NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Langkah Lukas terasa berat seiring ia melintasi lorong marmer yang mengkilap di kediaman keluarga Chandra. Udara di dalam rumah besar itu selalu terasa dingin—bukan hanya karena pendingin ruangan yang disetel sangat rendah, melainkan karena keheningan yang kaku, seolah setiap sudutnya menyimpan pandangan yang menghakimi. Di tangannya, ia masih memegang segelas air putih yang baru dituangnya lima menit lalu; ibu angkatnya, Nyonya Chandra, memanggilnya dengan nada yang belum pernah ia dengar sebelumnya: dingin, tajam, dan tak menyisakan ruang untuk ragu.

“Masuk. Orang tuamu ingin bicara.”

Kata-kata itu diucapkan tanpa menoleh sedikit pun, matanya tetap terpaku pada layar tablet di pangkuannya, seolah keberadaan Lukas hanyalah debu yang tak layak diperhatikan.

Lukas menarik napas panjang sebelum mendorong pintu ruang tamu utama yang berukuran besar itu terbuka. Ruangan itu biasanya hanya digunakan untuk menyambut tamu penting—rekan bisnis, pejabat, atau kerabat jauh yang datang membawa hadiah mewah. Hampir sepanjang hidupnya di sini, Lukas hanya pernah duduk di sudutnya sekali atau dua kali, dan selalu dengan perasaan segan seolah ia tak berhak menapakkan kakinya di atas karpet tebal berwarna krem itu.

Kini, Tuan Chandra sudah duduk di kursi utama, punggungnya tegak kaku, wajahnya tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Nyonya Chandra telah duduk dengan tangan saling bertaut di pangkuan, bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus yang keras. Di hadapan mereka, di atas meja kayu jati yang mengkilap, hanya ada satu tas ransel usang tas yang dulu dibawanya dari panti asuhan saat diadopsi sepuluh tahun lalu. Tas itu sudah kusam, jahitan di bagian bahu kanannya sudah mulai lepas, dan logo di bagian depannya sudah pudar tak terbaca.

“Duduk,” ucap Tuan Chandra singkat, menunjuk kursi tunggal di hadapan mereka.

Lukas duduk perlahan, jantungnya berdegup kencang di dalam dada. Ia berusaha menenangkan diri, berpikir mungkin mereka hanya ingin menegurnya karena nilai ujiannya yang turun sedikit bulan lalu, atau karena ia lupa menyiram tanaman di halaman belakang seperti yang disuruh. Namun saat matanya bertemu dengan tatapan tajam pria yang selama ini ia panggil “Ayah” itu, ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih buruk sedang terjadi.

“Kami sudah memikirkannya lama,” buka Tuan Chandra, suaranya datar tanpa nada perasaan sedikit pun. “Kamu tidak pantas tinggal di sini.”

Lukas tertegun sejenak, tak yakin apakah telinganya mendengar dengan benar. “Apa… maksud Ayah?”

“Dengar baik-baik,” potong Nyonya Chandra, suaranya melengking sedikit, seolah menahan rasa jijik. “Keluarga Chandra tidak pernah memelihara orang yang tidak berguna. Selama sepuluh tahun ini kami sudah memberimu tempat tinggal, makanan, dan pakaian—lebih dari yang pantas kamu dapatkan. Tapi apa balasanmu? Kamu hanya membebani kami. Kamu tidak punya bakat, tidak punya koneksi, dan yang paling penting… kamu tidak membawa keberuntungan sama sekali.”

Kata-kata itu menghantam Lukas seperti pukulan berat. Ia ingin membantah, ingin bertanya sejak kapan ia dianggap membebani—ia selalu membantu pekerjaan rumah tanpa disuruh, belajar hingga sering mendapat nilai tertinggi di kelas, tak pernah meminta barang mewah seperti yang diminta anak-anak lain. Namun sebelum sempat kata keluar dari mulutnya, Tuan Chandra kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih keras dan tak terbantahkan.

“Jangan berpura-pura tidak tahu. Sejak kamu datang ke rumah ini, bisnis kami mengalami banyak kendala. Kerugian, persaingan yang makin ketat, bahkan kesepakatan yang seharusnya pasti batal begitu saja. Semua orang bilang kamu membawa nasib buruk. Dan kami tidak akan membiarkanmu merusak nama baik serta kekayaan keluarga Chandra lebih jauh lagi.”

“Itu tidak benar…” suara Lukas keluar pelan, hampir bergetar. “Saya tidak pernah bermaksud merusak apa pun. Saya selalu berusaha menjadi anak yang baik…”

“Cukup!” bentak Nyonya Chandra, matanya menyala marah seolah kata-kata itu adalah penghinaan terbesar. “Kamu bukan anak kami! Kami hanya mengasihanimu dulu, tapi ternyata kami salah besar. Sekarang waktunya kamu pergi. Dan jangan pernah kembali lagi ke sini, atau berani-berani menyebut dirimu bagian dari keluarga Chandra di depan siapa pun.”

Udara di ruangan itu terasa semakin menyesakkan. Lukas menatap wajah kedua orang yang selama ini ia anggap orang tuanya, berharap melihat sedikit pun keraguan, sedikit pun rasa bersalah di sana. Namun yang ia temukan hanyalah kedinginan yang tak tertembus, seolah mereka sedang berbicara dengan orang asing yang tak berharga sama sekali.

“Kenapa tiba-tiba begini?” tanyanya, matanya mulai berkaca-kaca meski ia berusaha menahannya. “Apakah ada hal lain yang Ayah dan Ibu sembunyikan? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Tuan Chandra berdiri perlahan, lalu mendorong tas ransel usang itu ke pinggir meja hingga hampir jatuh ke lantai.

