NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Suami Datang

Bagaimana cara Dara bisa menyusup ke dalam rumah sakit berkeamanan ketat ini? Jawabannya sederhana: sesaat setelah meledakkan supermarket, Dara memanfaatkan kepanikan massal untuk merampas tas seragam dan kartu identitas milik seorang perawat sungguhan yang pingsan di area parkir belakang. Dengan penyamaran yang sempurna dan gerak-gerik yang terlatih, ia melenggang masuk ke dalam Rumah Sakit Medika Sentra seolah-olah ia adalah staf medis yang sah.

Dara menatap Anjani yang tidak berdaya di atas ranjang. Senyuman tipis dan mengerikan tersungging di bibirnya. Ia tidak membawa pisau atau senjata tajam kali ini—cara itu terlalu berisik dan mudah terlacak. Di tangan kanannya, Dara memegang sebuah jarum suntik steril berukuran besar yang sudah hiasi dengan cairan kalium klorida murni, zat kimia berbahaya yang jika disuntikkan langsung ke dalam aliran darah akan menghentikan detak jantung dalam hitungan detik tanpa meninggalkan jejak kekerasan fisik yang mencolok.

"Wah... lihat siapa yang sekarang tidur dengan tenang di sini," bisik Dara dengan suara serak yang begitu pelan, nyaris seperti desisan angin malam. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Anjani. "Kau pikir kau bisa lolos dari ledakan itu, Anjani? Kau pikir pelukan suami kayamu itu bisa menyelamatkanmu selamanya?"

​Anjani, yang berada di bawah pengaruh obat penenang berat, mendengar samar-samar suara bisikan yang begitu mengerikan itu. Ia mencoba membuka matanya dengan susah payah. Kelopak matanya bergetar lemah, dan saat ia berhasil sedikit mengangkat pandangannya, bayangan wajah seorang wanita dengan seringai gila terpampang di hadapannya.

"D... Dara...?” batin Anjani berteriak ketakutan, namun tenggorokannya terasa lumpuh. Ia tidak bisa bersuara, tidak bisa memanggil bantuan, dan tubuhnya terlalu lemah untuk sekadar menggeser jarinya.

​"Jangan takut," bisik Dara semakin dekat, matanya melotot lebar dengan kilatan kegilaan yang memuncak. "Ini tidak akan sakit sama sekali. Sebentar lagi, kau akan tidur untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi pernikahan, tidak ada lagi kebahagiaan palsu, dan tidak ada lagi Oliver Jones."

****

Dara mengangkat jarum suntik tersebut ke udara, membiarkan cairan bening di dalamnya terpantul oleh lampu putih rumah sakit. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena adrenalin dan kepuasan yang meluap-luap, ia meraih lengan kiri Anjani yang terpasang selang infus. Ia bersiap menancapkan jarum mematikan itu tepat ke jalur intravena korban.

​"Selamat jalan, wanita bodoh," desis Dara penuh kemenangan.

​Namun, sebelum ujung jarum itu sempat menembus kulit lengan Anjani, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka dengan bantingan yang begitu keras hingga membentur dinding rumah sakit dengan bunyi dentuman yang memekakkan telinga.

​Brak!

​"DARA!"

​Sebuah benturan suara yang dipenuhi oleh amarah yang menggelegar memecah kesunyian ruangan.

​Dara terperanjat kaget setengah mati. Ia menoleh dengan cepat ke arah pintu.

​Di ambang pintu, berdiri Oliver Jones. Napas pria itu memburu hebat, dadanya naik turun dengan liar, dan keringat dingin membasahi kening serta kemejanya yang sedikit kusut akibat perjalanan darurat dari kantor. Di belakangnya, Julian dan empat orang pengawal bersenjata lengkap langsung mengacungkan senjata mereka ke arah Dara.

Tetapi sorot mata biru Oliver saat itu jauh lebih mematikan daripada moncong senjata apa pun di dunia ini. Pria itu menatap jarum suntik di tangan Dara, lalu beralih menatap wajah wanita gila yang mencoba merenggut nyawa istrinya. Suhu di dalam kamar rawat itu mendadak terasa turun hingga titik beku.

​Dara, alih-alih merasa takut atau lari, justru tertawa kecil—sebuah tawa histeris yang menggema di dalam ruangan kecil tersebut.

​"Oh... lihat siapa yang datang tepat waktu," cibir Dara dengan nada suara mengejek, meskipun tangannya yang memegang jarum suntik mulai bergetar hebat. Ia tidak menyangka Oliver akan datang secepat ini. "Kau terlambat, Oliver! Sebentar lagi istrimu ini akan menyusul mantan suaminya ke neraka!"

