NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 01 : Pemilihan jodoh

BRAK!

Meja dipukul hingga retak. Seorang pemuda dengan raut wajah penuh amarah berdiri di hadapan meja itu, rahangnya mengeras. Matanya membulat, menahan emosi yang nyaris meledak.

“Apa ini yang kalian sebut rencana?!” bentaknya lantang. “Dasar bodoh! Kalau pakai strategi seperti ini, musuh akan dengan mudah membaca langkah kita! Apa kalian paham?!”

Ia melangkah cepat ke arah laci di belakang kursinya. Perlahan laci itu dibuka, memperlihatkan deretan pisau dan pistol yang tersusun rapi, bersih, mengilap, dan siap digunakan kapan saja.

Tangannya meraih sebuah pistol berdesain elegan yang terletak di samping peluru 9mm. Glock 17.

Dengan gerakan cepat, ia memasukkan peluru ke dalam magazine. Lalu, tanpa ragu, ia mengangkat pistol itu dan mengarahkannya ke salah satu anak buahnya di ruangan tersebut.

Yang tak lain adalah ketua dari tim penyusun strategi itu sendiri.

Jarinya perlahan menyentuh pelatuk. Matanya menyipit tajam, seolah sedang membidik wajah pria itu. Anak buahnya memejamkan matanya, pasrah. Tubuhnya yang semula santai mendadak menegang dan gemetar kecil. Keringat dingin mulai membasahi wajah dan telapak tangannya.

DOR!

Timah panas itu menghantam pintu ruangan, hanya beberapa sentimeter dari pelipisnya.

Pistol itu kemudian dilempar kasar ke atas meja. Tatapan pemuda itu kembali menusuk tajam. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman.

“Kalau dalam waktu satu hari rencana ini masih belum memuaskan… bersiaplah menemui ajal kalian, paham?!”

“Siap! Mengerti, tuan!” jawab mereka serempak.

“Bubar, sekarang!” bentaknya.

Semua orang langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu secepat mungkin.

Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya ke kursi, matanya terpejam. Ia memutar kursinya hingga membelakangi pintu masuk. Lalu, perlahan ia membuka laci kecil di meja kerjanya dan mengambil sebatang rokok dari dalamnya.

Laci itu ditutup kembali. Ia merogoh korek dari saku jasnya, lalu menyalakan rokok di tangannya. Ia meyesap perlahan rokok tersebut, membiarkan asap mengepul di udara. Matanya kembali terpejam sampai tiba-tiba...

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan pintu terdengar.

“Masuk.”

Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pemuda berjas biru gelap melangkah masuk mendekatinya.

“Tuan,” ucapnya sopan, “Nyonya Besar dan Tuan Besar baru saja memerintahkan saya agar mengantar tuan ke kafe Nyonya untuk agenda pemilihan jodoh. ”

Pemuda itu memutar kursinya kembali, menatap asistennya sekilas, lalu berdiri. “Siapkan mobil,” ucapnya singkat.

Ia mengambil jasnya yang tergeletak di sofa, lalu melangkah menuju pintu tanpa menunggu jawaban. Asistennya mengangguk dan segera mengikuti dari belakang.

Pemuda itu berjalan tegap menyusuri lorong kantor, menuruni tangga, hingga tiba di lantai satu.

Begitu ia muncul, para pegawai yang melihat langsung terpaku, sebagian menunduk, sebagian langsung berpura-pura sibuk, seolah tak ada yang berani menatapnya terlalu lama.

Begitu keluar dari gedung, ia langsung masuk ke dalam mobil dan melaju menuju tempat tujuan.

****

Kurang dari beberapa menit akhirnya mereka sampai di kafe yang dituju. Dari luar, bangunan itu tampak mewah namun elegan, lampu-lampu kuning menggantung, jendela besar memantulkan keramaian dalam ruangan, dan aroma kopi mahal seakan menembus kaca.

Asistennya turun lebih dulu, membukakan pintu mobil dengan sigap, “silahkan, tuan.”

Pemuda itu melangkah keluar tanpa banyak bicara. Jas hitamnya jatuh rapi di bahu, langkahnya tegas, sorot matanya tajam seperti biasa.

Ia berjalan menuju pintu kafe, diikuti asistennya yang tetap setia di belakang dengan tablet di tangan, wajahnya datar dan tak menunjukkan emosi apapun.

Begitu pintu terbuka suara lonceng kecil berbunyi.

TING!

