NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 1 : Pernikahan yang Dibeli

Langit pagi tampak kelabu ketika Nadira berdiri di depan jendela rumah kecilnya. Udara yang biasanya membawa kesejukan justru terasa begitu sesak memenuhi dadanya. Hari itu bukan hari yang pernah ia impikan. Tidak ada gaun pengantin yang dipilih dengan penuh cinta. Tidak ada senyum bahagia dari keluarga besar. Bahkan, tidak ada harapan tentang kehidupan baru yang akan dimulai bersama pria yang mencintainya.

Hari itu adalah hari ketika dirinya dijual oleh keadaan.

Nadira memejamkan mata, mencoba menenangkan hatinya yang sejak semalam terus dihantui rasa takut. Jemarinya menggenggam erat sebuah surat perjanjian yang telah ditandatanganinya beberapa hari lalu. Di atas kertas itu tertulis dengan jelas bahwa pernikahan yang akan dijalaninya bukanlah ikatan suci yang dilandasi cinta, melainkan sebuah kontrak dengan berbagai aturan yang harus dipatuhi.

Semua berawal dari utang ayahnya.

Ayah Nadira pernah memiliki usaha kecil yang cukup berkembang. Namun, kegagalan bisnis akibat ditipu rekan sendiri membuat semuanya runtuh. Untuk mempertahankan usaha, sang ayah meminjam uang dalam jumlah besar. Bukannya bangkit, keadaan justru semakin memburuk hingga utang itu menumpuk dengan bunga yang terus berjalan.

Rumah sederhana mereka hampir disita.

Setiap hari para penagih utang datang silih berganti. Suara bentakan dan ancaman menjadi pemandangan yang sudah biasa terdengar dari depan rumah. Nadira yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak tentu tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk melunasi utang sebesar itu.

Ia sudah mencoba berbagai cara.

Mengajar pagi hingga siang, memberikan les privat pada sore hari, bahkan menjual beberapa barang berharga milik ibunya. Namun semua itu tetap tidak mampu menutup jumlah utang yang mencapai miliaran rupiah.

Hingga suatu hari datanglah seorang pria berpakaian rapi membawa sebuah tawaran yang terdengar mustahil.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai sekretaris pribadi Arka Mahendra.

Nama itu tentu tidak asing.

Arka Mahendra adalah CEO muda yang sukses memimpin perusahaan keluarga hingga berkembang menjadi salah satu konglomerasi terbesar di negeri ini. Wajahnya sering muncul di majalah bisnis maupun berita ekonomi. Di usia yang belum genap tiga puluh tahun, ia telah dikenal sebagai sosok dingin, cerdas, dan sangat sulit ditebak.

Tidak ada yang tahu mengapa pria seperti itu justru menawarkan sebuah pernikahan kontrak kepada gadis biasa seperti dirinya.

Namun jawabannya sederhana.

Keluarga Mahendra membutuhkan seorang istri untuk Arka demi memenuhi permintaan sang kakek yang sedang sakit keras. Sebagai pewaris tunggal perusahaan, Arka terus didesak menikah agar keluarga memiliki penerus. Karena enggan dijodohkan dengan putri keluarga konglomerat lain, Arka memilih mencari wanita yang bersedia menikah berdasarkan kesepakatan.

Sebagai imbalannya, seluruh utang keluarga Nadira akan dilunasi.

Awalnya Nadira menolak mentah-mentah.

Baginya, pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Bukan transaksi bisnis yang bisa diperjualbelikan.

Namun keadaan memaksanya berpikir berbeda.

Saat ayahnya jatuh sakit akibat tekanan yang begitu berat, Nadira sadar bahwa dirinya tidak lagi memiliki pilihan. Ia rela mengorbankan kebahagiaannya demi menyelamatkan keluarga.

Dengan air mata yang terus mengalir, ia akhirnya menandatangani kontrak tersebut.

Kini hari itu telah tiba.

Mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan rumahnya. Beberapa orang berpakaian formal turun dan mempersilakan Nadira masuk dengan penuh hormat.

Ibunya memeluknya erat.

