Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suara roda brankar yang beradu dengan lantai keramik menggema di sepanjang lorong rumah sakit, membuat suasana semakin menegangkan. Di atas brankar itu, seorang wanita terbaring lemah dengan tubuh penuh luka. Dokter dan perawat yang mengelilinginya saling bertukar pandang dengan wajah cemas melihat kondisinya yang semakin memburuk.
"Bu, apakah Ibu masih bisa mendengar suara saya?" tanya seorang dokter sambil berjalan di samping brankar. "Kondisi Ibu gawat darurat. Apa ada keluarga yang bisa kami hubungi?"
Rani yang terbaring lemas hanya mampu mengangkat tangannya dengan susah payah dan menunjuk saku pakaiannya. Perawat yang berada di samping sang dokter segera mengerti. Setelah mendapat izin dari anggukan lemah Rani, ia mengambil ponsel wanita tersebut dan membuka kuncinya menggunakan pemindai wajah. Jemarinya bergerak cepat mencari nomor keluarga yang bisa dihubungi.
"Halo, apakah Anda keluarga dari pemilik ponsel ini?" tanyanya begitu sambungan tersambung.
Dari seberang hanya terdengar deheman singkat.
"Bisakah Anda datang ke Rumah Sakit Harapan? Pemilik ponsel ini dalam kondisi kritis dan harus segera menjalani operasi."
Namun jawaban yang diterimanya justru membuat langkahnya terhenti.
"Anda tidak perlu menemani Bu Rani berakting. Tapi kalau benar kondisinya kritis, hubungi saya lagi saat dia sudah mati."
Perawat itu tercengang. Ia bahkan belum sempat membalas ketika sambungan telepon diputus begitu saja. Menahan rasa tidak nyaman, ia kembali membuka daftar kontak dan mencoba menghubungi nomor lain yang tersimpan dengan nama Anak Pertama, Anak Kedua, dan Anak Ketiga.
Sayangnya, hasilnya tidak jauh berbeda. Tidak ada satu pun yang terdengar khawatir dan tidak ada yang berniat datang. Semua memberikan tanggapan dingin yang nyaris sama seperti pria pertama yang dihubunginya, yang belakangan ia ketahui adalah suami Rani.
Pintu ruang gawat darurat tiba-tiba terbuka. Seorang dokter yang baru masuk langsung menghentikan langkahnya saat melihat pasien di atas brankar.
"Itu Rani? Apa yang terjadi?" tanyanya terkejut.
"Wanita ini diduga mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai sepuluh, Dok," jawab seorang perawat. "Kondisinya kritis dan harus segera dioperasi. Tapi keluarganya sama sekali tidak peduli."
Raut wajah dokter Rico langsung berubah tegang. Tanpa membuang waktu, ia mengambil alih keadaan.
"Segera siapkan ruang operasi," perintahnya tegas. "Untuk masalah administrasi dan biaya, saya yang akan bertanggung jawab."
***
Seminggu berlalu sejak operasi itu dilakukan. Rani masih terbaring tak sadarkan diri di ruang perawatan intensif. Selama tujuh hari itu, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang datang menjenguk atau sekadar menanyakan kabarnya. Hanya Rico yang selalu menyempatkan diri datang setelah menyelesaikan tugasnya di rumah sakit.
Sore itu, pria tersebut duduk di samping ranjang Rani sambil memandangi wajah wanita yang dulu begitu dikenalnya.
"Rani, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" gumamnya pelan. "Kenapa sampai seperti ini? Bangunlah. Apa pun masalahmu, aku akan membantumu menyelesaikannya."
Tatapan Rico dipenuhi rasa iba. Namun beberapa detik kemudian matanya membelalak saat melihat jemari Rani bergerak. Kelopak mata wanita itu perlahan terbuka sebelum akhirnya ia bangun hingga posisi setengah duduk.
"Astaga!" seru Rico refleks.
Suara itu membuat Rani menoleh. Dengan wajah bingung, ia melepas masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya lalu menatap Rico cukup lama.
"Ric? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Rani penasaran.
Rico tidak menjawab. Ia justru buru-buru memeriksa kondisi Rani, memastikan kesadarannya benar-benar telah kembali.
