"Jangan dekat rawa itu!"
semenjak banyak yang meninggal karena memasang jebakan ikan di malam hari, rawa kecil itu di jauhi oleh banyak orang karena sudah banyak yang meninggal dunia.
Apa yang sudah terjadi?
Siapa penghuni rawa kecil itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Sandiwara atau bukan
''Ada apa?'' Purnama bertanya heran ketika Bagaskara datang menemui dia di dalam ruang baca.
''Itu tadi kenapa Nana agak bersikap Aneh ketika aku ajak dia berbicara, apa sedang tidak mood atau dia lagi apa ya?'' Bagaskara bingung sendiri dengan perubahan sikap kucing hitam itu.
''Alah tahu sendiri kalau kucing hitam itu gampang berubah mood dia.'' Purnama tidak ingin mengambil pikiran karena dia memang sudah hafal dengan tabiat para member.
Bagaskara mengangguk paham dan dia tidak mempermasalahkan lagi tentang sikap Nana yang menurut dia berubah menjadi begitu dingin, bahkan ketika tadi dirinya berbicara maka Nana tidak mendekati terlalu serius dan seolah Bagas telah melakukan kesalahan terhadap kucing hitam itu.
Panglima ular ini sebenarnya agak bingung kenapa mendadak saja Nana bersikap demikian dan sebenarnya dia juga merasa tidak melakukan kesalahan, meski Nana tidak memiliki hubungan dengan dia namun tetap saja ketika teman berubah menjadi seperti itu maka masih menjadi sedikit ganjalan di dalam hati Bagaskara.
Namun Purnama juga mengatakan bahwa tidak perlu mengambil pikiran karena Nana memang gampang berubah mood ketika ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati dia, terlebih lagi belakangan ini Purnama memang memperhatikan seluruh para member sehingga dia tahu bahwa Nana tidak memiliki teman yang cukup dekat ketika mereka semua sedang bertukar pikiran.
Jadi bisa saja saat ini Nana sedang ketakutan Ketika nanti seluruh member malah menuduh dirinya adalah penghianat, Purnama sendiri sama sekali tidak ada memiliki firasat kepada kucing hitam itu. sebab dari ras aja sudah sangat jauh berbeda dan kucing hitam tidak akan pernah bisa masuk ke dalam air terlalu lama.
Bahkan Nana selama ini saja ketika ada tugas yang bersangkutan dengan air maka dia memilih untuk menyerah dan hanya akan membantu sekedar saja, jadi mana mungkin dia akan menjadi penghianat yang berhubungan dengan air seperti ini sehingga Purnama sedikit saja tidak menaruh rasa curiga kepada kucing hitam itu.
"Jadi Bagaimana dengan air liur ular yang aku bawa saat itu apakah memang ada yang cocok?" tanya Bagaskara kepada sang ratu.
''Tidak, semua sangat jauh berbeda dan aku tidak bisa menemukan hal yang sama.'' Purnama menggeleng cepat.
''Ma.'' Kiara juga ikut masuk ke dalam ruang baca itu karena tadi dia sudah mendengar suara Bagaskara.
''Ada apa?'' Purnama bertanya pelan ketika anak gadis dia masuk ke dalam ruangan ini.
''Aku hanya ingin tahu perkembangan tentang Rawa itu jadi ingin ikut berbicara dengan kalian juga.'' Kiara duduk di sebelah meja tepat Purnama saat ini sedang duduk juga.
''Aku sudah memberikan arahan kepada seluruh ras ular yang ada di dalam istana agar mereka memberikan sampel liur mereka.'' Bagaskara kembali membuka suara untuk memberikan laporan.
''Tapi Bagaimana bila ternyata liur yang cocok itu ada di luar istana?'' Kiara bertanya sambil menatap wajah Bagaskara.
''Maksud nya?'' Bagaskara menoleh kepada gadis yang ada di hadapan dia saat ini.
Kiara tersenyum kecil karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa Panglima ular begitu licik dan dia bisa bersandiwara dengan begitu rapi sekali di hadapan ratu ular, padahal tadi sudah kepergok dengan Kiara dan sekarang dia masih bisa bersandiwara seperti itu sehingga membuat anak Pangeran ular ini merasa begitu muak.
Selamat malam, yang ini lebih pendek ya karena author ada sedikit urusan di sore hari.
aneh betul dia
naferia curiga SMA siapa ya🤔🤔
Nana jg kok bisa masuk lumpur bukan nya td menghajar melda🤔🤔