"Maafkan Ayah dan Ibu, Nak," ucap sang ibu dengan suara bergetar.

Nadira menggeleng pelan sambil memaksakan senyum.

"Jangan berkata begitu, Bu. Selama Ayah sembuh dan rumah ini tidak disita, Nadira sudah bahagia."

Meski bibirnya tersenyum, hatinya hancur berkeping-keping.

Sepanjang perjalanan menuju gedung tempat akad berlangsung, Nadira hanya memandangi jalanan dari balik kaca mobil. Kota yang biasanya ramai kini terasa asing. Seolah-olah hidupnya sedang bergerak menuju masa depan yang sama sekali tidak pernah ia inginkan.

Sesampainya di lokasi, ia dibuat terpana oleh kemegahan gedung tersebut.

Segalanya tampak begitu mewah.

Lantai marmer mengilap.

Lampu kristal bergantung indah di langit-langit.

Karpet merah membentang menuju ruangan akad.

Namun semua kemewahan itu sama sekali tidak mampu menghangatkan perasaannya.

Beberapa penata rias segera membawanya ke ruang khusus untuk mengenakan gaun pengantin.

Gaun putih sederhana namun elegan itu terlihat sangat cantik ketika melekat di tubuhnya. Rambut panjangnya ditata rapi dengan riasan yang membuat wajahnya tampak semakin anggun.

Semua orang memuji kecantikannya.

Namun Nadira hanya mampu menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata yang kosong.

Hari yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidup seorang wanita justru terasa seperti hari penghakiman baginya.

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka.

Seorang pria tinggi memasuki ruangan tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Nadira langsung mengenalinya.

Arka Mahendra.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang dijahit dengan sangat sempurna. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan tatapan mata yang tajam. Setiap langkahnya memancarkan wibawa seorang pemimpin yang terbiasa mengendalikan keadaan.

Namun ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

Tatapannya dingin.

Nyaris tanpa emosi.

Arka berhenti beberapa langkah di depan Nadira.

Ia memperhatikan wanita itu beberapa saat sebelum akhirnya berbicara dengan suara datar.

"Kau terlihat sesuai dengan yang kubutuhkan."

Kalimat itu membuat hati Nadira terasa semakin sesak.

Bukan pujian.

Bukan sapaan.

Melainkan penilaian layaknya seseorang sedang memilih barang yang akan digunakan.

Nadira hanya menundukkan kepala.

Arka kembali berkata, "Setelah akad selesai, kita menjalankan semua isi kontrak tanpa pengecualian."

Nadira mengangguk pelan.

"Aku mengerti."

"Tidak perlu menganggap ini sebagai pernikahan sungguhan."

Ucapan itu terasa seperti pisau yang menggores perlahan di dalam dadanya.

Arka melanjutkan dengan nada yang tetap dingin.

"Ini hanyalah kesepakatan bisnis. Aku membantumu melunasi utang keluargamu. Sebagai gantinya, kau menjadi istriku sesuai kebutuhan keluarga dan perusahaan."

Tidak ada sedikit pun kelembutan dalam suaranya.

Seolah ia sedang menjelaskan isi kontrak kerja kepada seorang pegawai baru.

Nadira menarik napas panjang.

"Aku akan menjalankan kewajibanku."

"Itu bagus."

Arka mengeluarkan sebuah map berisi salinan kontrak.

"Ada satu hal yang harus kau ingat."

Nadira mengangkat wajahnya.

Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Mata Arka begitu tajam hingga sulit ditebak isi pikirannya.

"Kau hanya akan menjadi istri paruh waktu."

Nadira terdiam.

"Kau akan tinggal bersamaku saat diperlukan. Menghadiri acara keluarga, menghadiri undangan bisnis, dan menunjukkan kepada semua orang bahwa kita adalah pasangan yang harmonis."

Arka berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Di luar itu, kita menjalani hidup masing-masing."

Dadanya kembali terasa sesak.

Namun Arka belum selesai.

"Dan yang paling penting..."

Nada suaranya berubah semakin tegas.

"Jangan pernah berharap cinta dariku."

Kalimat itu menggantung di udara.

Begitu dingin.