"Letakkan jarum itu, Dara," suara Oliver terdengar sangat pelan, begitu dingin, namun mengandung ancaman kematian yang mutlak di setiap suku katanya. Ia melangkah maju perlahan-lahan, tatapannya tidak pernah lepas dari leher Dara. "Jika kau berani menggores kulitnya sedikit saja... aku akan pastikan kau mati dengan cara yang membuatmu memohon-mohon untuk tidak dilahirkan ke dunia ini."

****

Dara mendengus sinis, matanya melotot liar. Ia menyadari bahwa posisinya kini terjepit. Tidak ada jalan keluar dari kamar rawat lantai tiga ini. Namun, alih-alih menyerah, jiwa psikopatnya justru meronta-ronta mencari cara terakhir untuk memberikan luka psikologis yang abadi bagi pria di hadapannya.

​"Kau mau dia mati di tanganku sekarang, Oliver?!" teriak Dara histeris sambil mengangkat tinggi-tinggi jarum suntik tersebut tepat di atas dada Anjani. "Maju selangkah lagi, dan aku tikam jantungnya detik ini juga!"

​Julian dan para pengawal menahan napas mereka, menunggu aba-aba dari atasan mereka. Suasana di dalam kamar rawat itu berubah menjadi medan pertempuran psikologis yang paling menegangkan—di mana satu gerakan salah saja bisa merenggut nyawa Anjani untuk selamanya.

Oliver berhenti melangkah. Ia menatap istrinya yang terbaring lemah dengan air mata yang mulai menetes perlahan di sudut mata Anjani akibat ketakutan yang luar biasa. Oliver menarik napas panjang, mencoba mengendalikan gemetar di tangannya, sementara dalam benaknya, sebuah rencana eksekusi mati tanpa ampun sedang ia susun untuk wanita sialan yang berdiri di hadapannya itu.

****

Suasana di dalam kamar rawat inap khusus lantai tiga Rumah Sakit Medika Sentra mendadak berubah menjadi panggung ketegangan yang begitu mencekam. Waktu seolah berjalan lambat bagi setiap orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Di satu sisi, Anjani Direja terbaring lemah dengan napas tersengat di bawah masker oksigen, menjadi sasaran empuk dari kegilaan yang dibawa oleh seorang wanita yang telah kehilangan seluruh akal sehatnya. Di sisi lain, Oliver Jones berdiri mematung dalam jarak yang sangat dekat, menatap tajam ke arah jarum suntik berisi cairan kalium klorida mematikan yang diangkat tinggi-tinggi oleh Dara Mitha Dahayu tepat di atas dada istrinya.

Dara menyeringai lebar, menatap Oliver dengan mata melotot liar yang dipenuhi kepuasan semu. Ia merasa bahwa dirinya sedang memegang kendali penuh atas hidup dan mati wanita yang paling dicintai oleh CEO kaya raya tersebut. Bibirnya terbuka, bersiap melontarkan kalimat provokasi terakhir sebelum ia menancapkan jarum itu.

​Namun, Dara salah besar jika ia mengira Oliver Jones adalah tipe pria yang akan diam membeku dan memohon-mohon di bawah ancaman.

​Bagi Oliver, batas kesabaran, toleransi, dan prosedur rasional telah sepenuhnya lenyap sejak detik ia melihat istrinya disakiti berulang kali. Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi dengan iblis yang berdiri di hadapannya ini.

​Dalam sepersekian detik yang bergerak begitu cepat, saat Dara sedikit menurunkan pandangannya ke arah lengan Anjani untuk memastikan posisi penusukan, Oliver bergerak bagaikan kilat. Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk berpikir dua kali, ia melangkah maju dengan kecepatan penuh, mengabaikan ancaman jarum suntik tersebut.

​Tangan kekar Oliver langsung menyambar tiang penyangga infus portabel yang berdiri di samping ranjang. Dengan kekuatan penuh yang didorong oleh amarah yang menggelegar di dadanya, ia mencopot tiang besi stainless steel tersebut, mengangkatnya ke udara, dan mengarahkannya langsung ke arah Dara.

​BTAKK!

"AAAA."

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Adi Sudiro
cerita dibikin dramatis tapi penuh cela dan kebodohan
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....
Serena Muna: EMANG DIBIKIN DRAMATIS NAMANYA JUGA CERITA!
total 1 replies
Siti M Akil
g mati² ky tom Jery 🤣🤣
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!