NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Sakit

.........

Malam itu, aroma sup ayam jahe kesukaan Mama mertua masih menguar tipis di udara, beradu dengan wangi pelembut pakaian yang baru saja selesai disetrika Pamela. Rumah megah berlantai tiga di kawasan elit ini sudah sepi. Jarum jam di dinding ruang tengah menunjuk ke angka sebelas malam. Semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing. Papa dan Mama mertua sudah tidur setelah tadi sore sempat memaki Pamela karena rasa supnya dianggap kurang asin. Adik iparnya, mumpung libur kuliah, juga sudah mengunci diri di kamar setelah melempar tumpukan baju kotornya begitu saja ke wajah Pamela.

Pamela duduk sendirian di meja makan kayu jati yang panjang. Di depannya, sebuah kue tart kecil dengan lilin angka 7 yang belum dinyalakan tampak menyedihkan. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh. Tujuh tahun yang melelahkan, tujuh tahun yang mengikis habis perlahan semua sisa-sisa binar di matanya yang dulu kata orang sangat cantik dan manis.

Pamela menatap jemarinya yang kini kasar dan pecah-pecah akibat terlalu sering bersentuhan dengan cairan pembersih lantai dan sabun cuci piring. Tidak ada cincin berlian mewah di sana, hanya gurat tipis bekas cincin kawin perak murah yang dulu mereka beli saat Zidan masih berjuang di awal kariernya.

Pikiran Pamela mendadak melayang jauh ke belakang, ke delapan tahun yang lalu, saat dunianya belum sekelabu ini.

Saat itu, Pamela hanyalah seorang gadis yatim piatu miskin yang bekerja sebagai pelayan paruh waktu di sebuah kafe dekat kampus. Modalnya hanya wajah yang manis, senyum yang tulus, dan tekad untuk bertahan hidup di kerasnya kota. Di sanalah dia pertama kali bertemu Zidan. Zidan yang kala itu masih menjadi mahasiswa tingkat akhir dari keluarga terpandang, namun sedang dihukum oleh ayahnya dengan cara dipotong semua fasilitas kemewahannya akibat ketahuan balapan liar.

Zidan datang ke kafe tempat Pamela bekerja dengan mobil biasa, dompet yang tipis, dan wajah yang ditekuk. Pertemuan pertama mereka klise; Zidan tidak sengaja menumpahkan kopi panas ke kemejanya sendiri karena melamun, dan Pamela dengan cekatan serta penuh perhatian membantunya membersihkan noda itu sambil memberikan senyuman paling menenangkan yang dia punya.

Bagi Pamela yang kesepian, kehadiran Zidan seperti kejutan manis yang dikirim Tuhan. Zidan yang tampan, bertubuh jangkung, dan memiliki tatapan mata yang tajam namun menawan, tiba-tiba gencar mendekatinya. Zidan sering menunggunya pulang bekerja, mengajaknya makan di pinggir jalan tanpa canggung, bahkan beberapa kali membela Pamela saat ada pelanggan kafe yang bertindak kurang ajar.

"Gue bakal sukses dengan cara gue sendiri, Pam. Dan saat hari itu tiba, lo orang pertama yang bakal gue bawa buat nikmatin semuanya," bisik Zidan malam itu di bawah guyuran hujan gerimis, sambil menggenggam erat kedua tangan Pamela yang dingin.

Zidan terlihat sangat tulus. Caranya menatap Pamela, caranya merapikan anak rambut Pamela yang berantakan, semuanya terasa seperti pelindung yang nyata. Pamela, dengan segala kepolosan dan kebutuhannya akan kasih sayang, percaya sepenuhnya. Dia mengira ekspresi dingin dan narsis Zidan hanyalah topeng luar, sementara di dalamnya, Zidan adalah pria hangat yang mencintainya dengan tulus. Pamela mengira, dia adalah pengecualian bagi seorang Zidan yang dikenal sebagai playboy kampus.

Ketika Zidan akhirnya lulus dan perlahan membuktikan kemampuannya memegang salah satu anak perusahaan keluarganya, dia menepati janji untuk menikahi Pamela. Pernikahan itu digelar sangat sederhana, bahkan cenderung tertutup, karena keluarga besar Zidan menentang keras. Namun, saat itu Zidan menggandeng tangannya erat di depan penghulu, menatap matanya dalam-dalam, dan berbisik, "Jangan dengerin Papa sama Mama. Cukup lihat gue."

