NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

“Nak. Ayah dan ibu akan pulang larut malam. Jangan nakal ya sayang!”

Bagi sebagian anak, atau mungkin kebanyakan anak di dunia ini, kalimat itu merupakan sebuah berita yang dapat melukai hati dengan kesepian yang timbul darinya. Ditinggalkan oleh orang tuanya di rumah, sedangkan mereka mencari nafkah. Tentu, itu bukanlah sesuatu yang dapat kau tahan. Pemikiran seperti “kenapa mereka pergi? Kenapa mereka tidak membawaku? Apa aku berbuat salah? Apa mereka tidak mencintaiku?” atau berbagai perasaan dan berbagai pikiran lainnya bias terus bermunculan. 

Tapi bagiku, yang meskipun masih berumur lima tahun, hal tersebut tidaklah lagi menjadi suatu masalah. Karena, paman akan mengisi kekosongan hatiku yang kesepian karena ayah dan ibu yang pergi bekerja. Karena hal itulah, aku selalu berpikir, kalau paman itu adalah sosok yang baik hati, lembut, dan penyayang. 

Ya. Setidaknya, itulah yang kupikirkan. Sebelum… semua mimpi buruk itu terjadi.

Di hari-hari seperti biasanya. Ayah dan ibu pamit pergi bekerja. Aku mengantarkan mereka dengan senyuman. Lalu duduk di depan tv sambil menunggu paman. Film kartun favoritku terus berputar dengan alur dan suasana yang selalu membuatku tidak berhenti tertawa. Hingga aku tidak menyadari, kalau ternyata, filmnya telah selesai. Aku terdiam sejenak. Berdiri. Lalu memutar tubuhku ke belakang. Menatap dinding rumah dengan beberapa bingkai foto keluarga yang terpajang disana.

“Paman?”

Itu adalah sebuah kata yang tergumam di mulutku ketika menyadari kalau hanya ada aku sendiri disini, ditemani oleh suara tv yang masih menyala, membawakan berita pagi.

Biasanya, paman akan datang ketika aku keasyikan menonton film favoritku. Mengejutkanku dari belakang. Aku merasa sebal karena selalu dikejutkan. Paman yang tertawa melihat reaksiku. Aku yang ngambek diangkat oleh paman. Lalu didudukkan di pangkuannya sambil kami berdua lanjut menonton film sampai selesai. Namun sekarang—jangankan mengejutkan, bahkan pamanpun tidak kelihatan.

“Paman? Paman dimana?”

Aku terus memanggil pamanku dengan gelisah. Atau mungkin sedikit takut. Namun, perasaan itu langsung aku buang, lalu menggantinya dengan prasangka sebuah permainan. Gelisah dan takut itu digantikan dengan sebuah seringaian lebar yang terlukis di wajahku. Aku berjalan perlahan sambil berjinjit—berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ketika aku mencapai pintu, aku berhenti sejenak sambil tertawa kecil. Lalu—

“BAAAA!”

Aku langsung berteriak ketika mendorong pintu yang sedikit terbuka itu, melompat sambil berputar arah kesamping, ingin mengejutkan paman yang kupikir sedang bersembunyi dibalik tembok ini. Namun, tidak ada paman disana. Hanya sebuah lorong gelap yang sunyi.

“Paman?”

Aku kembali bergumam memanggilnya. Wajah ceriaku kembali hilang, berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan akan kesepian yang telah lama hilang kembali lagi. Detak jantungku berdetak dengan cepat. Keringat dingin mengalir dipelipisku. Bibirku bergetar. Tidak ada alasan lagi yang kumiliki untuk menghilangkan ketakutan yang terus merayap dalam diriku. Jadi hanya satu hal yang bisa aku lakukan. Yaitu berlari kesetiap sudut rumah, sambil berteriak memanggilnya.

“PAMAN! PAMAAAAAN! KAMU DIMANA PAMAN? TIDAK! KUMOHON! KELUARLAH!”

  Aku terus berteriak dan memohon dengan air mata yang mengalir seperti derasnya air terjun agar paman keluar dan berkata kalau ini hanyalah prank. Aku mencari kesetiap sudut rumah. Lemari. Kamar mandi. Ruang tamu. Dapur. Kamar tidur. Tapi aku sama sekali tidak dapat menemukannya.

“Hiks. Hiks. Paman. Jangan tinggalkan aku sendiri” 

Aku terduduk di lantai depan pintu rumah dengan isakan tangisku yang semakin keras, terus berharap paman menghampiriku. Namun itu hanyalah angan yang berlalu begitu saja karena sebuah keegoisan semata. Aku tahu kalau paman tidak memiliki kewajiban untuk selalu bersamaku. Tapi aku membuatnya berjanji agar kita selalu bersama. Dan sekarang aku menyadarinya di usiaku yang lima tahun ini, kalau keegoisanku untuk menginginkan sebuah ikatan yang abadi, merupakan sebuah pemicu untuk mengaktifkan peledak yang menghancurkan ikatan itu.

