NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roda nasib yang berputar

##BAB 1 - Roda Nasib yang Berputar

Kisah ini bermula pada pertengahan 2017, di sebuah desa yang tenang namun hidup. Tak jauh dari hiruk-pikuk pasar tradisional, berdiri sebuah kios bakso sederhana milik Pak Rahmat.

Sebagai pendatang yang baru menetap lima bulan, Rahmat dan istrinya, Ratna, tergolong warga baru. Namun, status "orang asing" itu segera luntur berkat aroma gurih kaldu yang menguar dari kios mereka. Sejak dibuka tiga bulan silam, baksonya menjadi buah bibir warga: teksturnya kenyal, kuahnya kaya rasa, dan harganya sangat terjangkau. Tak heran jika kios itu tak pernah sepi. Antrean pembeli membeludak sampai memanjang ke bahu jalan.

Sering kali banyak pelanggan yang pulang dengan kecewa dan tangan kosong, sebab dagangan sudah ludes terjual jauh sebelum matahari terbenam. Kepopuleran itu seolah tak terbendung, menjadikan kios kecil itu pusat perhatian baru di desa itu.

Namun, roda nasib memang berputar tak kenal ampun.

Keriuhan itu perlahan memudar. Para pelanggan setia yang dulu rela berdesak-desakan, kini pelan-pelan berpaling, seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata menuju kedai baru di ujung jalan. Kedai itu menjual menu yang sama, namun tampilannya lebih menarik dengan menu yang bervariasi, tempat yang lebih luas, dan kabarnya rasanya pun sedikit berbeda.

Rahmat hanya bisa terpaku di balik meja, menatap punggung pembelinya yang menjauh. Rasa gundah dan bingung menyelimuti hatinya—bukan hanya karena rugi pendapatan, tapi karena merasa kehilangan kepercayaan dan kasih sayang warga yang dulu ia banggakan.

Ratna pun tak kalah nelangsa. Ia sering murung di sudut kios, menahan air mata diam-diam saat melihat dagangan mereka menumpuk tak terjual. Dulu tangannya tak pernah berhenti mengaduk dan menyajikan, kini ia lebih sering hanya melipat tangan, menatap suaminya dengan pandangan penuh kekhawatiran.

Setahun berlalu, wajah kios itu berubah drastis. Spanduk merah bertuliskan "BAKSO URAT PAK RAHMAT" kini warnanya pudar kena panas dan hujan, persis seperti wajah Rahmat yang makin hari makin banyak kerutan di dahinya. Tempat yang dulu selalu ramai dengan denting sendok, kini sunyi senyap dan terasa dingin.

Kursi kayu yang dulu jadi rebutan, kini hanya jadi tempat Rahmat duduk merenungi nasib. Sepi. Sangat sepi. Pengunjung setianya sekarang hanyalah lalat-lalat yang sesekali hinggap di meja yang jarang disentuh orang. Kejayaan yang singkat itu kini hanya tinggal kenangan, berubah menjadi kesunyian yang mencekam bagi Rahmat dan Ratna.

Sore itu, langit mulai temaram membawa hawa sunyi yang kian pekat. Rahmat yang sedang duduk di kursi kayu panjang di depan kiosnya, menyandarkan tubuhnya yang lelah ke tembok bangunan dengan lesu.

"Piye iki, Bu...!" gumam Rahmat. Suaranya berat, diakhiri helaan napas panjang seolah-olah ia ingin mengembuskan segala beban hidup yang kian hari kian menindih dadanya.

Ratna yang saat itu sedang menyapu halaman depan kios langsung menghentikan gerakannya. Ia mengusap bulir keringat di dahi menggunakan ujung lengan dasternya yang mulai lusuh, lalu melangkah menghampiri suaminya.

"Opo toh, Mas? Dari tadi Ibu lihat mukanya ditekuk terus. Kayak orang kesal saja. Ada apa?" tanyanya lembut, lalu mengambil tempat duduk di ujung kursi kayu panjang tersebut, tepat di sebelah Rahmat.

Rahmat tidak langsung menjawab. Sorot matanya menatap tajam ke arah etalase gerobak kaca yang masih penuh sesak dengan tumpukan butiran bakso yang mulai mendingin.

"Kita ini gimana nasibnya, Bu? Kalau sehari cuma laku dua sampai tiga mangkuk saja, kapan modalnya bisa balik? Coba lihat kedai di seberang ujung jalan itu... orang-orang sampai antre keluar masuk ke sana. Nah, kios kita?" keluh Pak Rahmat, nadanya getir bercampur dongkol.

Ratna menghela napas pelan. Tangannya yang kasar karena setiap hari bekerja terulur, mengusap lembut bahu suaminya yang tampak tegang keras.

"Iyo, Mas, Ibu mengerti. Memang sekarang kita lagi susah. Tapi kalau kamu cuma melamun dan merenung begini, nanti kursi kayu ini bisa patah karena gak kuat menahan beratnya beban pikiranmu itu, Mas," sahut Bu Ratna, mencoba menghibur suaminya dengan candaan tipis, walaupun di dalam lubuk hatinya ia juga merasakan kepedihan yang sama.

"Ah, piye sih, Bu! Mas lagi pusing kok malah dicandain," ketus Rahmat, nada suaranya meninggi sedikit, membuat beberapa ekor lalat yang tadinya hinggap di gerobak beterbangan terkejut.

Ratna cuma tersenyum simpul, mencoba menahan riak kesedihan di dadanya sendiri. Ia malah gemas melihat kelakuan suaminya yang jika sedang buntu begini, sifatnya berubah seperti anak kecil yang sedang merajuk. Tangannya kembali mengusap punggung Rahmat dengan sabar.

"Sing sabar toh, Mas. Kita cari jalan keluarnya sama-sama," ujar Bu Ratna tenang, berusaha menjadi penyejuk di tengah kepala suaminya yang mulai panas.

"Kurang sabar gimana lagi, Bu? Setahun ini kita sudah sabar sampai dada rasanya mau jebol!" Rahmat menyugar rambutnya frustrasi.

Ia kemudian mencondongkan badannya ke arah istrinya. Matanya mendadak melotot tajam, menatap lurus ke arah asap putih yang mengepul tebal dari dandang kedai bakso di ujung jalan sana. Udara sore yang semula hangat tiba-tiba terasa berembus dingin, membawa lari aroma gurih yang asing ke indra penciuman mereka.

Rahmat berbisik dengan suara parau yang bergetar penuh selidik, "Bu, kamu gak merasa aneh? Kedai itu... menunya aneh-aneh, ramainya gak masuk akal sampai orang rela antre kayak kerasukan. Jangan-jangan... mereka pakai penglaris hitam, Bu?"

Belum sempat Bu Ratna menjawab untuk membahas lebih dalam tentang kios sebelah, pandangan mereka berdua mendadak teralih.

Dari kejauhan, tampak seorang lelaki tua berjalan pelan namun langkahnya terasa sangat mantap. Pakaiannya serba hitam, dengan ikat kepala kain yang melingkar khas. Penampilannya yang tak biasa itu seketika memberikan kesan dingin dan berbeda dari warga desa pada umumnya. Lelaki tua itu berjalan lurus, mengarah tepat menuju kios bakso Rahmat yang sedang sepi nyenyak itu.

Wajah Rahmat yang tadinya ditekuk, seketika berubah. Ada kilatan senyum tipis dan rasa lega yang menyelinap di hatinya, karena akhirnya... ada juga manusia yang mau melangkah mendekati kiosnya sore ini.

BERSAMBUNG

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!