Kata-kata itu menjadi mantra bagi Pamela. Mantra yang membuatnya kuat melangkah masuk ke dalam rumah megah ini sebagai seorang istri.

Namun, Pamela baru menyadari bahwa dia telah salah menilai segalanya setelah aroma sakral pernikahan itu menguap dalam hitungan bulan.

Zidan tidak pernah benar-benar mencintainya. Pernikahan itu bukan didasari oleh ketulusan, melainkan bentuk pemberontakan ego seorang Zidan yang narsis terhadap kekuasaan ayahnya. Zidan menikahi Pamela hanya untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa dia bisa menentukan jalannya sendiri, sekaligus menjadikan Pamela sebagai "piala" atas kemenangannya melawan ego sang ayah. Pamela hanyalah alat. Begitu Zidan mendapatkan kembali posisi puncaknya di perusahaan, begitu dia kembali menjadi pria kaya raya yang dipuja-puja, sifat aslinya sebagai playboy berdarah dingin kembali ke permukaan.

"Ternyata aku cuma orang bodoh ya, Zid?" gumam Pamela lirih pada kesunyian malam. Air matanya menetes satu demi satu, membasahi permukaan meja makan.

Perubahan itu terjadi begitu cepat dan kejam. Zidan yang dulu berjanji melindunginya, perlahan berubah menjadi pria yang asing. Dia mulai jarang pulang dengan alasan rapat dan perjalanan bisnis. Namun, bau parfum wanita yang berbeda-beda di kerah kemejanya, serta bercak merah yang kadang tertinggal di lehernya saat pulang menjelang subuh, tidak bisa membohongi Pamela.

Saat pertama kali Pamela berani bertanya dengan suara bergetar, Zidan hanya menatapnya muak. Dengan gerakan kasar, Zidan melempar jasnya ke lantai, tepat di depan kaki Pamela.

"Lo sadar diri dong, Pam. Gue udah kasih lo tempat tinggal semewah ini, makan cukup, baju layak. Lo mau nuntut apa lagi dari gue? Mau ngebatasin pergaulan gue? Inget, lo itu cuma cewek miskin yang beruntung gue pungut dari kafe kumuh. Jangan serakah jadi perempuan," ucap Zidan malam itu, suaranya dingin, menusuk tepat di ulu hati Pamela.

Sejak saat itu, setiap kali Pamela mencoba membahas kedekatan Zidan dengan wanita lain, tanggapan yang didapatnya selalu sama, bentakan, tatapan merendahkan, dan perlakuan dingin yang menyiksa mental. Zidan tidak ragu mengunci Pamela di luar kamar utama jika merasa privasinya diganggu, membiarkan istrinya tidur meringkuk di sofa ruang tengah yang dingin tanpa selimut.

Penderitaan Pamela tidak berhenti di situ. Kehadiran keluarga besar Zidan di rumah itu seperti neraka sekunder yang harus dia hadapi setiap detik. Karena status sosialnya yang miskin, Mama mertuanya sama sekali tidak menganggap Pamela sebagai menantu, melainkan sebagai asisten rumah tangga gratisan yang beruntung bisa merawat anak cucunya.

Semua pekerjaan rumah tangga dari memasak, mencuci, hingga membersihkan sudut-sudut rumah yang luas itu dibebankan kepada Pamela. Dua orang ART yang ada di rumah itu bahkan dilarang membantu Pamela oleh sang Mama mertua.

"Pamela, bersihin lantai kamar mandi atas sekarang! Gak usah manja nunggu ART. Kamu kan dulu biasa kerja kasar di kafe, harusnya kerjaan ginian merem juga selesai. Jangan mentang-mentang sudah jadi nyonya di sini, kamu jadi malas!"Kalimat-kalimat tajam seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari Pamela. Jika ada satu saja sudut yang berdebu, tamparan verbal atau bahkan lembakan barang-barang kecil seperti bantal sofa tak jarang melayang ke arahnya.

Adik perempuan Zidan, seliar dan senarsis kakaknya, memperlakukan Pamela tak lebih dari pesuruh pribadi. Dia sering meminta uang tabungan bulanan yang diberikan Zidan pada Pamela untuk membeli tas bermerek atau membayar tagihan nongkrongnya dengan teman-teman sosialitanya. Jika Pamela menolak karena uang itu harus digunakan untuk keperluan dapur, adik iparnya akan mengadu pada Zidan dengan cerita yang diputarbalikkan, membuat Pamela kembali menerima amukan dingin dari suaminya.

