NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Perbaikan Hubungan antara Azka dan Visha

Keesokan pagi, Azka terbangun dari tidurnya. Kali ini di sofa tidak terlihat bantal, guling ataupun selimut.

Tadi malam, Visha tidak menyiapkannya. Azka pun juga enggan mengambil dari dalam kamar.

Ia kemudian melihat ke arah jam yang terpampang di handphone. Matanya terbelalak, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia juga melihat beberapa pesan dan missed calls dari Noval.

Sesaat ia refleks ingin bertanya kepada Visha, tapi langsung menahan diri karena ingat dengan apa yang telah terjadi semalam.

Azka bergegas masuk ke dalam kamar mandi, lalu mempersiapkan diri untuk berpakaian. Ternyata ia juga baru menyadari kalau Visha tak mengurus pakaian kerjanya seperti biasa.

Ia harus mengambil semua sendiri. Begitu juga dengan sarapan omelet yang tidak terlihat di atas meja makan.

Setelah dipikir, Azka baru menyadari kalau Visha tak kelihatan dari tadi. Ia pun berinisiatif untuk memanggil namanya.

“Visha!” ucapnya setengah berteriak.

Namun tidak ada jawaban. Ia menduga kalau Visha tak ada di dalam rumah. Tak berapa lama, terdengar suara derap sepatu di teras.

Azka berjalan menuju teras. Ia melihat Visha sedang melepaskan sepatu. Dengan santai, Visha berbicara kepada suaminya.

“Kamu belum berangkat kerja?”

Mendengar itu, Azka sedikit terkejut. Dalam hatinya bertanya-tanya, perubahan macam apalagi yang sedang ditunjukkan Visha.

“Iya, sebentar lagi aku berangkat,” jawab Azka.

Ia sebenarnya ingin marah karena Visha tidak membangunkannya. Tapi ia sedang tidak ingin berdebat. Ia sadar sekali dengan apa tujuan Visha melakukan ini.

Tapi ternyata yang selanjutnya disampaikan oleh Visha akan menjawab pertanyaan Azka itu.

“Heran? Kenapa aku begini?” ujarnya, kini sudah selesai melepas sepatu.

Ia kemudian berdiri, melanjutkan kalimat.

“Setelah aku memikirkan lagi. Kamu saja tidak pernah menganggap aku sebagai istrimu. Lalu untuk apa aku pura-pura berperan jadi istrimu?” ucapnya berlalu meninggalkan Azka begitu saja masuk ke dalam rumah.

Pernyataan lugas ini membuat Azka menyadari tentang apa yang tengah dirasakan oleh Visha. Ia juga teringat mengenai kesimpulan yang diucapkan oleh dokter Indira, “Berikanlah kesempatan untuk Visha”.

Kakinya kini terasa tak bertenaga. Ia juga mengenang kebiasaan istrinya dulu saat sedang menghadapi masalah, ia pasti akan melampiaskan dengan berlari.

Persis dengan apa yang dilakukan oleh Visha saat ini.

***

Pagi itu terasa lebih berat dari biasa. Matahari sudah tinggi, tapi sinarnya gagal menghangatkan hati Azka. Dengan langkah lesu dan bahu nyaris tak tertopang semangat, ia menelusuri koridor panjang kantor.

Setiap langkah terdengar hampa, seolah membentur dinding-dinding sepi yang tak peduli.

Saat tiba di depan ruangan, Azka menghela nafas panjang sebelum mendorong pintu. Perasaan malas mengiringi langkahnya. Namun, yang paling mengejutkan, di dalam ruangan itu, Noval sudah duduk menunggu.

Pandangan mereka bertemu. Tak ada senyum, hanya tatapan penuh tanda tanya.

“Akhirnya kamu datang juga pak. Saya pikir kamu cuti lagi,” sambut Noval.

Azka hanya diam, wajahnya terlihat murung. Respon enerjik yang diberikan Noval diabaikan begitu saja.

Menyadari kondisi atasan sedang tidak bergairah, ia pun bertanya tentang apa yang terjadi. Tapi Azka beralasan kalau ia sedang tidak enak badan.

“Kalau masih sakit, kenapa dipaksakan masuk pak, istirahat saja dulu di rumah,” ujar Noval khawatir.

Tentu Noval tidak mengetahui situasi rumah tangganya sehingga ia memberikan saran seperti itu.

“Tidak apa-apa. Saya bosan di rumah,” jawab Azka yang kemudian duduk di kursi.

“Ada apa?” lanjutnya bertanya.

