"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Hari Pernikahan
Pagi itu, ruang kerja Ratih Wijaya masih lengang ketika suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
"Masuk,” perintahnya.
Pintu terbuka perlahan. Bram Santoso melangkah masuk dengan map tipis berwarna cokelat di tangannya. Wajah pria paruh baya itu tetap tenang seperti biasanya, namun sorot matanya terlihat jauh lebih serius.
"Maaf saya menganggu pagi-pagi begini, Bu Ratih. Sebab ada hal penting yang harus saya sampaikan."
Ratih meletakkan cangkir kopinya. "Semoga ada hal berharga yang kau sampaikan sehingga tidak membuang waktuku."
Bram menutup pintu sebelum berjalan mendekat. Ia meletakkan map itu di atas meja. "Saya menemukan sesuatu dari dokumen calon istri Arga."
Ratih langsung tertarik. Tubuhnya condong ke depan. "Ada apa?"
Bram membuka map tersebut, memperlihatkan beberapa lembar dokumen. "Namanya Nadira Pramesti. Lulusan universitas yang sama dengan Arga. Saat ini mengelola sebuah toko buku kecil peninggalan ayahnya. Tetapi …" Dia menghentikan ucapannya sesaat.
Ratih mengangkat sebelah alis. "Tetapi apa?"
Bram memandang salah satu lembar dokumen cukup lama. "Ayah Nadira ternyata bukan orang sembarangan."
Ratih mulai mengernyit. "Maksudmu?"
Bram menutup kembali map itu seolah sengaja menghentikan pembicaraan. "Dulu beliau pernah bekerja di Wijaya Group."
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Ratih memicingkan mata, mencoba mengingat nama yang sejak semalam terus mengganggu pikirannya.
"Hendra... Pramesti?"
Bram mengangguk pelan. "Ya."
Ratih menghela napas panjang. "Kenapa aku seperti pernah mendengar nama itu?"
Ratih berdiri dari kursinya. "Jangan bilang Arga sengaja memilih perempuan itu karena tahu masa lalunya."
"Saya rasa tidak."
"Kamu yakin?"
"Kalau Arga tahu hubungan keluarga mereka dengan perusahaan ini, seharusnya dia tidak nekat menikahi gadis itu."
Ratih melangkah menuju jendela besar ruangannya. Tatapannya mengarah ke halaman depan rumah keluarga Wijaya yang mulai sibuk dipenuhi kendaraan para pekerja dekorasi.
"Bagaimanapun juga aku tetap tidak setuju." Nada suaranya terdengar dingin. "Perempuan itu tidak pantas menjadi bagian keluarga kita."
Bram hanya diam. Ia tahu Ratih akan memandang Nadira dari status sosialnya, bukan dari hal lain.
"Terus awasi dia," lanjut Ratih pelan. "Kalau ada sesuatu yang mencurigakan segera laporkan padaku."
Bram mengangguk hormat sebelum keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, senyum tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
"Hendra ..." Satu sosok berputar di kepalanya. "Kenapa harus putrimu?"
Sementara itu, di sisi lain kota, rumah sederhana milik keluarga Nadira berubah jauh lebih ramai daripada biasanya.
Beberapa orang dari wedding organizer berlalu-lalang membawa kotak rias, bunga segar, gaun, hingga perlengkapan pemberkatan. Suasana riuh memenuhi ruang tamu yang biasanya tenang.
Nadira hanya mampu berdiri di tengah keramaian sambil memegang secangkir teh hangat yang sejak lima belas menit lalu bahkan belum sempat ia minum.
Semuanya terasa begitu cepat. Baru beberapa hari lalu ia menandatangani kontrak bersama Arga, setelahnya hari ini ia akan menikah.
Ibunya, Bu Rina, keluar dari kamar sambil membawa sebuah kotak beludru kecil.
"Nad."
"Iya, Bu?"
"Ini punya Ayah."
Nadira menatap kotak itu dengan bingung. Perlahan sang ibu membukanya. Di dalamnya terbaring sebuah bros kecil berbentuk bunga melati dari emas putih.
"Dulu Ayah membeli ini waktu Ibu hamil kamu." Suara Bu Rina mulai bergetar. "Katanya nanti dipakai anak perempuan kita saat menikah."
Mata Nadira langsung memanas. "Ibu..."
Bu Rina tersenyum meski matanya mulai berkaca. "Ayahmu pasti bahagia kalau bisa melihat hari ini."
Tanpa mampu menahan diri lagi, Nadira memeluk ibunya erat. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh perlahan.
"Aku kangen Ayah..."
"Ibu juga."
Tak ada lagi kalimat yang mampu mereka ucapkan. Hanya pelukan hangat di tengah hiruk-pikuk persiapan yang menjadi tempat keduanya menyimpan rindu kepada sosok yang seharusnya hadir mengantar Nadira menuju pelaminan.
