Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Nasi Goreng Tengah Malam
Pintu dapur berderit pelan.
Laras berhenti, menunggu apakah suara itu membangunkan siapa pun. Rumah tetap sunyi. Hanya dengung kulkas dan detak jam dinding yang terdengar dari ruang makan.
Ia menyalakan lampu.
Dapur rumah dinas itu bersih, bahkan terlalu bersih untuk rumah yang ditinggali seorang laki-laki dan bayi. Wajan tergantung rapi. Bumbu disimpan dalam toples berlabel. Di dalam penanak nasi ada sisa nasi yang sudah dingin, cukup untuk satu piring besar. Di rak bawah, Laras menemukan dua butir telur, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap manis, dan sedikit daun bawang yang mulai layu.
Tangannya berhenti di atas telur.
Satu butir saja sudah cukup. Ia bisa menggantinya ketika gaji berikutnya turun. Nasi sisa juga mungkin akan dibuang besok pagi.
Namun kata “mungkin” terasa terlalu berbahaya bagi orang yang menumpang hidup di rumah orang lain.
Dari kamar belakang terdengar rengekan Satya.
Laras segera mematikan lampu dan kembali ke kamar. Bayi itu belum benar-benar bangun. Matanya masih tertutup, mulutnya bergerak mencari sesuatu. Laras duduk di sisi kasur, menyentuhkan jari ke pipinya, lalu membenahi kain bedong yang terlepas.
“Tidur, Le. Laras cuma ke dapur sebentar.”
Satya menangkap jarinya. Genggamannya tidak kuat, tetapi cukup membuat Laras duduk lebih lama.
“Kalau aku tidak makan, susumu juga bisa berkurang,” bisiknya. “Jadi malam ini kita sedikit nakal, ya?”
Ia menunggu sampai genggaman itu mengendur, lalu kembali ke dapur.
Kali ini Laras tidak memberi dirinya waktu untuk ragu.
Ia mencuci satu telur, tiga siung bawang merah, satu siung bawang putih, dan dua cabai. Pisau bergerak cepat di atas talenan. Bawang diiris tipis, cabai dipotong serong, daun bawang yang masih baik dipisahkan dari bagian layu.
Pak Darma dulu selalu berkata bahwa nasi dingin bukan sisa selama orang yang memasaknya tahu cara mengembalikan aromanya.
Semasa kecil, Laras sering duduk di bangku pendek dekat dapur sementara bapaknya menyiapkan sarapan sebelum mengajar. Dari lelaki itulah ia belajar mengenali minyak yang sudah cukup panas hanya dari bunyi bawang ketika menyentuh wajan.
Malam ini, bunyi desis pertama terdengar seperti pertolongan.
Aroma bawang putih langsung memenuhi dapur. Laras menelan ludah. Ia mengaduk cepat agar tidak gosong, menambahkan cabai, lalu memecahkan telur ke sisi wajan. Kuning telur pecah dan bercampur dengan bumbu. Setelah pinggirnya matang, nasi dingin masuk sedikit demi sedikit.
Butiran nasi yang menggumpal ia tekan dengan punggung spatula. Kecap manis dituangkan tipis di tepi wajan agar sedikit terkaramelisasi sebelum diaduk. Garam hanya sejumput. Tidak ada ayam, tidak ada udang, bahkan tidak ada kerupuk. Namun aroma asap tipis, bawang, telur, dan kecap membuat dapur yang dingin seolah hidup kembali.
Perut Laras berkontraksi begitu keras sampai tangannya terhenti.
Ia mematikan api, memindahkan nasi ke piring, lalu berdiri memandangi hasilnya.
Piring itu terlihat terlalu penuh.
Rasa bersalah muncul lagi. Kalau ia mengambil separuh saja, sisanya bisa dikembalikan ke penanak nasi. Namun telur sudah tercampur. Bawang sudah dimasak. Tidak ada jalan untuk membuat semua kembali seperti semula.
Laras mengambil satu suap.
