NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Pangeran Yang Sakit

Transmigrasi Ke Tubuh Pangeran Yang Sakit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Sistem
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: NoxVerse

Sejak kecil, Adrian Pratama Putra hidup di lingkungan keluarga yang menuntut kesempurnaan. Orang tuanya selalu menetapkan standar yang sangat tinggi. Karena itulah Adrian setiap hari bekerja mati-matian demi bisa menjadi sosok anak yang mereka inginkan.

Hingga akhirnya, Adrian telah berada di titik keputusasaan total. Ia menyerah dan tidak lagi mengejar apa yang namanya keluarga.

Di saat itulah, ia mulai mengenal novel. Hatinya yang dulu retak, kini perlahan pulih berkat hobi barunya itu.

Namun, mungkin akibat terlalu banyak membaca sebuah novel, Adrian tiba-tiba masuk ke dalam salah satu novel yang pernah ia baca. Masalahnya, novel yang dia masuki itu ... dark fantasy! Sebuah webnovel yang terakhir kali dia baca.

Terlebih lagi, ia masuk ke dalam tokoh Pangeran Kedua bertubuh lemah, yang sebentar lagi akan menjemput ajalnya!

Halo para pembaca. Ini karya pertamaku, jadi mohon maaf bila banyak kesalahan dan typo yang bersebaran😓

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoxVerse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog: Masa Lalu Kelam

Di dalam ruang tamu terdapat tiga orang yang berada di sana. Atmosfer di sekitar menjadi sangat dingin dan terasa sunyi, bahkan angin lewat pun tidak berani membuat suara sekecil apapun.

Pria paru baya yang memegang erat sebuah kertas. Urat-urat menonjol di beberapa tubuhnya, menatap penuh rasa amarah yang memuncak pada sosok di bawahnya.

Seorang anak laki-laki berlutut di bawah lantai menunduk dengan keadaan hampa serta wajahnya yang datar dan tidak berdaya di hadapan pria di depannya.

"Apa-apaan ini! Sembilan puluh tujuh? Kau sebut ini nilai?!"

Kertas ujian itu dilempar kasar, melayang dan jatuh tepat di depan wajah Adrian.

"Apa kau tidak sadar kalau kebodohanmu ini bisa menjatuhkan martabat keluarga kita? Lagi dan lagi, aku harus menutupi rasa malu atas ketidakbecusanmu!" bentak Ardianata.

Suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu yang mewah namun terasa dingin itu.

Adrian hanya bisa menunduk, tidak bersuara, diam seperti seorang bisu.

Ia sudah terbiasa dijadikan pelampiasan amarah sang ayah lantaran tidak mencapai standar mustahil yang ditetapkan pria itu.

Di belakang ayahnya, duduk sang ibu, Ratnasari. Wanita itu hanya diam menyesap tehnya, menatap Adrian dengan tatapan kosong tanpa ada niat sedikit pun untuk membela darah dagingnya sendiri.

"Tapi Ayah... aku juga sudah berusaha semampu—"

PLAK!

Belum sempat Adrian menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kirinya. Kepala Adrian tersentak ke samping.

Rasa panas menjalar seketika, disusul rasa anyir darah yang merembes dari sudut bibirnya yang sobek.

"Apa kau cuma tahu cara membantah?! Lihat kakakmu, Rangga! Dia selalu mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran. Dia mengharumkan nama keluarga kita! Tapi kau?"

Ardianata menunjuk wajah anaknya dengan telunjuk gemetar karena emosi.

"Kau malah menjatuhkannya kembali seolah itu hal sepele. Jika kau setidak berguna ini, lebih baik aku tidak usah memedulikanmu sama sekali!"

Kalimat itu menghujam jantung Adrian lebih sakit daripada tamparan fisik tadi.

Ia kembali diam membisu, tangan kanannya memegang pipi yang mulai membengkak.

"Kenapa aku harus mendapatkan anak gagal sepertimu? Kenapa kau tidak mati saja saat lahir dulu! Aku tidak sudi memiliki anak sepertimu!"

"Kenapa Ayah memarahiku sampai seperti ini? Aku sudah mati-matian berusaha agar Ayah bangga, dan hanya karena aku tidak memenuhi ekspektasi ayah ... Ayah menyuruhku mati?" suaranya bergetar menahan rasa sakit dari sebuah perkataan menyakitkan, yang bahkan ucapan ini keluar dari mulut orangtuanya.

Cukup. Batas kesabaran Adrian runtuh.

Adrian mengangkat wajahnya. Sorot matanya yang biasanya redup kini menatap penuh kebencian, lurus ke manik mata ayahnya.

"Kenapa tidak kau saja yang mati, orangtua!" Pikirannya sekarang tidak jernih lagi, semua kebencian yang selama ini dia pendam kini ia tumpahkan dalam satu kalimat.

Keduanya tersentak kaget mendengar perkataan tidak pantas dari anak mereka, mereka seperti orang yang kebingungan untuk sesaat, tidak tau ingin berbicara apa.

Adrian tersenyum mengejek. "Kenapa kalian diam saja? Apa kalian memikirkan sesuatu yang membuat otak kalian blank?"

"Kau... Sialan!"

Ardianata mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap melayangkan tamparan kedua yang lebih keras. Namun, sebelum tangan itu mendarat, sebuah tangan halus menahannya.

"Sudahlah, Sayang. Kau berlebihan," celetuk Ratnasari datar.

Ardianata menoleh garang. "Apa kau lihat kekurangajaran anak ini? Dia terlalu dimanjakan hingga berani melawan orang tua!"

"Aku tahu dia kurang ajar, tapi ingat kesehatanmu. Jika kau terus emosi, tekanan darahmu bisa naik lagi. Apa kau lupa kata dokter?" Ratnasari menurunkan tangan suaminya perlahan.

