NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28

***

Riuh tabuhan tifa dan gema lagu sukacita warga perlahan mulai menyurut ditelan keheningan malam yang kian melarut. Setelah melalui serangkaian prosesi adat tiga hari tiga malam yang menyita seluruh tenaga, perayaan di pelataran desa akhirnya berangsur sepi. Rangga Wira memboyong Melani menuju Rumah Adat Utama—bangunan kayu cendana yang megah, luas, dan kokoh di puncak tertinggi pemukiman.

Melani melangkah pelan menaiki tangga kayu berukir, jemari lentiknya meremas kain tenun emas yang terasa kian berat di tubuhnya. Rumah kayu itu terasa begitu hening, hangat, dan megah. Pendar lampu minyak memantulkan rona keemasan di atas lantai kayu yang licin berseri. Aroma harum kayu cendana berpadu semerbak dengan ronce bunga melati hutan yang tergantung di setiap sudut ruangan.

Saat Rangga menutup pintu kayu tebal dan menguncinya dari dalam, suara slot selot besi beradu menembus keheningan.

Cklik.

Melani tersentak kecil, tubuhnya mendadak membeku di tengah ruangan. Jantungnya berdegup kencang bagaikan genderang perang. Meskipun ia adalah seorang bidan terlatih yang memahami anatomi tubuh manusia secara medis luar dan dalam, berada sendirian di dalam kamar luas ini bersama pria tegap yang kini sah menjadi suaminya membuat seluruh teori kedokterannya lebur tak berbekas. Rasa canggung, malu, dan kepolosan murni membanjiri dadanya, membuat pipinya membara merah pekat.

Rangga Wira memutar tubuhnya. Manik mata hitamnya yang tajam namun penuh kelembutan menatap sosok istrinya yang berdiri kaku membelakanginya. Rangga menyunggingkan senyum amat tampan, melangkah pelan tanpa suara mendekati Melani.

"Kenapa berdiri membeku di sana, Dinda?" bisik Rangga dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan terasa begitu dekat di belakang telinga Melani.

Melani memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri. "M-Mas Rangga... saya... saya hanya canggung."

Rangga merengkuh bahu tegap Melani secara perlahan, membimbing tubuh molek istrinya untuk berpaling menghadapnya. Jemari kekar Rangga terangkat, mengusap pelan pipi Melani yang terasa amat hangat.

"Tidak ada yang perlu ditakutkan, Istriku," tutur Rangga penuh kelembutan mutlak. "Di ruangan ini, hanya ada saya... suamimu, yang akan selalu memuliakan dan menjagamu."

Rangga menuntun Melani duduk di tepi peraduan kayu yang luas, dialasi kain sutra putih dan selimut tenun tebal bermotif sakral. Dengan sangat sabar dan telaten, Rangga melepaskan mahkota permaisuri adat yang berat dari kepala Melani, membiarkan rambut hitam panjang istrinya terurai indah menutupi bahunya. Jemari kekarnya kemudian membuka satu per satu perhiasan emas dan mahkota kecil, membungkuk pelan untuk mencium lembut kedua punggung tangan Melani.

"Terima kasih, Melani-ku..." bisik Rangga tulus, menatap dalam-dalam sepasang mata jernih yang berkaca-kaca di hadapannya. "Terima kasih telah memilih tanah ini, dan terima kasih telah sudi menjadi rumah bagi jiwa saya."

"Mas Rangga..." bisik Melani lirih, dadanya berdesir hebat oleh pendar kasih sayang yang tiada tara.

Namun, begitu jemari hangat Rangga perlahan membuka kancing kemeja kurung tenunnya dan membiarkan kain halus itu tersingkap, Melani menahan napasnya. Ketakutan yang samar kembali merayapi pikirannya.

"Mas... saya... saya takut," aku Melani jujur, suaranya bergetar menahan malu. "Saya tahu teorinya sebagai bidan... tapi... tapi ini pertama kalinya bagi saya."

Rangga Wira terkekeh pelan—sebuah tawa amat rendah yang terasa begitu seksi dan menenangkan. Pria tegap itu menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan Melani, lalu mengecup lembut bibir merah muda istrinya.