Nasi masih sangat panas. Uapnya membakar langit-langit mulut, tetapi rasa gurih telur dan manis kecap menyebar di lidah. Tubuhnya seperti tersentak bangun. Ia menelan terlalu cepat, lalu mengambil suap kedua.
Suap ketiga lebih besar.
Pada suap keempat, ia tidak lagi berdiri. Laras berjongkok di samping kompor, piring di atas lutut, seolah takut seseorang akan datang dan mengambil makanan itu bila ia duduk di meja makan.
Air matanya jatuh tanpa peringatan.
Satu tetes mengenai pinggir piring.
Laras buru-buru menyekanya dengan punggung tangan. Ia bukan menangis karena nasi goreng. Ia menangis karena makanan hangat itu mengingatkannya pada Nala yang malam ini mungkin kembali makan bubur encer.
Apakah Mbah Inah sempat membeli telur dari uang yang dikirimnya?
Apakah Bu Jum datang lagi dan mengambil sebagian?
Apakah Nala masih mencari dada ibunya sebelum tidur?
Laras memaksa nasi masuk ke mulut meski tenggorokannya menyempit. Ia harus makan. Setiap suap akan menjadi air susu untuk Satya, tenaga untuk bekerja, dan uang yang bisa terus dikirim kepada Nala.
Tetapi pemikiran itu tidak membuatnya merasa lebih baik.
Susu untuk anak orang lain.
Uang untuk anak sendiri.
Tubuhnya terbelah di antara dua bayi yang sama-sama tidak mengerti mengapa dunia begitu pelit kepada mereka.
Suara langkah terdengar dari koridor.
Laras terkejut sampai sendoknya jatuh ke lantai.
Pintu dapur terbuka lebih lebar. Bima berdiri di sana dengan kaus hitam dan celana lapangan. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru selesai berwudu atau mencuci muka. Pandangannya bergerak dari wajan di atas kompor, bahan-bahan di meja, lalu berhenti pada Laras yang masih berjongkok dengan mata merah.
Laras buru-buru berdiri. Pandangannya kembali menghitam. Ia terhuyung dan memegang pinggir meja.
Bima bergerak satu langkah, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.
“Duduk.”
“Saya tidak apa-apa, Komandan.”
“Duduk.”
Nada itu tidak keras, tetapi tubuh Laras patuh lebih cepat daripada pikirannya. Ia duduk di bangku terdekat, masih memegang piring seperti barang bukti.
“Maaf,” katanya. “Saya pakai nasi sisa, satu telur, sedikit bumbu. Nanti saya ganti setelah gajian.”
Bima menatapnya seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
“Ganti?”
“Iya. Saya tidak minta izin dulu.”
“Kenapa harus minta izin untuk makan?”
Laras membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang terdengar pantas. Karena ia bukan keluarga. Karena omongan perempuan di kompleks membuat satu bungkus nasi terasa seperti pemberian yang harus dipertanggungjawabkan. Karena selama berbulan-bulan, setiap rupiah dan setiap suap selalu direbut oleh kebutuhan orang lain lebih dulu.
“Ini rumah Komandan,” jawabnya akhirnya.
“Kamu bekerja di rumah ini.”
“Saya cuma menyusui Satya.”
“Justru itu.”
Bima menatap ke arah koridor belakang. “Dua pengasuh sebelum kamu pergi dalam waktu kurang dari seminggu. Satya menolak botol, menangis sampai demam, dan tidak tidur lebih dari satu jam.”
Laras tidak tahu fakta itu sedetail ini. “Dia bukan membutuhkan saya. Dia membutuhkan susu.”
“Kalau hanya susu, dia tidak akan tenang waktu mendengar suaramu.”
Seolah dipanggil oleh percakapan mereka, rengekan tipis terdengar dari kamar belakang. Laras langsung menoleh. Ia hendak bangkit, tetapi suara itu berhenti setelah beberapa detik, berganti desah tidur.
Bima kembali menatap piring Laras. “Kamu membuat dia bertambah berat, tidak demam, dan bisa tidur. Jadi berhenti bicara seolah pekerjaanmu tidak penting.”