“Tidak ada yang perlu kamu ketahui. Semua yang perlu kamu tahu sudah kukatakan. Ini semua barangmu. Kami tidak menyisakan apa pun—karena kamu memang tidak berhak atas apa pun yang ada di rumah ini.” Ia berhenti sejenak, menatap Lukas dengan tatapan yang tajam namun sekilas tampak gelisah, seolah ada sesuatu yang ia hindari untuk dilihat lebih dalam. “Pergilah sekarang. Pintu depan sudah terbuka. Jangan buat kami memanggil satpam untuk mengusirmu dengan kasar.”

Lukas menatap tas itu, lalu kembali menatap mereka. Ada begitu banyak pertanyaan yang menumpuk di kepalanya—mengapa pengusiran ini begitu tiba-tiba? Mengapa mereka berbicara seolah membuang sampah? Mengapa tatapan Tuan Chandra tadi terlihat seperti orang yang sedang berusaha menyembunyikan ketakutan? Namun ia sadar, tidak ada gunanya bertanya lebih lama lagi. Mereka sudah mengambil keputusan, dan tak ada satu pun kata yang bisa mengubahnya.

Dengan tangan gemetar, Lukas berjalan mendekati meja, mengambil tas ransel itu. Tali tas itu terasa kasar di telapak tangannya, seolah mengingatkannya pada satu-satunya hal yang masih menjadi miliknya di dunia ini. Ia tidak tahu apa saja yang ada di dalamnya—mungkin hanya beberapa pakaian lama, buku catatan sekolahnya, dan foto kecil yang ia ambil diam-diam dari panti asuhan dulu.

Ia berjalan menuju pintu keluar, langkahnya terasa berat seolah ada beban berat di pundaknya. Saat ia melintasi ambang pintu ruang tamu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.

“Terima kasih untuk sepuluh tahun ini,” ucapnya pelan, suaranya tak lagi bergetar, namun penuh kepahitan yang tak sempat ia tumpahkan. “Semoga Ayah dan Ibu tidak menyesali keputusan ini suatu hari nanti.”

Nyonya Chandra hanya mendengus dan memalingkan wajah. Tuan Chandra diam saja, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya—sebuah gerakan kecil yang tak disadari Lukas, yang mengungkapkan bahwa di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang sedang ia perjuangkan untuk ditutupi.

Lukas keluar dari ruangan itu, melangkah menuju pintu depan yang besar dan megah itu. Satpam yang biasanya menyapanya dengan senyum kini hanya menundukkan pandangan, tak berani menatapnya—seolah mereka juga sudah diberi perintah untuk tak menghiraukannya lagi.

Saat pintu depan itu terbuka lebar, angin sore yang kencang menerpa wajahnya. Langit di atas kota Palu tampak kelabu, awan gelap berkumpul rapat seolah akan segera turun hujan deras. Di belakangnya, pintu besar itu ditutup perlahan, lalu terdengar bunyi klik yang berat—kunci pintu diputar rapat.

Bukan hanya pintu rumah yang tertutup. Pintu satu-satunya tempat yang ia sebut rumah selama ini, kini tertutup rapat di belakangnya. Tanpa jalan kembali.

Lukas berdiri di depan pagar besi tinggi yang mengelilingi kediaman keluarga Chandra, menatap bangunan besar itu sekali lagi. Dulu ia sering membayangkan suatu hari nanti ia akan berjalan keluar dengan kebanggaan, membawa kesuksesan untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi orang yang berguna. Namun kini ia keluar sebagai orang yang dibuang, dianggap tidak berharga, dan tak tahu harus melangkah ke mana.

Ia meraba saku tasnya—tidak ada sepeser pun uang di sana. Tidak ada kartu identitas baru, tidak ada alamat kerabat yang bisa ia tuju. Semua jejak yang menghubungkannya dengan masa lalu seolah sengaja dihapus.

Hujan mulai turun perlahan, tetesnya dingin menyentuh kulit. Lukas memeluk tas ranselnya erat-erat, lalu berjalan perlahan menjauhi pagar itu. Langkahnya tak memiliki tujuan, tak memiliki arah—hanya berjalan terus, menjauhi tempat yang telah memberinya tempat berlindung sekaligus mengucilkannya dari dunia luar.

Di kejauhan, dari balik jendela lantai dua, sepasang mata mengawasi sosok yang berjalan menjauh itu. Tuan Chandra berdiri diam di balik tirai, napasnya berat. Ia tahu apa yang baru saja ia lakukan adalah salah besar. Ia tahu kata-kata yang diucapkannya tadi hanyalah alasan yang dibuat-buat—alasan untuk menutupi kenyataan yang jauh lebih mengerikan.

Namun ia tak punya pilihan. Jika Lukas tetap tinggal di sini, bahaya yang mengancamnya akan jauh lebih besar daripada sekadar dibuang ke jalanan.

“Maafkan aku, Lukas,” bisiknya pelan, hanya bisa didengar oleh angin yang masuk melalui celah jendela. “Bertahanlah. Dan temukanlah kebenaran yang kami sembunyikan darimu.”

Sementara itu, Lukas terus berjalan di bawah guyuran hujan yang makin deras. Ia belum tahu bahwa pengusiran ini bukanlah akhir dari hidupnya—melainkan awal dari perjalanan panjang untuk menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya, dan mengapa dunia ini berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan identitas aslinya.

Pintu yang baru saja tertutup rapat itu, kelak akan terbuka kembali—bukan untuk membiarkannya masuk sebagai anak yang dibuang, melainkan sebagai pemilik hak yang selama ini dirampas darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!