NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Putus

Kaizan tiba di apartemen pukul delapan malam.

Kuncinya masih bisa membuka pintu, tetapi dia tidak menggunakannya. Dia mengetuk dan menunggu.

Keira membiarkannya berdiri hampir satu menit sebelum membuka.

"Masuk."

Tidak ada sapaan lain.

Ruang tamu terlihat sama seperti pagi sebelum acara pembukaan. Mangkuk Mochi berada dekat dapur. Jas hujan mereka tergantung berdampingan. Foto yang diambil setelah microchip Mochi masih menempel di kulkas.

Semua benda itu terasa seperti bukti dari kehidupan orang lain.

Keira duduk di ujung sofa. Dua liontin Cloud sudah dilepas dan diletakkan di atas meja bersama kartu hitam, salinan kontrak enam bulan, serta kotak jam tangan.

Kaizan berhenti melihat susunan itu.

"Jelaskan," kata Keira. "Dari awal. Jangan pilih bagian yang menurutmu aman untukku."

Kaizan duduk di kursi seberang, tidak mencoba mendekat.

"Namaku Kaizan Tanujaya. Aku direktur utama Garuda Nusantara Group dan NusAir. Aku juga memegang lisensi pilot komersial. Nama Kai memang panggilan yang digunakan orang terdekat, tapi aku sengaja membuatmu percaya itu seluruh identitasku."

"Kenapa?"

"Awalnya karena aku terbiasa bertemu orang yang sudah tahu nama dan asetku sebelum mengenalku. Setiap percakapan menjadi negosiasi. Setiap hubungan membawa kepentingan keluarga, perusahaan, atau status. Malam di parkiran itu, kamu tidak tahu siapa aku. Kamu bahkan memarahiku karena mobilku menghalangi jalan."

"Jadi aku eksperimen?"

"Tidak."

"Kamu ingin melihat berapa lama perempuan biasa bisa menyukaimu tanpa tahu harga mobilmu?"

"Bukan begitu."

"Lalu apa?"

Kaizan menutup tangan di atas lutut. "Aku ingin tahu rasanya diperlakukan sebagai manusia biasa. Ketika kamu menawarkan tempat tinggal, aku mengambil kesempatan itu. Usul nikah siri dan kontrak enam bulan bukan karena aku tidak punya tempat tinggal. Aku punya rumah di PIK, apartemen, hotel, apa pun yang kubutuhkan."

Keira tertawa sekali, suara kosong. "Tentu saja."

"Aku memakai alasan kamar sewa dan pekerjaan. Aku mengatur agar pemuka agama menyimpan identitasku tertutup. Aku tahu itu salah."

"Bukan baru sekarang salah. Waktu kamu mengaturnya pun kamu tahu."

"Iya."

"Kapan pertama kali kamu berencana jujur?"

"Setelah kasus PHK selesai. Lalu aku mendengar kamu bicara tentang Kaizan di kamar dan aku menundanya. Aku ingin kamu mengenal Kai lebih lama."

"Setelah Ciater?"

"Aku mencoba mengatakan namaku. Kamu mengira aku bercanda. Seharusnya aku berhenti dan membuatmu mendengar. Aku malah memakai tawamu sebagai jalan keluar."

"Setelah kita berciuman?"

"Aku takut kehilanganmu lebih besar."

"Setelah Oma memperingatkan?"

"Aku tetap gagal. Kami lalu merencanakan FK980 supaya kamu menemukannya melalui pekerjaanku. Ketika keadaan darurat terjadi, rencana itu berubah menjadi acara pembukaan."

Keira menggeleng perlahan. "Jadi bukan satu momen panik. Kamu membuat keputusan baru untuk berbohong setiap kali kesempatan datang."

"Iya."

"Dan setiap penundaan membuatmu lebih mudah menyebut penundaan berikutnya sebagai satu-satunya pilihan."

Kaizan tidak pernah melihat kebohongannya disusun sejelas itu. Bukan satu tembok yang terbangun dalam semalam, melainkan bata yang dia letakkan sendiri, hari demi hari.

"Lanjut."

