Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.
Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.
"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empatbelas
Tantangan terbuka dari Shen Ran menggantung di udara taman pagi itu, menciptakan keheningan yang begitu mencekik hingga suara embusan angin pada daun-daun bambu pun terdengar jelas.
Long Tianqi tertegun. Kata-kata Shen Ran tidak mengandung emosi cemburu seorang wanita yang tersisih, melainkan sebuah logika pembuktian yang sangat dingin dan terstruktur.
Sebagai seorang kaisar, insting politiknya yang sempat tertutup oleh asmara mendadak terusik. Mengapa Shen Ran begitu berani bertaruh reputasi jika ia hanya sekadar menuduh Merasakan pelukan Long Tianqi yang sedikit melonggar, kepanikan dalam dada Chu Xinyue melonjak ke tingkat tertinggi. Jika Dewan Tabib Istana benar-benar dipanggil sekarang, seluruh kebohongannya akan terbongkar dalam hitungan detik. Tabib pribadinya tidak akan bisa memanipulasi hasil di hadapan puluhan tabib senior kekaisaran.
"Yang Mulia..." Chu Xinyue buru-buru meremas jubah naga Long Tianqi, air matanya mengalir semakin deras, kali ini murni karena ketakutan. "Permaisuri sengaja ingin mempermalukan hamba di depan Dewan Tabib. Hamba yang baru saja pulih dari dinginnya Istana Barat tidak akan sanggup menahan tekanan ini... Janin hamba... janin hamba bisa terancam jika suasananya menjadi se-mencekam ini..."
"Xinyue benar, Shen Ran!" bentak Long Tianqi, mencoba menutupi keraguan yang sempat melintas di hatinya demi menjaga harga dirinya yang telanjur membela sang selir. "Kondisinya sedang lemah. Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan otoritas Permaisuri untuk mengintimidasi calon keturunanku dengan pemeriksaan yang berlebihan!"
Shen Ran menarik napas pendek, lalu mengembuskannya dengan sebuah tawa rendah yang terdengar sangat meremehkan. Ketiadaan nyali dari pria di hadapannya ini benar-benar membuat Clara lelah secara profesional.
"Baiklah, jika itu keputusan Anda, Yang Mulia," sahut Shen Ran, melipat kedua tangannya di depan dada dengan santai. "Kita tunda pemeriksaan medisnya. Namun, karena Anda menyebut saya harus bijak, maka saya akan menggunakan cara yang paling bijak dan adil untuk melindungi reputasi kita semua."
Shen Ran melangkah mundur satu tapak, memberikan penghormatan formal yang sempurna namun terasa sangat berjarak. "Mulai detik ini, demi menghindari fitnah dan demi menjaga keselamatan keturunan Kaisar yang teramat suci itu, Istana Barat akan dijaga ketat oleh prajurit Istana, bukan pengawal pribadi klan Chu. Segala makanan, minuman, dan obat-obatan yang masuk harus diperiksa oleh tiga lapis penjaga resmi."
Mata Chu Xinyue membelalak. Itu artinya ia akan diisolasi sepenuhnya! Ia tidak akan bisa berkomunikasi dengan sisa-sisa jaringannya di luar, bahkan tidak akan bisa memalsukan keguguran jika waktunya sudah mendesak.
"Aduh... Sakit!" kata Chu Xingyue, merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia hanya pura-pura supaya bisa menghindari desakan dari Shen Ran.
Mendengar rintihan itu, tubuh Chu Xinyue mendadak merosot ke atas lantai marmer. Wajahnya berkerut menahan rasa sakit yang teramat sangat, sementara kedua tangannya mencengkeram perutnya dengan dramatis.
"Aduh... Sakit sekali... Yang Mulia, perut hamba... anak kita..." suara Chu Xinyue melemah, matanya terpejam erat dengan napas yang tersengal-sengal.
Melihat hal itu, kepanikan Long Tianqi kembali membubung ke ubun-ubun. Keraguan yang sempat ditanamkan oleh Shen Ran instan menguap, digantikan oleh rasa panik seorang calon ayah. Ia langsung berlutut dan merengkuh tubuh Chu Xinyue ke dalam pelukannya.
"Xinyue! Xinyue, bertahanlah! Lihat apa yang kau lakukan, Shen Ran! Kejam sekali hatimu! Jika terjadi sesuatu pada anakku, gelar Permaisuri ini tidak akan bisa menyelamatkan lehermu!" teriak Long Tianqi panik, lalu menoleh dan menatap Shen Ran dengan mata merah penuh kilat murka.
Di belakang Shen Ran, Lian'er dan Mei'er langsung ketakutan hingga bersiap menjatuhkan diri untuk memohon ampun. Tuduhan mencelakai janin kekaisaran adalah tiket gratis menuju tiang gantungan.
Namun, Clara, di dalam tubuh Shen Ran, justru harus menahan diri setengah mati agar tidak memutar bola matanya saking jengkelnya. Taktik pura-pura sakit perut saat terpojok? Benar-benar klise tingkat rendah yang bahkan tidak akan lolos di audisi drama picisan. Bukannya panik, Shen Ran justru melangkah maju dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat cemas dan prihatin, sebuah topeng empati yang ia pasang dengan kecepatan luar biasa.
