Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4: Pertarungan Pertama di Kehidupan Kedua
Zombie itu melesat lebih cepat daripada yang mampu diikuti mata manusia biasa. Namun bagi Arga, gerakan itu terasa seperti adegan lama yang telah ia saksikan ribuan kali. Selama sepuluh tahun bertahan hidup di dunia yang dipenuhi kematian, ia telah menghadapi tak terhitung banyaknya zombie dengan pola serangan yang nyaris sama. Satu-satunya perbedaan hanyalah wajah mereka.
"Graaarrhh!"
Mulut peneliti yang telah berubah menjadi zombie menganga lebar hingga sudut bibirnya robek. Air liur bercampur darah menetes ke lantai, sementara kedua lengannya terulur kaku, berusaha mencengkeram tenggorokan mangsa yang baru saja memasuki wilayahnya. Arga sama sekali tidak mundur. Sebaliknya, ia menarik napas perlahan, lalu mengambil satu langkah kecil ke samping sambil memutar tubuh mengikuti arah serangan.
Whoosh!
Cengkeraman zombie hanya menyapu udara kosong. Karena kehilangan sasaran, tubuhnya terdorong terlalu jauh ke depan hingga keseimbangannya langsung goyah. Arga memanfaatkan momen itu sambil menatap lawannya dengan tenang.
"Itulah masalah kalian."
Suara Arga terdengar datar.
"Kalian selalu menyerang terlalu lurus."
Tanpa membuang sedetik pun kesempatan, tangan kirinya mengayunkan palu baja ke arah pelipis zombie.
Buk!
Benturan keras menggema di seluruh laboratorium. Tengkorak peneliti itu penyok ke dalam sehingga tubuhnya terhuyung beberapa langkah sambil berusaha membalikkan badan dengan gerakan patah-patah. Namun kesempatan untuk menyerang balik tidak pernah datang.
Parang di tangan kanan Arga telah lebih dulu bergerak.
Sret!
Bilah tajam itu menembus bagian belakang kepala, membelah tulang tengkorak hingga mencapai bagian tengah otak. Darah hitam pekat memercik ke lantai, diiringi suara retakan tulang yang membuat bulu kuduk meremang.
Krak!
Zombie itu langsung membeku. Mulutnya masih terbuka lebar, tetapi geraman yang sebelumnya memenuhi ruangan mendadak terputus. Beberapa saat kemudian tubuhnya kehilangan keseimbangan dan roboh menghantam lantai laboratorium.
Bruk!
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Arga tetap berdiri tanpa menurunkan parangnya, matanya terus mengawasi tubuh zombie yang tergeletak untuk memastikan tidak ada kontraksi saraf terakhir yang sering mengecoh para penyintas baru. Barulah setelah hampir satu menit berlalu, ia mengembuskan napas panjang.
"Gerakanmu masih sama..."
Tatapannya jatuh pada mayat di bawah kakinya.
"...terlalu lambat."
Tidak ada sedikit pun rasa bangga di wajahnya. Pertarungan singkat tadi bahkan tidak cukup untuk mengubah ritme detak jantungnya. Justru yang memenuhi pikirannya adalah kenyataan bahwa tubuh mudanya masih jauh lebih lemah dibandingkan ketika ia mati sebagai Awakener Tier 5. Jika lawannya tadi bukan Zombie Tier 1, hasil pertarungan bisa saja berubah sepenuhnya.
Arga kemudian berlutut di samping tubuh peneliti itu. Aroma anyir darah bercampur bau busuk jaringan tubuh yang telah mengalami nekrosis akibat Necrovirus Sapiens langsung memenuhi udara. Dengan tenang, ia kembali mengangkat parang.
Srek...
Ujung bilah itu membelah kulit kepala secara perlahan. Gerakannya begitu rapi hingga lebih menyerupai seorang ahli bedah yang sedang melakukan operasi daripada seseorang yang sedang membongkar kepala mayat. Darah hitam mengalir keluar, memperlihatkan jaringan otak yang mulai membusuk di balik retakan tengkorak.