Bukan karena kasihan pada Adrian, ibunya hanya peduli pada kesehatan suaminya. Bagi Adrian, fakta itu jauh lebih menyakitkan.

"Biarkan Adrian merenung sendiri." Ratnasari menarik lengan suaminya menjauh.

Wanita itu menoleh sekilas pada Adrian dengan tatapan dingin. "Pergilah ke kamarmu, Adrian. Introspeksi kesalahanmu. Jangan berani keluar sebelum jam makan malam."

Tanpa menunggu jawaban, kedua orang tuanya berlalu pergi, meninggalkan Adrian yang berdiri kaku di tengah ruang tamu yang sunyi.

Seluruh perabotan rumah menjadi saksi bisu akan kejadian menyesakkan yang di alami Adrian.

Adrian menyeret langkah kakinya menuju kamar. Sesampainya di sana, ia mengunci pintu rapat-rapat. Punggungnya bersandar pada daun pintu, lalu perlahan tubuhnya merosot ke lantai.

Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih, seolah ingin menghancurkan apa pun yang digenggamnya. Tanpa ia sadari, butiran kristal bening jatuh dari sudut matanya, membasahi pipi yang memerah.

"Kenapa ... kenapa aku selalu dilihat sebagai produk cacat?"

Ia sudah melalui banyak hal menyakitkan, belajar hingga larut malam, mengorbankan masa mudanya, tapi keluarganya tak pernah melihat proses itu.

Mereka adalah monster yang haus akan hasil sempurna.

Adrian bangkit, berjalan gontai ke arah kasur dan menghempaskan tubuhnya di sana. Ia menatap langit-langit kamar.

Bibirnya perlahan membentuk lengkungan senyum.

Bukan senyuman tulus, melainkan topeng yang selalu ia pakai untuk bertahan hidup. Namun kali ini berbeda. Di balik senyum itu, ada keputusasaan yang pekat.

"Aku ... lelah ..." rintihnya pelan. Matanya kosong, penuh kehampaan.

Jika waktu bisa diputar kembali, ia tidak ingin mengejar validasi dari apa yang disebut 'keluarga'. Sekarang Adrian mengerti, keluarga hanyalah kata indah yang tak akan pernah ia miliki.

Pandangannya beralih ke meja samping tempat tidur. Di sana tergeletak sebuah buku novel fisik yang ia beli beberapa hari lalu di toko buku pinggir jalan. Buku itu hanya menjadi pajangan karena ia terlalu sibuk belajar.

"Mumpung sedang dihukum dan tidak boleh keluar, sebaiknya kubaca saja. Siapa tahu ceritanya menarik."

Adrian meraih buku itu, membuka lembar demi lembar. Awalnya ia hanya membaca sekilas, namun semakin lama, keningnya semakin berkerut.

Ia menyadari ada sesuatu yang ganjil. Kisah di dalam novel ini... terasa familiar. Seakan-akan penderitaan tokoh figuran di dalamnya ditulis berdasarkan hidupnya sendiri.

Hingga ia sampai pada sebuah narasi yang membuatnya terpaku:

'Ada sesosok jiwa yang tak pernah dianggap utuh, hanya dinilai dari seberapa sempurna ia memuaskan dahaga ambisi keluarganya. Ia tidak dicintai, hanya dituntut. Dan di balik senyum paksanya, hatinya perlahan hancur, retak demi retak.'

Dada Adrian sesak membacanya. Ia merasakan koneksi batin yang kuat dengan karakter malang itu.

"Entah siapa kau yang diceritakan di sini, tapi yang pasti ... kau sangat lelah menjalani hidup seperti ini, kan?" gumam Adrian pada halaman buku itu, seolah berbicara pada cermin.

Senyum tulus yang jarang terlihat kini terukir di wajahnya yang lebam. "Jika ada kehidupan selanjutnya, kuharap kau bisa menjalani hidup yang kau inginkan. Terbebas dari segala tuntutan, terbebas dari rantai keluarga... Aku sungguh berharap kau bahagia."

Adrian menutup buku itu perlahan, lalu melirik jam dinding.

"Masih dua jam sebelum makan malam. Lebih baik aku tidur sebentar untuk melupakan rasa sakit ini." Matanya terpejam. Napasnya mulai teratur.

Adrian tertidur dengan damai, tanpa menyadari bahwa doa tulusnya barusan telah didengar oleh entitas yang melampaui logika manusia.

Di dalam keheningan kamar, udara tiba-tiba bergetar.

[Ding ...!]

Sebuah suara mekanik terdengar di dalam kepalanya, namun Adrian tak terbangun.

[Sistem berhasil diaktifkan ...!]

[Mendeteksi resonansi jiwa yang kuat ...]

[Menyinkronkan jiwa Host dengan tokoh dalam Web Novel ....]

[Sinkronisasi: Berhasil.]

[Memulai pemindaian tubuh Host. Transfer menuju dunia baru dimulai dalam 3 ... 2 ... 1 ...]

Cahaya putih menyelimuti tubuh Adrian yang tertidur, dan dalam sekejap mata, ia lenyap dari kamar itu.

1
Carol
Ayo Thor, lanjut
ARFIAN
wah,seru juga ceritanya aku tunggu kelanjutannya ya...
NoxVerse: hehe, makasih kak. insyaallah aku akan terus updatenya
total 1 replies
Không có tên
Terperangkap dalam cerita 😱
NoxVerse: hehe, makasih sudah mampir kak/Determined/
total 1 replies
Hoa xương rồng
Aku udah baca beberapa cerita disini, tapi ini yang paling bikin saya excited!
NoxVerse: makasih banget kak😍 aku jadi semangat buat lanjutin ceritanya/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!