Kaizan menjelaskan daftar PHK. Dia telah memulai akuisisi NusAir sebelum pesta tahunan. Setelah melihat nama Keira dalam daftar dan bukti bahwa proses disipliner dipakai untuk menekan korban, dia membekukan seluruh keputusan agar audit berjalan, bukan menghapus evaluasi khusus untuknya.

"Hasil medismu, simulator, dan penerbangan tidak pernah kuubah," katanya. "Nilai FK980 juga anonim sampai dikunci."

"Aku percaya pada kemampuanku. Yang tidak kupercaya sekarang adalah kenapa setiap pintu terbuka tepat setelah kamu menelepon."

"Karena kadang aku memang membukanya. Aku memastikan sistem memeriksa kasusmu dengan adil. Aku tidak memberi nilai."

"Kamu tetap membiarkanku berterima kasih kepada Pak Kaizan di depanmu, lalu pulang dan mendengar aku memuji dia."

Kaizan menunduk. "Iya."

"Kamu mendengar aku bicara tentang dinding koran itu?"

"Dari dapur."

Wajah Keira memucat lagi. "Jadi sejak hari keempat kamu tahu aku mengagumi Kaizan Tanujaya."

"Aku ingin mengatakan saat itu. Tapi aku takut semua cara kamu melihat Kai akan berubah."

"Maka kamu membiarkanku jatuh cinta pada dua bayangan yang kamu kendalikan."

Tidak ada kalimat yang bisa membantahnya.

Kaizan mengakui black card, pesawat ke Bandung, pembelian Cloud, harga kalung dua ratus juta, dan kantor yang selalu dijangkau Moreno. Dia mengakui Oma adalah neneknya dan pertemuan di pesawat bukan kebetulan sepenuhnya setelah foto Keira sampai ke Surabaya.

"Oma mengujiku," kata Keira. "Pertanyaan Kai atau Kaizan itu dibuat karena kalian sudah tahu semuanya."

"Aku baru tahu setelahnya. Oma bergerak sendiri, tapi dia memberitahuku tentang pilihanmu dan tentang ayahmu. Dia menyuruhku jujur."

"Dan kamu masih berbohong soal kalung tiga hari kemudian."

"Iya."

"Kamu melihat aku membuka luka tentang Papa. Kamu tahu kalimat yang paling kubenci. Lalu kamu menatap mataku dan bilang barang itu diskon."

Suara Keira mulai bergetar. Dia menarik napas, mencoba menahannya seperti menahan panik di kokpit.

"Aku takut kehilanganmu," kata Kaizan.

"Kamu sudah mengatakannya berkali-kali. Seolah takutmu memberi hak untuk mengambil pilihanku."

"Tidak. Aku tidak punya hak itu."

"Tapi kamu melakukannya."

Air mata memenuhi mata Keira. "Kamu tahu aku paling benci apa? Dibohongi. Kamu tahu. Kamu dengar dari Oma, lalu tetap melanjutkan. Apa bedanya kamu dengan Papa?"

Kaizan berdiri refleks. "Aku tidak akan meninggalkanmu seperti dia."

"Duduk."

Dia langsung duduk lagi.

"Papa bilang dia berbohong karena urusan orang dewasa rumit. Revan bilang dia menyembunyikan Wenny karena takut aku terluka. Kamu bilang takut kehilangan aku. Alasan kalian berbeda, tapi kalian melakukan hal yang sama. Kalian memutuskan aku tidak perlu tahu kenyataan karena perasaan kalian lebih penting daripada hakku memilih."

"Aku berbeda dari ayahmu. Aku mencintaimu."

"Cinta tanpa kejujuran tetap bisa menyakiti."

Kaizan membuka mulut, lalu menutupnya.

Keira mengusap air mata dengan telapak tangan. "Kenapa panggung?"

"Karena aku pengecut."

Jawaban itu akhirnya tidak memakai alasan.

"Aku gagal setiap kali mencoba bicara berdua. Aku pikir kalau identitasku dibuka di depan semua orang, tidak ada jalan untuk mundur. Aku meyakinkan diri bahwa itu jujur. Moreno mengatakan cara itu hanya memudahkan aku. Dia benar."

Keira menatapnya. "Kamu menjadikan kehancuranku bagian dari susunan acara perusahaan."

"Aku tidak mengerti seberapa buruk sampai melihat wajahmu."