Jari Laras mengencang di gagang sendok. Selama ini orang hanya menilai berapa banyak uang yang bisa ia kirim atau berapa banyak susu yang bisa diambil dari tubuhnya. Tidak ada yang mengatakan bahwa ketelatenannya sendiri memiliki harga.
Bima menarik kursi di seberangnya dan duduk. Gerakannya tenang, tetapi rahangnya mengeras.
“Makan siangmu di mana?”
Laras menunduk pada piring. “Tidak datang.”
“Malam?”
“Tidak ada.”
“Kenapa tidak ambil ke dapur batalyon?”
“Iwan latihan. Saya tidak mau meninggalkan Satya lama.”
“Bukan itu alasannya.”
Laras mengangkat mata.
Bima bersandar sedikit. Tatapan laki-laki itu terlalu tajam, seakan bisa melihat dua perempuan di ujung jalan, mendengar sindiran mereka, dan mengetahui Laras berbalik pulang hanya demi menghindari omongan.
“Siapa yang bicara?” tanyanya.
“Tidak ada.”
“Laras.”
Itu pertama kalinya Bima menyebut namanya langsung.
Hanya satu kata, tetapi dada Laras berdebar aneh.
“Tidak ada yang perlu Komandan urus,” katanya lebih pelan. “Saya bisa menjaga diri.”
“Menjaga diri bukan berarti tidak makan.”
“Saya sudah makan sekarang.”
“Setelah hampir pingsan.”
Laras menggigit sisi dalam pipi. Ia benci diketahui dalam keadaan lemah. Lebih dari itu, ia benci karena laki-laki ini melihat sesuatu yang bahkan tidak diperhatikan keluarganya sendiri.
Bima menunjuk piring dengan dagu. “Habiskan.”
“Komandan mau menghitung berapa suap saya?”
Pertanyaan itu lolos sebelum sempat ditahan.
Alis Bima naik sedikit.
Laras langsung menyesal. “Maaf.”
“Makan.”
Ia mengambil sendok yang tadi jatuh, mencucinya, lalu kembali duduk. Bima tetap di seberang. Tidak menatap terus-menerus, tetapi juga tidak pergi.
Laras menyuap perlahan. Keheningan di antara mereka dipenuhi suara sendok menyentuh piring dan detak jam dari ruang makan.
“Iwan sudah memeriksa,” kata Bima tiba-tiba.
Tangan Laras berhenti.
“Memeriksa apa?”
Bima tampak sadar ia mengatakan terlalu banyak. “Pengaturan jatah makan.”
Laras tahu itu bukan jawaban lengkap. Namun wajah Bima sudah kembali seperti pintu tertutup.
“Besok tidak akan terlambat,” lanjutnya.
“Komandan tidak perlu membuat masalah hanya karena saya.”
“Saya tidak membuat masalah.”
“Lalu?”
“Saya memperbaiki kelalaian.”
Jawaban itu begitu khas seorang komandan hingga Laras hampir tersenyum. Hampir.
Ia menghabiskan suap terakhir. Perutnya belum sepenuhnya kenyang, tetapi rasa sakit yang tadi meremas sudah mereda. Tubuhnya mulai hangat. Malu karena ketahuan menangis perlahan digantikan rasa aman yang tidak ia kenal.
Bima melihat piring kosong.
“Enak?”
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Kalau saya bilang enak, nanti Komandan mengira saya sombong.”
Sudut mulut Bima bergerak nyaris tak terlihat. “Baunya sampai ruang depan.”
Laras melirik wajan. “Maaf kalau mengganggu.”
“Tidak mengganggu.”
Bima bangkit. Laras mengira percakapan selesai. Ia ikut berdiri untuk membereskan piring, tetapi laki-laki itu justru mengambil bangku dan memindahkannya lebih dekat ke kompor.
Ia duduk lagi.
Laras menatapnya bingung.
Bima mengangguk ke arah sisa nasi dingin di penanak, lalu ke satu butir telur yang masih ada di rak.
“Buatkan aku satu juga.”
Laras berdiri terpaku selama satu detik.
Kemudian ia mengambil wajan yang tadi sudah dingin dan menyalakan api lagi.