Tak jauh dari mereka, Maya yang sejak pagi ikut membantu diam-diam mengusap sudut matanya.
"Jangan nangis semua nanti makeup-nya rusak," celetuk salah satu perias sambil tertawa kecil.
Suasana yang sempat sendu perlahan kembali hangat.
Di waktu yang hampir bersamaan, Gedung Wijaya Convention Hall mulai dipenuhi aktivitas. Karangan bunga berjejer memenuhi pintu masuk. Lampu kristal memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ballroom.
Altar bernuansa putih gading berdiri megah dengan rangkaian mawar putih, lily, hydrangea, dan eucalyptus yang menjuntai indah di setiap sudut. Lorong menuju altar telah dilapisi karpet putih, sementara kursi-kursi tamu dihiasi pita satin berwarna champagne.
Di ruang VIP, Vania tampak sibuk memegang dua ponsel sekaligus.
"Media nasional sudah konfirmasi hadir."
"Undangan digital ke seluruh relasi bisnis juga sudah terkirim."
"Pak Komisaris baru menghubungi, beliau sedang menuju lokasi."
Beberapa staf humas berjalan tergesa sambil membawa daftar tamu.
"Pernikahan CEO Wijaya Group dalam waktu kurang dari dua minggu memang langsung jadi berita besar."
Vania mengangguk pelan. "Pastikan tidak ada media yang masuk ke area pemberkatan tanpa izin."
"Baik, Bu."
Di luar gedung, kilatan kamera mulai terlihat dari balik pagar.
Para wartawan yang mengetahui kabar pernikahan mendadak Arga Wijaya sudah berdatangan sejak pagi.
"Siapa sebenarnya calon istrinya?"
"Katanya bukan dari kalangan konglomerat."
"Apa benar ini pernikahan kilat?"
Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan. Hingga saat itu, belum ada seorang pun yang mengetahui bahwa di balik pernikahan megah tersebut, tersimpan sebuah kontrak yang hanya diketahui oleh segelintir orang.
Sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna putih perlahan memasuki halaman gedung pemberkatan. Para tamu yang telah berdiri di area lobi spontan menoleh ketika pintu belakang terbuka.
Nadira menarik napas panjang sebelum menjejakkan kaki di atas karpet putih.
Gaun pengantin yang dikenakannya jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Potongan off-shoulder dengan renda bunga yang menjalar hingga bagian lengan membuat penampilannya terlihat sederhana namun berkelas. Veil panjang menjuntai beberapa meter di belakangnya, sementara bros berbentuk bunga melati peninggalan ayahnya tersemat manis di dekat dada.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri memandangi pintu utama gereja yang telah terbuka lebar.
Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dibanding biasanya.
"Hari ini aku benar-benar menikah," gumamnya lirih.
Bu Rina menggenggam tangan putrinya. "Masih ingin mundur?"
Pertanyaan itu membuat Nadira tersenyum kecil. Ia menggeleng pelan.
"Aku sudah memilih jalan ini, Bu."
"Kalau begitu … " Bu Rina mengusap pipi Nadira yang mulai memerah. "...jalani dengan hati yang kuat."
Tak lama kemudian, suara lonceng gereja mulai berdentang. Alunan piano disusul gesekan biola memenuhi seluruh ruangan, membuat para tamu perlahan berdiri dari tempat duduk mereka.
Di ujung altar, Arga telah menunggu.
Pria itu mengenakan setelan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu senada. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tetap tenang seperti biasanya. Namun kedua telapak tangannya yang saling menggenggam cukup erat menunjukkan bahwa dirinya sama gugupnya dengan calon mempelai perempuan.
Satria yang berdiri di sampingnya terkekeh pelan. "Masih bisa kabur, Bro."
Arga melirik sahabatnya datar. "Kalau aku kabur, istri lo yang pertama mukul gue."
Satria tertawa pelan. "Itu juga benar."
Tak lama kemudian pintu utama terbuka. Seluruh kepala menoleh bersamaan.
Nadira melangkah perlahan memasuki lorong pemberkatan bersama ibunya.
Sinar matahari pagi yang menembus kaca patri memantulkan cahaya lembut di sepanjang gaun putih yang dikenakannya. Kelopak-kelopak mawar di sepanjang lorong seolah ikut mengiringi setiap langkah yang ia ambil.
Tatapan Arga tanpa sadar berhenti pada perempuan itu. Untuk sesaat, seluruh suara di sekelilingnya menghilang. Ia hanya melihat Nadira.
Perempuan yang beberapa minggu lalu masih menjadi teman lama yang kembali ditemuinya secara kebetulan. Kini akan menjadi istrinya.