Noval kemudian menceritakan tentang keinginan dari Sesilia untuk mengajaknya meeting. Ia menjelaskan bahwa tim quality control menemukan sebuah masalah yang membutuhkan arahan dari Azka.

“Kapan?” tanya Azka.

“Secepatnya,” ujar Noval.

Meski sempat curiga, tapi respons dari Azka di luar dugaan. Ia memerintahkan Noval untuk segera mengatur meeting dengan tim quality control, tapi tanpa kehadirannya.

Azka meminta agar Noval memimpin rapat tersebut.

“Nanti hasil laporan, kamu berikan kepada saya,” ujar Azka.

Noval menatap Azka dengan kening sedikit berkerut. Ada yang berbeda, bukan hanya dari nada bicara tapi juga tentang cara ia menghindari tatapan. Namun alih-alih bertanya, Noval memilih diam dan mengikuti saja. Mungkin belum saatnya untuk bicara.

***

Siang itu, kamar terasa seperti senja tertahan. Tirai tebal menutup rapat jendela, menelan cahaya matahari yang seharusnya masuk. Suasana gelap membiarkan bayangan samar menyelimuti ruangan dalam nuansa kelabu.

Di atas ranjang, Visha terbaring tanpa suara. Tubuhnya nyaris tak bergerak, hanya irama nafas berhembus pelan. Matanya sembab, merah dan masih menyisakan bekas air mata. Ada kelelahan emosional membekas dalam hati, dunia serasa telah runtuh pelan-pelan, tidak ada yang menolongnya.

Tiba-tiba, “Klek!”.

Pintu terbuka. Menggesek keheningan yang telah nyaman menyatu bersama kesedihan Visha. Suara itu membuat Visha terkejut. Raganya menegang, mata membelalak ke arah pintu dengan cemas yang belum sempat sembunyi.

“Siapa?” ucapnya refleks.

Sesosok pria masuk ke dalam. Ternyata Azka yang memutuskan untuk izin pulang cepat.

Ia kemudian melanjutkan langkahnya, menghampiri Visha yang saat ini sudah duduk sambil mengusap mata. Ia berusaha memperlihatkan wajahnya seperti biasa. Tapi sekeras apapun ia berupaya, mata bengkak tidak bisa berbohong.

“Kok sudah pulang? Kamu sakit?” tanya Visha.

Azka hanya menggeleng. Tatapan matanya kosong. Ia seperti sedang berusaha mengatakan sesuatu tapi sulit untuk terucap. Ketika Visha beranjak dari ranjang, Azka menghentikan.

“Tunggu dulu,” ujarnya.

Sudah hampir setengah berdiri, Visha menjatuhkan diri lagi duduk di atas ranjang. Ia kemudian menatap ke arah Azka masih dengan mata sembab.

Bibir Azka bergetar. Ia akhirnya berhasil mengucapkan sesuatu yang akan membuat Visha terkejut.

“S-saya minta maaf,” ucapnya pelan.

Seketika Visha membenarkan posisi duduk. Kali ini tubuhnya penuh menghadap Azka. “Maaf? Untuk apa?” tanya Visha lagi memperjelas.

Ia ingin tahu sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Azka. Permintaan maaf ini juga masih ambigu karena terlalu banyak cabang permasalahan yang tengah terjadi.

Namun ternyata, Azka ingin membicarakan sembari makan malam bersama.

“Kita bicara nanti malam ya. Kita makan di luar. Aku sudah booking di Dharmawangsa Dining,” ujar Azka.

Betapa terkejutnya Visha karena tidak menyangka kalau Azka akan mengajaknya makan malam di tempat mereka merayakan anniversary pernikahan bulan lalu.

Ia sempat menduga kalau Azka mungkin sudah mengingat sesuatu. Ia pun tak bisa menutupi raut ekspresi bahagia dari wajahnya.

***

Malam merambat turun dengan tenang, membungkus kota kecil itu dalam kehangatan lampu-lampu temaram. Setibanya di Dharmawangsa Dining, restoran tetap memancarkan kemewahan khasnya, lilin kecil pada setiap meja. Pelayan melangkah tenang dan alunan musik klasik mengisi ruang dengan elegansi kentara.

Azka dan Visha duduk berhadapan, namun kali ini bukan di sudut eksklusif seperti beberapa waktu lalu. Tak ada sofa kulit empuk atau tirai beludru memisahkan mereka dari pengunjung lain. Mereka memilih meja reguler, di tengah ruangan. Lebih terbuka, terlihat sedikit biasa. Mungkin karena niat mereka pun sederhana, sekadar makan malam.