Aku hanya bisa menangis sambil tertunduk. Meratapi kehancuran yang telah aku buat sendiri. 

Apa yang harus aku lakukan? Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Aku telah mencari disetiap sudut rumah… ya. Aku belum mencari di luar. Paman mungkin ketiduran di rumahnya. Atau mungkin dia sedang berbelanja bahan makanan. Aku harus mencarinya di luar. Tapi aku tidak tahu dimana rumah paman. Aku bahkan tidak pernah keluar rumah sendirian sebelumnya. Ibu juga melarangku melakukannya. Tapi aku harus mencari paman. Aku harus mencarinya. Mencarinya. Mencarinya. Aku harusnya mencarinya. Tapi kemana? Dari mana? Apa aku masih bisa bertemu dengan paman? Bagaimana jika tidak ketemu? Bagaimana jika aku tidak dapat pulang? Jika ada orang jahat. Tapi aku harus bertemu paman. Paman. Kamu dimana? Kumohon datanglah.

Saat itu, aku terus mengoceh sesuatu yang bahkan sekarang aku tidak mengerti. Pikiranku kacau. Hanya ada paman yang ada pikiranku. Aku tahu kalau aku harus mencarinya. Namun ketakutan mendominasi diriku. Aku hanya bisa tertunduk di depan pintu. Bahkan ketika perutku terus berbunyi karena kelaparan. Hingga, 12 jam telah berlalu. Dan jam telah menunjukkan pukul 9 malam, aku hanya tetap berada ditempat yang sama tanpa bergerak sedikitpun.

Aku menahan lapar. Karena memang tidak ada makanan yang bisa dimakan.

Aku menahan haus. Karena dispenser rusak tiga hari lalu. Jadi dalam tiga hari ini kami menggunakan air rebus. Namun air itu biasanya direbus oleh paman sambil memasak makanan.

Dan tindakan paling bodoh yang aku lakukan saat itu,.. adalah menahan diri untuk pergi ke toilet. Karena aku masih berharap pintu di depanku ini akan terbuka. Dan sosok paman berdiri disana. Lalu langsung menghampiriku. Memelukku dengan rasa bersalah sambil terus meminta maaf. Dan aku mengelusnya sambil bercanda mengatakan “kalau aku yang baik hati ini akan memaafkannya sekali ini saja.”

Namun, tidak peduli seberapa keras aku memohon dan berdoa, harapan itu tidak kunjung datang. Wajahku semakin pucat. Dadaku terasa sesak. Napas beratku terus memburu seperti habis berlari puluhan kilometer. Penglihatanku menjadi kabur. Hingga pada akhirnya, tubuhku ambruk di depan pintu karena kelelahan. 

“Ah. Ayah dan ibu pasti panik melihat kondisiku ini. Mereka mungkin akan membawaku ke rumah sakit. Setidaknya, kumohon jangan salahkan paman nantinya”

Itulah yang aku pikirkan ketika kesadaranku perlahan menghilang. Namun, alih-alih melihat langit-langit kamar rumah sakit ketika aku bangun, aku malah melihat langit-langit rumah yang sangat familiar. Aku bangun, melihat di sekelilingku. Sebuah kamar ukuran 4x4 meter yang diterangi cahaya kuning temaram dari lampu tidur berbentuk jamur  di atas nakas. Lemari dengan warna coklat tua di sudut ruangan. Cermin yang tergantung di sebelah lemari. Meja belajar kecil dengan beberapa boneka hewan diatasnya. Jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam.

“Ini… kamarku?” Gumamku pelan. Lalu turun dari tempat tidur. 

Tepat ketika aku berdiri dengan sempurna di atas karpet rumput, tubuhku langsung membeku. Aku meraba sekujur tubuhku karena keanehan ini. Meskipun saat itu aku masih berumur 5 tahun, tapi aku sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Tingkat pemahanku tumbuh sedikit lebih cepat. Karena itu aku tahu, harusnya saat ini, tubuhku berada dalam kelelahan total. Namun, semua rasa lapar, haus, dan lela itu menghilang begitu saja, seperti tidak pernah ada sebelumnya.

“Mimpi? Ya semua itu pasti hanyalah mimpi”

Aku tersenyum kegirangan. Merasakan kebahagian tiada tanding karena semua mimpi buruk itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Meski begitu, ada sebagian dari diriku yang terus berteriak memberitahuku, untuk tidak mengabaikan realita dari rasa sakit yang sebelumnya. Namun saat itu, aku mengabaikan peringatan naluriah ku hanya untuk kenikmatan sesaat. Lalu pergi tidur dengan perasaan lega, dan pikiran untuk melupakan segala hal tentang sesuatu yang aku anggap sebagai mimpi itu.

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!