NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Akhir dari Lelah, Awal dari Takdir

Bunyi detak jam dinding berpadu dengan ketukan jemari Alana di atas papan ketik komputer. Di dalam kubikel kantor yang sempit dan pengap, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Semua lampu ruangan telah dipadamkan sejak pukul sepuluh malam tadi oleh petugas kebersihan, menyisakan pendar cahaya monitor yang menerangi wajah pucat Alana. Matanya merah, berkaca-kaca menahan kantuk yang teramat sangat. Di samping keyboardnya, tiga kaleng kosong minuman berenergi tergeletak begitu saja, menjadi bukti bisu usahanya yang mati-matian untuk tetap terjaga.

"Tinggal sedikit lagi... laporan anggaran ini harus selesai besok pagi," bisik Alana pada dirinya sendiri, menyemangati tubuhnya yang sudah menjerit meminta haknya untuk beristirahat.

Sejak lulus kuliah, kehidupan Alana hanyalah tentang bertahan hidup. Sebagai anak yatim piatu yang tumbuh besar di sebuah panti asuhan kecil di pinggiran kota, dia tidak pernah memiliki kemewahan untuk mengeluh, bersikap manja, atau sekadar menikmati masa muda. Di dunia modern yang serbacepat dan kejam ini, hukum yang berlaku di kepalanya sangat sederhana: jika dia tidak bekerja keras, dia tidak akan bisa membayar sewa kos dan tidak akan bisa makan.

Alana tumbuh menjadi gadis yang sangat mandiri, realistis, dan berotak dingin. Dia tidak pernah punya waktu untuk memikirkan romansa, pakaian bagus, atau liburan mewah. Baginya, ketenangan hidup bukanlah tentang cinta, melainkan tentang angka di rekening bank yang berhasil dia kumpulkan dari hasil keringatnya sendiri.

Namun, malam ini tubuhnya terasa sangat berbeda. Ada rasa dingin yang menjalar dari ujung jari kaki hingga ke dadanya. Tiba-tiba saja, dada Alana terasa sangat sesak, seolah-olah ada sebongkah batu besar yang dihantamkan tepat di atas jantungnya. Jantungnya berdegup luar biasa kencang, tidak beraturan, berpacu dengan rasa sakit yang membuat seluruh tubuhnya gemetar. Detik berikutnya, detak itu melambat secara drastis.

'Ah... apakah ini batasnya?' pikir Alana, jemarinya terkulai lemas di atas meja kerja.

Pandangannya mulai kabur, mengaburkan deretan angka di layar monitor yang menguning. Kesadaran Alana perlahan menipis, tersedot ke dalam sebuah pusaran kegelapan yang pekat dan sangat dingin.

Namun, tepat sedetik sebelum matanya terpejam sepenuhnya, dia sempat tersenyum miris di dalam hati. Dia tewas karena kelelahan bekerja—sebuah akhir yang begitu konyol dan menyedihkan untuk kehidupan yang sudah dia jalani dengan begitu melelahkan.

'Kalau ada kehidupan kedua... aku hanya ingin hidup tenang. Aku tidak mau bekerja sampai mati seperti ini lagi...'

Plak!

Rasa perih yang luar biasa menyengat di pipi kirinya spontan membuat Alana terlonjak. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke permukaan. Dia langsung menarik napas dalam-dalam, namun alih-alih menghirup bau kopi instan murah dan aroma ruangan ber-AC kantor yang pengap, paru-parunya justru dipenuhi oleh wangi parfum mawar yang sangat pekat, menusuk hidung, dan terasa sangat mahal.

"Bangun, Anak Sialan! Berani sekali kamu pingsan dan bermalas-malasan saat aku sedang bicara!"

Alana membuka matanya dengan sentakan kaget. Kepalanya diserang rasa pening yang hebat, seolah otaknya baru saja dihantam palu godam. Pandangannya yang buram perlahan-lahan mulai memfokus, memperjelas siluet sebuah ruangan yang sangat asing. Tempat itu adalah sebuah kamar tidur yang luar biasa megah. Lantainya dilapisi karpet beludru tebal, dindingnya dihiasi ukiran berlapis emas, dan ranjang tempatnya bersandar saat ini adalah sebuah ranjang ukuran king size berkelambu sutra bak istana Eropa abad pertengahan. Sungguh sangat jauh dari kubikel kantornya yang berukuran dua kali dua meter.

Alana tertegun sepenuhnya. 'Di mana ini? Siapa wanita ini? Dan... kenapa suaraku tidak bisa keluar?'