"Apa sih?" Rani mengernyit tidak suka. "Aku baik-baik saja."
"Ran, jangan banyak bergerak dulu," cegah Rico dengan nada penuh khawatir.
"Aku bilang aku baik-baik saja." Rani menepis tangan Rico lalu melihat sekeliling ruangan dengan bingung. "Tunggu, aku harus segera ke ruang Dokter Roy. Aku belum menyelesaikan koasku."
Setelah mengatakan itu, ia bahkan berusaha melepaskan selang infus yang terpasang di tangannya.
"Ran!" Rico segera menahannya.
"Apa lagi?" keluh Rani. "Aku sudah terlambat. Dokter Roy pasti marah."
Mendengar itu, Rico seketika terdiam. Ada sesuatu yang terasa janggal, sangat janggal.
"Ran," panggilnya hati-hati. "Menurutmu sekarang tahun berapa?"
Rani menatapnya heran seolah sedang melihat orang aneh.
"Tahun dua ribu enam belas, tentu saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Ia mendengkus kesal. "Sudahlah, jangan ikut mengujiku. Dokter Roy saja sudah cukup membuatku stres."
Jantung Rico seolah berhenti berdetak sesaat. Sebagai seorang dokter, ia langsung memahami apa yang sedang terjadi. Rani mengalami amnesia.
Wanita itu tidak mengingat kehidupannya sepuluh tahun terakhir dan sama sekali tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu jauh. Ia tidak mengingat pernikahannya dengan Roy, tidak mengingat bahwa dirinya telah menjadi ibu tiri bagi anak-anak Roy, dan tidak mengingat semua kejadian yang telah menghancurkan hidupnya hingga membuatnya memilih mengakhiri hidup.
Rani yang melihat tatapan Rico kini baru menyadari sesuatu. Ya, wajah Rico tampak lebih tua sepuluh tahun.
"Ric, sejak kapan kamu melakukan operasi wajah? Apa ini sedang tren?" tanya Rani.
"Kamu harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut, Ran. Akan kupanggil dokter saraf sekarang juga."
Mata Rani menyempit. Seingatnya, dirinya pingsan karena kelelahan, tetapi kenapa Rico ingin memanggil dokter saraf? Lalu, tanpa sengaja ia melihat kaca kecil di ruangan itu dan menangkap pantulan wajahnya sendiri.
"Ric, i-itu siapa?" tanyanya lagi dengan terkejut.
Rico mengikuti arah telunjuk Rani. "Itu kamu, Ran."
"Apa? Aku?" Rani menelan ludah kasar. Dulu ia adalah wanita cantik, modern, dan memiliki kehidupan yang cerah. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Wanita tua yang kusut.
"Aku rasa kamu mengalami amnesia, Ran. Kamu melupakan semua kejadian dalam sepuluh tahun terakhir. Sekarang sudah tahun dua ribu dua puluh enam, bukan dua ribu enam belas."
"Apa?" ucapnya, lebih terkejut dibandingkan saat melihat wajahnya sendiri tadi.
Rani ingin menggerakkan kakinya, tetapi rasa sakit langsung menjalar. Punggung dan kepalanya juga berdenyut nyeri. Kini ia baru benar-benar menyadari keadaannya.
"Jadi, kenapa aku bisa begini? Lalu apa yang terjadi padaku?" tanyanya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu alami, Ran. Sejak kamu menikah sepuluh tahun yang lalu, kamu menghindari kami semua. Kamu bahkan tidak pernah aktif lagi di organisasi IDI. STR-mu pun tidak pernah kamu perbarui lagi," jelas Rico.
Kepala Rani terasa semakin pusing. Menjadi dokter adalah impiannya sejak kecil, tetapi kenapa ia justru mengabaikan semuanya? Ia juga sudah mati-matian mengambil spesialis anak, tetapi kenapa ia malah menikah dan menjadi wanita tak berguna seperti ini?
Tunggu.
Menikah?
Kata itu terdengar begitu asing hingga membuat Rani bertanya-tanya siapa pria yang telah menjadi suaminya. Akhirnya, ia bertanya pada Rico, "Lalu siapa suamiku?"
"Dokter Roy," jawab Rico yang langsung membuat mata Rani berbinar.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