Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Bayang Masa Lalu di Desa Sunyi
Desa Sungai Jernang terhampar tenang tersembunyi di balik bukit hijau yang rimbun, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota maupun kekacauan yang dulu ia kenal. Di ujung jalan tanah yang berdebu dan berbatu, berdiri sebuah rumah kayu sederhana dengan teras lebar yang dikelilingi kebun bunga berwarna-warni yang mekar sepanjang tahun. Di sanalah Laras duduk sendirian menenun anyaman daun pandan, sesekali menatap aliran sungai yang berkilau keperakan di bawah cahaya matahari sore yang mulai miring. Tak ada satu pun penduduk desa yang menyangka bahwa wanita pendiam yang setiap hari merawat tanaman dan bunga ini pernah memegang kendali atas nyawa ribuan orang.
Dua tahun telah berlalu sejak ia meninggalkan masa lalunya yang kelam dan penuh darah. Dulu namanya dibisikkan dengan rasa takut di setiap sudut negeri sebagai Ratu Bayangan—pemimpin kelompok pembunuh paling ditakuti yang kekuasaannya membentang luas hingga ke perbatasan negeri. Ia melepaskan segalanya: kekuasaan mutlak, kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, serta senjata andalan yang selalu setia di pinggangnya, hanya untuk mencari tempat terpencil di mana ia bisa bernapas dengan bebas. Di sini, ia menyembunyikan bekas luka lama di tubuhnya dan mengubur dalam-dalam segala keahlian mematikannya, berharap berjalannya waktu akan sepenuhnya menghapus jejak masa lalu itu.
Angin sore berhembus pelan menggerakkan dedaunan di sekelilingnya, namun suara langkah kaki yang mendekat dengan irama yang teratur dan ringan membuat panca indranya yang tajam kembali bangkit seketika. Laras mengangkat wajah perlahan, matanya yang biasa teduh dan dingin kini menatap waspada ke arah gerbang kayu yang terbuka sedikit.
Seorang laki-laki berdiri di sana, mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap dengan satu tas kain usang tergantung di bahu kekarnya. Penampilannya tampak biasa saja tak berbeda jauh dari orang yang melintas, namun ada sesuatu pada cara ia berdiri—tegap, tenang, dan seolah selalu mengamati segala sesuatu di sekelilingnya—yang jelas membedakannya dari warga desa biasa. Saat tatapan mereka bertemu, Laras merasakan sesuatu bergetar hebat di dalam dadanya; seolah laki-laki asing itu bisa melihat menembus penyamaran yang ia bangun dengan susah payah bertahun-tahun lamanya.
"Maaf telah mengganggu ketenanganmu," ucapnya dengan suara rendah namun tegas, sambil sedikit mengangguk sopan. "Banyak warga desa yang menyebutkan bahwa di sini ada kamar yang disewakan. Aku baru saja datang dari tempat yang sangat jauh dan sedang mencari tempat tinggal yang tenang untuk sementara waktu."
Laras berdiri perlahan dari kursi kayunya, tangannya tanpa sadar menggenggam ujung kain kebaya yang ia pakai erat-erat—sebuah kebiasaan lama saat sedang menjaga diri dari bahaya. "Benar, ada satu kamar kosong di bagian belakang rumah ini," jawabnya singkat dan penuh kehati-hatian. "Namaku Laras."
"Aku Dika," jawabnya sambil tersenyum tipis, senyum yang terasa menyembunyikan banyak hal sama persis seperti dirinya. "Aku hanya mencari ketenangan dan tempat untuk beristirahat sejenak dari perjalanan panjangku."
Kata-kata itu terdengar terlalu pas untuk tidak membuatnya semakin curiga. Laras melangkah membuka lebar gerbang kayu itu, namun matanya tak lepas dari menatap tajam ke arah pendatang baru itu. "Kau boleh menginap di sini," ucapnya tegas, "tapi ingat satu hal penting yang harus kau patuhi. Di sini ada batasan rahasia. Jangan pernah bertanya hal-hal yang tak perlu kau ketahui, dan jangan mencoba mengorek masa laluku apa pun yang terjadi."
Dika berjalan masuk melewati sampingnya perlahan, dan Laras bisa merasakan ada kekuatan serta kewaspadaan tersembunyi yang juga berusaha ia sembunyikan sekuat tenaga.
"Sepakat," jawab Dika singkat sambil menoleh ke belakang, menatapnya lekat-lekat dalam waktu yang cukup lama. "Asal kau juga tidak menanyakan hal yang sama padaku."
Sore itu perlahan berakhir meninggalkan langit berwarna jingga gelap, membawa serta firasat tak menentu yang memenuhi hati Laras. Apakah kedatangan Dika adalah awal dari kisah baru yang damai, atau justru orang yang dikirim khusus untuk menyeretnya kembali ke dalam kegelapan yang berusaha ia tinggalkan sejauh mungkin?
Bersambung......