"Karena kamu memikirkan lega setelah rahasiamu selesai, bukan apa yang terjadi padaku saat menerimanya."

"Iya."

Kaizan tidak lagi mencoba menyelamatkan diri dengan setengah kebenaran. Setiap pengakuan datang terlambat, tetapi dia memberikannya tanpa membela diri.

"Penugasan hari ini?" tanya Keira.

"Aku yang meminta masuk jadwalmu. Operasi memeriksa semua kualifikasiku, tapi niatku mendekatimu."

"Satu pelanggaran lagi setelah aku minta ruang."

"Iya. Aku minta maaf."

Keira berdiri. Wajahnya masih basah, tetapi suaranya berubah datar.

"Aku percaya kamu mencintaiku."

Harapan muncul terlalu cepat di mata Kaizan.

"Tapi itu tidak cukup."

Keira mengambil kontrak dari meja. "Pasal terakhir: hubungan selesai kalau salah satu melanggar batas keselamatan atau rasa aman. Aku tidak merasa aman mempercayai kenyataanku sendiri di dekatmu."

Dia merobek salinan kontrak menjadi dua. Bukan untuk menghapus upacara yang pernah terjadi, melainkan untuk mengakhiri aturan privat yang membuat Kaizan tinggal di rumahnya.

"Kita putus."

Dua kata itu diucapkan tanpa teriakan.

Kaizan bangkit. "Kei, jangan putuskan malam ini saat kamu masih marah."

"Aku sudah memikirkannya empat hari."

"Beri aku kesempatan memperbaiki."

"Kesempatan bukan hak."

"Aku tidak akan memaksa. Tapi aku tidak mau kehilanganmu."

"Kamu sudah kehilangan kepercayaanku. Soal aku, biarkan aku yang menentukan."

Keira berjalan menuju ruang sempit yang selama ini ditempati Kai. Dia menarik koper hitam dari bawah kasur, memasukkan pakaian, alat mandi, buku, pengisi daya, dan jam mekanis yang tersimpan di laci sejak hadiah jam biru.

Kaizan berdiri di pintu tanpa berani membantu.

Setiap benda mengingatkan pada kehidupan kecil mereka. Kemeja yang dipakai memasak. Handuk yang pernah diperebutkan. Sikat Mochi dengan bulu putih masih menempel. Cangkir bertuliskan Elang Emas yang dibeli Keira sebagai lelucon.

Keira memasukkan semuanya.

Dia berhenti pada kotak Cloud di meja. "Ambil."

"Itu milikmu."

"Aku tidak bisa memakainya sekarang."

"Simpan sampai kamu bisa memutuskan tanpa melihatku. Aku tidak akan mengambil hadiah kembali."

Keira tidak berdebat. Dia memasukkan kotak itu ke lemari, bukan koper Kaizan.

Jam anak-anak tetap di pergelangan Kaizan. Keira melihatnya, lalu berpaling.

Pukul sebelas, koper dan dua kotak berdiri di depan pintu.

Mochi mondar-mandir, tidak memahami kenapa kasur lipat digulung. Ketika Kaizan mengangkat koper, anjing itu menggigit ujung celananya.

"Mochi," kata Keira pelan.

Anjing itu melepaskan dan kembali ke sisinya.

Kaizan berdiri di ambang pintu. "Kalau kamu butuh apa pun..."

"Aku akan mengurusnya."

"Aku tahu."

Keira membuka pintu lebih lebar.

Kaizan keluar membawa koper. Dia tidak memasukkan kaki untuk menahan pintu, tidak meminta satu pelukan terakhir, dan tidak memakai kekuasaan untuk tetap tinggal.

Pintu menutup di depan wajahnya.

Terdengar bunyi kunci diputar dari dalam.

Kaizan berdiri di lorong dengan koper di kedua sisi. Dia membuka WhatsApp dan mengetik satu pesan.

Aku akan menunggu sampai kamu siap bicara lagi.

Pesan hanya menunjukkan satu tanda centang abu-abu. Foto profil Keira menghilang. Informasi terakhir dilihat tidak lagi tampak.

Dia telah diblokir.

Kaizan menatap layar itu lama sekali.

Lampu lorong padam sebagian, lalu menyala lagi saat lift tiba dan pergi tanpa dirinya.

Dia tidak pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!