"Lupakan teori bidanmu untuk malam ini, Dinda," bisik Rangga mesra di atas bibir Melani. "Pasrahkan dirimu sepenuhnya pada suamimu."

Sentuhan bibir Rangga yang tadinya lembut perlahan berubah menjadi cumbuan hangat dan menuntut. Rangga merengkuh tubuh molek Melani ke dalam pelukan dada bidangnya yang telanjang dan berotot, membimbing istrinya untuk berbaring perlahan di atas peraduan empuk. Aroma maskulin yang alami berpadu dengan wangi cendana dari tubuh Rangga membuat Melani terbuai, melingkarkan kedua tangannya di leher tegap sang Ketua Adat.

Saat Rangga mulai menanggalkan sisa kain yang menyelimuti mereka dan memposisikan tubuh tegapnya di atas Melani, pendar lampu minyak melukis siluet gairah yang begitu indah.

"Mas... pelan-pelan..." bisik Melani dengan napas memburu saat merasakan kehangatan intip tubuh Rangga yang begitu dekat.

"Iya, Dinda... Saya akan sangat pelan," janji Rangga, mengusap leher dan dahi istrinya yang mulai dibasahi keringat tipis.

Namun, ketika penyatuan sakral itu benar-benar terjadi, rasa perih yang teramat sangat seketika menghantam kesadaran Melani. Semua hafalan medis di kepalanya sirnah tak berguna menghadapi kenyataan fisiknya.

"Aaghh! Mas Rangga... S-Sakit...!" jerit Melani tercekik, air mata bening menetes deras dari sudut matanya seraya jemari lentiknya mencengkeram kuat bahu kekar Rangga, menancapkan kukunya di kulit tegap sang suami.

Rangga Wira menghentikan gerakannya seketika. Pria tegap itu menahan napasnya, mengepalkan tangannya di samping kepala Melani, mencoba menguasai gejolak gairahnya demi kenyamanan sang istri. Rangga menunduk, mencium air mata di pipi Melani bertubi-tubi dengan pendar keprihatinan yang mendalam.

"Maafkan saya, Dinda... Maafkan saya..." bisik Rangga lembut, mengusap rambut halus di dahi Melani. "Tahan sedikit, Istriku... Tarik napasmu pelan-pelan."

Melani mencoba meresapi napasnya, erangan perih masih keluar dari tenggorokannya. "Sakit sekali, Mas... Perih..."

"Iya sayang... Saya tahu... Pasrahkan tubuhmu, biarkan rasa sakit ini berubah menjadi kehangatan," tutur Rangga menenangkan, perlahan kembali menggerakkan pinggulnya dengan ayunan yang sangat lembut dan ritmis.

Pendar rasa sakit yang menyiksa perlahan-lahan lebur seiring dengan usapan hangat dan cumbuan mesra Rangga di bibir dan leher Melani. Rintihan kesakitan yang tadinya melengking pelan, perlahan berganti menjadi erangan desah yang tertahan di tenggorokan.

"Nngghh... Mas..." desah Melani terbata, jemarinya yang gemetar kini bergerak meraba punggung berotot suaminya.

Rangga Wira yang merasakan kehangatan penyatuan mereka makin meledak tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Pria yang biasanya amat tenang dan terkontrol itu mendadak menemukan sarangnya yang paling sempurna. Suara desahan bariton yang berat dan nikmat lolos dari tenggorokan tegap Rangga.

"Ahh... Melani-ku... Dinda... Sungguh nikmat..." erang Rangga Wira dengan suara serak yang memabukkan, mempercepat tempo gerakannya yang makin dalam dan bertenaga.

"Aah! Mas Rangga... Nngghh... pelan... aaghh!" jerit Melani terengah-engah, antara rasa perih sisa penyatuan awal dan gelombang kenikmatan baru yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Darah perawan murni menetes membasahi kain sutra putih di bawah mereka—menjadi saksi bisu keperawanan Bidan Pelindung yang kini telah seutuhnya milik Sang Ketua Adat.

