Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Di undang
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra kelabu yang tebal, membangunkan Aisha dari tidur nyenyaknya. Dia mengerjapkan mata, mendapati tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan semalam. Obat dari dokter pribadi Devan benar-benar manjur. Rasa pening dan demam yang membakarnya kini telah sirna, menyisakan kehangatan yang menjalar di tubuhnya.
Aisha bangkit dari ranjang luas itu dengan perlahan. Dia menatap sekeliling kamar utama Devan. Kamar itu masih kosong. Devan benar-benar tidak kembali semalam dan menepati ucapannya untuk tidur di ruang kerja. Aroma maskulin yang khas masih tertinggal samar di bantal, membuat Aisha mendadak teringat bagaimana pria galak itu menangkap tubuhnya saat pingsan.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Aisha. Dia melakukan itu hanya karena tidak mau barang jaminannya m4ti,” batin Aisha mengingatkan dirinya sendiri.
Dia segera beranjak ke kamar mandi mewah di sudut ruangan untuk membersihkan diri. Beruntung, di dalam lemari besar kamar tersebut, Bi Sumi rupanya sudah menyiapkan beberapa pakaian baru yang pas dengan ukurannya, sebuah setelan rumahan berupa celana kulot dan blus lengan panjang berwarna pastel yang sederhana namun elegan.
Setelah selesai bersiap, Aisha melangkah keluar kamar. Mansion mewah itu terasa begitu sunyi, hanya ada derap langkah kaki beberapa penjaga berjas hitam yang berpatroli di lantai bawah. Saat menuruni tangga melingkar menuju ruang makan, Aisha melihat Devan sudah duduk di kepala meja panjang.
Pria itu sudah bertransformasi penuh menjadi seorang CEO. Setelan jas desainer berwarna biru tua melekat sempurna di tubuh tegapnya. Rambut hitamnya tertata rapi, dan jemari tangannya yang panjang bergerak lincah di atas layar iPad, sementara tangan kirinya memegang cangkir kopi hitam tanpa gula. Aura tak tersentuh terpancar kuat dari figurnya.
Aisha menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir, ragu untuk mendekat. Namun, Devan seolah memiliki mata di belakang kepalanya. Tanpa mengalihkan pandangan dari iPad-nya, dia bersuara.
"Duduk dan makan sarapanmu."
Suara berat itu memecah keheningan. Aisha berjalan canggung dan duduk di kursi yang agak jauh dari Devan. Di depannya sudah tersaji roti panggang, telur, buah segar, dan susu hangat.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Devan datar.
Aisha agak terkejut mendengar pertanyaan yang terdengar seperti perhatian itu.
"Sudah jauh lebih baik. Terima kasih untuk dokter dan kamarnya semalam."
Devan meletakkan cangkir kopinya, lalu menatap Aisha dengan sepasang mata elangnya.
"Bagus. Karena hari ini, kamu harus mulai menghadapi konsekuensi dari pernikahan ini. Pihak Alister Group akan merilis berita pernikahan kita ke media nanti siang. Aku tidak mau istri kontrakku terlihat seperti mayat hidup di foto."
Aisha mengangguk patuh.
"Saya mengerti."
"Satu hal lagi," Devan memajukan tubuhnya, menatap Aisha dengan tajam.
"Keluargamu, Hendra dan Sinta, mungkin akan mencoba menghubungimu setelah berita ini keluar. Mereka pasti berpikir bisa memanfaatkan posisimu sebagai nyonya Alister untuk mengeruk keuntungan lebih. Perlu kupertegas, jangan pernah membawa masalah atau permintaan mereka kepadaku. Hubunganmu dengan mereka sudah selesai sejak kamu menandatangani perjanjian semalam."
Mendengar nama kedua orang tua angkatnya disebut, dada Aisha kembali berdenyut perih. Dia tersenyum pahit.
"Anda tidak perlu khawatir, Devan. Saya tahu diri. Mereka membuang saya untuk menyelamatkan Clara. Saya tidak memiliki alasan lagi untuk membantu mereka."
Tatapan mata Devan melembut sekejap, sangat tipis hingga hampir tak terlihat, sebelum kembali mengeras. Pria itu menyukai ketegasan di mata Aisha. Gadis ini rapuh, tetapi tidak murahan dan tidak suka merengek.
Baru saja Aisha hendak menyuap potongan roti pertamanya, suara keributan terdengar dari arah pintu depan mansion. Suara petinggi penjaga yang mencoba menahan seseorang terdengar bergema hingga ke ruang makan.
"Maaf, Nona! Anda tidak bisa masuk tanpa izin dari Tuan Muda Devan!"
"Minggir! Aku ini kakak ipar bos kalian! Aku mau bertemu Aisha!"
Aisha seketika membeku. Dia mengenali suara melengking yang manja dan egois itu. Itu suara Clara.
Rahang Devan mengeras seketika. Sorot matanya berubah menjadi sangat dingin dan berbahaya. Aura mafia dalam dirinya bangkit, membuat atmosfer di ruang makan mendadak mencekam. Devan meletakkan iPad-nya dengan keras di meja.
Tak lama kemudian, Clara menerobos masuk ke ruang makan setelah berhasil mengelak dari para penjaga yang ragu untuk bertindak kasar pada wanita. Clara tampil dengan pakaian bermerek yang mencolok, menenteng tas mewah hasil berutang.
