NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Kalimat itu menghantam hati Mida lebih keras daripada penolakan siapa pun sebelumnya. Ia berbalik meninggalkan rumah itu dengan langkah pelan. Hari itu, Mida benar-benar sadar bahwa dalam perjuangan mencari keadilan untuk Harapan, ia harus berjalan seorang diri.

Lagipula selama ini Joni tak pernah hadir dalam hidup Harapan, kenapa sekarang ia harus menaruh harapan itu pada lelaki yang bahkan sekedar hidup dengan baik saja ia tak bisa.

***

Mida hampir kehilangan harapan. Semua jalan yang ia tempuh seolah berakhir di jalan buntu.

Melihat sahabatnya terus larut dalam keputusasaan, Kak Dewi mencoba memberi saran. "Sekarang zamannya media sosial, Mid. Coba ceritakan semuanya di sana. Siapa tahu ceritamu jadi viral. Biasanya kalau sudah ramai, banyak orang ikut membantu."

Mida mengangguk pelan, meski ia sama sekali tidak mengerti dunia media sosial. Dengan ponsel tuanya, ia belajar sedikit demi sedikit. Ia belajar membuat akun, mengetik cerita, hingga mengunggah video sederhana..Di depan kamera ponsel yang buram, Mida menceritakan semuanya dengan suara bergetar. Tentang Harapan yang pagi itu berangkat sekolah seperti biasa. Tentang kesaksian teman-temannya yang melihat Harapan pergi bersama Dapit. Tentang penolakan laporan di kantor polisi karena kurangnya bukti. Dan tentang dirinya, seorang ibu yang hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya.

Setelah mengunggah video itu, Mida menunggu dengan penuh harap. Sehari berlalu. Tak ada tanggapan. Dua hari berlalu. Video itu hanya ditonton segelintir orang. Seminggu berlalu. Angka penontonnya nyaris tak bertambah. Tak ada komentar berarti. Tak ada yang membagikan ceritanya.

Akun Mida masih terlalu kecil. Di tengah jutaan video yang diunggah setiap hari, kisah pilu seorang ibu dari kampung itu tenggelam begitu saja, seolah tak pernah ada yang mendengarnya. Namun Mida tetap membiarkan video itu berada di sana. Barangkali suatu hari nanti, akan ada seseorang yang berhenti sejenak... lalu mau mendengarkan jerit hati seorang ibu yang hanya menginginkan satu hal: kebenaran.

Hari demi hari berlalu tanpa secercah harapan. Mida semakin terpuruk. Ia kehilangan selera makan. Segelas air pun sering kali tak disentuhnya hingga berjam-jam. Tubuhnya mulai melemah, tetapi pikirannya tak pernah berhenti bekerja. Setiap beberapa menit, ia membuka media sosial dengan ponsel tuanya. Barangkali ada yang membalas. Barangkali ada yang membagikan videonya. Barangkali ada seseorang yang bersedia menolong.Namun yang ia temukan selalu sama. Sunyi. Tak ada yang datang. Tak ada kabar. Tak ada harapan baru.

Tangis menjadi teman yang paling setia di dalam gubuk kecil itu. Jangan terburu-buru menghakimi seorang ibu yang sudah berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Ketika semua jalan yang ia ketahui telah dicoba, ketika setiap pintu yang diketuk tetap tertutup, dan ketika tak seorang pun mau mendengarkan jerit hatinya, yang tersisa hanyalah harapan-harapan kecil yang mungkin bagi orang lain tampak mustahil. Namun bagi seorang ibu yang kehilangan anak, harapan sekecil apa pun adalah alasan untuk tetap bertahan hidup.

Pagi itu, Mida memaksakan diri membuka pintu gubuknya. Sudah beberapa hari ia mengurung diri. Tak berinteraksi dengan siapapun. Saat hendak melangkah keluar, pandangannya tertuju pada sebuah kantong kresek yang tergeletak tepat di depan pintu.

