NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Semua Orang Mulai Ngomong

Besok paginya, gue bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat ke sekolah — tapi karena gue gak bisa tidur nyenyak semalaman. Pesan misterius itu terus kebayang di kepala. "Farhan nyembunyiin sesuatu..." Apa sih? Dia kan sahabat gue dari SD, gak ada rahasia di antara kita, kan?

Gue jalan ke sekolah sambil natap ke mana-mana, takut ketemu siapa-siapa duluan. Langit cerah, gak ada tanda hujan. Pikir gue, kejadian kemarin bakal lewat gitu aja, dilupain semua orang. Ternyata salah besar.

Baru aja masuk gerbang, semua mata langsung natap gue. Bukan natap biasa — natap sambil bisik-bisik, nunjuk dikit, senyum-senyum aneh. Ada yang ketawa kecil, ada yang ngomong pelan tapi kedengaran.

"Itu dia Amira..."

"Yang kemarin diantar Dimas ya?"

"Katanya Dimas suka sama dia, serius loh..."

Gue nunduk, peluk tas erat-erat, jalan cepat-cepat ke kelas. Rasanya kayak semua orang di sini tau sesuatu yang gak gue tau.

"Mir!"

Sari lari nyamperin dari belakang, napasnya agak ngos-ngosan. Mukanya berseri-seri banget, kayak orang yang baru denger berita paling heboh sedunia.

"Lo denger gak? Semua orang pada ribut satu sekolah!" katanya sambil nyenggol lengan gue.

"Apaan sih? Diem dulu, malu dilihatin orang," bisik gue.

"Kemarin sore di koridor, Dimas nganterin lo, dilihatin belasan orang! Kabarnya Dimas itu nungguin lo dari jam terakhir, sengaja deh! Sekarang semua orang yakin Dimas suka sama lo," cerocos Sari gak berhenti.

"Apaan sih, gak bener! Cuma nawarin doang, gue gak ikut juga," jawab gue, padahal jantung gue langsung kenceng.

"Ya tapi kan dia nungguin lo, Mir! Dimas gitu loh, gak pernah ngasih perhatian ke siapa-siapa!"

Belum sempat gue jawab, suara yang gue kenal kedengaran dari belakang — tenang, dalam, langsung bikin orang di sekitar kami pada diem.

"Pagi, Mir."

Gue nengok. Dimas berdiri di situ, tas selempang di bahu kiri, rambutnya rapi, senyum ke gue kayak gak ada siapa-siapa di sekitar. Padahal anak-anak yang lewat pada pelambat jalan, mau denger apa yang bakal dia bilang.

"Eh... pagi, Dim," jawab gue gugup.

Dia nyamperin pelan, terus ngasih sebotol susu kotak ke gue. "Beli tadi di depan, kebetulan ada dua. Ini buat lo. Biar gak lemes pelajaran pertama."

"Eh, gak usah deh, makasih..." gue gak enak banget nerima, semua orang pada natap.

"Ambil aja, gak enak kalau dibuang. Lagian lo suka yang rasa stroberi kan? Gue denger dari temen sekelas lo kemarin," katanya sambil masukin susunya ke tangan gue sendiri. "Nanti istirahat pertama gue cari lo di kantin ya."

Tanpa nunggu jawaban, dia senyum sekali lagi, terus jalan pergi ke arah kelasnya. Langkahnya tenang, punggungnya tegak — kayak orang yang baru aja bilang sesuatu yang pasti bakal terjadi.

Sari langsung melotot, matanya hampir keluar. "Wih, parah parah parah! Dimas tau lo suka susu stroberi?! Itu di luar dugaan banget!"

Gue megang susunya erat-erat, rasanya panas di tangan. "Gak ada apa-apa, Sar. Percaya deh, cuma ramah aja."

Masuk kelas, gue langsung duduk di tempat biasa. Di sebelah gue, Farhan udah ada di sana. Natap ke luar jendela, diem, mainin pulpen pelan. Biasanya dia yang pertama nyapa, nanya tugas, atau bikin lelucon aneh pas gue datang. Hari ini? Kayak gak sadar gue udah duduk.

"Pagi, Han," sapa gue, naruh tas di meja.

Dia nengok pelan. Matanya langsung jatuh ke susu di meja gue, terus naik ke natap muka gue. Mukanya berubah — datar, senyumnya ilang.

"Itu dari siapa?" suaranya rendah.

"Dimas. Tadi di gerbang," jawab gue jujur, gak mau sembunyiin apa-apa dari dia.

Farhan diem. Tarik napas pelan, buang lewat mulut. "Terima aja?"

"Kan gak enak nolak, dia udah kasih duluan..."

"Yaudah," katanya pendek, langsung buka buku di atas meja. "Gue mau baca dulu."