"Astaga, Selir Chu! Mengapa bisa mendadak sesakit itu?" seru Shen Ran, suaranya terdengar panik namun nadanya tetap jernih dan tegas.Ia menoleh ke arah pelayannya dengan cepat. "Mei'er! Lian'er! Jangan diam saja! Segera berlari ke kediaman Dewan Tabib! Panggil seluruh tabib istana, tabib spesialis kandungan, dan para tetua medis sekalian! Bawa tandu darurat ke sini sekarang juga!"
Chu Xinyue yang sedang memejamkan mata sambil merintih langsung tersentak di dalam dekapan Kaisar. Jantungnya berdesir hebat. Tunggu, kenapa Shen Ran malah memanggil semua tabib?!
"Tidak... tidak usah... Hamba... hamba hanya butuh istirahat di kamar..." bisik Chu Xinyue terbata-bata, mencoba menghentikan kepanikan yang sengaja dibesar-besarkan oleh Shen Ran.
"Jangan keras kepala, Selir Chu!" potong Shen Ran dengan nada yang terdengar sangat protektif, namun matanya berkilat penuh kemenangan. Ia kembali menatap Long Tianqi yang masih kebingungan.
"Yang Mulia, ini situasi darurat! Jika Selir Chu menolak diperiksa di saat ia merintih kesakitan seperti ini, bukankah itu aneh? Kita harus tahu apakah ini gejala keguguran, atau... hanya sekadar kram perut akibat tekanan psikologis karena ketahuan berbohong."
Long Tianqi memandang bergantian antara Chu Xinyue yang berkeringat dingin dan Shen Ran yang tampak sangat tegas bertindak demi keselamatan janin. Otoritas kaisarnya kali ini dipaksa tunduk pada prosedur keselamatan.
"Benar kata Permaisuri, Xinyue. Kau harus diperiksa secara menyeluruh sekarang juga," ucap Long Tianqi tegas, menyetujui usulan Shen Ran demi keselamatan anaknya.
Wajah Chu Xinyue kini benar-benar memucat tanpa perlu berpura-pura lagi. Sudut perangkap yang dipasang Shen Ran telah menutup rapat, dan rintihan palsunya justru menjadi senjata makan tuan yang akan menyeretnya langsung ke meja pemeriksaan Dewan Tabib.
"Hamba hanya perlu istirahat, Kaisar. Tolong jangan desak hamba lagi. Tolong pikirkan janin hamba..." bisik Chu Xinyue, pura-pura merintih lemah.
"Pikirkan janinmu?" Shen Ran memotong ucapan itu dengan intonasi yang begitu lembut, namun ada ketajaman dingin yang langsung menusuk ulu hati Chu Xinyue.
Clara melangkah maju satu tapak lagi, menatap sang selir dari atas ke bawah seolah sedang menghadapi seorang saksi yang kesaksian palsunya mulai runtuh di bawah sumpah. "Justru karena kami semua memikirkan keselamatan darah daging Kaisar, pemeriksaan ini wajib dilakukan tanpa penundaan," ucap Shen Ran, suaranya jernih dan berwibawa, menggema di pelataran taman.
"Sudahlah, aku akan mengurusnya sendiri. Kita kembali ke Istana," kata Long Tiangi, menuntun selir kesayangannya itu.
Mendengar ucapan Long Tianqi, gerakan maju Shen Ran langsung terhenti. Keheningan dingin kembali menyelimuti pelataran taman, melengkapi pemandangan ironis di mana seorang Kaisar dengan keras kepala memilih untuk memeluk kebohongannya sendiri.
Clara diam-diam mendengus di dalam hatinya. Pria ini benar-benar tidak tertolong. Dia sengaja menutup mata karena egonya terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan.
"Kita kembali ke Istana," ulang Long Tianqi, suaranya terdengar kaku, menolak untuk menatap mata Shen Ran saat ia memapah tubuh Chu Xinyue yang lemas. Sang selir, menyadari dirinya mendapat kesempatan emas untuk lolos, langsung menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada Kaisar dengan kerlingan mata penuh kemenangan yang tersembunyi ke arah Shen Ran.
Namun, alih-alih mengejar atau memaksakan kehendak, Shen Ran justru menarik langkahnya mundur. Ia berdiri tegak, merapikan lengan jubah sutra birunya yang megah, lalu mengulas sebuah senyuman formal yang amat ramah, senyuman yang biasa Clara pasang ketika membiarkan pihak lawan masuk ke dalam jebakannya sendiri demi eksekusi jaminan yang lebih besar di akhir persidangan.
"Tentu saja, Yang Mulia," sahut Shen Ran, suaranya terdengar begitu patuh dan penuh pengertian. "Jika ketenangan Selir Chu adalah yang utama bagi Anda, silakan. Saya tidak akan mengganggu waktu istirahat calon keturunan kekaisaran."
Long Tianqi tidak menjawab, ia hanya mengangguk samar sebelum buru-buru menuntun Chu Xinyue keluar dari area taman belakang Istana Phoenix, dikawal ketat oleh barisan pelayan setianya yang tampak mengembuskan napas lega. Begitu derap langkah kaki mereka benar-benar menghilang di balik gerbang pembatas paviliun, raut wajah penuh empati di wajah Shen Ran lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi dingin.