Dia mencoba menggerakkan tangannya yang gemetar karena syok, namun matanya justru terbelalak lebar saat menatap jemarinya sendiri. Kulit tangan itu begitu halus, putih bersih, lembut, dan ukurannya jauh lebih kecil—ini sama sekali bukan tangan kasarnya yang penuh kapalan akibat terlalu banyak mengetik, mencuci baju sendiri, dan melakukan pekerjaan paruh waktu sejak remaja. Ketika dia menyentuh dadanya dengan panik, detak jantungnya memang terasa sangat nyata, tetapi tubuh ini terasa jauh lebih ringan, lebih rapuh, dan... jauh lebih muda.

'Tunggu dulu. Aku sudah mati karena serangan jantung di kantor, kan? Mengapa aku bisa ada di tempat seaneh ini? Tubuh siapa yang sedang aku tempati sekarang?!'

Kebingungan Alana semakin memuncak dan berubah menjadi kepanikan bawah sadar saat dia menyadari ada suara isak tangis di dekatnya. Di sudut lantai yang dingin, seorang wanita paruh baya berpakaian gaun sederhana tanpa perhiasan sedang bersimpuh sambil menangis sesenggukan. Wanita itu menatap Alana dengan tatapan yang begitu hancur, penuh rasa bersalah, dan ketidakberdayaan yang mendalam.

Sementara itu, tepat di depan ranjang, berdiri seorang wanita lain yang usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan wanita yang menangis, namun penampilannya bak bumi dan langit. Wanita itu mengenakan gaun satin mewah berwarna merah marun, lehernya dihiasi kalung berlian yang berkilau, dan wajahnya dirias dengan sangat sempurna. Namun, ekspresi wajahnya luar biasa angkuh, dingin, dan dipenuhi oleh rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi.

Melihat Alana yang hanya diam terpaku dengan wajah linglung, mata yang berputar panik, dan ekspresi kebingungan yang kentara, wanita bergaun satin itu mendengus jijik. Dia melipat kedua tangannya di dada, lalu melangkah maju satu pukulan tumit sepatunya yang berdenting keras di atas lantai marmer, menatap Alana dari atas ke bawah seolah sedang melihat seonggok sampah yang mengotori mansion mewahnya.

"Jangan berlagak bodoh dan pura-pura hilang ingatan setelah aku menamparmu, Alana," ujar wanita itu dengan nada ketus yang dingin dan menusuk hingga ke tulang. "Kamu harus ingat posisimu di rumah ini; kamu itu cuma anak haram dari selir keempat keluarga mafia Garrick yang tidak punya kuasa apa pun, jadi sudah sepantasnya tubuh dan pernikahanmu dimanfaatkan demi memuluskan jalan Cedric menjadi bos besar!"

'Alana? Keluarga mafia Garrick? Selir keempat? Anak haram?'

Kalimat kejam yang keluar dari bibir merah wanita itu seketika menghantam otak Alana seperti aliran listrik bertegangan tinggi. Bersamaan dengan kata-kata tersebut, sebuah rasa sakit yang luar biasa hebat kembali menyerang kepalanya.

Alana mencengkeram rambutnya yang terasa panjang dan halus, memejamkan mata rapat-rapat saat gelombang memori asing yang bukan miliknya meledak berputar-putar di dalam benaknya. Untaian ingatan itu memaksa Alana untuk menerima kenyataan gila yang sama sekali tidak masuk akal sehat dunia modern: Dia telah bertransmigrasi. Jiwanya telah menyeberang ke dimensi lain dan masuk ke dalam tubuh seorang gadis yang memiliki nama yang persis sama dengannya—Alana Garrick.

Dari memori yang baru saja terserap ke otaknya, Alana kini tahu bahwa dia berada di dunia bawah yang dikuasai oleh syndikat kejam keluarga Garrick. Pemilik tubuh asli ini adalah putri bungsu dari Istri Keempat—selir yang paling lemah, tidak memiliki latar belakang keluarga kuat, dan selalu dijadikan target penindasan di dalam mansion utama ini. Alana asli adalah gadis yang penakut, cengeng, dan selalu gemetar setiap kali berhadapan dengan anggota keluarga lainnya.

Dan sekarang, situasi yang dihadapi tubuh ini benar-benar berada di ujung tanduk. Wanita angkuh di depannya ini adalah Eleanor Garrick, Istri Sah dari mendiang Victor Garrick, sang mantan bos besar. Eleanor baru saja memutuskan sepihak untuk "menjual" Alana melalui pernikahan politik kepada Tuan Besar Fernando—seorang pemimpin mafia tua bangka dari Eropa Selatan yang terkenal cabul, kejam, dan memiliki hobi menyiksa para wanita simpanannya sampai mati. Pernikahan gila ini dilakukan murni agar Eleanor mendapatkan dukungan finansial dan aliansi militer kuat demi memastikan anak kandung tertuanya, Cedric Garrick, bisa naik takhta menjadi Bos Besar keluarga Garrick tanpa ada gangguan dari adik-adik tirinya.

