Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kelam di Rumah Mertua
Suara petir menggelegar dahsyat, membelah langit malam yang pekat di atas Rumah Sakit Umum Daerah. Hujan turun begitu lebat, seolah ikut merasakan duka nestapa yang sedang terjadi di dalam salah satu kamar bersalin yang temaram. Di atas ranjang besi yang dingin, Aisha terbaring lemas. Keringat dingin, peluh, dan air mata bercampur baur di wajahnya yang pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat setelah melewati proses persalinan yang mempertaruhkan nyawa selama belasan jam.
Namun, alih-alih pelukan hangat atau kecupan penuh syukur dari sang suami, keheningan mencekam yang justru menyambutnya. Di samping tempat tidur, berdiri dua orang yang paling ia takuti: Ibu Ratna, ibu mertuanya, dan Taufik, suaminya. Keduanya menatap Aisha dengan pandangan yang begitu dingin dan menusuk.
"Di... di mana bayiku? Tolong, aku ingin memeluk anakku..." bisik Aisha dengan suara parau yang nyaris habis. Tangannya yang gemetar menggapai-gapai udara, berharap ada sosok mungil yang diletakkan di dadanya.
Ibu Ratna mendengus kasar, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh. Sementara Taufik memalingkan wajah ke arah jendela, sama sekali enggan menatap mata istrinya yang penuh harap.
"Tidak usah kau cari anak itu," kata Ibu Ratna dengan nada suara yang datar dan tanpa beban. "Anakmu sudah mati. Jantungnya berhenti sesaat setelah keluar dari rahimmu. Dasar wanita pembawa sial, melahirkan anak saja tidak becus!"
Bagai dihantam godam besar, dunia Aisha runtuh seketika. Jantungnya mencelos, dan napasnya mendadak berhenti. Air mata yang sempat mengering kini tumpah kembali bagai air bah. Dada Aisha terasa sangat sesak, bukan hanya karena duka yang menghancurkan jiwanya, tetapi juga karena fisiknya. Payudaranya mulai mengencang, berdenyut nyeri karena mulai memproduksi ASI—cairan kehidupan yang seharusnya menjadi hak milik bayi mungilnya.
"Tidak mungkin! Kebohongan apa lagi ini?!" jerit Aisha histeris, mengabaikan rasa perih pada luka jahitan di tubuhnya. Ia merangkak maju, menarik ujung baju Taufik dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Taufik, katakan padaku itu tidak benar! Tadi... tadi sebelum aku pingsan, aku sempat mendengar suara tangisannya! Dia masih hidup, Taufik! Di mana anakku?!"
Taufik menepis tangan Aisha dengan sentakan kasar hingga wanita itu terjerembap kembali ke bantal. "Ibuku benar, Aisha. Anak itu sudah meninggal dan sudah langsung diurus pemakamannya. Sudahlah, tidak usah banyak bertingkah. Dan satu lagi... hubungan kita selesai sampai di sini. Aku tidak mau punya istri yang penyakitan, miskin, dan pembawa sial seperti kamu. Besok, aku akan urus perceraian kita."
Hari itu, tanpa belas kasihan sedikit pun, Aisha yang masih dalam kondisi lemah pasca-melahirkan diusir paksa. Bahkan pakaian bayinya pun dibuang ke tempat sampah oleh sang mertua.
---
Tiga hari telah berlalu. Hujan seolah tak pernah benar-benar reda di ibu kota, sama seperti air mata Aisha yang terus mengalir tanpa henti. Ia berjalan terombang-ambing di atas trotoar jalanan yang sepi. Tubuhnya yang kurus hanya dibalut daster tipis yang sudah basah kuyup oleh air hujan. Di tangan kirinya, ia mencengkeram sebuah tas kain kecil berisi beberapa lembar pakaian bekas miliknya.
Luka fisiknya masih terasa nyeri luar biasa setiap kali ia melangkah, namun rasa sakit itu mati rasa, kalah jauh oleh kehampaan dan rasa hancur di dalam dadanya. Setiap kali mengingat kata-kata kejam suami dan mertuanya, dada Aisha berdenyut perih. Bajunya di bagian dada tampak basah, membentuk noda lingkaran putih yang terus merembes. Air susunya keluar dengan deras, menuntut untuk dikeluarkan.
Aisha terduduk lemas di sebuah halte bus yang sepi dan gelap. Ia memeluk lututnya, menggigil hebat di tengah dinginnya angin malam yang menusuk tulang.
"Mengapa... mengapa air susu ini terus mengalir jika bayiku sudah tidak ada?" ratap Aisha dalam hati, terisak di tengah suara gemuruh hujan. "Tuhan, jika Engkau mengambil anakku, mengapa Engkau menyiksaku dengan cara seperti ini? Untuk siapa semua ini..."
Pandangan Aisha mulai berputar. Kesadarannya perlahan-lahan menipis akibat demam tinggi dan rasa lapar yang mendera selama tiga hari terakhir.
---
Sementara itu, di sisi lain kota yang gemerlap, sebuah mobil jip mewah membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju sebuah kawasan perumahan elite. Di dalam sebuah mansion megah bak istana, suasananya justru sangat mencekam.
