Seorang Dokter Jenius terlahir kembali menjadi Yang Yang, seorang gadis kecil 7 tahun yang sangat lucu, Menjadi kesayangan Ayah CEO yang dingin dan Kakak yang sangat jenius. Kemampuan medis yang dimilikinya dapat menyembuhkan Keluarganya dan orang-orang disekitarnya. Yang Yang selalu menjadi kebanggaan keluarga. Sementara itu ibu tiri dan saudari tirinya yang selalu berniat jahat kepada Yang Yang selalu gagal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kota Hai sangat indah, banyak bangunan-bangunan megah. Kendaraan berlalu lalang di pusat kota ini. Suasananya sangat damai dan sejuk. Mereka pun akhirnya tiba di rumah mewah milik Xiao.
"Nyonya Xiao, anda sudah pulang?" sambut guru Lin.
"Guru Lin, mereka berdua ini keponakan ku. Dua hari ini mereka akan menemani Miao Miao. Maaf merepotkan mu" ucap Xiao.
"Tidak apa-apa Nyonya, ini sudah tugas saya" Ucap guru Lin dengan sangat sopan.
"Tumben Yan Miao mau digandeng dua bocah" batin guru Lin heran.
"Devin, Yang Yang! Beberapa hari ini bibi ada kerjaan di luar kota. Kalian temani Miao Miao ya" ucap Xiao kepada kedua keponakannya itu.
"Baik, bibi tenang saja" ucap Devin.
"Miao Miao, ibu pergi dulu ya!" ucap Xiao sambil memeluk putranya.
Mereka bertiga pun masuk kedalam kamar Yan Miao dengan diantar oleh gulu Lin. Kamar Yan Miao sangat luas, ada banyak mainan yang berserakan di atas meja.
"Masuklah! Tuan Muda suka ketenangan, jadi kalian jangan ribut" ucap guru Lin.
Devin dan Yang Yang memperhatikan setiap sudut kamar Yan Miao.
"Tuan Devin dan Nona Yang Yang, kalian tunggu di ruang tamu saja, biar saya yang menemani Tuan muda" ucap guru Lin.
Devin dan Yang Yang hendak keluar, tapi Yan Miao menggenggam erat tangan Yang Yang.
"Kakak, turun saja dulu. Aku mau menemani Yan Miao main" ucap Yang Yang.
Devin pun keluar dari dalam kamar. Ia menunggu di ruang tamu.
"Boleh kan guru Lin?" tanya Yang Yang.
"Iya boleh" ucap guru Lin.
"Anak ini baru umur 7 tahun, dia tidak akan berbuat macam-macam" Batin guru Lin.
Guru Lin duduk bersama Yan Miao. Ia menemani Yan Miao bermain.
"Yan Miao letakkan rubik mu itu, ayo susun balok ini!" guru Lin menyerahkan beberapa mainan balok kepada Yan Miao, tapi Yan Miao tidak meresponnya, dia hanya sibuk dengan rubik di tangannya.
"Yan Miao, jangan keras kepala. Letakkan rubik mu" ucap guru Lin, tapi lagi-lagi Yan Miao tidak meresponnya.
"Baik lah, terserah kau saja" ucap guru Lin lagi.
Ponsel Yang Yang berdering. Di layar ponselnya terlihat panggilan telepon dari Dimas.
"Telepon dari Ayah!" Yang Yang langsung menjawabnya.
"Sayang, Ayah dengar bibimu menculik kalian. Jangan lama-lama ya, Ayah merindukanmu. Jangan telat makan, minum air yang banyak" jelas Dimas penuh perhatian.
"Suara laki-laki kejam, CEO grup Pratama" batin guru Lin dengan senyum sinis di wajahnya.
"Ayah, Yang Yang sudah umur 7 tahun, bukan anak umur 4 tahun lagi" ucap Yang Yang.
"Di mata Ayah, kamu tetap bayi kecil Ayah" ucap Dimas.
"Baik Ayah" Yang Yang mengakhiri teleponnya.
Yang Yang melihat guru Lin mengajari Yan Miao dengan sangat kasar. Yang Yang mendekati Yan Miao.
"Yan Miao, letakkan rubik mu. Kita main balok saja" ucap Yang Yang.
"Siapa sebenarnya gadis kecil ini? Kenapa Yan Miao nurut sama dia?" batin guru Lin heran melihat Yan Miao menurut begitu saja kepada Yang Yang.
"Kalian main saja, aku mau turun membuat makan malam. Kalian mau di masakin apa?" tanya guru Lin.
"Apa saja guru Lin, kami ikut selera Yan Miao saja" balas Yang Yang.
"Baiklah" guru Lin meninggalkan mereka berdua.
"Yan Miao, kamu tidak suka sama guru Lin? Kalau kamu tidak suka, minta Bibi ganti dengan guru lain saja" ucap Yang Yang, tapi Yan Miao diam saja dan sibuk menyusun mainan baloknya.