Arga tidak menunjukkan sedikit pun rasa jijik. Sepuluh tahun hidup di tengah lautan mayat membuat pemandangan seperti itu terasa biasa baginya. Dengan ujung parang, ia mulai menggeser jaringan otak sambil mencari sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
"Belum ada..."
Ia terus menyisir bagian yang lebih dalam.
"Kemunculan kristal pada zombie awal memang belum stabil," gumamnya pelan. "Kalau mutasinya gagal, inti energinya juga bisa gagal terbentuk."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba sesuatu memantulkan cahaya senter dari balik jaringan otak yang menghitam. Sebuah kilau abu-abu redup tampak tersembunyi di antara gumpalan jaringan yang membusuk.
Sudut bibir Arga perlahan terangkat.
"Akhirnya."
Dengan hati-hati ia mengambil benda itu menggunakan sarung tangan. Sebuah kristal kecil sebesar kelereng terangkat perlahan. Permukaannya tampak kasar dengan guratan-guratan halus menyerupai pembuluh darah yang telah membatu.
Itulah Kristal Tier 1.
Bentuknya jauh dari indah, warnanya kusam, dan sama sekali tidak memancarkan cahaya. Bagi orang biasa, benda itu mungkin hanya terlihat seperti batu aneh yang tidak memiliki nilai apa pun dan akan dibuang bersama sisa-sisa jaringan tubuh.
Arga membuka tutup botol air mineral.
Cess...
Air bening mengalir membasuh darah hitam yang menempel pada permukaan kristal. Perlahan warna abu-abunya menjadi lebih jelas, memperlihatkan struktur unik yang seolah tersusun dari ribuan serat halus yang saling bertaut.
Ia mengangkat kristal itu di bawah cahaya senter. Permukaannya terasa sangat dingin ketika disentuh, tetapi di balik suhu rendah tersebut Arga dapat merasakan denyut energi yang begitu lemah hingga hampir tidak terdeteksi.
Sepuluh tahun lalu...
Tak seorang pun mengetahui bahwa benda sekecil ini mampu mengubah masa depan umat manusia.
Tanpa sedikit pun keraguan, Arga memasukkan kristal tersebut ke dalam Ruang Dimensi.
Wussh...
Kristal itu menghilang dari telapak tangannya.
"Inilah awal semua perubahan."
Kalimat itu meluncur pelan dari bibirnya. Bukan sekadar ucapan biasa, melainkan pengingat bahwa sejarah manusia pernah berubah hanya karena keberadaan benda kecil tersebut.
Setelah memastikan tidak ada lagi kristal yang tertinggal di tubuh zombie, Arga berdiri dan mulai menyisir seluruh laboratorium. Cahaya senter bergerak perlahan dari satu meja ke meja lain, memperlihatkan kekacauan yang tampak terlalu rapi untuk disebut sebagai akibat serangan zombie.
Komputer utama masih berada di tempatnya. Namun ketika tombol daya ditekan, tidak terjadi apa-apa.
Klik.
Arga membalik perangkat itu dan mendapati casing belakangnya telah dibuka. Seluruh media penyimpanan telah dicabut dengan sangat rapi.
"Bukan dijarah..."
Ia mengusap debu di atas meja.
"...tetapi dibersihkan."
Ia melanjutkan pemeriksaan menuju ruangan berikutnya. Lemari arsip terbuka lebar, sementara sebagian besar map penelitian telah berubah menjadi abu yang berserakan di lantai.
Srek...
Arga mengambil selembar dokumen yang belum habis terbakar. Sayangnya, hanya beberapa potongan kata yang masih dapat dibaca.
"...Sapiens..."
"...Subjek..."
"...Transfer..."
Sisanya telah hangus menjadi abu.