Di dalam kamar bayi yang didekorasi dengan sangat mewah, suara tangisan bayi berusia satu minggu terdengar melengking, memecah kesunyian malam. Bayi itu adalah Kael, putra tunggal dari Adrian, seorang CEO muda berusia tiga puluh tahun yang terkenal dingin dan berkuasa di dunia bisnis. Malang bagi Kael, ibunya meninggal dunia tepat setelah melahirkannya akibat komplikasi berat.
Adrian, dengan kemeja kerja yang sudah kusut, dasi yang telah dilonggarkan, dan raut wajah penuh frustrasi, terus berjalan mondar-mandir sambil menggendong Kael. Ia mencoba menimang putranya, namun tangisan bayi itu justru semakin histeris. Di lantai kamar, belasan botol susu formula dari berbagai merek mahal berserakan begitu saja.
"Tuan Adrian, Den Kael tetap menolak susu formulanya. Beliau memuntahkan semuanya dan sekarang... badannya mulai terasa hangat, Tuan," ucap Bi Asih, asisten rumah tangga senior di rumah itu, dengan wajah yang pucat karena cemas.
Adrian menatap wajah putranya yang mulai memerah akibat terlalu lama menangis. Guratan kepanikan terlihat jelas di matanya yang biasa elang dan tajam. "Panggil dokter anak terbaik ke sini sekarang juga! Mengapa dari kemarin tidak ada satu pun susu formula yang bisa masuk ke perutnya?! Apa kalian tidak becus mengurus bayi?!" bentak Adrian, suaranya yang berat berwibawa menggelegar, membuat para pelayan menunduk ketakutan.
Tak lama kemudian, dokter pribadi keluarga Adrian tiba dan langsung memeriksa kondisi bayi Kael yang kian melemah. Setelah memeriksa detak jantung dan suhu tubuh sang bayi, dokter itu berbalik menatap Adrian dengan tatapan serius seraya menggelengkan kepala.
"Tuan Adrian, kondisi bayi Kael sudah sangat kritis. Tampaknya ada penolakan emosional dan fisik yang sangat kuat dari dalam tubuhnya. Sistem pencernaannya menolak keras semua jenis susu formula, baik susu sapi murni maupun soya. Jika dalam waktu dua puluh empat jam ke depan dia tidak mendapatkan ASI alami dari manusia, organ tubuhnya bisa mengalami dehidrasi akut dan gagal fungsi. Nyawanya bisa terancam."
Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. "ASI alami? Istriku sudah meninggal, Dokter! Lalu dari mana aku harus mendapatkan ASI sekarang juga?!"
"Kita harus mencari **Ibu Susu**, Tuan. Seseorang yang baru saja melahirkan dan memiliki kualitas ASI yang baik," jawab dokter memberikan solusi tunggal.
Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan badai di kepalanya. Demi anak tunggalnya, demi darah dagingnya, ia akan melakukan apa saja. "Bi Asih! Kerahkan semua orang. Cari wanita mana saja di kota ini yang baru melahirkan dan sehat. Aku tidak peduli latar belakangnya! Bayar berapa pun yang mereka minta, ratusan juta bahkan miliaran akan aku berikan! Yang penting, selamatkan anakku malam ini juga!"
---
Menjelang subuh, hujan mulai mereda menjadi rintik-rintik tipis yang dingin. Di halte bus yang gelap, tubuh Aisha sudah terkulai lemas di atas bangku semen. Kesadarannya telah hilang sepenuhnya, wajahnya seputih kertas, dan tubuhnya menggigil dalam sisa-sisa demam.
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil hitam mewah milik keluarga Adrian melaju membelah jalanan sepi di depan halte tersebut. Bi Asih yang duduk di dalam mobil bersama sopir, terus mengedarkan pandangan ke luar jendela dengan panik, mencari informasi atau petunjuk tentang keberadaan ibu susu yang diperintahkan oleh majikannya.
Tepat saat mobil melewati halte, lampu sorot mobil menangkap siluet tubuh seorang wanita yang tergeletak pingsan.
"Pak, berhenti! Berhenti sejenak!" seru Bi Asih tiba-tiba, membuat sopir menginjak rem dengan mendadak.
Naluri seorang ibu membuat Bi Asih bergegas turun dari mobil dan menghampiri wanita yang tergeletak itu. Namun, saat Bi Asih menyentuh tubuh Aisha yang dingin, matanya tidak sengaja tertuju pada bagian dada daster Aisha yang basah kuyup oleh noda putih susu yang kental.
Bi Asih menutup mulutnya terkejut, matanya berbinar di tengah kepanikan. "Astagfirullah... wanita ini baru saja melahirkan! Ini... ini ASI!"
Tanpa membuang waktu, Bi Asih berteriak memanggil sang sopir. "Pak! Cepat bantu saya! Angkat wanita ini ke dalam mobil! Kita harus membawanya ke rumah Tuan Adrian sekarang juga! Tuhan telah mengirimkan jalan untuk Den Kael!"
Mobil mewah itu pun segera melesat membelah sisa malam, membawa Aisha yang tak sadarkan diri menuju takdir baru yang akan mengubah seluruh hidupnya.
---
Bersambung