Namun bagi Rangga Wira, satu ronde sama sekali tidak cukup untuk memuaskan rasa haus dan cintanya yang telah terpendam sekian lama. Pria tegap berdarah pimpinan itu mendadak bagaikan kecanduan oleh tubuh dan kehangatan istrinya sendiri.

"Mas... sudah... saya lelah..." bisik Melani dengan napas memburu, tubuhnya lemas terkulai di atas pembaruan saat ronde pertama usai.

Rangga Wira menyunggingkan senyum amat tampan dan penuh gairah. Pria tegap itu tidak membiarkan Melani terlepas. Didekapnya tubuh molek itu makin erat, membalikkan posisi istrinya dengan dominasi mutlak seorang Ketua Adat.

"Belum, Dinda... Malam ini masih sangat panjang," bisik Rangga mesra, kembali menyatukan raga mereka dari posisi baru yang makin dalam.

"Aaghh! Mas Rangga! Nngghh... Ahh!" jerit Melani kembali meledak, memeluk erat bantal saat guncangan kenikmatan baru menghantam jiwanya.

Sepanjang malam hingga mendekati selimut fajar subuh, kamar kayu megah itu dipenuhi oleh gema desahan nikmat dan erangan kepuasan dari sepasang suami istri baru tersebut. Rangga Wira mendominasi permainan dalam berbagai gaya dan posisi, meluapkan seluruh gairah dan cintanya tanpa sisa, sementara Melani hanya bisa pasrah dalam kehangatan pelukan suaminya.

Saat Pendar cahaya keemasan subuh perlahan menyusup dari balik jendela kayu, peraduan sakral itu akhirnya kembali tenang.

Melani terlelap pasrah di atas dada bidang Rangga Wira yang bersimbah peluh hangat. Rangga menyunggingkan senyum paling bahagia, merengkuh tubuh istrinya dalam perlindungan mutlak, menikmati pendar cinta abadi yang kini telah menyatu sempurna di tanah Hulu Rawa.

Bersambung...

Pelan pelan pak suami....

1
falea sezi
benerr pergi
falea sezi
pergi jauh
dika edsel
noh istrimu sudah mode pasrah dan tertekan...huh..ntar klo terjadi sesuatu sama istrmu pegimana...?? emang anda sudah siap jd duda?? kita mikir yg buruk aja deh..klo diliat dr kondisinya melani yg kian hari kian ngenes ini😌
Heresnanaa_: iyaa, Ki Rangga benar benar yaaa 😌
total 1 replies
Ayusha
Dr. (Doktor)
dr. (dokter)
Ayusha: macama. lanjut kak, semangat 💪
total 2 replies
Kusii Yaati
wes mboh sak karepmu Ki...lama" Melani bisa depresi semua di pendam sendiri.😩
Heresnanaa_: kann, author juga ngerasa kaya gitu 🥹🥹
total 1 replies
falea sezi
klo q jd Melani pergi plg ke rmh ortu 🤣🤣 ngapain di situ punya suami goblok
Ayusha
jadi keinget lahiran pertama /Smile/
Kusii Yaati
up lagi dong Thor, jangan satu bab aja 🥺
Heresnanaa_: stay tune ya beb😚🫶
total 1 replies
Kusii Yaati
yang sabar Melani,Ki Rangga sedang capek dan banyak pikiran jadi nggak bisa ngontrol emosinya 🤧... semoga lekas berbaikan 🥹
Kusii Yaati: up lagi dong Thor...2 bab ya 🤭
total 2 replies
neng ade
tapi jangan yang berat konfliknya,
Heresnanaa_: amannn kok 🤭
total 1 replies
Reni Anggraeni
bagus sekali
Reni Anggraeni
emmm bagus ceritanya
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bongkarkan yang hati busuk thor
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
habislah tamat riwayat
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bunga² sedang mekar..
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bagus di awal bacaannya
sunshine wings
yang sabar ya pak ketua adat.. lumrah ibu hamil bermacam ragam.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
hebat kisahnya aku sukaaa..
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
neng ade
Alhamdulillah, Melani hamil ..
🤲
Kusii Yaati
ya ampun pak ketua suku ganas amat ,air tenang menghanyutkan ya, semalam suntuk di gempur sama pak ketua suku 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!