Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29: Ketenangan Sebelum Hari Nol
Langit selalu tampak paling damai tepat sebelum dunia memutuskan berubah menjadi neraka. Pada pagi 4 Juli 2026, matahari tetap terbit di balik gedung-gedung Jakarta seolah ledakan yang telah menghapus Kompleks Omega dari peta tidak pernah terjadi. Orang-orang berangkat bekerja sambil menyeruput kopi, radio memutar lagu-lagu ceria, dan berita pagi hanya menyebut satu kalimat singkat tentang "insiden di fasilitas militer terpencil" yang masih dalam penyelidikan.
Di balik layar kehidupan yang tampak normal itu, Organisasi Hitam sedang berdarah tanpa mampu berteriak. Jalur komunikasi internal dipenuhi laporan yang saling bertabrakan, server cadangan dibuka satu demi satu, sementara setiap ilmuwan dan petinggi diperiksa tanpa terkecuali. Tidak ada yang berani menyebut nama Ghost Collector dengan suara keras, seolah nama itu sendiri telah berubah menjadi kutukan yang mampu merobek fondasi organisasi yang mereka bangun selama puluhan tahun.
Klik.
Raven menutup berkas terakhir di atas meja besi ruang rapat bawah tanah. Tatapannya menyapu wajah para petinggi yang menunduk tanpa berani membalas pandangan, lalu ia berkata pelan, "Bukan ada pengkhianat. Kita kalah karena lawan kita berpikir beberapa langkah lebih jauh." Kalimat itu membuat ruangan menjadi lebih sunyi daripada sebelumnya, sebab semua orang memahami bahwa Raven sedang menyampaikan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar kegagalan sebuah operasi. Bagi pertama kalinya, mereka dipaksa menerima kenyataan bahwa Ghost Collector bukan lagi ancaman sesaat, melainkan lawan yang mampu mengguncang fondasi organisasi dari akarnya.
Sementara organisasi terbesar yang bergerak di balik bayangan sedang saling mencurigai, Arga justru tertidur pulas di kamar kos sederhananya. Tirai jendela menahan cahaya pagi, pendingin ruangan berdengung pelan, dan ponselnya bergetar berkali-kali oleh notifikasi berita yang sama sekali tidak ingin ia baca. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia membiarkan tubuhnya menikmati kemewahan yang selama sepuluh tahun nyaris terlupakan, yaitu tidur tanpa harus menggenggam senjata.
Hmmm...
Ketika akhirnya terbangun menjelang siang, Arga meregangkan badan sambil menguap panjang. Ia berjalan santai menuju warung langganan, memesan semangkuk bakso, sate, dan segelas es teh manis tanpa sedikit pun terlihat seperti pria yang baru saja menghancurkan pusat penelitian paling rahasia di Indonesia. Penjual itu hanya tertawa melihat lahapnya Arga, sementara Arga membalas dengan senyum tipis yang terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri. Di tengah kesibukan kota yang tetap berjalan seperti biasa, ia menikmati momen sederhana yang dahulu menjadi kemewahan di dunia yang telah runtuh.
Hari-hari berikutnya mengalir tanpa tergesa. Kadang ia menghabiskan sore di vila yang masih dalam tahap penyelesaian pembangunan, duduk di tepi danau buatan sambil memegang joran sederhana. Riak air memantulkan cahaya senja, dan sesekali seekor ikan menyambar umpan hingga ujung pancing melengkung tajam.
Byur!
Seekor ikan nila melompat sebelum akhirnya mendarat di rumput basah. Arga terkekeh kecil sambil melepaskan kail dan mengembalikannya ke air, memilih menikmati sensasi memancing daripada membawa pulang hasil tangkapannya. Dunia memang belum kiamat, pikirnya. Untuk sesaat, ia ingin merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai manusia biasa, tanpa dibayangi ancaman kematian yang selalu mengintai di setiap langkah.