"Yan Miao, simpan mainan balok mu dulu. Ayo ikut kakak, berbaringlah di atas sofa. Kakak akan memijat mu" ucap Yang Yang menggandeng tangan Yan Miao dan menuntunnya untuk berbaring dia atas sofa. Yang Yang mulai memijat bagian belakang Yan Miao secara perlahan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, makan malam sudah siap di atas meja. Guru Lin mengambilkan sayur untuk Yan Miao, tapi Yan Miao melempar sayur itu dengan sumpitnya. Guru Lin merasa sangat kesal melihat.
"Yan Miao, kamu jangan manja ya" bentak guru Lin.
"Bibi Lin, Yan Miao itu masih anak-anak wajar saja kalau dia masih manja. Lagi pula Yan Miao tidak suka makan sayur, di rumah Nenek dia lebih suka makan daging. Kenapa guru Lin tidak memasakkan Yan Miao lebih banyak daging?" ucap Yang Yang.
"Aku sengaja memberinya makan sayuran karena itu lebih murah. Kalau aku membelikan Yan Miao daging setiap hari, bagaimana aku bisa dapat untung?" batin guru Lin.
"Guru Lin, kamu sebagai guru pendamping Yan Miao harusnya kamu lebih paham pada Yan Miao" ucap Dimas.
"Maaf Tuan, maaf Nona, saya lalai mengurus Yan Miao" ucap guru Lin dengan raut wajah tidak senang melihat Devin dan Yang Yang.
"Lihat saja setelah kalian pulang dari rumah ini, aku akan memberikan pelajaran kepada anak bodoh ini" Batin guru Lin.
Yang Yang menyajikan sepotong daging ke piring Yan Miao.
"Yan Miao makan lah!" ucap Yang Yang, dan tentu saja Yan Miao langsung memakannya dengan lahap.
"Aduh anak ini, daging itu kan aku masak untuk diriku sendiri. Kenapa malah disajikan kepada Yan Miao?" guru Lin berdecak kesal.
Yan Miao makan dengan sangat lahap. Setelah makan malam Yan Miao kembali ke kamarnya dengan ditemani oleh guru Lin.
Di dalam kamar Yan Miao masih sibuk dengan mainan rubiknya.
"Yan Miao simpan rubik mu itu" bentak guru Lin tapi Yan Miao tidak menghiraukannya.
Guru Lin merasa sangat kesal ia memarahi Yan Miao. Yan Miao hendak berteriak tapi guru Lin menutup mulut Yan Miao dengan tangannya.
"Kamu berani melawan ya! Kalau kamu tidak nurut, aku akan menusuk mu dengan pensil ini" ucap guru Lin mengancam Yan Miao dengan sebuah pensil tajam ditangannya.
Tiba-tiba Yang Yang masuk dan melihat apa yang guru Lin lakukan kepada adik sepupunya itu.
"Guru Lin!! Apa yang kamu lakukan pada Yan Miao?" ucap Yang Yang.
Yan Miao berlari ketakutan dan bersembunyi di balik sofa.
"Aku sedang mendidik Yan Miao bagaimana caranya menghormati orang yang lebih tua" ucan guru Lin.
"Mendidik Yan Miao? Tapi ingin menusuknya dengan pensil. Apa begitu caramu mengajari anak kecil?" ucap Yang Yang.
"Kamu hanya anak ingusan, jangan ikut campur" bentak guru Lin.
Devin yang mendengar keributan itu segera datang dan menghampiri adiknya.
"Guru Lin! Jangan pernah sekali-kali menyentuh adikku" ketus Devin.
"Kalian bertiga hanya bocah ingusan, aku tidak takut. Tapi kalau kalian berani tutup mulut dan tidak melaporkan hal ini kepada Nyonya Xiao, aku tidak akan menghukum kalian" ucap guru Lin memperingatkan Devin dan Yang Yang.
"Adik, badan dia jauh lebih besar dari kita. Kita tidak akan bisa melawannya" bisik Devin pada adiknya.
"Kakak, kamu tidak boleh memuji musuh seperti itu, kita harus percaya pada diri kita sendiri" ucap Yang Yang.
"Kenapa? Kalian takut?" ucap guru Lin dengan senyum licik di wajahnya.
Guru Lin berjalan ke arah mereka. Yang Yang melemparkan kulit pisang ke arahnya, berharap guru Lin jatuh. Tapi tidak berhasil.
"Apa kalian kira hanya dengan satu kulit pisang ini bisa membuatku jatuh?" ucap guru Lin meremehkan dan berjalan mendekati Yang Yang dan Devin.
"Adik, gawat!! Apa Yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa melawannya" ucap Devin dengan wajah cemas.
***
Gimana teman-teman? Lanjut lagi nggak?😁
lanjut up lagi thor