Melihat Elena—ibu kandung pemilik tubuh ini—yang masih menangis histeris di lantai hingga suaranya serak, kabut kebingungan dan kepanikan di mata Alana perlahan-lahan mulai memudar. Rasa takut karena mendadak berpindah tubuh ke dunia mafia langsung digantikan oleh dinginnya logika dan ketangguhan mental dari kehidupannya yang lalu.

Di dunia lamanya, Alana sudah kenyang ditindas oleh kemiskinan, bos yang semena-mena, dan keadaan hidup yang mencekik. Dia sudah berjuang setengah mati hanya untuk bertahan hidup, dan dia jelas tidak akan membiarkan dirinya pasrah menjadi pion yang mati mengenaskan untuk kedua kalinya di tempat asing ini. Jika pemilik tubuh asli memilih untuk menangis dan menyerah, maka Alana yang sekarang memiliki jiwa seorang petarung jalanan yang realistis dan pragmatis.

Menangis tidak akan mengubah kontrak politik. Memohon pada wanita iblis di depannya ini hanya akan membuang-buang energi dan menurunkan harga dirinya. Alana perlahan-lahan menurunkan tangannya dari kepala. Dia menegakkan punggungnya yang semula meringkuk, menatap lurus ke arah Eleanor. Dalam sekejap, sorot mata yang semula linglung, ketakutan, dan rapuh itu lenyap total. Berganti dengan sepasang manik mata yang setajam silet, memancarkan ketenangan batin yang luar biasa, kedewasaan, dan aura dingin yang tak tergoyahkan di bawah tekanan krisis.

"Kapan pernikahan itu akan dilangsungkan, Nyonya Eleanor?" tanya Alana. Suaranya terdengar begitu datar, tenang, dan tanpa ada sisa nada gemetar atau ketakutan sedikit pun.

Eleanor Garrick seketika tertegun sesaat. Alisnya yang diukir sempurna bertaut rapat. Dia menatap Alana dengan pandangan menyelidik. Mengapa anak selir yang biasanya akan langsung bersujud, menangis memohon ampun, dan gemetar ketakutan ini tiba-tiba bisa berbicara dengan nada sedingin itu? Tatapan mata Alana yang sekarang bahkan membuat Eleanor merasa sedikit tidak nyaman—tatapan itu terlalu tenang, seolah Alana sedang melihat sebuah masalah sepele yang bisa diselesaikan kapan saja.

Namun, rasa terkejut itu segera ditepis oleh keangkuhan Eleanor. Dia mendengus remeh, menganggap perubahan sikap Alana hanyalah bentuk keputusasaan yang tertahan.

"Dua minggu lagi," jawab Eleanor sambil memutar tubuhnya dengan anggun, membuat gaun satinnya berdesir. "Fernando sendiri yang akan datang membawa pasukan dan dokumen aliansi ke mansion ini untuk menjemputmu. Baguslah kalau kamu akhirnya sadar diri dan tidak perlu merepotkanku dengan drama tangisanmu yang tidak berguna itu. Bersiaplah, dan jangan buat malu nama Garrick saat hari itu tiba."

Dengan langkah kaki yang angkuh dan dipenuhi rasa kemenangan, Eleanor melangkah keluar dari kamar tidur mewah itu. Dua orang pengawal berbadan besar yang berjaga di depan pintu segera menutup daun pintu mahoni yang tebal dengan dentuman keras, mengunci mereka dari luar.

Begitu keheningan kembali menguasai kamar, Elena langsung bangkit dari lantai dengan sisa-sisa kekuatannya. Dia berlari ke arah ranjang dan memeluk tubuh Alana dengan sangat erat, tangisnya kembali pecah di bahu putrinya. "Alana... maafkan Ibu... Ibu tidak berguna... Ibu tidak bisa melindungimu dari wanita kejam itu... Bagaimana bisa kamu menikah dengan monster seperti Fernando..."