Sore berganti malam, dan vila yang hampir selesai dibangun mulai terasa seperti rumah. Pagar baja berdiri kokoh mengelilingi lahan, bunker bawah tanah telah memiliki pintu baja berlapis, sementara gudang logistik mulai terisi sebagian kecil hasil rampasan yang ia pindahkan dari Ruang Dimensi. Ia berenang beberapa putaran di kolam yang baru selesai diisi air, membiarkan rasa lelah larut bersama riak yang memecah permukaan.
Cip... cip...
Air menetes dari rambutnya ketika ia memasuki ruang kerja kecil di lantai dua. Di sana, laptop dan beberapa hard drive hasil curian dari Omega memenuhi meja kayu, menampilkan ribuan halaman penelitian yang belum sempat ia baca. Tidak ada lagi kepanikan ataupun desakan waktu seperti sebelumnya. Kini ia membaca setiap dokumen dengan perlahan, menandai bagian-bagian penting sambil sesekali mengangguk ketika memahami betapa gilanya ambisi Project Genesis.
Semakin dalam ia mempelajari dokumen-dokumen itu, semakin jelas bahwa Organisasi Hitam bukan sekadar ingin bertahan dari kiamat. Mereka ingin mengendalikan dunia baru dengan menciptakan Awakener buatan sebelum kebangkitan massal terjadi. Daftar eksperimen, simulasi mutasi kristal, hingga prediksi tingkat keberhasilan manusia tertentu membuat Arga beberapa kali menghela napas panjang, menyadari bahwa bahkan pada kehidupan sebelumnya ia hanya melihat bayangan kecil dari rencana besar mereka.
Empat hari berlalu tanpa satu tetes darah pun tumpah oleh tangannya. Tidak ada gudang yang dijarah, tidak ada konvoi yang dibuntuti, dan tidak ada duel kecerdasan melawan Raven. Sesekali ia bahkan menghabiskan malam bermain gim di laptop tuanya, tertawa pelan ketika karakternya kalah karena terlalu lama tidak menyentuh dunia virtual. Ketenangan itu terasa begitu langka hingga ia sengaja menikmatinya, seolah sedang menyimpan kenangan terakhir dari kehidupan yang normal.
Klik.
Kalender digital di layar ponselnya berpindah ke tanggal 8 Juli 2026. Senyum tipis di wajah Arga perlahan memudar ketika ia menghitung hari dengan ujung jarinya, lalu pandangannya berubah setajam mata pisau yang baru diasah. Dengan suara hampir tak terdengar, ia bergumam, "Seminggu lagi."
Keesokan paginya, meja kerja Arga dipenuhi catatan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi peta markas Organisasi Hitam ataupun jalur patroli musuh. Yang memenuhi meja kini adalah daftar panjang kebutuhan bertahan hidup yang disusun berdasarkan pengalaman sepuluh tahun hidup di masa depan. Ia menghitung ulang setiap kilogram beras, setiap liter bahan bakar, hingga jumlah bibit tanaman yang mampu menopang kehidupan dalam jangka panjang.
Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. Dalam beberapa jam saja, puluhan perusahaan fiktif lahir lengkap dengan dokumen legal, rekening, serta jaringan distribusi yang saling terhubung tanpa menunjukkan kaitan satu sama lain. Seluruh identitas itu akan menjadi topeng untuk membeli barang dalam jumlah besar tanpa membuat pemerintah maupun Organisasi Hitam menoleh.
"Tidak perlu menjadi orang terkaya," gumam Arga sambil menandatangani dokumen digital. "Cukup menjadi pembeli yang tidak pernah terlihat."
Hari itu ia mulai berkeliling ke berbagai kota industri di Jawa Barat. Distributor makanan, gudang obat, hingga pemasok panel surya menerima pesanan dalam jumlah besar atas nama perusahaan yang berbeda-beda. Tidak ada satu pun transaksi yang tampak mencurigakan jika dilihat secara terpisah, tetapi ketika seluruhnya digabungkan, transaksi-transaksi tersebut perlahan membangun fondasi sebuah benteng yang mampu menopang kehidupan selama bertahun-tahun setelah dunia runtuh.
Brummm...