Sampai bel masuk, sampai pelajaran dimulai, sampai guru masuk — dia gak natap gue lagi. Gue nanya hal kecil, dijawab "iya" atau "gak tau". Beda banget sama biasanya yang paling ribut di kelas. Gue curi-curi pandang, lihat dia nulis di buku — tulisannya rapi banget, terlalu rapi, kayak orang yang lagi nahan emosi.

Pas bel istirahat bunyi, Sari langsung narik tangan gue. "Ayo ke kantin sekarang! Katanya Dimas mau nungguin lo di sana, gue mau lihat dari deket!"

"Siapa yang bilang gue mau ketemu dia?" protes gue tapi tetep ikut jalan.

Baru aja melangkah keluar kelas, tangan gue ditarik pelan dari belakang.

Gue nengok. Farhan berdiri di situ, bawa dua piring dari kantin — satu nasi goreng, satu mie goreng. Masih panas, uapnya naik.

"Udah gue beliin," katanya, suaranya tenang tapi pasti. "Duduk di tempat biasa aja. Kan lo gak suka nasi goreng di meja dia, kebanyakan gula, bikin mual."

Gue kaget. Dia hafal banget hal kecil kayak gitu.

"Eh... makasih ya, Han. Tapi..." gue natap ke arah pintu, bingung.

"Gue udah bayar juga mie lo," Sari nyeletuk sambil senyum, terus jalan duluan ke meja belakang. "Ayo duduk sana, gue gabung bentar."

Tapi Dimas udah berdiri di dekat pintu kantin, natap gue. Dia jalan mendekat, semua orang pada minggir dikit.

"Bentar, Mir. Gue udah pesenin lo jus jeruk di meja," katanya lembut, terus natap Farhan. "Boleh aja Farhan ikut gabung, gak masalah. Semua orang boleh duduk di mana aja."

Farhan natap Dimas, gak kedip. Tangannya yang megang piring kenceng banget. "Makasih, tapi kita udah biasa duduk di tempat lama. Kan, Mir?"

Dia natap gue. Matanya bukan marah — tapi takut. Takut gue ninggalin dia buat duduk sama orang lain.

Suasana jadi hening di sekitar kami. Beberapa anak pada berhenti makan, natap bertiga. Gue ngerasa semua mata di ruangan ini natap ke gue, nungguin keputusan.

Gue tarik napas panjang. "Makasih ya, Dim... lain kali aja hari ini. Gue udah dibeliin makan sama Farhan."

Wajah Dimas turun dikit, tapi dia tetep senyum, gak kehilangan wibawa. "Oke, gak apa-apa. Nanti aja kalau lo udah senggang. Gue tunggu."

Dia balik ke mejanya, tenang.

Farhan langsung duduk di sebelah gue, naruh piring di meja. Sepanjang makan dia diem, tapi dia terus pindahin potongan telur di nasinya ke piring gue — tanpa ngomong, tanpa natap, kayak refleks. Dia selalu tau gue suka bagian kuning telurnya.

"Han..." panggil gue pelan pas udah mau habis.

"Hmm?" dia ngunyah pelan, natap ke depan.

"Lo cemburu ya?"

Farhan berhenti makan. Sendoknya berhenti di udara. Dia diem lama banget, sampe gue malu sendiri nanya.

"Gue gak cemburu, Mir..." suaranya pelan tapi jelas, berat. "...gue cuma takut. Lo lupa siapa yang selalu di sini pas lo gak punya siapa-siapa. Pas lo sakit, pas lo dihina orang, pas lo gagal ujian. Bukan dia."

Gue diem. Lidah gue berat. Dia bener. Semua hal berat yang gue lewati — dia yang ada. Bukan orang lain.

Pas gue mau lanjut makan, HP gue di saku bergetar. Satu pesan masuk. Dari nomor gak dikenal lagi.

Gue buka pelan-pelan, jantung mulai kenceng.

"Lo kira Farhan bener-bener baik? Dia temenin lo cuma karena dia bersalah, Mir. Tanya aja soal kecelakaan dua tahun lalu."

Tangan gue dingin. HP hampir jatuh ke meja.

Dua tahun lalu... kecelakaan yang bikin gue hampir berhenti sekolah. Yang gak pernah gue ceritain ke siapa-siapa selain Farhan.

Kenapa orang lain tau? Dan apa hubungannya sama dia?

Gue natap Farhan di sebelah. Dia masih makan pelan, diem, gak tau apa yang baru aja gue baca.

Tapi pas dia natap ke arah pintu kantin...

Wajahnya tiba-tiba pucat.

Dia kaku di tempat, sendoknya jatuh berdentang di piring.

"Han? Lo kenapa?" tanya gue kaget.

Dia gak jawab. Matanya terpaku ke satu arah di pintu masuk.

Gue ikut nengok.

Di sana, berdiri seorang cewek yang gak pernah gue lihat sebelumnya. Rambutnya panjang, matanya merah sembab, dan dia natap tepat ke arah Farhan.

Langsung ke arah gue juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!