Namun, langkah kakinya langsung terhenti begitu dia merasakan tatapan mematikan dari Devan Alister. Clara menelan ludah ketakutan, nyalinya menciut setengah, tetapi sifat serakahnya mengalahkan rasa takut itu.
Clara mengalihkan pandangannya pada Aisha yang duduk diam.
"Wah, lihat siapa yang sedang menikmati sarapan mewah di mansion Alister? Aisha, kamu benar-benar beruntung, ya! Menikah dengan CEO tampan dan kaya raya berkat aku!"
Aisha berdiri dari kursinya, menatap saudara angkatnya itu dengan tatapan dingin tanpa emosi.
"Mau apa kamu ke sini, Clara?"
Clara berjalan mendekat tanpa tahu malu.
"Mama dan Papa menyuruhku ke sini. Kasino keluarga Alister memang sudah menganggap hutang lima puluh miliarku lunas karena kamu sudah di sini. Tapi, bisnis Papa saat ini sedang butuh suntikan dana segar sekitar sepuluh miliar. Sebagai anak angkat yang sudah dibesarkan dengan uang keluarga kami, dan sekarang sudah jadi istri orang kaya, kamu harus tahu balas budi! Minta suamimu untuk mentransfer uang itu ke rekening Papa hari ini juga!"
Mendengar permintaan yang begitu tidak tahu diri itu, Aisha hampir ingin tertawa saking mirisnya. Mereka membuangnya seperti sampah, menjadikannya jaminan hutang darah, dan sekarang dengan tidak tahu malu datang meminta uang tambahan seolah-olah dia adalah mesin ATM mereka.
Sebelum Aisha sempat menjawab, suara tawa rendah yang terdengar mengerikan terdengar dari ujung meja.
Devan bangkit dari kursinya. Langkah kakinya yang berat melangkah perlahan mendekati Clara. Setiap langkah Devan seolah membawa beban kematian yang siap menghimpit Clara.
"Kakak ipar?" Devan mengulang kata-kata Clara dengan nada mengejek yang sangat dingin. Dia berdiri tepat di depan Clara, menunduk menatap wanita itu dengan pandangan jijik.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyebut dirimu sebagai kakak iparku, seonggok sampah pembawa hutang?"
Wajah Clara seketika memucat. Dia melangkah mundur selangkah.
"T-Tuan Devan... saya hanya..."
"Penjaga!" panggil Devan dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat dua penjaga berjas hitam langsung masuk dan menunduk hormat dengan cemas.
"Kenapa sampah ini bisa masuk ke rumahku? Apakah kalian sudah bosan memegang senjata hingga membiarkan penyusup masuk begitu saja?" tanya Devan tanpa nada, namun penuh ancaman pemecatan atau bahkan yang lebih buruk.
"Maaf, Tuan Muda! Kami bersalah!" ucap salah satu penjaga dengan tubuh bergetar.
"Seret wanita ini keluar," perintah Devan kejam.
"Dan sampaikan pesan ini pada Hendra dan Sinta. Jika ada satu pun anggota keluarga mereka yang berani menginjakkan kaki di properti milik keluarga Alister lagi, atau mencoba menghubungi Aisha, aku sendiri yang akan memastikan sisa hutang lima puluh miliar kemarin dibayar dengan nyawa putri kandung kesayangan mereka. Seret dia!"
"Baik, Tuan Muda!"
"Lepaskan! Aisha, tolong aku! Kamu tidak bisa melakukan ini pada kakakmu! Aisha!" teriak Clara histeris saat kedua penjaga berbadan besar itu mencengkeram lengannya dengan kasar dan menyeretnya keluar dari ruang makan seperti binatang kurap. Suara teriakan Clara perlahan menjauh hingga akhirnya hilang di balik pintu depan yang tertutup rapat.
Ruang makan kembali sunyi. Aisha masih berdiri di tempatnya, menatap lantai dengan tangan yang mengepal erat. Tubuhnya sedikit bergetar, bukan karena takut pada Clara, melainkan karena syok melihat betapa menjijikkannya sifat keluarga yang dulu amat ia cintai.
Tiba-tiba, dia merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat mendarat di bahunya. Aisha mendongak dan mendapati Devan sudah berdiri di sampingnya. Pria itu menatapnya dengan ekspresi galak yang biasa, namun remasan tangannya di bahu Aisha terasa anehnya menenangkan.
"Sudah kubilang, jangan biarkan mereka menginjak-injakmu lagi," ucap Devan dengan nada tegas, matanya menatap dalam ke mata Aisha.
"Mulai hari ini, kamu adalah urusanku. Di rumah ini, tidak ada yang boleh menyentuhmu atau memanfaatkanmu tanpa izin dariku. Mengerti?"
Aisha menatap mata gelap Devan. Di balik kegalakan dan sikap dingin pria itu, untuk pertama kalinya Aisha merasakan sebuah perlindungan yang nyata. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia dapatkan dari Hendra, ayah angkatnya sendiri.
"Mengerti," bisik Aisha pelan, perlahan merasakan secercah harapan tumbuh di tengah kegelapan takdirnya.