Mobil boks putih yang dikendarainya melaju keluar dari kawasan pergudangan. Dari luar kendaraan itu tampak membawa muatan biasa, tetapi setiap kali pintu gudang tertutup dan tidak ada mata yang mengawasi, Ruang Dimensi terbuka tanpa suara, menelan seluruh barang ke dalam kehampaan yang hanya dimiliki Arga. Gudang kembali kosong, sementara seluruh dokumen pengiriman tetap menunjukkan bahwa barang telah diterima sebagaimana mestinya.
Perjalanan itu terus berlanjut menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Arga berpindah dari satu kota ke kota lain seperti seorang pebisnis yang sibuk mengejar kontrak, membeli beras dalam jumlah puluhan ton, makanan kaleng, air mineral, obat-obatan, pupuk, tabung gas, genset, aki industri, kabel, baja, semen, peralatan bengkel, hingga mesin pertanian. Bahkan ribuan kristal kosong ia kumpulkan untuk eksperimen di masa depan, karena ia tahu bahwa benda-benda sederhana sering kali jauh lebih berharga daripada emas ketika peradaban telah runtuh.
Setiap malam ia memeriksa isi Ruang Dimensi dengan saksama. Gunungan logistik terus bertambah, tersusun rapi sesuai kategori layaknya gudang raksasa yang tak memiliki batas. Semakin penuh ruang itu, semakin tenang pula dadanya, karena setiap peti makanan berarti satu hari tambahan untuk bertahan hidup ketika dunia mulai saling memangsa.
Di sisi lain, Raven hampir tidak pernah meninggalkan ruang investigasi. Seluruh jaringan intelijen dikerahkan untuk memburu Ghost Collector, tetapi hasilnya selalu berakhir di jalan buntu. Yang mereka temukan hanyalah perusahaan-perusahaan baru dengan transaksi legal, sopir-sopir sewaan yang tidak saling mengenal, serta gudang-gudang kosong yang seolah hanya dipakai beberapa menit sebelum kembali ditinggalkan.
Raven berdiri di depan peta digital Indonesia yang dipenuhi titik merah. Salah seorang bawahannya melaporkan bahwa belasan perusahaan baru melakukan pembelian besar secara bersamaan, tetapi semuanya bergerak di sektor berbeda sehingga tidak dapat dibuktikan saling berhubungan. Raven menatap data itu cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan, "Dia berhenti menjadi bayangan... sekarang dia menjadi sistem."
Ucapan itu membuat seluruh ruangan terdiam. Mereka terbiasa memburu seseorang, tetapi kini lawannya bergerak seperti jaringan tak kasatmata yang tidak memiliki pusat. Setiap kali satu benang berhasil ditemukan, benang lain telah menghilang lebih dahulu, meninggalkan mereka mengejar sesuatu yang bahkan tidak memiliki wajah.
Tanggal terus bergeser. Waktu melaju tanpa menunggu siapa pun, membawa dunia semakin dekat ke ambang kehancuran. Hari demi hari berlalu, dari 9 Juli, kemudian 10 Juli, hingga akhirnya 11 Juli 2026 tiba tanpa membawa tanda-tanda bahwa peradaban hanya tinggal menghitung hari.
Malam turun perlahan di atas vila yang kini hampir sepenuhnya selesai dibangun. Arga berdiri di balkon lantai dua sambil memandang hamparan lampu kota yang berkilauan di kejauhan, sementara angin pegunungan membawa aroma tanah basah setelah hujan sore. Di bawah sana, bunker telah dipenuhi sebagian besar persediaan penting, sedangkan Ruang Dimensi masih menyimpan jauh lebih banyak daripada yang mampu ditampung bangunan itu.
Jangkrik bernyanyi di balik semak-semak, kendaraan masih berlalu-lalang di jalan raya, dan tawa manusia sesekali terdengar dari kejauhan. Tidak seorang pun menyadari bahwa mereka sedang menikmati malam-malam terakhir dari dunia yang damai. Arga menarik napas panjang, menatap langit yang dipenuhi bintang, lalu mengepalkan tangannya perlahan.
Hari Nol semakin dekat.