Beberapa pelanggan menoleh refleks. Bisik-bisik kecil terdengar, ada yang terkesan kagum, ada yang langsung menunduk pura-pura tak melihat dan ada pula yang justru diam menahan nafas.

Namun si pemuda tidak menghiraukannya. Matanya menyapu ruangan sekali dengan tatapan dingin, tajam, dan terukur.

Sampai akhirnya ia melihat di pojok ruangan yang paling privat, sebuah sofa kulit cokelat tua menghadap meja kayu mengkilap, dan di sana sudah duduk dua orang yang bahkan tak perlu diperkenalkan. Papa dan Mamanya.

Nyonya Besar Olivia dengan pakaian elegan serba mahal, kalungnya berkilau, senyumnya langsung ramah saat sang anak datang.

Namun berbeda dengan Tuan Besar Edward yang terlihat duduk tegak, tangan bertaut, tatapannya ikut menajam seperti anaknya.

Asistennya berhenti setengah langkah di belakangnya, tablet masih dalam genggaman, seperti pengawal sekaligus saksi.

Begitu si pemuda sampai di depan meja Papanya langsung membuka suara, meski datar namun penuh ketegasan.

“Xavier.”

Xavier tak menunduk, tak pula menantang. Ia hanya menatap mereka dengan tegas, namun ada sedikit sopan santun yang dipaksakan di sana. Sopan yang lahir bukan karena lembut dan tulus tetapi karena ia masih menghargai siapa yang duduk di hadapannya.

“Ada apa?” suaranya rendah namun dingin.

Papanya melirik kursi di hadapannya tanpa banyak basa-basi, dan kemudian berkata, “duduklah.”

Xavier menarik kursi itu, lalu duduk dengan punggung tegak. Tatapannya lurus, satu tangannya bersandar santai di atas paha.

Papanya melirik asistennya sebentar, “Felix, lakukan tugasmu.”

Felix mengangguk kecil. “Baik, tuan.”

Belum sempat Xavier mengeluarkan suara, Mamanya sudah lebih dulu bergerak cepat. Dengan ekspresi antusias yang terlalu bertolak belakang dengan suasana, ia mengeluarkan sebuah map tipis dari tasnya, lalu menumpahkan isinya ke meja.

TAP TAP TAP

Sejumlah foto wanita muda berwajah cantik, kulit mulus, rambut tertata, pakaian mahal, tas branded, dengan latar belakang foto diberbagai tempat elit dan mewah.

Mamanya menjejerkannya satu per satu foto itu seperti sedang pemilihan barang berharga.

“Nah…” suara mamanya lembut namun penuh semangat, “ini semua adalah kandidat bulan ini.”

Xavier hanya menatap foto-foto itu sekilas, tidak ada ketertarikan, kekaguman, dan penasaran yang tumbuh dari matanya. Mukanya tampak malas saat semua foto-foto itu saat dijejerkan.

Ia menghembuskan napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang kursi, matanya menatap foto-foto itu seperti sampah yang baru saja diletakkan di meja.

Perlahan ia berkata, “apa mereka tidak ada pekerjaan lain selain menggoda pria?”

Kalimat itu membuat udara seolah berhenti. Mamanya terdiam sepersekian detik, namun bukannya tersinggung, ia justru tersenyum tipis. Seakan itu hanya komentar anak nakal yang masih ia atur.

“Xavier…” mamanya menghela napas, menepuk meja pelan, “tolong jangan seperti itu, ini juga untuk masa depanmu, Nak.”

Papanya ikut bicara, suaranya lebih berat, “kau sudah cukup umur. Dan posisi kita tidak memungkinkan, kau hidup sendirian selamanya.”

Xavier tertawa kecil, “posisi kita?” ia mengulang pelan, lalu menatap papanya tajam. “Aku bisa melindungi hidupku tanpa bergantung siapapun, Pah.”

Mata papanya menyipit. Mamanya buru-buru memotong sebelum suasana berubah menjadi perang, “pilih saja.” Mamanya mendorong beberapa foto lebih dekat ke arah Xavier. “Yang mana yang menurutmu cocok? Yang... mungkin kamu sukai?”

Xavier menatap satu per satu foto-foto itu lagi. Wajah-wajah cantik, senyum dibuat-buat, mata penuh perhitungan, serta gaya hidup yang berkilau.

Namun tidak ada satu pun yang membuat ekspresi Xavier berubah, wajahnya tetap tidak ada ketertarikan dan tidak ada rasa penasaran. Yang ada hanya wajah datar dan dingin.

