti saat menyentuh kulit Ye Chen. Terdengar suara gesekan logam, dan bilah golok itu hanya meninggalkan garis putih kemerahan di kulit Ye Chen, sama sekali tidak bisa menembus ototnya!
"T-tubuh macam apa ini?! Kau monster!" pria codet itu berteriak ngeri, mencoba menarik mundur goloknya.
"Terlalu lambat," bisik Ye Chen.
Tangan kanan Ye Chen yang kini kosong melesat maju, ujung jarinya menegang menyerupai cakar naga. Ia menusukkan kelima jarinya tepat ke dada kiri pria codet itu. Dengan kekuatan fisik yang setara banteng, jari-jari Ye Chen menembus zirah kulit kasar dan tulang rusuk musuhnya dengan mudah, meremukkan jantungnya dalam sekejap.
Pria codet itu memuntahkan darah segar, matanya kehilangan cahaya kehidupan, lalu ambruk terjerembap di atas tanah berlumpur.
Hutan kembali hening, hanya tersisa suara napas Ye Chen. Ia menatap tangannya yang berlumuran darah manusia. Ada sedikit rasa mual di perutnya, ini adalah pertama kalinya ia membunuh manusia, namun ia memaksanya turun. Jika ia ragu, dialah yang akan menjadi mayat di sini.
"Hmph, lumayan kejam," suara Ao Tian terdengar, bernada memuji. "Di dunia bela diri, belas kasihan pada musuh adalah kekejaman pada dirimu sendiri. Jangan melamun, cepat periksa harta mereka. Bukankah kau sedang miskin?"
Ye Chen tersadar. Ia bergegas menggeledah tubuh ketiga mayat tersebut. Seperti dugaannya, tentara bayaran tingkat rendah tidak memiliki Cincin Penyimpanan (ruang dimensi buatan), melainkan hanya kantong kulit.
Dari ketiganya, Ye Chen mengumpulkan sekitar dua ratus koin emas, tiga botol Pil Pengumpul Qi tingkat rendah (yang langsung ia singkirkan ke sudut sakunya karena peringatan Ao Tian), dan yang paling penting: Golok besar berukir milik sang pemimpin, serta sebuah belati berburu berkualitas tinggi dari salah satu anak buahnya.
Ia mengambil belati itu dan menyelipkannya di pinggang sebagai ganti senjatanya yang hancur.
"Dua ratus koin emas. Lumayan untuk permulaan," guman Ye Chen. Matanya menatap ke arah dalam hutan yang semakin gelap. Pertarungan barusan memakan banyak staminanya, tapi ia merasa semakin terbiasa dengan kekuatan barunya.
"Ayo lanjutkan, Senior. Sembilan Babi Hutan Bertaring Besi lagi," tekad Ye Chen. Dengan cekatan, ia memungut kantong Inti Binatang miliknya yang jatuh di tanah, lalu menghilang ke dalam bayang-bayang pepohonan yang rapat.