Sementara di deretan kursi keluarga, Ratih memperhatikan prosesi itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya. Tatapannya dingin.
Kevin yang duduk di sampingnya sesekali melirik sang ibu sebelum kembali mengarahkan pandangan ke altar.
Prosesi berjalan khidmat. Pendeta membuka ibadah dengan doa singkat sebelum mempersilakan kedua mempelai berdiri saling berhadapan.
"Nikah adalah perjanjian yang dibangun atas dasar kesetiaan, kepercayaan, dan kasih yang dipilih setiap hari."
Kalimat itu membuat Nadira menundukkan pandangan sejenak.
Kasih ...
Bukankah justru itulah satu hal yang tidak mereka miliki?
Pendeta tersenyum hangat.
"Saudara Arga Wijaya."
Arga mengangkat kepala.
"Apakah Saudara bersedia menerima Nadira Pramesti sebagai istri Saudara, mengasihinya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, menghormatinya, serta tetap setia kepadanya seumur hidup?"
Ruangan mendadak sunyi. Arga menatap Nadira beberapa saat. Tatapan mata mereka bertemu.
"Aku bersedia." Jawabannya terdengar mantap.
Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat dada Nadira berdesir pelan. Pendeta kemudian mengalihkan pandangannya kepada Nadira.
"Saudari Nadira Pramesti, apakah Saudari bersedia menerima Arga Wijaya sebagai suami Saudari, menghormatinya, mendampinginya, serta tetap setia kepadanya dalam segala keadaan sampai maut memisahkan?"
Nadira menarik napas panjang. Di sudut matanya, ia sempat melihat ibunya tersenyum sambil menahan air mata.
"Aku..." Suara itu sempat tertahan. "...bersedia."
Pendeta mengangguk puas. "Cincin, silakan."
Seorang petugas membawa kotak beludru kecil. Arga mengambil cincin lebih dahulu. Dengan gerakan hati-hati, ia menggenggam tangan kiri Nadira. Jemari perempuan itu terasa dingin.
"Gugup?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Nadira tersenyum tipis. "Sedikit."
"Aku juga."
Pengakuan singkat itu justru membuat Nadira terkekeh pelan. Perlahan Arga menyematkan cincin ke jari manis Nadira. Kilau berlian kecil itu memantulkan cahaya dari lampu gereja.
Kini giliran Nadira. Tangannya sedikit gemetar ketika menggenggam jemari Arga.
"Maaf..."
"Apa?"
"Tanganku dingin."
"Nggak apa-apa."
Tatapan Arga terasa begitu tenang hingga tanpa sadar membuat kegugupan Nadira sedikit berkurang.
Setelah kedua cincin terpasang, pendeta kembali berdiri di hadapan mereka. "Mulai hari ini kalian bukan lagi dua pribadi yang berjalan sendiri-sendiri." Beliau berhenti sejenak. "Kalian adalah satu keluarga."
Suasana gereja kembali hening. Pendeta tersenyum hangat sebelum mengucapkan kalimat yang sejak tadi ditunggu semua orang.
"Dengan ini saya menyatakan Saudara Arga Wijaya dan Saudari Nadira Pramesti sah sebagai suami dan istri."
Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan. Beberapa tamu berdiri sambil memberikan selamat. Bu Rina mengusap air matanya tanpa berusaha menyembunyikan rasa haru. Begitu pula Pak Aditya yang menyaksikan pernikahan putranya. Adapun Satria dan Raina tak hentinya menangis terharu menyaksikan dua orang yang bertemu di pernikahan mereka, kini melangsungkan pernikahan sendiri.
Di sisi lain, Ratih hanya bertepuk tangan sekadarnya, Kevin yang menyunggingkan senyum tipis, demikian juga dengan Bram.
Pendeta kemudian tersenyum kepada kedua mempelai.
"Saudara Arga, Anda boleh mencium pengantin perempuan."
Nadira spontan membelalakkan mata. Pipinya memanas seketika. Arga sendiri tampak mengembuskan napas pelan sebelum mendekat.
"Aku izin,” bisikan itu hanya bisa didengar Nadira.
Perempuan itu mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. Arga kemudian mengecup lembut kening Nadira.
Sentuhan singkat itu begitu hangat hingga membuat Nadira memejamkan mata selama beberapa detik.
Tepuk tangan kembali memenuhi seluruh ruangan. Kilatan kamera dari fotografer resmi tak berhenti mengabadikan setiap momen.
Namun sedetik kemudian, senyum itu kembali terpasang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Sosok itu ikut bertepuk tangan bersama para tamu lainnya, sementara pandangannya tak pernah benar-benar lepas dari bros bunga melati yang menghiasi gaun pengantin Nadira.
Ada sesuatu yang kembali terusik pagi itu.
Sesuatu yang selama bertahun-tahun seharusnya tetap terkubur.