Arga mengepalkan kertas itu perlahan. Seseorang jelas telah datang ke tempat ini sebelum dirinya, dan orang tersebut mengetahui dengan tepat dokumen mana yang harus dimusnahkan.
Di sudut laboratorium, beberapa tabung penyimpanan pecah berserakan. Cairan transparan yang telah mengering meninggalkan noda putih pada lantai. Tidak jauh dari sana, sebuah simbol hitam yang tercetak pada map logam kecil menarik perhatian Arga.
Lambang itu berbentuk lingkaran dengan tiga garis melengkung yang saling bertaut di bagian tengah.
Ia mengernyit.
"Ini..."
Selama sepuluh tahun bertahan hidup...
Ia belum pernah melihat simbol tersebut.
Padahal hampir seluruh organisasi penyintas pernah ia ketahui.
Arga segera memotret lambang itu menggunakan ponselnya sebelum melanjutkan pencarian. Beberapa menit kemudian ia menemukan sebuah meja kerja yang kondisinya jauh lebih utuh dibandingkan perabot lain. Salah satu lacinya terkunci rapat.
Tanpa ragu, ia mengangkat palu.
Buk!
Kunci laci langsung patah. Laci itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah dompet kulit tipis dan selembar kertas yang dilipat empat.
Arga membuka dompet tersebut terlebih dahulu. Di dalamnya masih tersimpan sebuah kartu identitas peneliti yang kondisinya sangat baik.
Nama yang tercetak membuat dahinya sedikit berkerut.
Dr. Adrian Wijaya.
Nama itu sama sekali asing baginya. Padahal dalam kehidupan sebelumnya, seluruh nama ilmuwan penting telah dipelajari berulang kali oleh para penyintas.
"Namamu... tidak pernah muncul."
Ia kemudian membuka lipatan kertas yang berada di dalam laci. Tulisan tangan di atasnya tampak dibuat dengan tergesa-gesa.
"Pengiriman sampel berikutnya dipindahkan."
"Lokasi: Fasilitas Sektor-9."
"Tanggal: 17 Juni."
Napas Arga seketika tertahan.
Tanggal itu...
Tiga hari dari sekarang.
Artinya masih ada sampel Necrovirus lain yang belum dihancurkan. Lebih penting lagi, masih ada seseorang yang secara aktif memindahkan virus tersebut bahkan sebelum kiamat benar-benar dimulai.
Tatapan Arga perlahan berubah tajam. Selama ini ia selalu mengira kehancuran dunia hanyalah akibat eksperimen yang gagal. Namun sekarang, fakta yang terbentang di hadapannya mengarah pada sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Seseorang...
Tampaknya telah berusaha menghapus seluruh jejak sejak awal.
Belum sempat ia menyusun kesimpulan lebih jauh, suara keras tiba-tiba memecahkan kesunyian laboratorium.
Prang!
Suara kaca pecah berasal dari lantai atas. Arga langsung mengangkat kepala ketika beberapa serpihan kaca mulai berjatuhan melalui celah tangga.
Ting...
Ting...
Belum sempat gema suara itu menghilang, geraman lain mulai terdengar dari atas.
"Graaa..."
Disusul suara kedua.
"Rrraaagh..."
Lalu suara ketiga.
"Grrrr..."
Tubuh Arga membeku. Tatapannya perlahan beralih menuju tangga yang mengarah ke lantai dua.
Dalam kehidupan sebelumnya, laporan para penyintas hanya menyebutkan keberadaan satu zombie di fasilitas ini.
Hanya satu.
Namun geraman yang kini memenuhi bangunan jelas berasal dari lebih dari satu makhluk.
Masa depan...
Telah berubah.
Perlahan Arga menggenggam gagang parangnya semakin erat. Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari kegelapan di lantai atas, ia mulai menaiki anak tangga satu demi satu, bersiap menghadapi kenyataan bahwa ingatan dari kehidupan sebelumnya tidak lagi sepenuhnya dapat dipercaya.