Namun, tak ada yang benar-benar biasa di tempat seperti ini. Hidangan tersaji nampak kelihatan lezat. Potongan daging dimasak sempurna, saus beraroma tajam dan piring-piring porselen membingkai semua seakan karya seni sempurna.

Mereka menyuap perlahan, diam dalam pikiran sendiri. Azka menatap sejenak, lalu meletakkan garpunya pelan.

“Visha, saya mau minta maaf karena kemarin terlalu egois. Saya tidak memikirkan perasaan kamu,” ucapnya.

Mengambil minuman di meja, Visha mendengarkan ucapan Azka. Ia berpikir lalu menyimpulkan kalau ingatan Azka sepertinya belum kembali.

Dugaan itu karena Azka masih berbicara dengan formal, bukan seperti suami yang ia kenal.

“Terus?” tanya Visha karena melihat Azka tak kunjung melanjutkan kalimat.

“Saya mau coba untuk memperbaiki hubungan kita. Apa kamu bersedia?” ujarnya.

Dengan santai, Visha hanya menjawab singkat.

“Oke.”

Azka protes, “Oke saja? Tidak ada yang lain?”

“Mhh.. Iya. Karena aku tidak mau berharap banyak lagi. Sekarang adalah saatnya kamu yang berusaha untuk mengingat aku,” ungkap Visha sambil sedikit tersenyum lalu makan potongan steak yang sudah tertancap di garpu.

Semula wajah Azka kelihatan tegang, tapi kini ia juga ikut tersenyum.

“Saya paham..”

***

Makan malam sudah selesai. Mereka pun sampai kembali di rumah, Azka membukakan pintu mobil. Meski merasa kalau sikap Azka berlebihan, tapi Visha membiarkan. Ia menghargai upaya Azka untuk lebih perhatian terhadapnya.

Ketika waktu tidur tiba, Visha mengeluarkan selimut, bantal dan guling seperti biasa. Tapi Azka kemudian melarang.

“Tidak perlu dibawa keluar. Saya mau tidur di kamar. Boleh?” ucap Azka.

Walau sedikit terkejut, tapi Visha mengizinkan, bahkan menggoda. “Boleh, tapi dengan satu syarat,” ucapnya.

Azka bertanya lagi, “Apa?”

“Stop pakai kata ‘saya’. Ini rumah, bukan kantor. Pakai aku-kamu saja,” jawab Visha.

“Baiklah,” jawab Azka singkat.

Mereka sekarang sudah tidur di atas satu ranjang. Sama-sama menatap plafon. Awalnya mereka diam, tapi selanjutnya Azka mengajak Visha melakukan perbincangan sebelum tidur.

Obrolan ringan yang sebelumnya sering dilakukan oleh mereka berdua.

“Besok, apa aku boleh minta dimasakin omelet buatanmu?” ujar Azka.

“Kenapa? Baru sebentar, sudah rindu dengan masakanku?” respon Visha kembali menggoda.

Azka terlihat malu-malu. Ia menjelaskan kalau Visha sungguh tega karena telah mengabaikannya. Ia mengaku seperti anak ayam kehilangan induknya pagi tadi.

“Haha, benarkah?” tanya Visha sambil terbahak.

“Pantas saja tadi kamu langsung pulang lalu merayuku, haha,” lanjutnya masih tertawa.

Tidak merasa kesal karena ditertawakan, Azka justru tampak senang melihat Visha seperti ini.

Sejak awal Azka terbangun dari koma, ia belum pernah melihat Visha tertawa, bahkan tersenyum. Ia baru menyadari sebenarnya istrinya merupakan sosok yang periang. Sikap murung kemarin adalah mutlak karena dirinya.

Setelah puas tertawa, suasana menjadi hening. Azka menatap lembut ke arah Visha yang terbaring di sebelah.

Tiba-tiba saja, wajah Azka mulai mendekat. Visha juga ikut terbawa suasana. Azka seperti ingin mencium bibir Visha. Tapi Visha segera menjauhkan wajahnya.

Ia kemudian minta maaf karena merasa hal itu tidak etis dilakukan lantaran Azka belum mengingatnya.

“Maaf ya, aku belum bisa. Kesepakatan kita masih berlaku. Kita boleh melakukannya setelah kamu ingat aku secara utuh,” ujar Visha yang kemudian balik badan.

Azka dapat memahami. Ia juga mencoba untuk tidur menahan rasa malu karena ditolak oleh Visha.

1
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!