Alana terdiam sejenak merasakan pelukan hangat itu. Di kehidupan masa lalunya, dia adalah anak yatim piatu yang tumbuh tanpa pernah tahu rasanya dipeluk oleh seorang ibu ketika dia lelah atau sakit. Kini, di dunia yang kejam dan penuh darah ini, dia justru mendapatkan seorang ibu yang begitu tulus menyayanginya, meskipun wanita ini sangat lemah dan penakut. Ada setitik rasa hangat yang asing namun menenangkan menjalar di dalam hati Alana. Insting protektifnya yang selama ini dia gunakan untuk melindungi dirinya sendiri di dunia modern, kini bangkit dengan tujuan baru.

Alana mengangkat tangannya, menepuk-nepuk punggung Elena dengan lembut untuk menenangkannya. Setelah pelukan itu merenggang, Alana memegang kedua pundak Elena, menatap langsung ke dalam mata wanita paruh baya yang sembap itu.

Dengan nada suara yang teramat tegas, berwibawa, dan dipenuhi oleh keyakinan yang mutlak, Alana berkata, "Ibu, mulai hari ini, hapus air matamu dan jangan pernah menangis lagi di depan mereka. Percayalah padaku. Tidak akan ada satu orang pun di mansion ini, termasuk Nyonya Besar atau mafia tua itu, yang bisa menyentuh seujung rambut kita lagi."

Elena tertegun, menatap putrinya dengan pandangan tidak percaya. Alana di depannya ini terasa seperti orang yang sama sekali berbeda—auranya begitu kuat dan menenangkan, membuat rasa takut di hati Elena perlahan-lahan mereda demi mendengar ucapan tegas tersebut.

Dua minggu. Alana tahu waktu yang dimilikinya sangat amat singkat. Dia juga sangat realistis untuk menyadari bahwa melarikan diri dari wilayah kekuasaan mafia sebesar keluarga Garrick adalah hal yang mustahil; dia akan langsung diburu dan ditembak mati sebelum sempat keluar dari perbatasan kota.

Satu-satunya cara untuk membatalkan pernikahan gila ini dan bertahan hidup adalah dengan membalikkan keadaan dari dalam. Dia harus mencari perisai dan tameng yang jauh lebih kuat serta berpengaruh di dalam mansion ini sendiri—sesuatu yang posisinya berada di atas kuasa Eleanor.

Peta silsilah dan intrik politik internal keluarga Garrick yang baru saja dia serap dari memori tubuh ini langsung berputar cepat di dalam kepala taktisnya. Keluarga ini memiliki lima putra mahkota—lima kakak tiri Alana yang semuanya terkenal kejam, dingin, memiliki spesialisasi masing-masing, dan yang paling penting: mereka saling bermusuhan serta bersaing ketat demi merebut takhta tertinggi peninggalan ayah mereka.

Untuk memulai bidak catur pertamanya di papan permainan yang berbahaya ini, Alana tahu dia tidak bisa langsung mendekati Cedric si anak sulung yang kaku, atau Dominic si pembunuh berdarah dingin. Itu terlalu berbahaya dan berisiko tinggi memicu kecurigaan faksi Istri Sah. Alana butuh sebuah umpan pertama yang strategis. Seseorang yang menguasai jalur publik, keuangan, memiliki akses ke kemewahan, dan yang terpenting, seseorang yang bisa dia dekati dengan memanfaatkan sifat dasarnya tanpa membuat faksi lain langsung waspada.

Xavier Garrick. Kakak keempat.

Pria flamboyan yang menguasai bisnis kasino dan hiburan malam keluarga. Xavier adalah tipe pria yang selalu dikelilingi wanita dan sangat memuja keindahan serta kemewahan materi.

Alana perlahan turun dari ranjang. Langkah kakinya terasa mantap saat dia berjalan ke arah cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Dia berdiri di sana, menatap lekat-lekat pantulan dirinya di dalam cermin. Gadis di dalam cermin itu memiliki wajah yang luar biasa cantik—mata bulat yang indah, hidung mancung, dan bibir mungil, namun penampilannya saat ini sangat berantakan, pucat, dengan pakaian yang lusuh dan memar merah di pipinya akibat tamparan Eleanor.

Alana menyentuh memar di pipinya, lalu perlahan-lahan, sudut bibirnya terangkat. Dia menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang penuh arti—senyuman dingin dari seorang wanita pekerja keras yang siap menghancurkan siapa saja yang mencoba mengusik hidup barunya.

"Keluarga mafia Garrick..." bisik Alana pada pantulan dirinya sendiri di cermin. "Mari kita lihat, seberapa jauh lima penguasa dunia bawah ini bisa bertahan dari permainan yang akan kubuat."

Perang perebutan kekuasaan di dalam mansion mewah yang berlumuran darah ini baru saja dimulai, dan Alana sama sekali tidak memiliki niat untuk menjadi pihak yang kalah.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!