Dan yang paling menghancurkan jiwa Pamela adalah anak-anak kandungnya sendiri. Sepasang anak kembar mereka yang kini berusia lima tahun, perlahan-lahan mulai teracuni oleh lingkungan rumah. Mereka melihat bagaimana nenek mereka membentak Pamela, bagaimana ayah mereka mengabaikan ibunya, dan bagaimana bibi mereka memperlakukan Pamela seperti pembantu.

Kemarin siang, anak laki-lakinya mendorong tangan Pamela saat Pamela ingin menyuapinya makan. "Aku gak mau disuapin Mama! Mama bau bawang, baju Mama jelek, gak kayak mamanya temen-temen aku yang cantik dan wangi!" teriak anak itu sambil berlari menuju kamar neneknya. Anak perempuannya pun hanya diam, memandang Pamela dengan tatapan asing yang meniru persis tatapan dingin Zidan.

Cinta yang dulu menjadi fondasi Pamela untuk bertahan, kini telah berubah menjadi tali gantung diri yang menjerat lehernya perlahan. Setiap hari dia mengorbankan sisa-sisa harga diri dan kesehatannya, berharap suatu hari nanti Zidan akan melihatnya lagi, berharap anak-anaknya akan memeluknya dengan tulus, berharap mertuanya akan menghargainya sedikit saja sebagai manusia. Namun, semua itu sia-sia. Pengorbanannya dianggap sebagai kewajiban yang lumrah bagi seorang wanita miskin yang menumpang hidup di rumah orang kaya.

Suara raungan mesin mobil sport mewah di halaman depan membuyarkan lamunan Pamela. Tubuhnya seketika menegang. Itu suara mobil Zidan.

Pamela buru-buru menghapus air matanya dengan lengan baju yang sudah pudar warnanya. Dia bangkit, mencoba merapikan penampilannya, dan menyalakan lilin angka 7 di atas kue tart kecil itu dengan tangan yang gemetar. Dia ingin mencoba sekali lagi. Malam ini, tepat di hari jadi mereka, dia ingin meminta Zidan untuk meluangkan waktu sedikit saja, berbicara dari hati ke hati, demi masa depan pernikahan mereka yang sudah di ambang kehancuran.

Pintu depan terbuka dengan suara berdecit yang berat. Pamela berdiri di dekat meja makan, menanti suaminya melangkah masuk.

Namun, langkah kaki yang terdengar bukan hanya satu. Ada dua pasang langkah kaki yang berjalan beriringan, diselingi oleh suara tawa manja seorang wanita yang sangat asing di telinga Pamela.

Ketika sosok itu muncul di ambang pintu ruang makan, jantung Pamela rasanya berhenti berdetak seketika. Seluruh darah di tubuhnya mendadak anyep.

Zidan berjalan masuk dengan kemeja yang sudah berantakan, lengannya digulung hingga siku. Di sampingnya, seorang wanita muda berwajah cantik jelita dengan pakaian desainer yang ketat sedang bergelayut manja di lengannya. Wanita itu mengusap perutnya yang tampak sedikit membuncit di balik gaun ketatnya.

Zidan menghentikan langkahnya saat melihat Pamela berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan kosong. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada kepanikan di wajah tampan pria itu. Ekspresinya tetap dingin, narsis, dan penuh keangkuhan seperti biasanya.

"Kamu belum tidur?" tanya Zidan, suaranya datar tanpa riak, seolah membawa wanita lain ke rumah mereka di tengah malam adalah hal yang sangat wajar.

Pamela tidak menjawab. Matanya tertuju pada tangan wanita asing itu yang kini dengan sengaja mempererat gelayutannya di lengan Zidan, seolah sedang memamerkan kepemilikan.

Malam itu, di bawah temaram lampu ruang makan, Pamela bisa merasakan sesuatu di dalam dadanya pecah berkeping-keping. Sesuatu yang selama tujuh tahun ini dia jaga dengan taruhan nyawa dan air mata. Matanya menatap lilin angka 7 yang mulai meleleh, membakar permukaan kue tart yang dia buat dengan sisa-sisa tenaganya yang terkuras habis.

Matahari di hati Pamela, malam itu, resmi padam sepenuhnya. Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun penderitaan, Pamela tidak mengeluarkan air mata setetes pun di depan Zidan. Tatapannya berubah menjadi sangat tenang. Ketenangan yang mencekam sebelum badai besar datang menghancurkan segalanya.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!