Lalu perlahan keningnya mulai mengerut. Ia menatap mamanya, lalu papanya bergantian, suaranya mulai mengeras, “setiap bulan,” katanya pelan, tapi jelas. “Setiap bulan kalian melakukan ini.”

Mamanya mencoba tetap tenang, “kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Xavier.”

“Yang terbaik?” Xavier menahan tawa lagi, kali ini nadanya lebih tajam, “kalian pikir cinta itu bisa dipilih seperti memilih barang?”

Papanya menepuk meja sekali, “jaga nada bicaramu, Xavier.”

Xavier langsung menatap papanya, mata membara, “aku muak dengan semua ini,” suaranya rendah namun bergetar. “Aku sudah katakan bahwa aku tidak suka cara kalian dalam memilihkan pasangan untukku.”

Felix yang berdiri di samping hanya menatap layar tabletnya, tapi tangannya sedikit menegang. Ini bukan sekadar penolakan pertama baginya yang keluar dari mulut bosnya.

Ini semua adalah bagian luka lama yang kembali diseret ke permukaan. Xavier menarik napas dalam, berusaha menahan sesuatu di dadanya, sesuatu yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

Namun orang tuanya tanpa sadar, menusuk tepat di titik itu. “Kau tidak bisa terus seperti ini, Xavier,” ucap mamanya lembut. “Kau harus kembali belajar mencintai seseorang.”

Dan di detik itulah, tatapan Xavier berubah. Bukan lagi sekadar dingin, tetapi berubah menjadi sangat mencekam. Seolah ada bayangan masa lalu yang menutup seluruh cahaya di matanya.

Ia berdiri perlahan, kursinya bergeser dan menimbulkan suara di lantai.

“Aku tidak mengerti apa itu percintaan,” ucapnya pelan. “Dan aku... tidak mau mengenalnya lagi.”

Mamanya ikut berdiri, “Xavier.”

Namun Xavier menatap mereka tajam, suaranya kini benar-benar keras, penuh emosi yang tertahan bertahun-tahun.

“Kalian pikir aku seperti Dios (anak dewa)? Tinggal duduk manis lalu hidupku sempurna?” katanya lantang.

Papanya mengeraskan rahang, “apa maksudmu, Xavier?”

Xavier menahan napas, lalu menatap foto-foto itu lagi dan menunjuknya, “kalian melakukan pemilihan jodoh rutin setiap bulan,” ucapnya, menekan setiap kata, “seolah aku ini mesin yang harus segera dipasangkan supaya terlihat normal di mata kalian dan para publik.”

Mamanya mencoba mendekat, suaranya mulai melembut, “maksud kami bukan seperti itu Xavier. Kami... kami hanya khawatir…”

Namun Xavier mundur setengah langkah, “khawatir?” ia tersenyum sinis. “Kalian saja tidak khawatir waktu aku kehilangan kepercayaan pada cinta, dan sekarang kalian memaksaku untuk membuka luka itu kembali, begitu?”

Ruang pojok kafe itu mendadak sunyi dan panas. Xavier menatap mereka, sekali lagi. Tatapannya tegas, namun ada luka yang jelas terselip di sana.

“Aku tidak butuh pilihan kalian.” katanya dingin. “Aku tidak butuh siapa pun saat ini, aku akan menemukan jodohku jika aku benar-benar membutuhkannya. Aku tahu apa yang terbaik untukku, aku bukan anak kecil lagi, mah, pah.”

Papanya ikut berdiri, wajahnya tampak mengerti perasaan sang anak, “baiklah, keputusan ada padamu. Tetapi ingat, papa hanya akan memberimu waktu 3 hari untuk mencari pasangan, kalau kau belum mendapatkannya... maaf, mama dan papa terpaksa menjodohkanmu. Mengerti?”

Xavier mengangguk pelan, ia meraih jasnya, lalu melangkah pergi. Felix membungkukkan badannya pelan, sebelum akhirnya mengikuti dari belakang.

Mamanya berdiri, kemudian tersenyum kecil, “sampai jumpa nanti, hati-hati di jalan!”

Xavier berhenti tepat di dekat pintu, ia menoleh sekilas, lalu pergi. Pintu kafe terbuka lebar, lonceng berbunyi lagi. Xavier menghilang dari tempat itu, meninggalkan kedua orang tuanya dengan suasana canggung.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!