Begitu tajam.

Begitu menyakitkan.

Nadira menggigit bibir bawahnya agar air matanya tidak jatuh.

Ia sudah mengetahui isi kontrak tersebut sejak awal.

Namun mendengarnya langsung dari mulut Arka terasa jauh lebih menyakitkan.

Arka tidak memberi kesempatan baginya untuk berbicara.

"Aku tidak percaya pada cinta."

Ia mengucapkannya dengan keyakinan yang begitu kuat.

"Yang kubutuhkan hanyalah seseorang yang bisa memainkan peran sebagai istriku sampai semua urusan keluarga selesai."

Nadira menganggukkan kepala perlahan.

"Baik."

Jawaban singkat itu terdengar lirih.

Arka memandangnya beberapa detik.

Mungkin ia mengira wanita di hadapannya akan menangis atau memohon.

Namun Nadira hanya berdiri diam.

Ia memilih menyimpan semua luka di dalam hatinya.

Baginya, menerima kenyataan jauh lebih mudah daripada berharap pada sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah dijanjikan.

Tak lama kemudian, panitia memberi tahu bahwa prosesi akad akan segera dimulai.

Mereka berjalan menuju ruang utama.

Suasana di sana berlangsung sederhana namun tetap mewah.

Para tamu yang hadir sebagian besar adalah keluarga Mahendra dan beberapa rekan bisnis penting.

Tidak banyak yang mengenal Nadira.

Mereka hanya memandangnya penuh rasa ingin tahu.

Beberapa bahkan berbisik pelan, bertanya-tanya siapa gadis sederhana yang berhasil menjadi istri CEO muda paling berpengaruh itu.

Nadira mencoba mengabaikan semua tatapan tersebut.

Fokusnya hanya satu.

Menyelesaikan akad ini.

Ketika ijab kabul akhirnya diucapkan dengan lantang dan sah dinyatakan oleh penghulu, ruangan dipenuhi ucapan syukur.

Semua orang tersenyum.

Semua orang bertepuk tangan.

Namun dua orang yang menjadi pusat acara justru berdiri dalam keheningan.

Arka menjabat tangan para saksi dengan wajah tetap datar.

Sementara Nadira menahan air mata yang hampir tumpah.

Statusnya kini telah berubah.

Ia resmi menjadi istri Arka Mahendra.

Seorang guru TK biasa yang kini menyandang nama keluarga konglomerat.

Namun di balik status baru itu, ia tahu dirinya hanyalah bagian dari sebuah perjanjian.

Sebuah istri yang dibeli untuk memenuhi kepentingan.

Bukan dipilih karena cinta.

Usai prosesi selesai, Arka menghampirinya.

"Mulai hari ini, semua kebutuhan keluargamu sudah menjadi tanggung jawabku sesuai isi kontrak."

Nadira mengangguk.

"Terima kasih."

"Itu bukan bantuan."

Arka menatap lurus ke arahnya.

"Itu pembayaran atas peran yang akan kau jalankan."

Sekali lagi, Nadira merasakan hatinya diremas.

Namun ia tetap tersenyum tipis.

"Kalau begitu... aku akan menjalankan peranku sebaik mungkin."

Arka tidak menjawab.

Ia hanya berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Nadira yang berdiri seorang diri di tengah kemewahan pesta.

Di balik senyum yang dipaksakan, Nadira berjanji pada dirinya sendiri.

Ia tidak akan melanggar isi kontrak.

Ia tidak akan menuntut perhatian.

Ia tidak akan meminta kasih sayang.

Dan yang terpenting, ia akan menjaga hatinya agar tidak pernah jatuh cinta kepada pria yang sejak awal telah menutup pintu itu rapat-rapat.

Namun takdir sering kali memiliki cara yang berbeda.

Apa yang dimulai sebagai sebuah transaksi bisa saja berubah menjadi sesuatu yang tak pernah direncanakan oleh siapa pun.

Hanya saja, untuk saat ini, Nadira hanyalah seorang istri paruh waktu.

Seorang wanita yang menikah bukan karena dicintai, melainkan karena dibeli oleh keadaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!