Dengan bingung ia mengambilnya. Di dalamnya hanya ada beberapa bungkus mi instan dan sepotong roti. Tak ada nama. Tak ada pesan. Tak ada siapa pun di sekitar rumah.

Mida berdiri mematung sambil memeluk kantong kresek itu. Entah siapa yang meletakkannya. Tetapi di saat ia merasa benar-benar sendirian, bantuan sederhana dari seseorang yang tak dikenal itu membuat air matanya kembali jatuh. Masih ada orang yang peduli. Meski ia belum tahu siapa.

Peristiwa itu terus berulang selama tiga hari berturut-turut. Setiap pagi, saat membuka pintu gubuknya, Mida selalu menemukan sebuah kantong kresek berisi beberapa bungkus mi instan, roti, atau bahan makanan sederhana. Tak pernah ada pesan. Tak pernah ada nama. Siapa pun yang meletakkannya selalu datang ketika hari masih gelap, lalu menghilang sebelum Mida sempat melihat wajahnya.

Rasa penasaran akhirnya mengalahkan kesedihannya. Pada pagi keempat, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Mida sengaja bersembunyi di balik dinding gubuk. Ia mengintip melalui celah papan yang mulai lapuk, menunggu dalam diam.

Tak lama kemudian, terlihat seorang bocah berjalan pelan sambil membawa kantong kresek di tangannya. Langkahnya sangat hati-hati, seolah takut diketahui orang lain. Jantung Mida berdegup kencang. Bocah itu adalah Dapit. Setelah meletakkan kantong kresek di depan pintu, Dapit hendak berbalik pergi. Namun, Mida segera membuka pintu. "Dapit..."

Bocah itu tersentak. Wajahnya langsung pucat. Kantong plastik yang masih berada di tangannya hampir terjatuh.

Dengan suara lirih, Mida bertanya, "Kenapa kamu melakukan semua ini?"

Dapit menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat, sementara bibirnya bergetar. "Maafkan saya, Bi..." ucapnya pelan.

Air mata Mida kembali mengalir. "Maaf untuk apa, Dapit? Apa maaf itu untuk Harapan?" tanya Mida dengan suara yang mulai bergetar. "Tetap saja... Allah melihat semuanya. Tidak ada satu pun yang bisa disembunyikan dari-Nya."

Dapit semakin tertunduk. Bahunya berguncang menahan tangis, tetapi ia tetap membisu. Beberapa saat kemudian, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia hanya berkata, "Makanlah, Bi... jangan sampai Bibi sakit."

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Mida semakin hancur. Ia menggeleng pelan sambil memeluk kantong kresek di dadanya. "Bagaimana Bibi bisa makan dengan tenang, Dapit? Anakku sudah pergi... sampai hari ini Bibi bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Setiap kali Bibi menutup mata, yang terbayang hanya Harapan. Apa dia kesakitan? Apa dia ketakutan? Apa dia sempat memanggil Bibi sebelum semuanya berakhir?"

Suara Mida pecah menjadi tangis. Di hadapannya, Dapit ikut menangis tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun lagi. Dua orang itu berdiri saling berhadapan dalam kesunyian pagi seorang ibu yang dibakar rasa kehilangan, dan seorang bocah yang seolah memikul beban rahasia yang terlalu berat untuk usianya.

Mida mengusap air matanya. Kali ini ia tidak ingin lagi memaksa dengan amarah. Ia menatap Dapit dengan penuh harap, berharap bocah itu mau melepaskan beban yang selama ini dipendamnya. "Kalau kamu benar-benar ingin membantu Bibi, ceritakan apa yang kamu tahu. Jangan takut. Bibi tidak akan menyalahkanmu. Bibi hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Harapan."

Dapit terdiam cukup lama. Dadanya naik turun menahan tangis. Berkali-kali ia menghapus air matanya dengan lengan baju. Akhirnya, dengan suara yang terbata-bata, ia mulai bercerita. "Hari itu... Gilang nyuruh aku manggil Harapan." Dapit menunduk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!